yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4. Puteri Istana
Suasana tegang masih terasa di raga mereka. Penjajah memang selalu begitu, lewat seenaknya, siapa yang halang maka habiskan.
Pantas saja banyak aktivis-aktivis yang sudah mulai muak karena kelakuan penjajah itu. Protes kecil-kecilan sampai aksi protes besar besaran turun ke jalan.
Semua itu tidak menemukan titik terang yang bisa menghalau mereka pergi. Justru para penjajah itu makin membabi buta menyerang para demonstran hingga banyak jatuh korban tewas ataupun luka-luka.
Aksi boikot hanya berpengaruh sedikit pada perniagaan mereka, karena dunia belum begitu paham dan informasi yang minim yang sampai pada dunia.
Rasa takut dan gelisah masih terbawa sampai kerumah.
" Assalamualaikum warahmatullah... !!! Salam ke4nya bergiliran ketika memasuki rumah.
"Astaghfirullah ... Yaseer butuh minum. Mana air,... Air... ' rintih Yaseer sambil berjalan ke arah dapur.
" Astaghfirullah ada apa dengan kalian, kenapa wajah kalian pucat, Abang, Haniya.. Ada apa? Apa yang terjadi ya ruuhiy....?" Tanya ummi panik pada anak dan suaminya.
" Tidak apa-apa ya Ummul 'ayal.. Hanya tadi ada barisan mobil penjajah yang melintasi jalan kami. Mereka berteriak -teriak membuat kami kaget dan berusaha bersembunyi". Jelas baba pada istrinya.
Ya ruuhiy (wahai jiwaku )panggilan istri untuk suami.
Ya Ummul 'ayal (ibunya anak- anakku) panggilan suami untuk istri.
Ummi langsung bergegas mengambil minum untuk suami dan anak-anak nya. Yaseer membantu membawa teko air dari dapur.
"Minumlah.. Semoga ini bisa membantu menenangkan hati kalian" pinta ummi lembut penuh perhatian....
" Haniya... Kamu tidak apa-apa?" tanya ummi khawatir.
" laa ba'sa ummi hanya sedikit kaget aja.." Jawab Haniya dengan senyum kaku. Haniya ini bisa di bilang introvert, jadi umminya sangat khawatir Haniya terguncang jiwanya.
" masyaallah.. Laa Haula walaa quwwata Illa Billah.... )" jawab ummi dan baba kompak. Mereka saling pandang dan tersenyum .
Saling peduli akan membawa ketenangan walau sedikit. Setidaknya kita tidak sendiri jika ada yang peduli dengan keadaan kita.
****
Setelah merasa tenang, mereka mulai makan siang bersama. Baba, ummi, Abbas, Haniya, Yaseer dan Abia mulai menyantap masakan ummi dengan khidmat. Berusaha melupakan rasa tegang yang sempat mendera.
" Ummi, nanti Abia bantu lagi ya... " pinta Abia dengan tatapan polos.
" Lha memangnya Abia tadi bantu apa ?" tanya Haniya.
Karena Haniya lah yang sangat dekat dengan Abia. Seringnya kebersamaan mereka saat Abia sekolah menjadikan kedekatan semakin kental.
" Tadi Abia bantu ummi sapu rumah. Karena tadi aku bermain dalam rumah. Jadinya rumah berantakan. Kata ummi harus dibereskan lagi. Jadi aku sapu semuanya" jelas Abia dengan bangga nya.
" Wah Abia sudah bisa jadi macam sapu jagat ya... " kata Haniya sambil tertawa pelan. Merasa senang karena Abia mau membantu ummi dengan sendirinya.
" Masyaallah.... Hebat nya anak baba ini.... " kata baba sambil mengusap lembut kepala Abia.
" bungsu baba sudah besar ya. Bisa bantu ummi... " senyum Abia makin lebar.
***
" Akak... Main yuk.... !" ajak Abia pada Haniya.
" Main apa Abia, sekarang sangat panas diluar". Terang Haniya.
" sekarang tidur aja yuk, nanti sore kalo langit sudah tidak terlalu panas, baru kita main.
****
" Haniya izin main sama Abia di depan rumah ya ummi... " izin Haniya.
" Tidak Jauh ya Haniya. Hanya sekitar rumah saja " tekan ummi..
"baik ummi...".
"Yuk Abia kita main. Kamu bawa mainan kamu ya" ajak Haniya. Abia mengangguk semangat.
Haniya mengasuh Abia dengan telaten. Walau usia mereka terpaut hanya 5tahun. Tapi kedewasaan Haniya bisa diacungi jempol.
Di usianya yang hampir 11 tahun dan dengan postur tubuh yang mulai beranjak remaja. Haniya tumbuh dengan pesat. Walau pun sudah mengalami haidh, tapi masa bermain seperti Abia tidaklah membuat nya malu.
Paras yang cantik ala orang timur. Postur tubuh yang proposional di usianya. Kelembutan dan kesopanannya, menjadi bahan pertimbangan bagi orangtua yang mulai meliriknya.
" Akak,. Itu ada temennya Abang. Mereka mau kemana rame-rame begitu?". tunjuk Abia pada gerombolan pemuda tanggung yang melintasi tempat Abia dan Haniya bermain.
" Sttt.... Jangan tunjuk -tunjuk, nanti mereka tersinggung. Sudah fokus main aja. Akak malu kalo mereka kemari" runtuk Haniya pada Abia.
" Kenapa malu kak, kan hanya temen Abang. apa karena mereka semua laki-laki?".heran Abia.
" Iya diantaranya itu. Kita tidak boleh berdekatan atau bersenda gurau dengan laki-laki. Terutama itu yang bukan mahram kita. Kalo bertemu pun harus menundukkan pandangan. Itu perintah Rasul agar terjaga hati kita". Jelas Haniya panjang lebar berharap Abia mengerti.
" Pantas saja akak lebih sering di dalam rumah. Untuk menjaga hati ya kak?". cetusnya berkesimpulan.
" Akak di rumah itu karena membantu ummi, dan akak juga sambil belajar, karena akak sudah lama tidak bersekolah. " jelas Haniya sekenanya.
" owh... Bukan karena malu ketemu temannya Abang?". Masih penasaran.
" Iya itu juga.... Tapi kalo perempuan itu memang di anjurkan lebih banyak dirumah jika tidak ada keperluan yang mengharuskannya keluar rumah."
" Abia, kamu tau ga, kenapa Haniya lebih suka dirumah?" tanya bang Abbas tiba-tiba.
" ya karena perempuan harus banyak dirumah. Begitu tadi kata akak." jawab Abia.
" bukan..... ". Bantah Abang sambil menahan ketawa. Haniya mulai curiga .
" kenapa gitu bang.?" tanya Abia polos.
" Karena Haniya itu takut di lamar sama teman baba..... Hahaha... " puas Abang.
Abia hanya melongo saja. Belum paham apa yang di katakan Abang nya. memang apa yang lucu kok Abang ketawa kenceng banget.
Haniya mendelikkan mata nya.
" ish Abang ini ngarang. Kalo mau ngarang itu di konoha aja.". pekik Haniya kesal. Candaan ga mutu.
Abang masih terus tertawa. Ntah apa yang membuat nya merasa lucu. Sepertinya mood nya lagi bagus. Biasanya kan ketus aja muka nya. Kalo ngomong suka ngegas.
" Abia ayo pulang, kita mandi dulu . Sudah mau sore". Putusnya meninggalkan Abang nya dengan wajah kesal.
****
" Ummi ... Memang dilamar itu apa?" tanya Abia polos pada uminya ketika di dalam rumah.
" Hah... Siapa yang dilamar?"
" Siapa yang bilang mau di lamar?". Tanya ummi keheranan.
" Itu kata Abang, akak mau dilamar". Tunjuk nya pada Abang dan Haniya bergantian.
" nggak ummi,... Abang itu ngarang..., lagian aku masih kecil kan ummi, belum pantas untuk di lamar apalagi menikah. Aku belum bisa banyak bantu-bantu ummi, masa iya aku cuma sebentar bakti sama orangtua sendiri". Sungutnya pada abangnya.
Ummi menggelengkan kepalanya pelan. 'putriku sudah beranjak meninggalkan masa anak- anak nya. Pemikirannya sudah jauh dari terakhir kali kami mengobrol serius' batin ummi memperhatikan raut wajah kesal sang anak.
" Haniya.,... Akak sudah mulai mengerti akan bakti pada orangtua. Usia akak sudah beranjak ke masa remaja. Akak pun sudah haidh. Jika masa nabi, Sayyida Aisyah usia 9 tahun sudah dinikahi rasul, walau belum tinggal serumah seperti ummi dan baba...."
Akak nanti akan tiba masa 'menyukai seorang lawan jenis. Jika akak tidak bisa menjaga diri, khawatir akan terjerumus pada maksiat yang Allah murkai.
Tapi jika akak bisa menjaga diri dengan baik, insyaallah akak akan menjadi wanita terhormat. Wanita yang mulia adalah wanita yang menjaga kehormatan dan dirinya sendiri". Nasehat ummi panjang lebar dan sangat hati-hati.
" Akak tau ummi, akak mau berbakti dulu pada ummi dan baba. Akak merasa belum pantas untuk meninggalkan ummi dan berbakti pada orang lain." lirihnya.
Abang dan Abia hanya menyaksikan pembicaraan penuh makna dan haru
itu dalam diam. Merasa bersalah maka Abang pun menghampiri Haniya.
" Maafin Abang ya Haniya. Abang becanda nya kelewatan. " sesalnya.
" Iya bang. Abang jangan gitu lagi ya. Haniya masih seneng tinggal sama ummi dan keluarga ini. Haniya mau jadi anak yang banyak baktinya untuk orangtua." balas Haniya tersenyum malu.
" Masyaallah.. Anak-anak ummi... Semoga kalian senantiasa saling menjaga dan terlindungi dari maksiat dan buruknya makhluk ". Doa tulus ummi sambil memeluk semua nya dengan penuh rasa syukur.
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.