Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - Janji Yang Tak Hilang
Sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah ada bagian kecil dari dunia yang sengaja diperlambat tanpa alasan yang jelas. Halte yang sama berdiri di tempatnya, bangku besi yang dingin masih menyimpan jejak orang-orang yang datang dan pergi, sementara angin berembus dengan ritme yang hampir identik seperti hari-hari sebelumnya. Airel Virellia duduk di ujung, tangannya menggenggam tali tas tanpa sadar, dan matanya tertuju ke jalan meski pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan angka yang sudah terlalu ia kenal, angka yang selalu datang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Jarum detik bergerak pelan, stabil, tidak pernah ragu seperti dirinya yang terus menunggu sesuatu yang tidak pasti. Ia menatapnya beberapa saat, lalu mengalihkan pandangan ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun.
17.46.
Beberapa detik berlalu begitu saja, tidak ada perubahan di sekitar halte itu, tidak ada suara yang tiba-tiba berbeda atau langkah kaki yang terasa lebih dekat. Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai bergerak perlahan, seperti pintu lama yang jarang disentuh akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Perasaan itu tidak datang dengan jelas, tidak juga membawa bentuk yang langsung bisa dikenali.
Bukan kenangan yang utuh.
Lebih seperti serpihan kecil yang muncul tanpa urutan yang rapi.
Airel menunduk sedikit, napasnya menjadi lebih pelan, seolah tubuhnya berusaha menyesuaikan diri dengan sesuatu yang perlahan bangkit dari dalam. Jari-jarinya mengendur dari tali tas, lalu kembali menggenggam tanpa sadar, seperti sedang mencari pegangan di antara sesuatu yang tidak terlihat.
Suara anak-anak mulai terdengar samar, tidak jelas asalnya dari mana. Tawa yang ringan bercampur dengan langkah kaki kecil yang berlari di atas jalanan yang belum terlalu ramai, menciptakan suasana yang terasa jauh dari halte itu.
Ia tidak benar-benar melihatnya.
Namun ia mengenal suasana itu.
Hangat, terang, dan jauh dari kesunyian yang sekarang.
Bayangan itu muncul perlahan, seperti gambar yang mulai terbentuk dari kabut tipis. Seorang gadis kecil berdiri di pinggir jalan, memeluk sesuatu di dadanya dengan erat, seolah benda itu adalah satu-satunya yang bisa ia andalkan. Rambutnya sedikit berantakan, dan meski wajahnya tidak sepenuhnya terlihat, ada kegelisahan yang jelas terasa dari cara ia berdiri.
Di depannya, beberapa anak lain berdiri dengan ekspresi yang tidak ramah. Mereka tidak mendekat, tetapi cukup untuk membuat jarak terasa menekan. Suara mereka terdengar samar, seperti diputar dari kejauhan, tidak cukup jelas untuk dipahami tetapi cukup untuk membuat suasana terasa tidak nyaman.
Airel mengerjapkan mata pelan, mencoba fokus pada potongan itu.
Namun bayangan tersebut bergeser.
Gadis kecil itu mundur selangkah, tangannya semakin erat memeluk apa yang ia bawa. Bahunya sedikit menegang, seolah bersiap untuk sesuatu yang belum terjadi. Ada rasa takut yang tidak perlu dijelaskan, karena terlihat jelas dari caranya bertahan di tempat.
Lalu suara lain muncul.
Langkah kaki yang lebih cepat, lebih pasti.
Seseorang berdiri di depannya.
Tidak terlalu tinggi, tetapi cukup untuk menutup pandangan gadis kecil itu dari anak-anak yang lain. Bahunya tegak, posisinya seperti garis yang tidak boleh dilewati, menciptakan batas tanpa perlu banyak kata.
“Sudah.”
Suara itu terdengar datar, tidak keras, tetapi cukup tegas untuk mengubah suasana. Anak-anak di depan mereka saling berpandangan, ragu sejenak sebelum akhirnya mundur satu per satu. Tidak ada perlawanan, tidak ada protes, seolah mereka tahu bahwa melanjutkan sesuatu di sana bukan pilihan yang baik.
Bayangan itu bergerak lagi.
Gadis kecil itu menatap punggung anak laki-laki di depannya. Ada sesuatu dalam cara ia berdiri, sesuatu yang membuat jarak yang sebelumnya terasa menekan kini berubah menjadi aman.
Angin sore menyapu pelan.
“Ayo.”
Suara itu singkat, tanpa penjelasan, tanpa perlu ditambah kata lain.
Gadis kecil itu ragu sejenak, lalu mengangguk pelan, meski mungkin ia sendiri tidak sadar. Langkahnya mengikuti dari belakang, menjaga jarak kecil, seperti takut mengganggu keberadaan yang baru saja melindunginya.
Mereka berjalan tanpa banyak bicara.
Jalanan yang tadi terasa sempit kini terasa lebih luas, lebih ringan. Tidak ada lagi tekanan yang sama, hanya suara langkah kaki yang berjalan berdampingan dengan ritme yang berbeda.
Airel menarik napas pelan di dunia nyata.
Matanya tetap terbuka, tetapi pandangannya kosong, seolah dua dunia berjalan bersamaan tanpa saling mengganggu.
Potongan itu belum selesai.
Ia bisa merasakannya.
Gambar itu beralih lagi.
Langit senja muncul dengan warna yang lebih cerah dari yang ia lihat sekarang, membawa nuansa yang lebih hangat dan tenang. Angin membawa aroma tanah dan sesuatu yang sulit dijelaskan, menciptakan suasana yang terasa akrab.
Sebuah tempat yang lebih tinggi dari jalan biasa.
Rooftop.
Lebih kecil, lebih sederhana, tetapi cukup untuk melihat dunia dari sudut yang berbeda.
Gadis kecil itu berdiri di dekat pagar, menatap ke bawah dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Tidak ada lagi ketakutan seperti sebelumnya, hanya rasa asing yang perlahan berubah menjadi nyaman.
Di sampingnya, anak laki-laki itu berdiri dengan santai.
Ia tidak banyak bicara.
Namun kehadirannya cukup.
“Kenapa suka ke sini?” tanya suara kecil itu, pelan.
Anak laki-laki itu tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan, seperti sedang mencari kata yang tepat, atau mungkin memang tidak terbiasa menjelaskan apa yang ia rasakan.
“Tenang.”
Satu kata itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat gadis kecil itu mengangguk. Tidak ada pertanyaan lanjutan, seolah jawaban itu sudah cukup untuk menjelaskan segalanya.
Airel mengerjapkan mata lagi.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, tidak seirama seperti sebelumnya.
Ia mencoba melihat wajah anak itu dengan lebih jelas, tetapi setiap kali ia fokus, bayangan itu justru mengabur dengan sendirinya. Hanya siluet, hanya garis yang tidak pernah benar-benar terbentuk menjadi sesuatu yang utuh.
Namun suaranya tetap terasa dekat.
Terlalu dekat untuk dianggap asing.
Potongan berikutnya datang lebih cepat.
Hari yang berbeda.
Langit yang lebih gelap.
Suasana yang berubah.
Gadis kecil itu berdiri dengan tangan yang saling menggenggam, matanya menatap ke arah anak laki-laki di depannya. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak lagi ringan seperti sebelumnya.
“Harus pergi?” tanyanya pelan.
Anak laki-laki itu mengangguk.
Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada alasan yang dibuka.
Hanya jawaban singkat yang terasa berat.
Gadis kecil itu menunduk sedikit, bahunya turun pelan. Ia tidak menangis, tetapi ada sesuatu dalam cara ia berdiri yang menunjukkan bahwa ia tidak siap menerima itu.
“Berapa lama?” tanyanya lagi.
Anak laki-laki itu terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia pastikan.
“Enggak tahu.”
Jawaban itu menggantung, membuat suasana menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.
Angin berembus lebih kencang.
Gadis kecil itu menggigit bibirnya pelan, menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan. Tangannya mengepal sedikit, seperti mencoba menjaga dirinya tetap tenang.
“Aku ke sini lagi besok,” katanya cepat.
Anak laki-laki itu menatapnya, tidak langsung merespons.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia melangkah sedikit lebih dekat.
Gerakannya tidak terburu-buru.
Tangannya terangkat, berhenti sejenak sebelum akhirnya menepuk pelan kepala gadis kecil itu.
“Jangan ke sini terus.”
Gadis kecil itu langsung menggeleng.
“Kenapa?”
Tidak ada jawaban langsung.
Hanya jeda yang terasa lebih lama.
“Tunggu aku.”
Dua kata itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat segalanya terasa berbeda.
Gadis kecil itu mengangkat wajahnya, menatap ke arah anak laki-laki itu. Ada harapan yang muncul begitu cepat, tanpa ragu.
“Kamu bakal balik?”
Anak laki-laki itu tidak menjawab dengan kata.
Ia hanya mengangguk.
Satu kali.
Cukup.
Airel menarik napas lebih dalam.
Jantungnya berdetak tidak teratur sekarang, seolah mencoba menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru saja ia ingat.
Potongan itu mulai memudar, tetapi satu bagian masih tertinggal.
Langit yang semakin gelap.
Langkah kaki yang menjauh.
Dan seorang gadis kecil yang tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung seseorang yang perlahan menghilang.
Ia tidak bergerak.
Seperti sedang memastikan sesuatu.
Seperti sedang mengingat.
Airel menutup matanya sejenak.
Ketika ia membukanya kembali, halte itu kembali utuh di hadapannya. Lampu yang berkedip pelan, jalan yang mulai sepi, dan suara kendaraan yang sesekali lewat terasa nyata lagi.
Tangannya masih berada di posisi yang sama.
Jam di pergelangan tangannya terus berjalan tanpa peduli.
17.52.
Ia menghembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan sesuatu yang masih bergerak di dalam dirinya. Perasaan yang muncul tidak bisa dijelaskan dengan mudah, bukan sekadar rindu atau kehilangan, tetapi lebih seperti sesuatu yang pernah ia pegang erat lalu perlahan menghilang tanpa benar-benar pergi.
Airel menatap lurus ke depan, membiarkan sisa ingatan itu menetap tanpa mencoba mengusirnya. Ia tidak mendapatkan wajah, tidak juga nama yang bisa ia sebut, tetapi cukup untuk membuat satu hal terasa jelas.
Ia tidak menunggu kenangan.
Ia menunggu seseorang.
Seseorang yang pernah berdiri di sampingnya.
Seseorang yang pernah mengatakan sesuatu dengan nada yang terlalu pasti untuk dilupakan.
“Tunggu aku.”
Airel menggenggam tangannya sedikit lebih erat, merasakan sisa getaran dari kata-kata itu. Angin kembali berembus, menyapu rambutnya yang tergerai dan membawa udara malam yang mulai turun.
Ia berdiri perlahan dari bangku halte, mengambil tasnya tanpa tergesa. Langkahnya terasa ringan, tetapi pikirannya masih tertinggal di tempat yang sama, di antara potongan-potongan yang belum sepenuhnya tersusun.
Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah jalan.
Tatapannya tenang, lebih terarah dibanding sebelumnya.
“Aku masih ingat,” gumamnya pelan.
Suaranya hampir hilang tertelan angin, tetapi cukup untuk dirinya sendiri.
Ia tidak menunggu jawaban.
Ia hanya melangkah pergi, meninggalkan halte yang perlahan kembali kosong.
Besok, ia akan datang lagi.
Seperti biasa.