Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Tuan...aku menemukan titik terang dari pencarian kita selama ini "
Aditya membaca berulang kali pesan yang baru saja masuk, Jantungnya berdetak kencang. Jari jari Aditya bergetar, hampir saja ia menjatuhkan ponsel dari genggamannya "menemukan titik terang" tiga kata yang selama ini ia tunggu seperti orang tidak waras, kini terpampang nyata di depannya.
Aditya segera beranjak keluar menuju taman di depan rumahnya, Ia menjauh agar suaranya tidak kedengaran oleh Chelsea.
Ia menekan tombol hijau, suara panggilan masuk terdengar nyaring di telinganya. Udara malam yang menusuk tulang tak lagi ia rasakan, suhu tubuhnya terasa panas.
Hanya satu nada panggilan, langsung di angkat.
"Katakan Jon, apa yang kamu temukan?" Suaranya parau menahan desakan emosi.
"Aku tidak sengaja mendengar seorang wanita menyebut nama Elfa saat aku berdiri dekat butik, kemudian aku mendekat dan bertanya. Dia mengatakan, dia teman sekolah Elfa dulu dan di sini Elfa bekerja. Dua hari aku pantau butik itu aku tidak melihat tanda-tanda Elfa muncul. Hari ketiga, wanita itu datang lagi. Aku mendekati dia lagi dan aku...aku ajak saja dia melihat gaun yang ia suka. Dari pemilik butik itu aku tahu, Elfa....memang bekerja sebagai tukang cuci dan bersih bersih di tempat itu , tuan"
"Jadi, pekerjaannya hanya sebagai tukang cuci di salah satu butik di kota ini ?" Aditya memejamkan mata, sekarang dia tidak menertawakan pekerjaan Elfa, seperti saat itu. Sekarang ada sesak yang ia rasakan.
"Apakah dia tidak memiliki anak ?"
"Tidak tuan, dia tidak pernah menikah "
"Tapi kata wanita itu....."
"Apakah anda akan menemui wanita itu, tuan?"
Tak ada jawaba, Aditya terdiam
"Apakah akan semudah itu Elfa memaafkan ku?" Batin Aditya, ia menoleh melihat rumah megah yang terlihat seperti hotel, yang selalu sunyi, terasa seperti kuburan. Di dalam rumah itu, istrinya sedang meringkuk dalam kamar. Wanita yang ia cintai.
"Berikan alamat lengkap butik itu sekarang juga " Kata Aditya dengan nada dingin, menutupi keresahan hatinya " Aku sendiri yang akan menemui nya "
"Tapi tuan... Kalau tuan langsung menemuinya, aku yakin dia akan menghindar atau mungkin menghilang lagi tuan.."
Geraman Aditya tertahan, dia memejamkan mata
"Aku harus menemuinya, Jon..." Ada kelegaan tapi ada ketakutan yang luar biasa, Aditya menangis. air mata yang jarang keluar kini menetes perlahan di pipinya.
____
Keesokan harinya, sabtu pagi yang menenangkan. Aditya hanya menatap butik itu dari kejauhan, dia ingat dia pernah datang kesini, ibunya pernah ke tempat ini, ibu mertuanya juga pernah ke tempat ini...
"Sial.....dia ternyata begitu dekat, tapi aku mencarinya hampir mengais isi kota ini. Mencari di setiap sudut kota" Guman Aditya
Dia belum berani masuk, hanya melihat butik itu. Jantungnya berdebar-debar kencang, saat pencarian pertamanya ia meremehkan keadaan Elfa, menganggap sumpah Elfa tidak punya pengaruh untuk hidupnya, Tapi sekarang, Aditya tahu, Elfa memegang kendali untuk takdir hidupnya dan setiap nyawa yang hilang dari rahim istrinya.
Aditya teringat ucapan wanita itu "Selama dendam itu masih mengakar dalam dirinya. Maka, selama itu pula, rumahmu akan menjadi makam bagi segala harapan harapanmu."
Aditya masih di sana, dalam mobil menunggu detik demi detik seolah-olah dia sedang menunggu seseorang yang akan memvonis hidupnya.
Lima belas menit kemudian, Aditya melangkah masuk ke dalam butik. Aditya memejamkan matanya. Ia melihat setiap sudut ruangan itu. Bersih sekali dan tiba-tiba ia seperti bayangan Elfa yang sedang membersihkan ruangan.
"Selamat datang di Gavela Desain, ada yang bisa kami bantu pak " Sapaan salah satu karyawan di butik mengembalikan kesadaran Aditya dari lamunannya.
Aditya tiba-tiba saja merasa gugup, mulutnya terasa keluh seolah olah ia kehabisan kata kata.
"Pak...." Karyawan itu menatap Aditya yang diam. Ia melihat wajah Aditya pucat dengan pandangan yang tidak tenang, seolah-olah sedang mencari sesuatu.
"A..aku ingin bertemu pemilik butik ini..". dua orang karyawan saling tatap, salah satunya segera masuk ke dalam ruang asisten Elfa.
Tidak lama kemudian, seorang wanita berdiri di depan Aditya.
"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?"
Aditya mengendalikan dirinya, ia tidak mau terlihat seperti ini. Ia meremas tangannya yang bergetar hebat." Tidak... tidak, aku hanya bicara dengan Elfa, aku tidak boleh terlihat gugup seperti ini" Batin Aditya
"Pak....ada yang bisa kami bantu" Ulang asisten Elfa
"Aku ingin bertanya, apakah di sini ada karyawan bernama Elfa ?" Aditya bertanya dengan nada suara yang dingin, Kedua karyawan yang menyapa tadi menatap aneh pada Aditya, mereka melihat dari atas ke bawah.
Elis, asisten kepercayaan Elfa menatap Aditya dengan alis menukik tajam, dua orang pria yang berbeda-beda datang bertanya tentang Elfa. Dan kali ini Elis melihat pria yang sangat tampan dengan tubuh tegap berdiri di depannya datang dengan hal yang sama, mencari Elfa.
"Elfa..? Ahh..ya di sini ada. Bagaimana pak, apa ada masalah dengannya ?" Tanya asisten Elfa dengan percaya diri, dia yakin ada sesuatu yang harus ia sembunyikan tentang keberadaan Elfa.
" Aku ingin bertemu dengannya " Ucapan Aditya terdengar parau.
"Maaf sekali pak, hari ini Elfa tidak masuk kerja. Dia izin beberapa hari ke depan "
" Tidak masuk kerja? Dia pergi...ke..mana ..?"
"Sepertinya dia pulang kampung, Elfa izin untuk dua hari "
Aditya mengangguk pelan, mencengkram erat kunci mobil di tangannya, gagal..dia gagal bertemu Elfa.
"Apa anda tahu, alamat kampungnya?" Tanya Aditya pelan, ia melihat wanita pemilik itu melihat Aditya dengan tatapan mata yang penuh rasa penasaran.
" Kalau boleh tahu, ada perlu apa dengan salah satu karyawan di sini pak ? Aku tidak bisa memberikan data apapun tentangnya, apa lagi dia hanya... tukang cuci dan bersih bersih di butik ini. Dia tidak tahu apapun masalah gaun gaun di sini. Tapi walaupun pekerjaannya hanya bersih bersih, aku harus menjaga privasi karyawanku. Jika bermasalah anda bisa bicara denganku "
Aditya menarik nafas panjang, ia diam, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak mungkin ia bicara jujur.
"Tidak ada masalah, baiklah terimakasih.. permisi" Aditya tersenyum tipis, tangannya mengepal. Dia terlalu bersemangat ingin bertemu Elfa.. ingin segera mengakhiri hutang nyawa yang menjadi momok mengerikan itu. Tapi dia tidak pernah berpikir bahwa kemungkinan apa bisa saja terjadi,hari ini dia gagal menemui Elfa.
Aditya menghentikan langkahnya, menatap butik itu. Seakan-akan ingin memastikan sekali lagi keberadaan Elfa.
Sementara dari dalam butik, tiga orang karyawan Elfa menatap Aditya yang berdiri didepan dengan langkah yang pelan sekali.
"Mbak..siapa pria itu, dia tampan sekali " Tanya salah satu karyawan
" Dia cari Bu Elfa, tapi pas mba Lis bilang Bu Elfa tidak masuk hari ini. Wajahnya itu loh mbak, kayak yang gimana.. Murung gitu, sedih"
Elis berbalik mendengar ucapan karyawan yang lain.
"Ada apa ya mbak, kok beberapa hari ini, ada saja yang mencari ibu Elfa "
"Ssttt... ikuti aja apa kata Bu Elfa, yakin saja tidak terjadi apa-apa. Ibu Elfa orang yang sangat baik. Di saat tempat lain melihat kita dengan rendah. Dia menerima kita, kalian tidak lupa kan. gimana kalian melamar pekerjaan di toko kecil dulu ?"
Beberapa karyawan ikut mendengar hanya menunduk, mereka tahu seperti apa Elfa.
"Kita mencari pekerjaan mengelilingi kota ini, jangankan di terima. Kita malah di hina habis habisan hanya karena pendidikan kita rendah" Kata Elis dengan suara parau.
"Bu Elfa mengajar kan kita cara kerja, kamu ingatkan kata katanya..? Elis menatap salah satu karyawan yang berdiri di samping nya.
Ia ingat kata kata Elfa......" Yang penting kamu bisa baca tulis, mengerti mana yang boleh dan tidak boleh. Hal hal lainnya bisa di ajarkan"
"Aku cuma tahu satu hal, tidak ada orang lain yang akan memperlakukan kita sebaik ini " Ucap Elis.
"Mbak Lis bener, aku yang paling merasakan kebaikan Bu Elfa. Saat itu, aku menggendong anakku, berdiri di depan butik karena aku nggak tau harus ke mana. Kalau saja saat itu aku nggak ketemu Bu Elfa. Mungkin.... mungkin anakku sudah aku titipkan di panti asuhan dan aku bekerja ke luar negeri. Jadi TKW " Kata karyawan itu dengan lirih, usianya hampir sama Elfa.
Elis tersenyum " Jadi kita harus bersyukur di pertemukan dengan wanita sebaik ibu Elfa, apapun kata orang atau saat dia punya masalah. kita dukung dia, kita bantu dia. Selama itu untuk hal yang baik "
Elis menatap Aditya, dia yakin, pria yang masih berdiri di depan butik Elfa pasti masalalu Elfa. Elis pernah melihat foto dengan ukuran tiga kali empat, foto seorang anak kecil memakai baju SD. Wajah yang sama persis pria itu.
.
.
.
Next.....
Readers, jangan lupa tinggalkan jejak ya 🙏🏼
anakmu tak kan mnerima mu.
apalagi km ingin dia mati dulu.
Chelsea kl km gk cerai dng Aditya mk km selamanya tak akn punya anak.
CPT cerai sebelum terlambat km tambh ngenes. hidup dng laki biadap, tega mmbunuh darah daging nya sendiri.