Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Baru
"Kamu ... kamu ngapain?!"
Dori mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Matanya terpaku pada alat kecil di tangan Joulle yang berkedip merah.
"Gila! Itu alat apa?! Pemutus sinyal? Atau alat pemburu hantu?!" batinnya panik setengah mati.
Joulle tersenyum miring, senyum yang tadinya menawan kini terlihat licik dan penuh teka-teki. Ia tidak menjawab, hanya mengangkat bahu santai.
"Kenapa kelihatan takut gitu? Aku cuma bawa alat bantu kerja kok."
"Alat apa yang bisa bikin laptop mati mendadak dan earphone rusak begitu?!" Dori menunjuk layar hitam di hadapannya dengan tangan gemetar.
Suasana di panggung jadi canggung. Penonton mulai berbisik-bisik bingung melihat interaksi aneh itu.
Joulle mendekatkan wajahnya, menurunkan suaranya agar hanya mereka berdua yang mendengar. "Kau pikir ... cuma kau dan 'temanmu' di dalam sana yang punya rahasia?"
Dori ternganga. Ia tahu kalau Cowok ini benar-benar tahu segalanya.
"Jadi ... kamu juga."
"Aku juga apa? Punya teman hantu? Atau punya kekuatan aneh?" Joulle memotong cepat, lalu tertawa renyah. "Sayang sekali, bukan. Aku ini manusia murni 100%."
Ia menepuk pelan laptop Dori yang sudah gelap gulita itu.
"Tapi aku tahu jenis makhluk macam apa yang tinggal di situ. Sombong, kuno, dan sangat protektif. Tipe yang paling menyebalkan untuk dijadikan lawan."
"Kau pikir dengan mengandalkan dia, kau bisa menang?" tanya Joulle pelan. "Dia memang hebat. Ilmunya tinggi. Tapi dia tidak paham dunia nyata. Dia tidak tahu cara mainnya di sini itu kejam dan cepat. Dan masalahnya ... sekarang dia sudah tidur. Sinyalnya kuputus total. Sekarang kau sendirian, Dori."
Dori menelan ludah. Kakinya terasa lemas. Tanpa Matcha, ia merasa seperti prajurit yang kehilangan pedang dan perisai sekaligus.
"Tapi tenang saja," Joulle kembali tersenyum manis, berubah drastis jadi orang baik. "Aku akan bantu kau. Asal kau mau jujur sama aku."
"Jujur soal apa?"
"Soal siapa dia sebenarnya. Dan bagaimana caranya kau bisa mengikat jiwa sekuat itu ke dalam mesin murahan."
Joulle mengulurkan tangan, menawarkan bantuan. Tatapannya mempesona, seperti ada hipnotis di dalamnya.
"Serahin sama aku ya. Kita kerja sama. Nanti hadiahnya kita bagi dua. Dan ... aku bisa ajak kau jalan-jalan lebih enak daripada cuma makan bakso pinggir jalan."
Jleb!
Itu sindiran halus! Dia tahu soal mereka makan di luar! Dia memata-matai mereka?!
Dori merasa marah dan terhina. Ia menepis tangan Joulle dengan kasar.
"Gak perlu! Aku gak butuh bantuan orang yang main curang!"
"Oh? Berani menolak tawaranku?" Wajah Joulle sedikit berubah dingin. "Ingat, temanmu di dalam sana sekarang nggak bisa bantu apa-apa. Energinya tersedot habis sama alatku. Kau pikir kau bisa jawab semua pertanyaan juri sendirian tanpa dia?"
Dori diam. Ia tahu dirinya tidak secerdas itu. Tanpa bisikan Matcha, otaknya terasa kosong melompong. Tapi harga dirinya tidak mau kalah.
"Aku ... aku bisa kok! Aku kan penulisnya! Dia cuma editor doang!" bantah Dori memberanikan diri, meski suaranya sedikit bergetar.
"Oke kalau begitu. Tunjukkan."
Joulle kembali ke tempat duduknya, lalu mengangkat tangan ke arah juri.
"Yang Mulia, saya punya pertanyaan sulit buat rekan Dori. Soal filosofi sastra klasik yang rumit. Biar kita tahu, apakah dia benar-benar paham atau cuma robot penghafal."
Juri mengangguk setuju. "Silakan."
Dori berkeringat dingin. "Gawat! Ini jebakan!"
Joulle tersenyum menang lalu mulai bertanya dengan kalimat panjang, berbelit-belit, dan menggunakan istilah-istilah asing yang sangat berat.
"Jadi menurutmu, bagaimana korelasi antara estetika diksi kuno dengan psikologi pembaca modern dalam konteks post-modernisme yang absurd?"
Dori melongo. "Hah?! Pertanyaan apaan itu?! Bahasa Indonesia yang bener dong!"
Otaknya berputar kencang tapi buntu. Ia menatap layar laptop hitam itu penuh harap.
"Cha ... tolong ... bangun dong ... aku gak ngerti apa-apa nih ..." batinnya memohon putus asa.
Tiba-tiba...
Kriyyk ... kriyyk ...
Layar laptop berkedip samar. Muncul tulisan putih tipis di layar gelap, seperti pesan darurat.
[SISTEM DARURAT: MODE TEKS AKTIF]
[ENERGI KRITIS: 5%]
Dori hampir menangis bahagia. Dia masih ada! Dia belum hilang total!
Tulisan itu berjalan cepat, satu per satu kata muncul dengan gemetar tapi pasti.
[JAWAB: ITU KONSEP YANG SALAH KARENA KLASIK ITU DASAR, MODERN ITU CABANG. JANGAN DI BALIK!]
Dori menarik napas dalam, lalu mengangkat dagu tinggi-tinggi.
"Menurut saya, pertanyaan Anda keliru. Klasik itu adalah akar pohon, modern itu hanya rantingnya. Anda tidak bisa menilai akar dengan ukuran ranting." Suaranya lantang dan tegas.
Joulle terbelalak kaget. "Hah?! Tapi tadi kan dia..."
Ada tulisan di layar lagi.
[KATAKAN: ORANG YANG TIDAK MENGHARGAI SEJARAH, BERARTI TIDAK PUNYA MASA DEPAN. SEPERTI DIRIMU!]
"Dan orang yang meremehkan gaya klasik, berarti dia tidak paham dasar menulis yang benar!" seru Dori penuh semangat.
Penonton bertepuk tangan. Juri-juri mengangguk setuju.
Wajah Joulle memerah padam karena kaget dan malu. Ia tidak menyangka Dori bisa membalas setajam itu.
"Kau... kau curang! Dia kan sudah mati!" gerutu Joulle pelan kesal.
"Mati apanya! Ini namanya jenius," balas Dori tak mau kalah.
Tapi tiba-tiba ... Tulisan di layar berhenti. Muncul satu kalimat terakhir dengan huruf besar.
[BYE ... ENERGI HABIS ... TUGAS KAU LANJUTKAN ... SAVE ME... ZZZ...]
Layar mati total lagi.
Dori terpaku. Oke, dia berhasil membalas satu kali. Tapi pertanyaan berikutnya bagaimana?!
Joulle tersenyum jahat lagi, lalu mengangkat tangan untuk kedua kalinya.
"Bagus jawabannya. Sekarang... pertanyaan nomor dua!"
Dori menelan ludah lagi. Perang belum usai, dan dia sekarang benar-benar sendirian.