NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Para teknisi Sektor Inti itu datang dengan sepatu bot mengilap dan pemindai laser di tangan mereka. Mereka tampak seperti alien yang mendarat di planet asing yang kotor. Pemimpin tim mereka, seorang pria muda bernama Kevin dengan kacamata pintar yang terus berkedip, menatap jijik ke arah genangan air di dekat gerbang kamp.

"Kami di sini untuk mengambil sampel tanah liat dan komposisi sabut kelapa yang Anda gunakan," ujar Kevin, suaranya sengau karena ia mengenakan masker penyaring udara elektrik. "Dr. Arra bilang kami harus mempelajari 'interaksi partikel alami' di sini."

Gidion, yang sudah berdiri menyambut mereka, hanya menunjuk ke arah tumpukan karung kosong di pojok lapangan. "Simpan mainan lasermu, Nak. Di sini, kalau kau mau sampel, kau harus menggali sendiri. Itu aturannya."

"Menggali? Kami punya drone penggali otomatis—"

"Drone-mu akan tersangkut kabel rongsokan di bawah sana dalam dua menit," sela Maya yang muncul sambil membawa tang raksasa. "Ikuti Gidion atau pulang sekarang."

Di kejauhan, Jek mengamati dari balik pohon mangga. Hafiz berdiri di sampingnya, masih tampak canggung dengan ubi di tangannya yang belum habis.

"Anda membiarkan mereka masuk ke dapur kita, Tuan?" bisik Hafiz. "Mereka akan mencuri rahasianya."

"Biarkan saja," jawab Jek tenang. "Mereka bisa mencuri resepnya, tapi mereka tidak punya 'rasa'. Mereka akan mencoba mereplikasi filter kita dengan mesin cetak 3D di kota, dan mereka akan gagal. Filter itu butuh sentuhan tangan manusia yang tahu kapan tanah liat itu cukup lembap. Itu sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam kode."

Selama seminggu berikutnya, pemandangan aneh terjadi di Kamp Sampah. Para ilmuwan elit Sektor Inti terlihat berlutut di lumpur, dipandu oleh anak-anak kamp yang menertawakan cara mereka memegang sekop. Kevin, si pemimpin tim, mulai melepas maskernya di hari ketiga karena udara di kamp—meski bau—terasa lebih "hidup" daripada udara daur ulang di Sektor Inti yang kering.

Suatu sore, Kevin mendekati Jek yang sedang duduk tenang di atas batu. Pemuda kota itu tampak kelelahan, bajunya yang mahal kini penuh noda tanah yang permanen.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Kevin, suaranya tidak lagi sombong. "Kau bisa saja memberikan formulanya lewat data. Kenapa memaksa kami bekerja seperti ini?"

Jek menatap Kevin, lalu menunjuk ke arah warga kamp yang sedang makan bersama di kejauhan. "Karena di kota, kalian hanya melihat angka. Kalian melihat air bersih sebagai komoditas. Di sini, air bersih adalah kehidupan yang diperjuangkan dengan keringat. Aku ingin kalian merasakan beratnya satu liter air, supaya saat kalian kembali ke kota, kalian tidak akan membuang-buangnya lagi."

Kevin terdiam. Ia melihat ke telapak tangannya yang mulai lecet. Untuk pertama kalinya, ia merasa terhubung dengan sesuatu yang nyata, bukan sekadar proyeksi holografik.

Namun, kedamaian itu pecah saat sebuah alarm melengking dari tablet Maya.

"Jek! Perbatasan Timur!" teriak Maya. "Ada rombongan liar dari Sektor Luar. Mereka bukan teknisi, mereka pemburu rongsokan... dan mereka membawa peluncur roket tua."

Hafiz seketika berdiri tegak, insting tempurnya bangkit. "Tuan, berikan perintah. Saya punya beberapa kawan di sekitar sini yang bisa membereskan mereka dalam hitungan menit."

Jek berdiri perlahan, membersihkan tanah dari celana kainnya. Ia menatap ke arah kepulan debu di cakrawala. Sektor Inti telah memberi mereka keamanan dari pemerintah, tapi kesuksesan Kamp Sampah kini mengundang serigala-serigala kelaparan dari padang gurun.

"Gidion, kumpulkan warga. Masuk ke dalam lubang perlindungan bawah tanah," perintah Jek, suaranya rendah namun penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Rara, ambil posisi di menara pengawas. Jangan menembak kecuali aku bilang."

"Lalu Anda sendiri?" tanya Kevin dengan wajah pucat.

Jek mengambil topeng lasnya yang kusam. "Aku akan melakukan apa yang biasa dilakukan seorang kuli sampah." Ia menoleh ke arah Hafiz. "Hafiz, kau bilang kau ingin perintah? Jangan bunuh mereka. Rusak saja kendaraan mereka. Kita butuh suku cadang baru untuk traktor kita bulan depan."

Hafiz menyeringai lebar—sebuah seringai yang sudah lama tidak ia tunjukkan. "Siap, Tuan."

Jek memakai topengnya, menyembunyikan wajah Sang Arsitek di balik logam hitam. Ia melangkah menuju gerbang, bukan sebagai penguasa yang ingin berperang, melainkan sebagai penjaga rumah yang tidak akan membiarkan kebun ubinya diinjak-injak oleh siapa pun.

Debu yang mengepul di cakrawala berubah menjadi raungan mesin tua yang batuk-batuk. Tiga kendaraan buggy rongsokan dengan plat besi tambahan dan satu truk tangki yang dimodifikasi berhenti tepat seratus meter dari gerbang Kamp Sampah.

Kelompok ini adalah "Para Penjarah Karat"—faksi pengembara dari Sektor Luar yang hidup dari merampas pemukiman mandiri. Pemimpin mereka, seorang pria besar dengan lengan mekanis yang mengeluarkan uap panas, melompat turun dari kendaraan terdepan.

"Gidion!" teriak pria itu, suaranya parau karena debu gurun. "Aku dengar sampahmu sekarang mengeluarkan emas dan obat-obatan. Berikan setengah isi gudangmu, atau kami akan meratakan gubuk-gubuk bambu ini!"

Gidion berdiri di atas gerbang kayu yang diperkuat, tangannya gemetar sedikit namun suaranya tetap lantang. "Kau salah alamat, Boris! Di sini tidak ada emas, yang ada hanya keringat dan tanah liat. Pergilah sebelum kau menyesal!"

Boris tertawa, lalu memberi isyarat pada anak buahnya yang memegang peluncur roket karatan di atas truk. "Penyesalan itu untuk orang mati, Gidion!"

Namun, sebelum Boris sempat memberi perintah tembak, suara dentang logam yang berirama terdengar dari bawah gerbang. Jek melangkah keluar sendirian, mengenakan topeng lasnya dan memegang sebuah alat aneh—sebuah pemancar sinyal analog yang dirakit Maya dari barang rongsokan Sektor Inti.

"Berhenti di sana, Boris," suara Jek terdengar teredam di balik topeng, namun memiliki wibawa yang membuat bulu kuduk Kevin—si teknisi kota yang mengintip dari balik karung—berdiri.

"Siapa kau? Asisten las Gidion?" ejek Boris sambil melangkah maju dengan lengan mekanisnya yang mendesis.

Jek tidak menjawab. Ia menekan sebuah tombol pada alatnya. Seketika, mesin buggy dan truk tangki milik para penjarah itu bergetar hebat. Suara mesinnya berubah dari raungan menjadi rengekan tinggi, lalu mati total secara bersamaan.

"Apa yang kau lakukan?!" Boris berteriak panik, mencoba menggerakkan lengan mekanisnya yang tiba-tiba terkunci rapat.

"Aku hanya memutus aliran data pada modul kontrolmu yang sudah usang itu," ujar Jek pelan sambil terus berjalan mendekat. "Kalian menggunakan teknologi sisa Ares yang tidak pernah diperbarui. Aku tahu setiap celah di dalamnya karena... aku yang menulis protokol dasarnya sepuluh tahun lalu."

Boris terbelalak. Ia mencoba menarik pistolnya, tapi tangannya tidak bisa bergerak. Seluruh peralatan elektronik di sekitar radius dua puluh meter dari Jek mati total akibat gelombang interferensi lokal yang presisi.

Hafiz muncul dari balik semak-semak di samping Jek, memegang sebuah busur panah dengan ujung ledak kecil. "Tuan, mereka terlihat sangat kaku. Haruskah saya 'melonggarkan' mereka sedikit?"

"Jangan, Hafiz," Jek berhenti tepat di depan Boris yang kini berkeringat dingin. "Boris, dengarkan baik-baik. Kendaraanmu tidak akan bisa menyala kembali kecuali aku yang memberikannya izin. Jika kau pergi sekarang dengan berjalan kaki, kau bisa selamat. Tapi jika kau tetap di sini, aku akan membiarkan lengan mekanismu meledak karena kelebihan beban arus."

Boris menatap mata di balik lubang topeng las itu. Ia tidak melihat kuli sampah. Ia melihat hantu dari masa lalu yang seharusnya sudah mati bersama runtuhnya sistem dunia.

"Kau... kau Si Arsitek..." bisik Boris dengan suara gemetar.

"Aku hanya seorang petani ubi sekarang," sahut Jek. "Pilihannya ada padamu. Pulang dan ceritakan pada faksi lain bahwa Kamp Sampah adalah tempat suci yang tidak boleh disentuh, atau jadilah bagian dari tumpukan rongsokan di sini."

Hanya butuh sepuluh detik bagi Boris untuk membuat keputusan. Ia memberi kode pada anak buahnya untuk turun dari kendaraan. Mereka meninggalkan kendaraan yang mati total itu dan berjalan mundur dengan tangan terangkat, sebelum akhirnya lari terbirit-birit menuju cakrawala.

Jek mematikan alat pemancarnya. Seketika, suasana kembali sunyi. Ia membuka topeng lasnya dan menghirup udara sore yang mulai dingin.

"Maya, ambil traktor. Tarik kendaraan mereka ke dalam," perintah Jek pada Maya yang melongo di atas gerbang. "Hafiz, bongkar mesinnya. Kita butuh suku cadang untuk sistem irigasi baru."

Kevin, teknisi dari Sektor Inti, keluar dari persembunyiannya dengan mata membelalak. "Kau... kau melumpuhkan sistem militer tingkat tinggi hanya dengan alat mainan itu? Siapa kau sebenarnya, Jek?"

Jek menatap Kevin, lalu menyerahkan alat pemancar itu padanya. "Aku adalah orang yang tahu bahwa teknologi paling canggih sekalipun punya satu kelemahan besar: ia butuh kepatuhan. Dan di kamp ini, kita tidak patuh pada siapa pun kecuali pada diri kita sendiri."

Malam itu, Kamp Sampah mendapatkan tiga kendaraan baru untuk dikanibalisasi. Jek kembali duduk di kursinya, mengasah mata cangkulnya di bawah sinar bulan, sementara Hafiz dan Gidion tertawa sambil membongkar mesin truk tangki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!