Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terusir dari Rumah
Saat Arumi dan Elang hendak keluar dari kamar,Arumi menatap ke arah ibu tirinya dengan tatapan penuh kebencian, Arumi kesal Ibu tirinya sedari tadi mengawasinya dan tidak beranjak dari kamarnya dari awal saat ia sedang berkemas dan Lastri sengaja menghalangi jalan dengan wajah penuh kemenangan.
"Berhenti!" bentak Bu Lastri saat ia hendak melewati ambang pintu. "Buka kopermu. Aku tidak percaya pada gembel seperti kamu. Jangan sampai ada barang perak atau hiasan rumah yang ikut terbawa."
Kesabaran Arumi habis. ia berhenti tepat di depan wajah Lastri yang dipoles riasan tebal. "Jangan panggil aku gembel di rumah yang dibangun oleh Ibu kandungku. Kamu hanya parasit yang datang membawa tangan kosong, dan sekarang kamu berlagak seperti pemilik sah?"
"Jaga mulutmu, Arumi! Aku adalah istri ayahmu. Rumah ini adalah milikku sekarang!"
"Milikmu?" Arumi tertawa sinis. "Surat tanah ini atas namaku. Meskipun Ayah menjaminnya ke bank karena utang-utangmu, statusku sebagai ahli waris tidak akan pernah berubah. Kamu hanya menumpang di atas keringat orang mati!"
Wajah lastri merah padam. Matanya berkilat marah. "Dasar anak sialan!" lastri mengangkat tangannya, sebuah gerakan refleks yang biasa ia lakukan untuk menampar Arumi jika Ayahnya tidak ada.
Namun, Arumi yang sekarang bukanlah Arumi yang sepuluh tahun lalu hanya bisa meringkuk di sudut kamar. Sebelum telapak tangannya menyentuh kulitnya, ia menangkap pergelangan tangan lastri dengan kecepatan yang mengejutkan. Arumi mencengkeramnya begitu kuat, hingga kuku-kukuku menekan kulit pergelangan tangan lastri
"Lepaskan! Sakit, Arumi!" teriak lastri mulai histeris.
"Sakit? Ini tidak sebanding dengan rasa sakit saat aku melihat Ibu jatuh dan mati di depan mataku!" Arumi semakin mempererat cengkeramannya,Dia bisa merasakan denyut nadinya di bawah kulitnya yang mulai memerah. Arumi ingin Lastri merasakan setitik saja penderitaan yang ia rasakan setiap kali Lastri menyuruh Arumi bekerja seperti pelayan di rumahnya sendiri.
"Arumi! Lepaskan!" Elang mendekat, namun dia tidak menghentikan dengan kasar. Dia hanya menaruh tangannya di bahu arumi.
"Jangan biarkan darah kotornya menodai tanganmu yang suci, Arumi. Dia tidak layak mendapatkan perhatianmu, bahkan dalam bentuk amarah." kata Elang dengan lembut .
Arumi menatap mata Elang, lalu perlahan mengendurkan cengkeramannya. ia menghempaskan tangan wanita itu hingga Lastri limbung dan menabrak dinding.
"Ini peringatan terakhir," bisik Arumi tajam. "Jika kamu atau anakmu, Rani , berani mengganggu Arumi lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan kalian di Dirgantara Group. Jangan lupa, aku tahu semua kecurangan yang dilakukan Rani di perusahaan cabang."
lastri memegangi pergelangan tangannya yang memerah dan sedikit berdarah akibat tancapan kuku Arumi. "Psikopat! Kamu sudah gila!" gumamnya ketakutan.
Saat Arumi dan elang menuruni tangga menuju ruang tamu. Di sana, Ayah Arumi duduk sendirian, dikelilingi asap rokok yang pekat. Dia tampak jauh lebih tua dari usianya, namun sorot matanya tetap dingin dan tidak peduli.
"Yah, Arumi pamit," ucap Arumi berdiri di hadapannya.
Ayah bahkan tidak mengangkat kepalanya dari asbak. "Pergilah. Kamu sudah memilih pria itu, maka jangan pernah kembali lagi ke sini untuk mengemis."
Hati Arumi hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya. "Aku tidak akan kembali untuk mengemis, Yah. Aku pergi karena Ayah yang mengusirku. Tapi dengarkan ini ... tolong jaga kesehatan Ayah. Kurangi rokok itu. Penyakit mag Ayah sering kambuh jika Ayah stres. Aku tetap menyayangi Ayah, meski Ayah sudah membuangku demi wanita ular itu."
Tiba-tiba, Lastri berlari turun sambil menangis buaya. "Pa! Lihat! Lihat apa yang dilakukan Arumi! Dia menyerangku! Tanganku luka, Pa! Dia hampir membunuhku di atas tadi!"
Ayah Arumi langsung berdiri dengan gusar. Dia melihat tangan istrinya dan seketika kemarahannya meledak. "Arumi! Sudah cukup kamu memalukan keluarga ini! Sekarang kamu berani menyakiti ibumu sendiri?!"
"Dia bukan ibuku!" teriak Arumi
Ayah Arumi melangkah maju, tangannya yang besar terangkat tinggi untuk menamparku. Arumi memejamkan mata, menunggu rasa panas itu menghantam pipinya Namun, yang terdengar justru suara tulang yang beradu.
Elang telah berdiri di depan Arumi, menangkap tangan Ayahnya di udara. Elang menatap pak Rahmad dengan pandangan yang begitu tajam hingga pak Rahmad tampak menciut.
"Tuan," suara Elang rendah namun penuh wibawa. "Mulai detik ini, Arumi adalah tanggung jawabku. Siapa pun yang mencoba menyakitinya, termasuk pria yang menyebut dirinya ayahnya, akan berhadapan denganku. Jangan pernah Anda mengangkat tangan kepada istriku lagi."
Elang menghempaskan tangan pak Rahmat dengan kasar. Dia merangkul bahu Arumi dan menuntunnya menuju pintu keluar. mereka tidak menoleh lagi. Di belakangnya suara teriakan Bu Lastri dan makian pak rahmad perlahan memudar, tertutup oleh Angin malam
Saat mereka mulai melangkah meninggalkan gerbang rumah megah yang kini terasa seperti penjara untuknya .
***
Arumi dan Elang berjalan beriringan ,Elang maupun Arumi hanya terdiam berkecamuk dengan fikiran mereka masing -masing .
"Arumi,kamu nggak usah menangis,orang seperti mereka tidak pantas kamu tangisi." Elang bertanya saat melihat kearah Arumi.
"Aku teringat Ibu, Mas Elang," jawab Arumi lirih. "Dulu, saat Ibu masih ada, aku adalah putri di rumah itu. Ayah tidak pernah meninggikan suara. Perusahaan yang mereka bangun bersama adalah simbol cinta mereka. Namun, lihatlah sekarang. Semua hancur sejak wanita itu datang membawa racunnya."
Elang hanya terdiam mendengar Arumi bercerita .
"Aku teringat malam paling kelam dalam hidupku. Malam ketika Ayah membawa istri mudanya pulang saat Ibu sedang berjuang melawan sakit jantungnya. Ibu jatuh tersungkur di depan mataku sendiri. Jantungnya berhenti berdetak saat melihat suaminya berpegangan tangan dengan wanita lain di bawah atap yang ia bangun dengan keringat dan air mata. Ayah hanya diam, seolah terhipnotis oleh bisikan istri mudanya, membiarkan Ibu mengembuskan napas terakhir tanpa pertolongan medis yang segera." Arumi bercerita ,dengan suara bergetar ,sedangkan Elang hanya diam menjadi pendengar .
"Memang dulu Ibu dan ayahmu mempunyai usaha bersama atau perusahan begitu ?" Elang memberanikan bertanya .
"Iya ,dan Perusahaan itu kini di ambang kebangkrutan karena keserakahan mereka," sambung Arumi selanjutnya . "Uang perusahaan digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah ibu tiriku dan anaknya, Rina . Ayah terlilit utang demi menutupi lubang yang mereka gali sendiri."
Elang menghela napas panjang, menatapku dengan sorot mata protektif. "Lalu, kotak kecil yang kamu ambil dari bawah tempat tidur tadi? Apa itu perhiasan terakhirmu?"
Arumi mengangguk pelan, mendekap tas kecilnya . "Iya. Itu satu-satunya harta pemberian Ibu yang berhasil aku sembunyikan selama bertahun-tahun. Jika mereka tahu, mereka akan merampasnya sebagaimana mereka merampas semua baju bermerek dan perhiasan mahalku untuk diberikan kepada Rani ."
Elang mengangguk paham. "Aku mengerti sekarang mengapa kamu terlihat begitu miskin di rumah yang begitu mewah itu. Tapi berjanji padamu, Arumi. Suatu saat, aku yang akan memenuhi lemarimu dengan pakaian terbaik dan perhiasan paling indah. Kamu tidak akan pernah kekurangan lagi