NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pikirkan Tanggung Jawabmu

...Chapter 21...

Para kultivator di dalam kedai itu tertawa—tawa yang keras, tawa yang meremehkan, tawa yang keluar dari tenggorokan orang-orang yang tidak pernah merasakan sendiri bagaimana rasanya wabah Kanker menggerogoti tulang mereka. 

"Seorang gadis Lintang Esa Tingkat Kedelapan Belas," ujar salah satu dari mereka, seorang pria dengan wajah bekas luka bakar, sambil mengayunkan pedang panjangnya ke udara dengan malas.

"Kau pikir kau bisa melawan kami? Kami semua sudah berada di ranah Langit Terang Tingkat Kesatu, Nak. Satu gerakan dari tanganku saja sudah cukup untuk mengubah tulang-tulang kecilmu menjadi debu."

Ia tertawa lagi, diikuti oleh yang lain, dan untuk sesaat, kedai arak itu dipenuhi oleh suara tawa yang bergema di antara dinding-dinding karang yang mulai retak. 

Tapi Ling Xu tidak bergeming. 

Ia melangkah maju—satu langkah, dua langkah, tiga langkah—dan di langkah keempat, benang-benang abu-abu kehijauan di ujung jarinya melesat ke segala arah seperti cambuk yang tidak terlihat, menusuk bahu, lengan, paha, dada dari tiga kultivator yang berdiri paling depan, dan meskipun luka-luka itu hanya sedalam goresan pisau sayur, meskipun para kultivator itu hanya tersentak sebentar lalu tertawa lagi, Ling Xu tetap melancarkan serangan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya—tanpa henti, tanpa jeda, tanpa peduli bahwa tiap-tiap serangannya hanya membuat musuh-musuhnya sedikit geli, sedikit gatal, sedikit terganggu, tetapi tidak terluka, tidak roboh, tidak mati. 

Ling Xu jatuh untuk kesekian kalinya, tubuhnya yang mungil itu terpental seperti boneka kain yang dilemparkan oleh anak yang bosan.

Darah mengalir dari pelipisnya, dari sudut bibirnya, dari sela-sela jarinya yang masih mencoba merangkak bangkit meskipun otot-ototnya sudah berteriak lelah, meskipun paru-parunya terasa seperti terbakar oleh api yang tidak pernah padam. 

"Huan Zheng..." bisiknya, suararnya nyaris tidak terdengar di antara deru serangan Qi yang masih berhamburan dari jari-jari para kultivator Langit Terang itu, "jangan... jangan lakukan sesuatu yang bodoh..." 

Tapi Huan Zheng tidak mendengarkan. 

Ia memejamkan matanya, dan di dalam dadanya, di antara denyut 7700 keping Lintang Kemanusiaan yang berputar seperti pusaran air yang siap meledak, ia mulai merasakan getaran yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya—getaran yang datang dari pusat Pondasi Lintangnya, dari 10 Kristal Angkasa Raya yang menjadi fondasi seluruh eksistensinya sebagai kultivator, sebagai mantan Roda Kultivasi, sebagai makhluk yang telah melihat terlalu banyak kematian untuk takut pada kematiannya sendiri. 

"Jika aku meledakkan semuanya," gumamnya dalam hati, suara batinnya datar, dingin, seperti seorang algojo yang sudah memutuskan hukuman mati tanpa banding, "kota ini akan lenyap. Bersama dengan semua pengkhianat di dalamnya. Bersama dengan diriku sendiri." 

Ia menarik napas—napas terakhir, napas yang akan mengubah tubuhnya menjadi bom hidup yang tidak bisa dihentikan oleh siapa pun, ketika tiba-tiba suara Ling Xu memecah keheningan di kepalanya, suara yang tidak lagi pelan, tidak lagi bisikan, melainkan suara yang keras seperti lonceng yang dipukul dengan palu besi.

"HUAN ZHENG! BERHENTI! SEKALI-KALI INI, PIKIRKAN TANGGUNG JAWABMU! JANGAN BERTINDAK ATAS DASAR EGO!" 

Dan di saat itu juga, sesuatu berubah dalam diri Ling Xu.

Bukan perubahan yang lambat, bukan perubahan yang bertahap, melainkan perubahan yang tiba-tiba seperti langit yang terbelah menjadi dua oleh kapak raksasa yang tidak terlihat.

Daging di tubuh Ling Xu bergerak.

Bukan bergerak seperti otot yang berkontraksi, melainkan bergerak seperti lahar yang mengalir dari kawah gunung berapi yang meletus, bergerak seperti ribuan ular yang keluar dari sarang mereka secara bersamaan, membengkak, membesar, menjulang hingga tubuh mungil gadis itu berubah menjadi gumpalan daging abu-abu kehijauan setinggi satu meter, dengan denyut yang terlihat seperti jantung raksasa yang berdetak di tengah ruangan, dengan urat-urat hitam yang menjalar di permukaannya seperti akar-akar pohon yang mencari air di tanah yang tandus. 

"Apa—" 

Salah satu kultivator mundur selangkah, matanya membelalak bukan karena takut, melainkan karena ia belum pernah melihat sesuatu yang begitu menjijikkan dalam seluruh hidupnya.

"Apa yang terjadi padanya?" 

Sebuah tombak berlapis Qi melesat dari tangan seorang kultivator dengan rambut putih—Langit Terang Tingkat Kedua, yang selama ini hanya diam di sudut ruangan—menusuk tepat ke pusat gumpalan daging itu, tapi tombak itu tidak menembus, tidak menggores, tidak meninggalkan bekas apa pun selain suara "plak" yang aneh, seperti batu yang dilempar ke air tetapi airnya terlalu kental untuk terpisah. 

Serangan kedua datang, ketiga, keempat—puluhan serangan dari segala arah, dari pedang, dari tinju, dari gelombang Qi yang cukup kuat untuk meruntuhkan tembok kota—tapi tidak ada yang berhasil. 

Gumpalan daging itu hanya bergetar sedikit setiap kali terkena serangan, seperti gunung yang diguncang oleh angin, lalu diam lagi, diam dengan cara yang mengerikan, seperti sesuatu yang sedang menunggu, sedang mengumpulkan kekuatan, sedang mempersiapkan sesuatu yang tidak akan bisa dihindari oleh siapa pun di ruangan ini. 

"Hentikan!" teriak panglima berjubah biru itu, suaranya mulai bergetar karena untuk pertama kalinya malam ini, ia merasakan sesuatu yang tidak ia sukai.

Ketakutan.

"Bunuh dia! Bunuh sekarang sebelum—" 

Tapi sebelum ia selesai bicara, gumpalan daging itu meledak.

Ledakan itu tidak terdengar seperti ledakan biasa.

Bukan dentuman yang memekakkan telinga, bukan suara yang bisa diukur dengan desibel, melainkan suara yang terasa di tulang, di sumsum, di dalam relung kesadaran yang paling dalam sekalipun, seperti ribuan jeritan yang keluar dari mulut yang tidak memiliki bibir, dari tenggorokan yang tidak memiliki pita suara. 

Dan bersamaan dengan ledakan itu, zat berwarna abu-abu kehijauan menyembur ke segala arah—menembus dinding kedai, menembus atap karang, menembus jalan-jalan berpasir putih, menembus rumah-rumah mutiara, menembus istana, menembus taman karang, menembus setiap sudut Kota Naga Mutiara tanpa terkecuali, seperti kabut kematian yang tidak mengenal tembok, tidak mengenal pintu, tidak mengenal belas kasihan. 

Di dalam kedai, seorang kultivator dengan wajah bekas luka bakar merasakan gatal di lengan kirinya—ia menunduk, dan di sana, di bawah kulit yang mulus sedetik yang lalu, sebuah benjolan kecil mulai terbentuk, berdenyut, membesar, dan sebelum ia sempat berteriak, benjolan itu meledak, merobek lengannya menjadi serpihan daging yang beterbangan ke udara, diikuti oleh ledakan kedua di dadanya, ledakan ketiga di lehernya, ledakan keempat di wajahnya.

Dan dalam waktu kurang dari satu detik, tidak ada yang tersisa dari dirinya selain genangan darah dan potongan tulang yang masih berasap. 

Hal yang sama terjadi pada kultivator di sebelahnya, pada panglima berjubah biru yang matanya masih terbuka lebar karena tidak percaya, pada para prajurit yang menjaga pintu, pada nelayan tua yang telah mengkhianati Huan Zheng, pada pedagang kerang, pada gadis karang, pada setiap makhluk yang berdiri di radius ledakan itu.

Satu per satu, mereka meledak dari dalam, seperti buah yang terlalu matang yang tiba-tiba memutuskan untuk menghancurkan dirinya sendiri, dan di tengah lautan darah dan daging yang beterbangan itu, Huan Zheng masih berlutut di lantai, tetapi tidak terluka—karena di sekelilingnya, zat abu-abu kehijauan itu berputar membentuk pusaran yang aneh, menghindarinya, melindunginya, seolah-olah wabah Kanker itu sendiri mendengar perintah dari inangnya yang sekarat untuk tidak menyentuh pria pemalas di hadapannya. 

"Ling Xu!" teriak Huan Zheng, suaranya pecah, basah, seperti orang yang baru sadar bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia gantikan.

"LING XU!"

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!