Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
Minggu pagi Bella menikmati sarapan ditemani Yanti dan Sari, kebetulan kini Sari sudah berada di kediaman Fahri pasca keluar dari rumah sakit. Sedangkan Fahri masih tidur di kamar, mungkin kelelahan usai pertempuran semalam.
Mengingat hari libur, Bella mengajak Sari dan Yanti ikut membeli belanja bulanan, kebetulan persediaan di rumah sudah pada habis.
Di supermarket yang berada tak jauh dari rumah, Bella mengambil odol, sabun mandi, gula, kopi dan lain sebagainya, hampir semua kebutuhan sehari-hari masuk ke dalam keranjang belanjaan yang sudah penuh, bahkan harus ditambah satu keranjang lagi.
Bella juga menyuruh Yanti dan Sari membeli apapun yang mereka butuhkan, dia yang akan membayar semuanya.
"Oh, disini kalian rupanya." sergah Hana yang tiba-tiba berpapasan dengan ketiganya. Wajahnya nampak murka melihat tiga keranjang belanja yang masing-masing didorong oleh Bella, Yanti dan Sari.
Bella menatap tajam ke arah Hana yang membuatnya kesal pagi-pagi, lalu melengos dan mengajak kedua asisten rumah tangganya berjalan ke kasir.
Dia sudah tidak peduli pada Hana, mau ngapain terserah asal jangan mencari gara-gara dengannya. Bella tidak akan mau ditindas seperti sebelumnya.
Usai membayar semua belanjaan yang dibeli, Bella keluar lebih dulu dan membuka pintu mobil.
Bruk...
Seperti terdorong, tubuh Bella terhempas ke tanah, tepat di bawah pintu mobil yang sudah terbuka.
"Ikut aku pulang!" sergah Hana, dia membungkuk dan meraih pergelangan tangan Bella, menyeretnya dengan paksa.
Bella meronta-ronta, menarik tangannya dari genggaman Hana sekuat tenaga, mencoba bangkit setelah terlepas.
"Heh... Kamu ngapain?" seru Yanti, dia baru keluar dari supermarket menenteng barang belanjaan.
Terkejut melihat Hana merundung Bella, Yanti menaruh barang bawaannya di tanah lalu mendorong Hana hingga termundur.
Disaat yang sama Sari mendekat, lalu meminta Hana pergi. Hana menolak, dia ngotot ingin membawa Bella bersamanya.
Karena tidak ada yang mau mengalah, terjadi cekcok diantara ketiganya.
"Bu, cepat masuk ke mobil!" pinta Yanti sebelum akhirnya menjambak rambut Hana.
Yanti sudah kehilangan kesabaran, apalagi mengingat bagaimana selama ini Hana memperlakukan Bella. Segala tenaga dia curahkan untuk membalaskan sakit hatinya.
Perkelahian tidak dapat dihindari, Sari ikut membantu Yanti, memukul wajah dan menendang kaki Hana untuk melampiaskan dendamnya.
Dulu Sari juga pernah dipukul oleh Hana gara-gara ketahuan memberi uang jajan untuk Bella. Hari ini dia mengembalikan itu semua, dia tidak takut lagi karena sekarang dia bukan budak Hana lagi.
Awww...
Hana menjerit, rambutnya sampai rontok dijambak Yanti, sedangkan pipinya tergores mendapat cakaran dari Sari.
"Tolong..." teriak Hana meminta bantuan, tapi tidak ada yang mau membantunya. Orang-orang di sekitar hanya menonton, beberapa diantaranya mengambil video.
"Berani-beraninya kamu menyakiti nyonya rumah kami, hah." Yanti makin menjadi-jadi, tiada kata ampun untuk ibu durhaka seperti Hana. Dia menarik pakaian Hana hingga robek.
"Sudah, Bik. Cukup!" tutur Bella yang sudah duduk di mobil. Dia bukan kasihan pada Hana, tapi justru memikirkan Yanti dan Sari. Orang-orang jaman sekarang suka mengunggah apapun di media sosial demi keuntungan.
Huft...
Yanti dan Sari menghirup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya kasar. Rambut mereka yang berantakan beterbangan.
"Awas kamu ya," ancam Yanti dan Sari, kemudian masuk ke mobil.
Tanpa mengatakan apa-apa, Bella menutup kaca mobil, menyuruh sang sopir melaju meninggalkan tempat itu.
Di mobil, Yanti dan Sari berkelakar, keduanya saling menyemangati dan sesekali tertawa mengingat Hana yang tadi sudah babak belur. Dua lawan satu tentu mereka tidak akan kalah meski tubuh keduanya terasa agak ngilu, rambut juga acak-acakan.
"Kalian berdua kenapa sih, Bik? Kok jadi kerasukan seperti tadi?" tanya Bella yang duduk di bangku depan, sedangkan Yanti dan Sari duduk di bangku penumpang.
"Habisnya kesal, sudah disuruh pergi malah tidak mau." tutur Sari.
"Gimana gak kesal, anak sendiri didorong sampai jatuh." timpal Yanti.
Meskipun begitu, keduanya kemudian meminta maaf pada Bella karena sudah mencelakai ibunya. Akan tetapi, Bella tidak peduli karena baginya Hana tidak penting lagi. Biarlah orang-orang menyebutnya anak durhaka, dia sudah lelah menghadapinya.
Sesampainya di rumah, ketiganya masuk dalam keadaan sedikit kacau. Celana Bella robek di bagian lutut, pergelangan tangannya merah, sedangkan rambut Yanti dan Sari masih berantakan meski sudah dirapikan.
Fahri yang duduk di ruang tengah terkesiap melihat kedatangan ketiganya yang berantakan. "Kamu kenapa, sayang?" tanyanya sambil berlari kecil ke arah Bella dan menggendongnya.
"Apa-apaan kamu, turunin!" Bella merasa malu saat digendong di hadapan Yanti dan Sari.
"Santai, Bu. Kami tidak melihat apa-apa kok." celetuk Yanti, dia tersipu menahan tawa, menarik tangan Sari meninggalkan ruang tengah.
Bug...
Tangan Bella mendarat di dada Fahri. "Tuh kan, malu ih..." kata Bella, Fahri hanya tersenyum.
Setelah mendudukkan Bella di sofa, Fahri mengambil kotak obat. Membersihkan luka di lutut Bella dan juga pergelangan tangan.
Fahri bertanya apa yang terjadi sebenarnya, kenapa ketiganya pulang dalam keadaan berantakan. Dia sedih melihat istrinya terluka.
Pelan-pelan, Bella menceritakan semuanya. Dia tidak tau akan bertemu Hana di supermarket. Untungnya ada Yanti dan Sari yang ternyata jago berkelahi sehingga Hana tidak berhasil membawanya pergi.
Mendengar penjelasan Bella, ekspresi sedih di wajah Fahri berubah seketika, matanya terbuka lebar, rahangnya mengeras, tangannya mengepal.
"Sudah, aku tidak apa-apa." ucap Bella menangkup tangan di pipi Fahri.
"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu terluka loh, sayang." Fahri tidak terima, dia saja tidak berani menjentik kulit Bella apalagi membuatnya sampai terluka.
"Iya iya, ke depannya aku akan lebih berhati-hati." pungkas Bella sambil mencubit pipi Fahri, mengecup bibirnya lembut.
Sudah seperti ini, Fahri tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak mau menyudutkan Bella.
Setelah mengantar Bella ke kamar, Fahri kembali ke ruang tengah mengambil ponselnya yang tertinggal.
"Tarik semua dana yang sudah diinvestasikan ke perusahaan Dayat!" perintah Fahri dibalik telepon yang sudah tersambung, suaranya terdengar jelas dan lantang.
"Tapi, Pak..."
"Tidak ada tapi tapi, tarik semua dana atau kamu yang aku tarik!" ancam Fahri pada Reza.
Huft...
Dibalik telepon sana terdengar Reza membuang nafas kasar, baru juga istirahat tapi sudah diberi tugas baru.
"I-iya, Pak." jawab Reza.
Setelah sambungan telepon terputus, Fahri melempar ponselnya ke sofa. Terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. Fahri memutar leher, Yanti muncul di sampingnya.
"Bisa bicara sebentar, Pak." ucap Yanti meminta waktu Fahri sebentar saja, paling lima menit.
"Iya, Bik. Ada apa?" tutur Fahri.
Yanti menyodorkan sebuah plastik kecil ke arah Fahri.
"Apa ini, Bik?" tanya Fahri mengerutkan kening, matanya menyipit.
"Saat berkelahi dengan ibu Bu Bella tadi, bibi menjambak rambutnya sampai rontok, ini salah satunya, siapa tau Bapak berniat untuk..."
"Ya, bibi memang yang terbaik." sanjung Fahri, dia mengambil alih plastik yang berisikan rambut Hana, dia paham maksud Yanti.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡