Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Dirumah Reyhan..
Rumahnya sederhana, asri dan sejuk. Sebagian besar lahan pekarangan ditanami pohon buah. Dari pepohonan buah nan rimbun, hari itu pengacara Febri sengaja mendatangi rumah Reyhan. Seraut wajah penuh keseriusan mengalir deras. Dia melepas kacamatanya yang minus, lantas membersihkan matanya yang letih. Reyhan mengajaknya masuk, menjamunya di ruang tamu. Ruangan yang menyatu dengan ruang keluarga itu, menjadi saksi bisu pembicaraan keduanya.
"Bagaimana, Feb? Sudah ada perkembangan atau kesimpulan yang kamu buat?" kata Rey bersemangat.
"Belum tuntas aku membacanya, Rey!" pengacara Febri terdiam, menunduk lesu, kemudian melanjutkan perkataannya, "Aku harap.. apapun keputusan dari persidangan nanti, kamu harus menerimanya. Kita sudah berusaha maksimal!"
"Menerima? Maksud kamu apa.. Kita tidak kuat dengan bukti yang sekarang kita miliki? Mana mungkin aku bisa menerima kalau mememang isteriku tidak bersalah!!"
"Rey! Kemungkinan besar, fotokopi atau hasil print out cerita yang dibuat Kristal itu bukan alat bukti yang bisa merubah penilaian juri. Andai saja kamu jadi hakim pengadilan, kamu pun akan melakukan hal yang sama. Kamu akan beranggapan bahwa fotokopi itu bisa saja di tulis oleh anggota keluarga terdakwa! Jadi terlepas, apakah cerita itu diary, true story atau karangan, bagiku itu hanya berguna sebagai petunjuk bukan bukti kuat untuk kita. Silahkan kamu cari tahu kalau memang ragu dengan pernyataanku ini! Tetapi menurutku hal yang paling krusial sebelum kita membacakan nota pembelaan adalah mencari bukti otentik dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Mungkin bisa dari saksi yang tertulis di cerita itu, surat menyurat, atau apapun yang logis di mata para hakim."
"Jadi apa yang harus kita lakukan, Feb?! Apa aku harus diam, menunggu keputusan, sampai benar-benar isteriku di vonis bersalah atas perbuatan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya? Mana mungkin aku mampu merelakan keputusan itu!" tukas Rey dengan tegang.
"Rey! Perkara yang kita hadapi ini bukan sesederhana itu! Jaksa penuntut umum, mengajukan tuntutan pasal berlapis. Kalau kita tidak hati-hati memperoleh bukti-bukti yang kuat, aku khawatir Kristal akan terkena vonis pengadilan nantinya. Bisa jadi, seumur hidup dia tidak akan pernah bersama lagi dengan kamu dan Darrius. Jangan pernah lupakan itu, Rey!" jawab pengacara Febri, menekan tiap kalimat.
"Kalau memang tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, baiklah! Mungkin benar apa yang kamu katakan, aku harus siap menerima keputusan apapun!"
Gurat kesedihan merasuk, air mata mulai mengembang, menghempaskan harapan pada diri Rey. Pengacara Febri merapatkan kursi, mengelus halus punggungnya, lekas menyabarkannya. Dari dalam tas kulit yang dipangkunya, dikeluarkan sebuah kertas catatan, di baca sekilas, lantas diserahkan ke Rey.
"Semalam aku mencatat beberapa nama, sekaligus petunjuk yang mungkin saja berguna," Rey mendekatkan kertas itu ke wajah, melihatnya dengan penuh ketelitian.
"Aku tidak kenal dengan Nurhayati, Monalisa dan Id. Yang aku kenal hanyalah Beni Gusnandar, atau Pak Ben. Sebelum kejadian itu, Kristal diminta membuat buku biografi singkat Gatot Purba."
"Bagaimana kalau kita bertemu dengan Nurhayati dan meminta untuk mau menjadi saksi? Untuk Monalisa dan Beni Gusnandar, aku rasa itu tidak akan mungkin terjadi. Sebab mereka saksi kunci untuk pihak keluarga Gatot. Lagi pula mereka sudah bersaksi dipersidangan kemarin. Peluang kita hanya pada, Id, atau Nurhayati!"
"Entahlah, Feb! Aku merasa, semakin kita berusaha keras, makin terasa buntu jalan keluarnya! Terlebih ketika eksepsi yang kita ajukan dipersidangan kemarin ditolak. Bagiku ini semua terasa aneh! Hanya karena sebuah liontin kristal dan rekaman kamera CCTV, isteriku terkena tudingan sebagai seorang pembunuh berencana!"
"Yah begitulah! Terkadang beberapa kejadian memang tidak akan pernah bisa kita mengerti dengan akal sehat. Tapi aku yakin, pihak berwajib sudah menjalankan pekerjaannya dengan baik. Andaikata ada yang terlewat, aku percaya itu bukan suatu kesengajaan! Anehnya bukan hanya kedua alat bukti itu saja, pada baju yang dikenakan korban juga terdapat bekas sidik jari Kristal. Itulah yang paling memberatkan kita, Rey!" pengacara Febri menghempas nafasnya yang berat, keadaan hening sesaat, "Apa kamu sudah pernah membongkar barang-barang Kristal sebelumnya? Barangkali saja ada petunjuk lain!" tuturnya dengan kepercayaan diri penuh.
"Semua barang-barang yang di bawa Kristal, sudah ikut tersita, Feb. Sedangkan yang ada disini hanya barang-barang lama yang tidak terpakai lagi!"
"Apa salahnya kalau kita lihat sebentar. Siapa tahu dari sana kita jadi tahu masa lalu Kristal seperti apa!"
"Kalau kamu mau mencobanya, silahkan saja!" kata Rey tak bersemangat.
Keduanya segera menuju ke kamar tidur Kristal yang berada diantara ruang tamu dan ruang keluarga. Handle pintu ditekan, didorong, dan terbentanglah seisi kamar tersebut. Melalui penerangan cahaya mentari, keduanya masuk selangkah demi selangkah. Disana ada spring bed, almari kayu setinggi satu meter lebih, dua buah koper travel berukuran besar, dan lampu tidur yang menempel pada dinding kamar.
Tanpa basa-basi, pengacara Febri mendekati almari kayu. Sedangkan Rey memandang lekat satu persatu semua celah maupun sudut kosong, yang memungkinkan Kristal menyembunyikan rahasia. Tak ada petunjuk, Rey beralih ke kolong tempat tidur. Merayapi bagian marmer, menepuk-nepuk rangka tempat tidur, mengangkat spring bed itu sekuat tenaga. Nihil. Semua tampak normal tanpa ada suatu kejanggalan apapun. Sementara pengacara Febri tak melakukan apa-apa, hanya terdiam, menatap tajam kedua koper travel tersebut.
"Apa isi koper itu Rey?" sergap pengacara Febri, seraya menurunkan salah satu koper, namun terhenti karena roda pada koper tersangkut dengan koper disebelahnya.
"Itu? Biar saya bantu! Kita sama-sama dorong.. satu, dua, tiga!!"
Brughh..
Koper terjatuh di lantai, berikut debu tebal yang berterbangan. Rey kibaskan koper itu dengan kemoceng yang diambil dari pojok lemari. Setelah itu jemarinya hinggap pada kedua resleting koper. Resleting itu di putar searah jarum jam sampai akhirnya membuat koper terbuka lantas memperlihatkan isinya. Kosong, tak ada satu barang pun yang ada. Rey singkirkan koper pertama, beralih ke koper kedua. Tanpa terlalu lama, keduanya berhasil kembali menurunkan koper kedua. Pengacara Febri mengambil inisiatif untuk membuka koper tersebut. Baru saja jemarinya menyentuh kedua pengait di koper itu, sama-sama kami saling terpanah mendapati adanya gembok kecil khusus beserta kode angka lima digit.
"Di gembok Rey! Apa kamu tahu nomornya?"
"Sebentar.." Rey keluar dari kamar, dan cepat kembali membawa palu berukuran sedang. Dalam waktu singkat, bugh, bugh, bugh.. palu itu mengoyak gembok hingga terbelah menjadi dua.
Rey bersihkan bekas gembok itu, dan membukanya seperti pada koper pertama. Ketika koper terbuka, keduanya sama-sama terpanah melihat barang-barang yang ada dihadapannya.