Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Han, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Rahasia Berakhir Taruhan
Reno masih mematung di dalam lift yang sudah sampai di lantai lobi utama. Pintu lift terbuka dan tertutup beberapa kali, tapi kakinya seolah tertanam di sana. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Memikirkan siapa yang mengambil foto itu? Bagaimana bisa ada orang yang tahu mereka sekamar di apartemen pribadi maya?
"Sial!" umpat Reno pelan. Dia segera melangkah keluar dari, tiba di meja resepsionis ia mengabaikan sapaan pelayan resepsionis apartemen.
Setibanya di depan pintu kemudi mobil, ia masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu keras, dan segera menyalakan mesin. Tangannya gemetar saat mencoba membuka kembali pesan dari nomor misterius itu, tapi pesannya sudah dihapus. Fitur view once atau memang sengaja ditarik.
"Gue harus ke kantor. Nggak, gue harus pulang dulu!" gumam Reno panik. Dia nggak sadar kalau ponselnya dari tadi bergetar karena telepon dari Bara.
Di sisi lain, Bara sudah rapi dengan kemeja biru di baluti dengan jas hitam. Di saat baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, tiba Renata masuk membawa segelas susu hangat.
"Mas, jangan lupa diminum dulu susunya. Biar stamina kamu terjaga, apalagi semalam habis lembur," ucap Renata lembut sembari meletakkan gelas itu di nakas.
Bara tersenyum, lalu mengecup pipi istrinya singkat. "Makasih ya, Sayang. Kamu benar-benar istri idaman. Oh iya, aku berangkat sekarang ya. Aku mau mampir ke rumah Reno dulu, mumpung searah ke kantor."
"Hati-hati ya, Mas. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah Reno," balas Renata.
Bara mengambil kunci mobil dan ponselnya. Saat dia berjalan menuju garasi, hatinya sebenarnya masih terasa tidak tenang. Kenapa sepupunya itu semalaman hingga kini tidak ada kabar.
Perjalanan pagi ini, sangat pada membuat Mobil Bara meluncur perlahan. Membawa pikirannya yang bercabang antara kebahagiaan karena kehamilan Renata dan kecemasan soal sepupunya. Tak butuh waktu lama, sekitar satu jam perjalanan, dia sampai di depan gerbang rumah Reno yang minimalis namun elegan.
Bara turun dari mobil dan menekan bel berkali-kali. "Ren! Reno! Woy, buka pintu!"
Hening...
Tidak ada sahutan dari dalam. Bahkan iamencoba mengintip dari celah pagar untuk melihat mobil Reno apa terpakir di dalam garasi. Matanya mengamati sekeliling garasi, ternyata mobil itu tidak ada. Otomatis Reno tidak ada di rumahnya.
Bara seolah terdiam sejenak, kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya, mobil kembali berjalan pergi menuju kantor pusat Adiwangsa.
Di sisi lain, Reno baru saja melangkah masuk ke lobi perusahaan dengan langkah yang dipaksakan, meski sisa-sisa kegelisahan semalam masih membayangi wajahnya. Ia sempat merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut sebelum melewati pintu otomatis. Dua resepsionis menyapanya dengan ramah, namun Reno hanya membalas dengan anggukan singkat tanpa senyum.
Pikirannya masih tertinggal di apartemen Maya—dan foto misterius yang masuk ke ponselnya tadi.
Begitu sampai di ruangannya, Reno langsung menghempaskan tubuh ke kursi kebesarannya. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut, mencoba menyusun skenario di kepala jika Bara mendadak menginterogasinya. Baru saja ia membuka satu dokumen untuk berpura-pura sibuk, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dengan bantingan keras.
BRAK!
Bara muncul dengan napas memburu dan tatapan mata yang seolah ingin menembus jantung Reno. Tanpa basa-basi, Bara berjalan cepat menghampiri dan langsung mencengkeram jas Reno, memaksa pria itu bangkit dari kursinya.
"Lo jujur sekarang sama gue! Di saat gue sendirian nanganin masalah kantor SEHARIAN, LO KEMANA, BANGSAT?!" teriak Bara tepat di depan wajah Reno. Suaranya menggelegar, membuat suasana di lantai pimpinan mendadak mencekam.
Reno tersentak, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, tapi ia berusaha tetap terlihat tenang. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab dengan nada terbata.
"Lepasin... lepasin gue dulu, Bar. Biar gue bisa jelasin kenapa seharian gue nggak ngabarin lo," ucap Reno berusaha mengatur napas.
Bara melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Reno sedikit terhuyung. Bara berdiri di depan meja dengan tangan bersedekap, menanti penjelasan yang masuk akal dari sepupunya itu.
Reno membetulkan letak jasnya, lalu duduk kembali dengan perlahan. Ia menatap Bara dengan sorot mata yang dibuat sedemikian rupa agar terlihat lelah dan penuh beban.
"Jadi begini, Bar... semalaman pikiran gue lagi kacau banget," ucap Reno dengan suara yang sengaja direndahkan, seolah sedang membagi rahasia berat. Tidak ada sedikit pun nada mencurigakan dalam intonasinya. "Ada masalah pribadi yang bener-bener bikin gue nggak fokus. Gue mutusin buat off total dari dunia luar karena gue ngerasa nggak sanggup ngomong sama siapa-siapa, bahkan sama lo sekalipun."
Bara masih menatapnya tajam, mencari celah kebohongan di mata sepupunya itu. "Masalah pribadi apa sampai lo tega biarin gue handel semua kekacauan sendirian? Lo tahu kan perusahaan lagi dalam kondisi genting? Terus gue juga udah pernah bilang masalah pribadi jangan di bawa urusan pekerjaan... Inget kan?"
Reno menghela napas panjang, aktingnya semakin meyakinkan. "Gue tahu, Bar. Dan gue minta maaf banget. Gue cuma butuh waktu buat tenangin diri di apartemen sekitar sini, Bar. Gue juga nggak pergi ke mana-mana. Tapi yang gue butuh cuma kesendirian, Bar."
Bara terdiam sejenak. Amarahnya sedikit mereda mendengar suara Reno yang terdengar sangat jujur—padahal itu hanyalah ilusi perkataanya untuk menutupi jejak malam panasnya dengan Maya.
"Lain kali, sesakit apa pun kondisi lo, kabarin gue," ucap Bara dingin. "Gue hampir aja mikir yang nggak-nggak soal lo."
Reno hanya mengangguk pelan. "Iya, Bar. Gue janji nggak bakal keulang lagi."
Tepat saat suasana mulai sedikit mencair, pintu ruangan Reno kembali diketuk. Salah satu staff masuk dengan wajah pucat. "Maaf, Pak Bara... ada paket mendesak di meja resepsionis lantai bawah Pak, katanya dari orang terdekat Bapak."
Bara menoleh, lalu melirik Reno sekali lagi sebelum beranjak keluar. "Urus laporan keuangan yang gue kasih semalam. Jangan ada kesalahan."
Begitu pintu tertutup rapat, Reno langsung merosot di kursinya. Napasnya yang tadi tertahan kini keluar dengan berat. Ia selamat untuk sementara, tapi ia tahu, ketenangan ini tidak akan bertahan lama jika isi paket itu ternyata adalah sebuah foto.
Bara melangkah lebar menuju lobi, meninggalkan ruangan Reno dengan sisa-sisa amarah yang masih membekas di dadanya. Setibanya di meja resepsionis yang megah itu, dua wanita penjaga meja langsung berdiri tegak dan memberi salam dengan sopan.
"Pagi, Pak Bara," sapa mereka serempak.
Bara tidak membalas sapaan itu dengan kata-kata, ia hanya menatap tajam ke arah mereka. "Mana paket yang tadi dibilang mendesak itu?"
"Oh, ini Bapak paket yang Bapak minta. Kami simpan dengan baik sejak tadi pagi," ucap salah satu resepsionis sambil menyerahkan sebuah kantung kain yang terlihat cukup rapi.
Bara menerima paket itu dengan satu tangan. Ia membolak-balik benda tersebut dengan kening berkerut. Alih-alih dokumen rahasia atau foto skandal sepupunya, ternyata paket itu adalah sebuah kotak bekal makan berwarna pastel.
Bara terpaku. Ia mematung selama beberapa detik, mencoba mencerna situasi. Otaknya yang sedari tadi sudah menyusun skenario pengkhianatan mendadak macet total. Ia teringat kembali kata-kata stafnya di lantai atas tadi yang bilang ada "paket pribadi". Ternyata, orang yang dimaksud adalah istrinya sendiri. Renata pasti sengaja mengirimkan bekal ini karena tahu suaminya belum sempat sarapan dengan benar tadi pagi.
Melihat sang CEO yang mendadak bengong sambil memandangi kotak nasi, dua wanita resepsionis itu saling lirik dengan bingung. Salah satunya memberanikan diri untuk bersuara.
"Permisi, Pak... Ada masalah dengan paketnya? Atau mungkin ada yang salah?" tanyanya ragu-ragu.
Bara tersentak dari lamunannya. Ia segera berdehem keras, berusaha mengembalikan wibawanya yang sempat runtuh gara-gara sebuah kotak bekal.
"Tidak," potong Bara cepat. "Saya cuma lagi pusing saja. Karena terlalu banyak urusan."
Ia memeluk kotak bekal itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memijat pangkal hidung. "Yaudah, terima kasih ya."
Bara berbalik arah, kembali menuju lift dengan perasaan yang jauh lebih tenang sekaligus merasa sedikit bodoh karena sudah berpikiran yang macam-macam.
Akan tetapi Bara sama sekali tidak menduga bahwa di saat yang bersamaan, Reno sebenarnya sedang menyembunyikan rahasia besar bersama Maya di apartemen semalam.
Bara kembali ke ruangan Reno dengan langkah yang jauh lebih santai. Melihat Bara datang lagi, Reno yang tadinya sudah hampir jantungan kembali tegang, mencoba membaca ekspresi sepupunya itu.
"Gimana, Bar? Paket apa itu? Penting banget ya sampai lo buru-buru gitu ke bawah?" tanya Reno hati-hati, matanya melirik benda yang dipegang Bara.
Bara terkekeh pelan sambil mengangkat kantung itu. "Bukan paket sih, Ren. Ternyata ini cuma tempat makan dari bini gue. Dia kirim bekal buat sarapan."
Reno seketika membuang napas lega yang sangat panjang, meski ia berusaha menyembunyikannya dengan anggukan kecil. "Oh... kirain apaan. Perhatian banget ya bini lo," jawab Reno, mencoba ikut tersenyum natural walau hatinya masih berdegup kencang.
"Iya kayak nggak tau aja lo, tapi mungkin dia tahu gue bakal stres di kantor hari ini," sahut Bara sambil menepuk bahu Reno. "Yaudah Ren, gue balik ke ruangan dulu. Mau makan masakan istri gue mumpung masih anget. Perut gue udah laper banget gara-gara lo nih."
Reno mengangguk, merasa nyawanya baru saja kembali seutuhnya. "Sip, Bar. Makan yang banyak."
Namun, tepat saat Bara sudah memegang gagang pintu, Reno teringat sesuatu dan berseru kecil. "Eh, jangan lupa Bar, sore nanti kita ada meeting besar sama investor dari Singapura. Jangan sampai kelewat, awas aja lo sampai lupa juga!"
"Tenang aja, gue nggak bakal lupa kalau soal duit," balas Bara santai sebelum menghilang di balik pintu.
Begitu pintu tertutup, Reno menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Ia menatap langit-langit ruangannya dengan tatapan kosong. Ia selamat dari kecurigaan Bara pagi ini, tapi bayangan Maya dan foto misterius di ponselnya tetap menjadi duri yang siap menusuknya kapan saja. Sementara itu, di ruangannya, Bara membuka kotak bekal dari Renata dengan senyum lebar, tanpa tahu bahwa badai besar sedang bersiap menghantam kebahagiaannya.
Bara duduk di kursi kebesarannya, membuka kotak bekal itu dengan perlahan. Aroma nasi goreng hangat dengan telur mata sapi kesukaannya langsung memenuhi ruangan. Ada secarik kertas kecil terselip di balik tutupnya: "Semangat kerjanya ya, Mas. Aku dan dedek bayi nunggu kamu di rumah."
Senyum Bara mengembang. Semua beban pikiran dan rasa curiganya pada Reno seolah menguap begitu saja. Baginya, Renata adalah pelabuhan terakhir yang paling menenangkan. Tanpa ragu, ia mulai menyantap masakan itu dengan lahap, menikmati setiap suapan seolah itu adalah hidangan paling mewah di dunia.
Sementara itu, di ruangannya, Reno masih terpaku menatap ponselnya. Ia membuka kembali galeri, memandangi foto yang sempat ia tangkap layar sebelum pengirimnya menghapus pesan tersebut. Foto itu adalah bukti nyata bahwa ia telah mengkhianati kepercayaan saudara sendiri.
"Gue harus cari tahu siapa yang ngirim foto ini," bisik Reno tajam. Matanya yang tadi ketakutan, kini berubah menjadi penuh kewaspadaan. Ia tahu, selama orang misterius itu memegang bukti tersebut, hidupnya dan Maya berada dalam bahaya.
Reno bangkit, berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan hiruk pikuk kota Jakarta. Di luar sana, langit mulai mendung, seolah memberi pertanda bahwa ketenangan yang dirasakan Bara hanyalah jeda singkat sebelum badai besar benar-benar menghancurkan segalanya.
Bara yang sedang berbahagia dengan kabar kehamilan istrinya, dan Reno yang sedang merayap di atas duri kebohongannya sendiri. Dua sisi mata uang yang kini sedang menunggu waktu untuk saling berbenturan.
Berbeda dengab Reno yabg masih berdiri di depan jendela, menggenggam erat ponselnya hingga kuku jarinya memutih. Kelegaan yang tadi ia rasakan saat Bara keluar ruangan kini menguap tak berbekas, berganti dengan rasa sesak yang menghimpit dada.
Tiba-tiba, ponsel di genggamannya bergetar panjang. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor misterius yang tadi pagi menerornya. Jantung Reno seolah berhenti berdetak saat membaca baris demi baris kalimat yang muncul di layarnya.
Unknown, "Halo, Bro? Gimana perasaan lo sekarang. Pasti dugaan gue lo udah ketemu sepupu lo iya?"
Mata Reno membelalak. Orang ini benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam ruangan tadi. Siapa pun dia, orang ini kemungkinan besar adalah orang dalam perusahaan, seseorang yang bisa memantau setiap gerak-geriknya tanpa dicurigai.
Pesan berikutnya menyusul, lebih dingin dan tanpa ampun.
Unknown, "Gue nggak mau banyak basa-basi, jadi to the point aja biar cepat. Sekarang gue tunggu sampai beberapa hari ke depan. Kalau lo nggak transfer 200 juta ke rekening yang bakal gue kasih nanti, foto-foto skandal lo di apartemen semalam bakal gue sebarin ke media sosial. Bayangin gimana reaksi sepupu lo dan publik kalau tahu tangan kanan dari CEO Adiwangsa Group ternyata main belakang sama mantan bosnya."
Reno merasakan lututnya lemas seketika. Ia menyandarkan punggungnya ke kaca jendela, menatap nanar ke arah layar ponsel.
Unknown, "Gue tunggu ya... Pokonya Jangan coba-coba main-main ya, Bro."
Reno menatap pintu ruangannya yang tertutup rapat dengan perasaan ngeri. Di balik dinding itu, Bara mungkin sedang menikmati bekal dari istrinya dengan penuh kebahagiaan, tanpa tahu bahwa orang yang paling ia percaya kini sedang diseret ke dalam jurang kehancuran.
Uang 200 juta jumlah yang sedikit baginya, tapi yang lebih mengerikan adalah ancaman itu sendiri. Siapa sosok "orang dalam" ini? Dan apakah Reno sanggup menanggung beban rahasia ini sendirian sebelum semuanya meledak tepat di depan muka Bara?