NovelToon NovelToon
Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Idola sekolah / BTS / Tamat
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — Hari yang Clara Tunggu

Jam 05.15 pagi.

Langit masih gelap.

Clara udah duduk di ruang tunggu RS sejak beberapa menit lalu. Kebaya biru muda yang disiapkan Nenek semalam masih tertutup hoodie kebesaran punya Seokjin.

Tangannya dingin.

Kakinya masih terasa berat. Bengkak yang kemarin belum benar-benar turun.

Di sampingnya, Nenek duduk sambil memeluk tas berisi kebaya cadangan, obat-obatan, dan diary biru Clara.

Clara menatap jam dinding.

05.16.

"Masih sempet, kan, Nek?"

Nenek menoleh.

"Kalau dokter bilang kondisi kamu memungkinkan, kita berangkat."

Clara mengangguk.

Dia tahu Nenek sengaja nggak bilang, pasti sempat.

Karena nggak ada yang bisa menjamin itu.

Semalam Dokter Risa udah menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan pagi ini akan menentukan langkah selanjutnya. Kondisi ginjal Clara memburuk lagi dan akses untuk persiapan terapi pengganti ginjal perlu dibuat sebelum kondisinya semakin sulit ditangani.

Tapi hari ini adalah hari kelulusannya.

Hari yang udah dia tunggu selama tiga tahun.

Clara nggak mau melewatkannya.

Di luar rumah sakit, Seokjin udah menunggu sejak jam lima. Dia sengaja nggak masuk karena Nenek bilang Clara masih harus diperiksa.

Katanya, dia takut bikin suasana jadi ramai.

Padahal sebenarnya dia cuma gugup.

Gugup melihat Clara.

Gugup melihat apakah perempuan itu masih bisa berdiri di atas panggung hari ini.

---

Jam 06.00.

Dokter Risa datang membawa hasil pemeriksaan.

"Clara."

Clara langsung berdiri sedikit dari kursinya.

"Gimana, Dok?"

Dokter Risa duduk di depannya.

"Hasilnya menunjukkan fungsi ginjal kamu masih sangat rendah dan ada tanda kondisi kamu makin berat. Kita perlu pasang akses untuk persiapan terapi selanjutnya."

Clara menelan ludah.

"Berarti... hari ini saya masih boleh ke sekolah?"

Dokter Risa menghela napas kecil.

"Kalau setelah prosedurnya kondisi kamu stabil, kamu boleh datang sebentar. Tapi saya mau kamu hati-hati. Jangan berdiri terlalu lama, jangan angkat barang berat, dan kalau badan mulai nggak kuat, langsung duduk."

Clara mengangguk cepat.

"Berarti bisa, Dok?"

"Bisa kalau kondisi kamu tetap stabil."

Senyum kecil muncul di wajah Clara.

"Okay."

Nenek menggenggam tangannya.

"Jangan maksa."

Clara menatap Nenek.

"Clara cuma mau lulus, Nek."

Nenek diam.

Lalu mengusap rambutnya.

"Iya. Nenek tahu."

---

Prosedurnya nggak terasa lama.

Tapi buat Clara, setiap menit terasa panjang.

Dia menggigit bibir ketika rasa sakit datang.

Nenek terus menggenggam tangannya.

"Tarik napas, Sayang."

Clara mengangguk kecil.

Dia nggak mau menangis.

Bukan hari ini.

Setelah semuanya selesai, tangan Clara diperban.

Dokter Risa memeriksa kondisinya sekali lagi.

"Untuk sekarang stabil."

Clara mengembuskan napas lega.

"Tapi ingat, Clara. Kamu cuma datang untuk acara kelulusan. Jangan memaksakan diri sampai selesai kalau badan kamu nggak kuat."

"Iya, Dok."

"Dan kalau pusing atau sesak, langsung duduk. Jangan sok kuat."

Clara tersenyum kecil.

"Janji."

Jam menunjukkan 06.45.

Clara keluar dari ruang tindakan bersama Nenek.

Begitu pintu rumah sakit terbuka, Seokjin langsung berdiri dari motornya.

Matanya langsung tertuju ke tangan Clara.

"Ra."

Dia berjalan cepat menghampiri.

"Gimana?"

Clara mengangkat tangannya sedikit.

"Udah."

Seokjin diam beberapa detik.

Dia jelas pengin bertanya lebih banyak.

Tapi akhirnya cuma mengambil tas dari tangan Nenek.

"Udah siap?"

Clara mengangguk.

"Gue takut telat."

Seokjin menghela napas.

"Yang penting lo nggak maksa."

Clara tersenyum.

"Jangan cerewet."

Seokjin membuka helm untuk Clara.

"Naik pelan-pelan."

---

Jam 07.20 mereka sampai di sekolah.

Halaman sekolah udah penuh.

Balon putih dan biru menghiasi gerbang. Ada panggung besar di depan aula. Murid-murid sibuk foto dengan seragam terakhir mereka.

Begitu Clara turun dari motor, Mutiara, Diana, dan Safira langsung berlari.

Mutiara membawa buket bunga.

Diana langsung berteriak.

"WOY! PENGANTIN DATANG!"

Clara ketawa.

"Apaan sih!"

Untuk pertama kalinya sejak bangun tadi, tawanya terdengar benar-benar lepas.

Mutiara yang awalnya ikut ketawa tiba-tiba memperhatikan tangan Clara.

Matanya berubah.

"Lo dari RS?"

Clara mengangguk kecil.

"Jangan bilang siapa-siapa."

Mutiara langsung diam.

"Ra..."

"Nanti aja."

Clara tersenyum.

"Hari ini gue mau seneng dulu."

Mutiara menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

"Iya."

Bu guru sudah menyiapkan kursi roda di dekat panggung.

Clara melihatnya.

"Ini buat gue?"

"Iya," jawab Bu guru.

Clara tersenyum canggung.

"Nanti aja, Bu. Gue masih bisa jalan."

Bu guru nggak memaksa.

"Kalau capek, langsung duduk."

Clara mengangguk.

Di sisi lain panggung, Seokjin dan teman-temannya kelihatan mencurigakan.

Suga membawa sesuatu yang digulung.

Jhope memegang buket bunga.

Namjoon sibuk dengan kamera.

Jimin dan Taehyung berbisik-bisik.

Jungkook bahkan kelihatan hampir ketahuan guru karena membawa kardus besar.

Seokjin cuma berdiri sambil tersenyum.

"Jangan dibuka sekarang," bisik Suga.

"Nanti pas dia naik panggung."

Seokjin mengangguk.

"Tau."

---

Jam 07.30.

Dua mobil memasuki halaman sekolah.

Keluarga Clara datang.

Papa Faizan turun lebih dulu dengan batik rapi.

Mama Vania turun membawa tas obat.

Thea turun terakhir.

Dia mengenakan dress putih sederhana. Wajahnya masih pucat, tapi dia berusaha tersenyum.

Nenek langsung menghampiri mereka.

"Udah pada datang."

Mama mengangguk.

Lalu pandangannya jatuh ke Clara yang sedang berfoto bersama Mutiara, Diana, dan Safira.

"Clara cantik ya," kata Thea pelan.

Mama tersenyum tipis.

"Iya."

Tapi beberapa detik kemudian matanya kembali ke Thea.

"Thea capek? Mau duduk dulu?"

Clara melihat dari kejauhan.

Dadanya terasa sedikit sesak.

Bukan karena kaget.

Bukan juga karena baru pertama kali.

Dia udah terlalu sering melihat pemandangan seperti itu.

Clara menarik napas.

Gapapa.

Mereka datang.

Itu udah cukup.

---

Jam 08.00.

Acara dimulai.

Semua siswa duduk sesuai barisan.

Clara berada di barisan depan bersama siswa-siswa dengan prestasi akademik tertinggi.

Kursi roda berada nggak jauh darinya.

Perban di tangannya dia tutup dengan ujung selendang kebaya.

Kepala sekolah mulai memberikan sambutan.

Panjang.

Sangat panjang.

Diana beberapa kali hampir menguap.

Clara malah sibuk melihat ke arah barisan orang tua.

Nenek tersenyum dan melambaikan tangan.

Papa Faizan sesekali melihat ponselnya.

Mama Vania duduk sambil memperhatikan Thea yang terlihat mulai berkeringat.

Clara menatap mereka sebentar.

Kemudian melihat ke belakang panggung.

Seokjin mengangkat ibu jarinya.

Semangat.

Clara membalas dengan gerakan yang sama.

Senyumnya muncul.

Hari ini.

Dia mau bahagia.

---

Akhirnya sesi penghargaan dimulai.

Satu per satu nama siswa dipanggil.

Sampai suara MC terdengar dari pengeras suara.

"Dan penghargaan Lulusan Terbaik dengan nilai tertinggi selama tiga tahun berturut-turut, sekaligus peraih medali emas Olimpiade Sains Nasional..."

Clara menahan napas.

"Clara Nagendra!"

Aula langsung dipenuhi tepuk tangan.

Mutiara, Diana, dan Safira berteriak paling keras.

"CLARAAAA!"

Clara berdiri.

Pelan.

Kakinya masih terasa berat.

Dia sempat melihat kursi roda di sampingnya.

Tapi kemudian menggeleng.

Gue bisa.

Dia berjalan menuju tangga panggung.

Satu anak tangga.

Aman.

Dua.

Masih aman.

Tiga.

Napasnya mulai pendek.

Clara berhenti sebentar.

Seokjin yang melihat dari belakang panggung langsung maju setengah langkah.

Tapi Clara menggeleng kecil.

Gue bisa.

Dia melanjutkan.

Sampai akhirnya berhasil naik ke panggung.

Kepala sekolah tersenyum dan menjabat tangannya.

"Selamat, Clara. Kamu sudah memberikan prestasi yang luar biasa untuk sekolah."

"Terima kasih, Pak."

Clara menerima map kelulusan dan piala.

Pialanya terasa berat.

Tapi Clara menggenggamnya erat.

MC kemudian berkata,

"Silakan, Clara, menyampaikan sepatah dua patah kata."

Clara berjalan menuju mikrofon.

Tangannya gemetar.

Bukan karena gugup.

Tubuhnya sedang meminta berhenti.

Tapi Clara menahannya.

Dia melihat ke bawah.

Mencari satu orang.

Mama.

Akhirnya matanya menemukan Mama Vania.

Mama sedang duduk di barisan tengah.

Dan untuk pertama kalinya sejak Clara naik ke panggung...

Mama menatapnya.

Mata mereka bertemu.

Clara tersenyum kecil.

Dia ingin mengatakan banyak hal.

Makasih, Ma.

Gue lulus.

Gue berhasil.

Gue udah berusaha selama ini.

Bibirnya baru saja terbuka—

"Thea?"

Suara Mama terdengar dari bawah.

Clara berhenti.

Thea yang tadi duduk tiba-tiba tubuhnya melemas dan kepalanya jatuh ke bahu Mama.

"Thea!"

Mama langsung berdiri.

Papa ikut bangkit.

Nenek yang melihat dari sisi aula juga langsung bergerak.

Guru-guru mendekat.

Suasana aula berubah dalam hitungan detik.

Yang tadi penuh tepuk tangan sekarang dipenuhi suara panik.

Clara masih berdiri di atas panggung.

Piala di tangan kanannya.

Map ijazah di tangan kirinya.

Mikrofon tepat di depan wajahnya.

Di bawah panggung, Seokjin yang tadi hendak membuka spanduk langsung berhenti.

Suga menurunkan tangannya.

Jhope memandang Clara.

Namjoon mematikan kameranya.

Semua bingung harus melakukan apa.

Lalu Mama berteriak ke arah panggung.

"Clara! Tolong panggil guru! Adik kamu pingsan!"

Clara membeku.

Dia melihat Mama berusaha menopang Thea.

Melihat Papa memanggil guru.

Melihat orang-orang mulai mengerumuni adiknya.

Dan sekali lagi...

Semua berlari ke arah Thea.

Clara menunduk.

Piala di tangannya terasa semakin berat.

Matanya panas.

Air mata pertama jatuh ke kebaya birunya.

Nenek akhirnya naik ke panggung.

Dia nggak bertanya apa-apa.

Nenek langsung memeluk Clara dari belakang.

"Gapapa, Sayang."

Suara Nenek bergetar.

"Nenek di sini."

Clara menggigit bibir.

"Nenek lihat kamu."

Kalimat itu langsung menghancurkan pertahanan Clara.

Air matanya jatuh lebih banyak.

Dia memeluk tangan Nenek.

Di bawah panggung, Seokjin akhirnya membuka spanduk yang sejak tadi disembunyikan.

Tulisan besar itu terbentang.

SELAMAT LULUS, CLARA!

RUMAH LO ADA DI SINI!

Tapi hampir nggak ada yang memperhatikannya.

Seokjin memegang ujung spanduk itu sendirian.

Matanya merah.

Dia menatap Clara.

Clara menatap balik.

Nggak ada kata-kata.

Cuma tatapan yang sama-sama mengerti.

Di luar aula, suara kendaraan medis terdengar.

Guru-guru mulai membawa Thea keluar untuk mendapatkan pertolongan.

Mama berjalan tergesa-gesa mengikuti mereka.

Papa menyusul.

Sementara Clara masih berada di atas panggung.

Bersama Nenek.

Dengan kebaya biru.

Dengan tangan yang masih diperban.

Dengan piala juara umum.

Dengan ijazah kelulusan.

Dan dengan senyum yang sudah nggak mampu lagi dia pertahankan.

Clara menatap pintu aula yang terbuka.

Keluarganya kembali pergi mengejar Thea.

Bukan karena mereka nggak sayang padanya.

Tapi entah kenapa, setiap kali Clara membutuhkan mereka...

selalu ada sesuatu yang membuat perhatian mereka berpindah.

Clara menunduk.

Mikrofon masih menyala.

Satu aula mendengar suara napasnya yang mulai berat.

Nenek mempererat pelukannya.

"Kalau mau nangis, nangis aja."

Clara akhirnya menangis.

Bukan karena dia nggak bahagia.

Dia bahagia.

Dia lulus.

Dia berhasil.

Dia mendapatkan penghargaan yang selama ini dia kejar.

Tapi di hari yang paling dia tunggu...

Clara akhirnya sadar satu hal.

Ternyata yang paling dia inginkan bukan piala.

Bukan nilai.

Bukan gelar lulusan terbaik.

Dia cuma ingin seseorang melihatnya.

Dan hari itu...

untuk pertama kalinya, dia nggak lagi mau pura-pura kalau dia nggak terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!