NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Narasi Palsu

Devina membaca baris demi baris berita itu dengan tangan yang gemetar. Ada foto masa lalu Salsa yang nampak sederhana namun cantik di sana. Hati Devina mencelos. Ia tidak mengenal wanita itu, namun ia merasakan ikatan penderitaan yang sama sebagai sesama wanita yang dikhianati oleh pria yang sama.

"Bunuh diri?" gumam Devina sinis.

Mengingat betapa beraninya Salsa menerobos acara pertunangannya, Devina sulit percaya wanita setegar itu akan menyerah begitu saja pada hidup. Namun, yang lebih membuat hatinya dingin adalah kenyataan bahwa Aris adalah pusat dari semua kehancuran ini.

Meski dalam berita itu Aris digambarkan sebagai suami yang "patah hati" dan "terpukul atas kepergian istrinya", Devina tidak lagi merasakan setetes pun simpati. Rasa cinta yang dulu memenuhi dadanya kini telah bermutasi menjadi rasa muak yang luar biasa. Baginya, Aris bukan lagi sekadar penipu, melainkan pembawa sial yang menghancurkan hidup siapa pun yang berada di dekatnya.

"Aku tidak akan membiarkanmu menarikku masuk ke dalam lumpurmu lagi, Aris," ucap Devina mantap.

Ia mematikan televisi. Ruangan itu menjadi gelap seketika, namun di dalam kepalanya, rencana untuk benar-benar lepas dan bangkit menjadi lebih terang dari sebelumnya. Ia tidak tahu bahwa kematian Salsa hanyalah puncak gunung es dari kegelapan yang dibawa Aris, dan ia juga tidak tahu bahwa di luar sana, Gavin sedang mempersiapkan diri untuk menjadi benteng yang akan melindunginya dari badai yang akan datang.

****

Di tempat lain, Aris sedang berada di sebuah bar remang-remang, menatap layar ponselnya yang menampilkan berita yang sama. Ia tersenyum puas melihat narasi "bunuh diri" yang mulai diterima publik.

"Satu masalah selesai, Salsa," bisiknya pada gelas minumannya. "Sekarang tinggal bagaimana aku meyakinkan Devina bahwa aku adalah duda malang yang butuh pelukan hangatnya."

Ia tidak menyadari bahwa di Sukabumi, seorang ibu sedang merapalkan doa keadilan, dan di sebuah kantor polisi, seorang detektif sedang menatap hasil autopsi yang tidak cocok dengan narasi yang ia beli.

****

Jakarta di bawah langit yang mendung terasa seperti rimba beton yang tidak punya belas kasihan bagi mereka yang datang dengan hati hancur. Bu Imroh berdiri di depan gerbang kantor megah Wicaksana Decoration dengan tubuh yang tampak ringkih dibungkus gamis tua dan kerudung panjang yang ujungnya terkena cipratan lumpur jalanan. Tangannya yang gemetar menggenggam erat sebuah map plastik berisi foto pernikahan Aris dan Salsa serta foto buku nikah mereka.

"Keluar kamu, Aris! Keluar kamu pembunuh!" teriak Bu Imroh. Suaranya serak, pecah oleh tangis yang tak kunjung usai sejak pemakaman di Sukabumi.

Beberapa karyawan yang lewat memandanginya dengan tatapan iba bercampur risih. Satpam gedung mencoba menghalau, namun Bu Imroh justru bersimpuh di aspal panas. "Panggil Aris! Dia yang membunuh putriku! Dia yang mendorong Salsa ke jurang! Jangan percaya berita bohong itu, anakku tidak bunuh diri!"

Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan gerbang. Aris Wicaksana keluar dengan penampilan yang sangat kontras—setelan jas hitam yang rapi, kacamata hitam, dan wajah yang diset sedemikian rupa agar tampak seperti pria yang sedang berduka.

"Ibu... kenapa Ibu di sini?" Aris mendekat, suaranya lembut namun dingin, dirancang untuk konsumsi publik yang mulai berkumpul menonton.

"Jangan panggil aku Ibu, Iblis!" Bu Imroh bangkit dan mencoba memukul dada Aris dengan map di tangannya. "Kamu yang membunuh Salsa! Kamu takut rahasiamu terbongkar, kan? Kamu ingin bersama Chef itu dan menyingkirkan anakku!"

Aris tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru menghela napas panjang, menoleh ke arah kerumunan wartawan infotainment yang mulai mengarahkan kamera. Ia memasang wajah prihatin yang amat dalam.

"Ibu Imroh, saya mengerti... kehilangan Salsa membuat Ibu sangat terpukul. Jiwa Ibu sedang terguncang," ucap Aris dengan nada tenang yang mematikan. "Tapi menuduh saya membunuh istri saya sendiri, wanita yang saya cintai, itu sudah keterlaluan. Polisi sudah menyatakan itu bunuh diri karena depresi. Tolong, jangan buat situasi makin sulit bagi kita yang ditinggalkan."

"Bohong! Kamu penipu!"

Aris memberi kode pada asistennya. "Tolong panggilkan ambulans atau hubungi dinas sosial. Ibu mertua saya ini sedang dalam kondisi tidak stabil secara mental sejak kematian Salsa. Saya khawatir beliau menyakiti dirinya sendiri karena delusi ini."

Narasi itu seketika berbalik. Di mata orang-orang yang menonton, Bu Imroh hanyalah seorang wanita tua yang kehilangan akal sehat karena duka. Aris berhasil menciptakan dinding pelindung berupa label "gangguan jiwa" untuk membungkam kebenaran yang diteriakkan Bu Imroh.

****

Di sisi lain kota, di dalam studio pribadinya yang harum akan aroma rempah dan mentega, Devina Maharani sedang meninjau jadwal kegiatannya bersama Raka, manajernya.

"Raka, aku mau pertegas sekali lagi," kata Devina tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. "Blokir semua nomor yang berhubungan dengan Aris. Jika dia datang ke acara syuting, panggil keamanan. Jika dia mengirim bunga atau surat, langsung buang ke tempat sampah. Aku tidak mau ada satu pun akses yang tersisa untuknya."

"Sudah kulakukan, Dev. Tapi dia terus mencoba menghubungi pihak stasiun TV, katanya mau mengklarifikasi soal kematian istrinya padamu," jawab Raka ragu.

"Tidak ada yang perlu diklarifikasi," potong Devina tajam. Matanya yang biasanya lembut kini berkilat penuh ketegasan. "Bagiku, Aris Wicaksana sudah mati bersamaan dengan hari pertunanganku yang gagal. Aku tidak peduli dia duda, dia berduka, atau dia suci sekalipun. Dia adalah racun."

Devina kini fokus pada kerjasamanya dengan Gavin Wirya Aryaga. Proyek Brand Ambassador ini bukan sekadar urusan kontrak, tapi menjadi pelarian sehat baginya. Gavin memberinya ruang untuk bernapas, memperlakukannya sebagai rekan profesional yang setara, dan yang terpenting, Gavin tidak pernah menanyakan soal skandal itu jika Devina tidak memulainya.

****

Sore itu, pertemuan evaluasi produk dilakukan di sebuah kafe rooftop yang tenang. Gavin datang lebih awal, sudah melepas jasnya seperti biasa, menampakkan kemeja biru muda yang pas di tubuh atletisnya. Saat Devina datang, Gavin berdiri dan menarikkan kursi untuknya—sebuah gestur sederhana yang membuat Devina merasa dihargai.

"Terima kasih, Gavin," ujar Devina tulus.

"Sama-sama. Bagaimana harimu? Saya dengar syuting pagi tadi sangat melelahkan," tanya Gavin dengan binar mata sipitnya yang hangat.

Mereka terlibat dalam obrolan seru tentang desain gagang pisau ergonomis hingga merembet ke selera musik. Tawa Devina pecah saat Gavin menceritakan pengalamannya pertama kali mencoba memasak telur ceplok dan berakhir menghanguskan wajan keluarganya sendiri.

Pemandangan itu—tawa lepas Devina dan tatapan penuh minat dari Gavin—tertangkap oleh sepasang mata yang mengintai dari kejauhan.

Di dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu masuk kafe, Aris mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, membakar paru-parunya dengan rasa cemburu yang beracun.

"Baru beberapa hari Salsa terkubur, dan kamu sudah bisa tertawa dengan laki-laki lain, Devina?" desis Aris dengan suara rendah yang mengerikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!