Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama kesekian kalinya
Mobil Mercedes putih itu membelah jalanan menuju Universitas California dengan atmosfer yang telah bergeser total. Jika biasanya perjalanan mereka diisi dengan debat panas dan hinaan konyol, kali ini hanya ada keheningan yang sarat akan beban.
Zeus mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan kirinya tidak pernah lepas menggenggam jemari Nomella, seolah gadis itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak melayang hilang dalam kabut euforia.
Nomella menatap ke luar jendela, pikirannya masih tertuju pada layar monitor USG tadi. Empat minggu. Angka itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia masih meyakini ini adalah skenario Elena Sterling, namun melihat bagaimana Zeus bernapas—lebih tenang, lebih hidup Nomella memilih untuk menyimpan keraguannya dalam saku terdalam jubah kebohongannya.
Begitu mereka menginjakkan kaki di pelataran parkir kampus, topeng "Sang Matahari" Zeus kembali terpasang sempurna. Namun kali ini, ada kilatan yang lebih organik di matanya. Ia tidak lagi sekadar berakting; ia merasa seperti pahlawan yang baru pulang dari medan perang dengan membawa piala kehidupan.
"Hati-hati, Mommy," ujar Zeus saat membukakan pintu untuk Nomella. Ia mengulurkan tangan dengan sikap ksatria yang membuat beberapa mahasiswi di dekat mereka memekik pelan.
"Zeus, aku bisa jalan sendiri. Tadi dokter bilang aku sehat," bisik Nomella, mencoba menjaga martabatnya sebagai gadis mandiri dari Manhattan.
"Dokter bilang kau sehat karena ada aku yang menjagamu," balas Zeus dengan senyum narsisnya yang khas, namun ia segera menunduk ke arah perut Nomella. "Benar kan, jagoan? Mommy-mu ini memang keras kepala."
Memasuki ruang kelas Hukum Internasional. Ruangan yang tadinya riuh mendadak sunyi saat pasangan Sterling itu melangkah masuk. Zeus tidak membiarkan Nomella duduk di kursi kayu yang keras begitu saja. Ia mengeluarkan bantal kecil empuk dari dalam tasnya yang entah sejak kapan ia siapkan—dan meletakkannya di kursi Nomella.
"Duduklah dengan nyaman, Sayang. Kursi ini terlalu keras untuk tulang punggungmu yang berharga," ucap Zeus cukup keras hingga dosen yang baru saja masuk pun menoleh.
"Mr. Sterling, ada masalah dengan kursi kelas saya?" tanya Profesor Miller dengan alis terangkat.
Zeus berdiri tegak, membusungkan dada dengan bangga. "Hanya memastikan kenyamanan istri dan calon penerus Sterling, Prof. Anda tahu sendiri, trimester pertama sangat krusial."
Seisi kelas bergemuruh. Beberapa mahasiswa bersiul, sementara yang lain berbisik-bisik iri. Nomella hanya bisa menutupi wajahnya dengan buku teks tebal, merasa ingin menghilang ke dalam lantai semen. Namun, di bawah meja, tangan Zeus merayap mencari tangannya, memberikan remasan lembut yang seolah berkata, "Ikuti saja alurnya."
Selama kuliah berlangsung, Zeus tidak lagi mendengarkan penjelasan tentang kedaulatan wilayah. Ia justru sibuk mencatat sesuatu di buku catatannya. Saat Nomella melirik, ia melihat daftar nama bayi: Zayn Jr.? Apollo? Athena?
"Zeus, fokuslah pada kuliah," tegur Nomella pelan.
"Aku sedang fokus pada masa depan kita, Mommy," bisik Zeus sambil mengecup pundak Nomella tanpa peduli pada pandangan orang lain. "Aku ingin dia tahu bahwa ayahnya sudah menyambutnya sejak dia masih sebesar biji kacang."
.
.
Kabar tentang hasil USG pagi itu tampaknya sudah menyebar seperti virus melalui grup chat kampus. Begitu mereka masuk, suasana mendadak terasa seperti pesta penyambutan.
George dan teman-teman pria Zeus lainnya sudah mengosongkan meja terbaik di tengah kantin. "Ini dia, Sang Ayah tahun ini!" seru George sambil menepuk bahu Zeus.
Zeus duduk di samping Nomella, namun ia tidak langsung makan. Ia memesan sup ayam hangat dan air mineral tanpa es untuk Nomella, sementara dia sendiri hanya memesan salad.
"Kenapa kau tidak makan daging?" tanya Nomella heran.
"Daddy harus ikut merasakan apa yang Mommy rasakan. Jika kau harus menghindari makanan tertentu, aku juga akan menghindarinya," ujar Zeus dengan nada heroik yang konyol. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke perut Nomella yang tertutup sweater rajut.
"Dengar itu, Nak? Papa setara denganmu dalam hal nutrisi."
"Woooooh! Zeus, kau benar-benar sudah jinak ya!" ejek salah satu temannya.
"Bukan jinak, kawan. Ini namanya tanggung jawab," balas Zeus sambil tertawa lebar, tawa yang begitu hangat hingga Nomella hampir lupa bahwa pria ini sedang tidak meminum obat delusinya.
Nomella menatap Zeus yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Di tempat ramai seperti ini, Zeus terlihat sangat waras, sangat bahagia. Namun Nomella tahu, di balik tawa itu ada retakan yang dalam. Ia teringat pesan Elena. Ia teringat telepon dari psikiater.
"Sayang, kenapa tidak dimakan supnya? Apa aromanya membuatmu mual?" tanya Zeus tiba-tiba, beralih dari percakapan dengan teman-temannya kembali sepenuhnya pada Nomella. Matanya memancarkan kekhawatiran yang begitu intens hingga membuat Nomella merasa bersalah.
"Tidak, aku hanya... sedang berpikir," jawab Nomella pelan.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Itu tugas Daddy. Tugas Mommy hanya makan, istirahat, dan mencintaiku," ucap Zeus sambil menyuapkan sesendok sup ke mulut Nomella.
George yang melihat itu berdehem keras. "Kalian berdua benar-benar membuat kami yang jomblo ini ingin segera menikah. Tapi Zeus, apa kau sudah menyiapkan kamar bayi di mansion?"
"Bukan hanya kamar, George. Aku sudah menyiapkan seluruh sayap kanan rumah untuknya. Ada taman bermain kecil, ruang musik... aku ingin dia tumbuh dengan semua hal yang tidak pernah aku miliki," ujar Zeus, dan sesaat, suaranya terdengar begitu emosional dan jujur.
Nomella merasakan sesak di dadanya. Ia tahu "hal yang tidak pernah dimiliki" Zeus adalah kasih sayang yang tulus tanpa bayang-bayang kesempurnaan kakaknya.
Di depan semua orang, Zeus sedang membangun monumen penebusan dosa.
Saat mereka bangkit untuk meninggalkan kantin, Zeus kembali melakukan hal yang membuat semua orang terdiam. Ia berhenti sejenak, memegang perut Nomella dengan kedua tangannya, dan menciumnya di hadapan ratusan mahasiswa.
"Sampai jumpa di kelas berikutnya, Jagoan. Jangan merepotkan Mommy," bisiknya.
Nomella hanya bisa mematung, menerima perlakuan itu dengan perasaan yang campur aduk. Ia mulai menyadari bahwa ia tidak bisa lagi membedakan mana yang drama dan mana yang nyata.
Di kampus ini, mereka adalah raja dan ratu dengan mahkota masa depan di rahim Nomella. Namun Nomella tahu, begitu matahari terbenam dan mereka kembali ke apartemen, ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit: suaminya yang masih sakit dan sebuah kehamilan yang ia curigai sebagai manipulasi mertuanya.
"Ayo, Mommy. Kita harus pulang lebih awal. Aku sudah memesan bantal khusus untuk tidur siangmu," ajak Zeus sambil merangkulnya erat.
Nomella mengangguk lemah, mengikuti langkah penuh percaya diri suaminya. Di bawah sinar matahari California, drama "Daddy dan Mommy" itu terus berlanjut, menyembunyikan badai yang siap meledak kapan saja.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰