Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Wangi Melati di Saku Seragam
Semburat fajar baru saja menyibak tirai malam ketika Jenawa telah berdiri di hadapan meja setrika kayu di sudut kamarnya. Bagi seorang pemuda yang terbiasa memegang stang motor dan mengepalkan tinju, menggenggam gagang setrika adalah sebuah anomali yang menggelikan. Namun pagi itu, dengan telaten dan penuh kehati-hatian, Jenawa menyetrika selembar saputangan putih yang telah ia cuci bersih semalam suntuk.
Ia mengangkat kain mungil itu ke udara, memastikan tak ada satu pun lipatan yang kusut. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya kala samar-samar aroma melati kembali menyapa indra penciumannya. Wangi yang sama dengan presensi gadis itu. Dengan perlahan, Jenawa melipat saputangan tersebut menjadi kotak kecil yang rapi dan menyimpannya ke dalam saku kemeja seragamnya, tepat di depan dada kirinya.
Hari ini, pelataran SMA Bangsa terasa jauh lebih damai dari biasanya. Kabar tentang takluknya Agam di simpang empat kemarin sore telah menyebar bagai kobaran api tertiup angin ke penjuru sekolah. Kemenangan tanpa jatuhnya korban dari pihak SMA Bangsa membuat nama Jenawa kian disegani, bahkan oleh guru-guru kedisiplinan yang biasanya memandangnya dengan sebelah mata.
"Pagi yang cerah untuk Sang Panglima," sapa Seno ceria, merangkul bahu Jenawa kala pemuda itu baru saja turun dari sepeda motornya di area parkir. "Kudengar dari anak-anak yang piket pagi, tidak ada satu pun bayangan anak Pelita di jalan utama. Kau benar-benar membuat mereka kocar-kacir, Wa."
Jenawa melepaskan helmnya dan mengusap rambutnya yang sedikit berantakan. "Biarkan mereka belajar bahwa jalan raya bukanlah tempat untuk menguji ketebalan nyali, Seno. Selama mereka tak mengusik, kita pun tak akan mencari perkara."
Seno terkekeh pelan. "Terserah kau sajalah. Ngomong-ngomong, kau tampak berbeda pagi ini. Ada raut yang sulit kujelaskan di wajahmu. Kau terlihat... lebih rapi, dan entahlah, kau bahkan memakai pewangi pakaian yang baunya seperti bunga?"
"Kau terlalu banyak membual pagi ini, Seno," kilah Jenawa seraya menepis pelan rangkulan kawan karibnya itu, berusaha menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul. Ia tak mungkin menceritakan perihal saputangan di saku dadanya. "Aku harus segera ke kelas. Ada PR Matematika yang belum rampung kusalin."
Tanpa menunggu balasan Seno yang kebingungan, Jenawa melangkah dengan ritme cepat menyusuri lorong sekolah. Namun, tujuannya bukanlah kelas dua belas, melainkan balkon koridor kelas sepuluh. Instingnya menuntun pemuda itu untuk mencari sesosok figur yang selalu berhasil mengalihkan dunianya.
Di depan ruang laboratorium biologi, langkah Jenawa melambat. Ia menemukannya.
Sinaca Tina tengah berdiri di sana, sibuk menata beberapa tabung reaksi ke dalam rak kayu. Gadis itu belum menyadari kehadiran Jenawa. Dari sudut pandang ini, Jenawa bisa melihat betapa tenangnya raut wajah Sinaca saat sedang berkonsentrasi. Cahaya matahari pagi yang menerobos dari celah ventilasi membingkai wajahnya, memancarkan pesona yang membuat Jenawa sejenak lupa pada hiruk-pikuk sekolah di sekelilingnya.
"Apakah petugas laboratorium sekarang merangkap menjadi siswi kelas sepuluh?"
Suara bariton yang mengalun tenang itu membuat bahu Sinaca sedikit berjengit. Ia menoleh dan mendapati Jenawa berdiri bersandar pada kusen pintu, kedua tangannya tersimpan santai di dalam saku celana. Sisa memar di sudut bibir pemuda itu mulai memudar, dan tak ada lagi raut buas yang sempat menghiasi wajahnya kemarin petang.
"Dan apakah siswa kelas dua belas kini memiliki kebiasaan berkeliaran di area adik kelas sebelum bel masuk berbunyi?" balas Sinaca, tak mau kalah. Meski bahasanya masih tertata rapi, ada nada jenaka yang terselip di sana—sebuah kemajuan pesat dari perdebatan mereka di bawah lembayung senja.
Jenawa tertawa pelan. Ia melangkah masuk, berhenti tepat dalam jarak yang sopan dari hadapan gadis itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jenawa merogoh saku kemejanya dan mengulurkan sebuah benda putih yang terlipat amat rapi.
Sinaca menatap saputangan itu, lalu menatap Jenawa dengan sepasang mata cokelatnya yang sedikit melebar. "Kau benar-benar membersihkannya secepat ini?"
"Sebuah janji pantang untuk ditunda, Sinaca," jawab Jenawa lembut. "Sudah kucuci bersih dari segala debu jalanan, kusetrika hingga tak ada lipatan yang keliru, dan kuberi sedikit pewangi. Kuharap wanginya tidak merusak aroma melati aslinya."
Sinaca menerima saputangan itu dengan ujung jemarinya. Ia membalikkan lipatannya, mengamati betapa rapinya kain tersebut. Ada sebersit rasa takjub yang tak mampu ia sembunyikan. Siapa yang menyangka, tangan kasar yang kemarin sanggup merubuhkan seorang pimpinan geng jalanan, adalah tangan yang sama yang menyetrika saputangan mungil ini dengan penuh kelembutan?
"Aku tidak menyangka seorang Jenawa memiliki ketelatenan dalam hal semacam ini," gumam Sinaca, seulas senyum simpul yang amat manis akhirnya terbit di bibirnya. "Terima kasih. Kau merawatnya dengan sangat baik."
"Hanya untuk hal-hal yang kuanggap berharga," balas Jenawa penuh arti. Tatapannya tak sedetik pun lepas dari senyum di bibir Sinaca. "Termasuk merawat janjiku padamu."
Rona merah seketika menjalar di kedua pipi Sinaca. Gadis yang biasanya selalu memiliki jawaban logis untuk segala hal itu mendadak kehilangan perbendaharaan kata. Ia segera memasukkan saputangan itu ke dalam saku roknya, berpura-pura kembali sibuk menata rak kayu untuk menyembunyikan salah tingkahnya.
"Bel masuk akan segera berbunyi, Jenawa," ucap Sinaca, berusaha mengembalikan nada suaranya agar terdengar datar, meski sedikit bergetar. "Kau harus kembali ke kelasmu di lantai atas."
"Kau mengusirku secara halus rupa-rupanya," goda Jenawa, meski ia tak berniat membantah. Pemuda itu memundurkan langkahnya menuju pintu. "Baiklah, aku akan kembali ke wilayahku. Namun sebagai gantinya, izinkan aku menemanimu istirahat siang nanti di perpustakaan. Aku berjanji tidak akan membawa keributan kawan-kawanku ke sana."
Sinaca menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia memutar tubuhnya kembali menghadap Jenawa. "Perpustakaan adalah tempat untuk membaca dalam sunyi. Jika kau bisa menahan diri untuk tidak menginterupsi keheningan, aku tak memiliki alasan untuk melarangmu."
"Kesepakatan diterima," sahut Jenawa dengan senyum kemenangan yang mengembang di wajahnya. "Sampai jumpa siang nanti, Sinaca."
Pemuda itu membalikkan badan dan melangkah menyusuri lorong dengan dada yang terasa seringan kapas. Sementara di dalam ruang laboratorium, Sinaca Tina berdiri mematung, meraba saku roknya tempat saputangan itu kini berada. Di sela-sela dentang bel sekolah yang mulai berbunyi nyaring, gadis itu akhirnya menyadari satu hal yang tak bisa lagi ia pungkiri: tembok pertahanannya perlahan namun pasti telah runtuh oleh pesona seorang berandalan keras kepala bernama Jenawa Adraw.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪