NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Minggu pagi yang cerah itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan bagi mereka berdua.

Abraham sudah memanaskan mesin motornya, sementara Prita sudah rapi dengan pakaian santai, siap untuk berboncengan mencari rumah masa depan mereka.

Namun, baru saja Abraham hendak memakai helmnya, deru motor Deddy terdengar masuk ke halaman mess dengan terburu-buru.

Wajah Deddy tampak tegang, keringat dingin membasahi dahinya.

"Bram! Gawat, Bram!" seru Deddy sambil mengerem mendadak.

Abraham mengernyitkan dahi. "Ada apa, Ded? Ini kan hari Minggu."

"Ada gamas (gangguan massal) di wilayah Ampelgading. Petir semalam bikin salah satu tower utama kita kena imbas, sinyal satu kecamatan down. Pak Gio minta tim inti turun sekarang juga karena ini darurat," jelas Deddy dengan napas tersengal.

Prita yang berdiri di samping Abraham langsung terdiam.

Harapan untuk melihat-lihat rumah kontrakannya seketika pupus.

Ia mengerucutkan bibirnya, raut kekecewaan terpampang jelas di wajah cantiknya.

Abraham menoleh ke arah Prita dengan perasaan sangat tidak enak hati.

"Sayang, Mas minta maaf sekali. Kamu dengar sendiri kan? Ini darurat lapangan. Mas harus pergi sekarang."

Prita menghela napas panjang, mencoba meredam egonya.

Ia tahu bahwa pekerjaan suaminya sebagai teknisi telekomunikasi memang penuh dengan panggilan mendadak seperti ini.

"Ya sudah, Mas. Lain kali saja," ucap Prita lirih dengan nada yang sedikit lemas.

Ia melangkah mendekat, lalu mencium punggung tangan Abraham.

"Hati-hati ya, Mas. Jangan lupa makan."

"Mas janji, pulang dari Ampelgading kita langsung bahas lagi soal rumah itu," balas Abraham sambil mengecup kening Prita singkat sebelum memakai helmnya.

Prita tidak menjawab lagi. Ia hanya berbalik arah dan berjalan gontai masuk ke dalam kamar lagi.

Mendengar deru motor Abraham dan Deddy yang semakin menjauh, Prita terduduk di tepi ranjang yang sunyi, menyadari bahwa menjadi istri seorang teknisi lapangan menuntut kesabaran yang luar biasa.

Rasa sepi di dalam kamar mess yang sunyi akhirnya membuat Prita tidak betah.

Untuk mengusir rasa bosan dan kecewa karena batal mencari kontrakan, ia memutuskan untuk pergi ke Pasar Besar Malang.

Dengan menumpang angkutan umum, ia mencoba mencari suasana baru di tengah hiruk pikuk pusat perbelanjaan tertua di kota itu.

Prita mencoba menghibur diri. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong pasar, melihat-lihat deretan pakaian yang digantung.

Ia membeli beberapa potong pakaian baru yang menurutnya akan disukai Abraham, serta mencari makanan kesukaannya, bakso malang dan beberapa camilan tradisional untuk dibawanya pulang ke mess.

Namun, di sela-sela kegiatannya, jemarinya tak bisa lepas dari ponsel.

Berkali-kali ia membuka layar, berharap ada satu saja pesan atau panggilan masuk.

"Kenapa Mas Ham tidak ada kabar sama sekali ya?" gumamnya lirih.

Ia menatap nanar layar ponselnya. Sejak keberangkatan Abraham ke Ampelgading tadi pagi, suaminya itu sama sekali tidak menghubunginya.

Jangankan menelepon, pesan singkat untuk sekadar memberi tahu sudah sampai di lokasi pun tidak ada.

Prita mulai merasa cemas. Ia tahu Ampelgading adalah daerah pegunungan yang rawan sinyal, apalagi suaminya sedang memperbaiki gangguan massal di sana, tapi tetap saja rasa khawatir mulai merayap di hatinya.

Prita duduk di salah satu sudut bangku di depan pasar, memandangi keramaian orang berlalu-lalang, namun pikirannya terbang jauh ke tower di puncak bukit tempat suaminya bekerja.

Prita yang baru saja melangkah keluar dari gerbang Pasar Besar dengan tentengan belanjaan di kedua tangannya, tiba-tiba mematung.

Sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di depannya.

Kaca mobil perlahan turun, memperlihatkan sosok pria paruh baya dengan sorot mata tajam yang sangat ia kenali.

"Papa..." desis Prita pelan. Jantungnya berdegup kencang, antara takut dan rindu.

Papa Broto tidak turun dari mobil. Ia hanya menatap putrinya dengan tatapan dingin, seolah sedang menghakimi pilihan hidup Prita yang kini tampak seperti rakyat biasa.

"Pulanglah, Prita. Jangan menyiksa dirimu sendiri di tempat kumuh seperti itu," suara Papa Broto terdengar berat dan penuh wibawa.

Prita menggeleng kuat, mencoba tetap tegar.

"Prita bahagia, Pa. Mas Abraham menjaga Prita dengan sangat baik. Hari ini dia sedang bekerja, ada gangguan di Ampelgading, jadi Prita jalan-jalan sebentar."

Terdengar tawa sinis dari bibir Papa Broto yang membuat nyali Prita menciut.

"Ampelgading? Apa kamu yakin suamimu yang miskin itu benar-benar ada di sana?"

Dahi Prita berkerut bingung. "Maksud Papa apa? Mas Deddy sendiri yang menjemputnya tadi pagi."

"Prita, buka matamu. Deddy, Pak Gio, dan semua teman-temannya itu adalah satu komplotan. Saat ini, Abraham sedang berada di sebuah villa di daerah Batu bersama seorang wanita," ucap Papa Broto tenang, namun setiap katanya bagaikan sembilu yang menyayat hati Prita.

"Semua temannya juga ada di sana, berpesta di atas penderitaanmu yang percaya begitu saja pada kebohongannya."

Dunia Prita seolah berputar. Ia teringat ponselnya yang sunyi seharian tanpa satu pun pesan dari Abraham.

Ia teringat bagaimana Deddy datang dengan terburu-buru pagi tadi. Apakah semuanya hanya sandiwara?

"Tidak mungkin. Mas Ham tidak seperti itu," bantah Prita dengan suara bergetar, namun air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Kalau tidak percaya, silakan kamu cek sendiri. Papa hanya tidak ingin putri tunggal Papa dibodohi oleh laki-laki yang hanya menginginkan hartamu," lanjut Papa Broto sebelum kaca mobil kembali naik dan kendaraan mewah itu melesat pergi, meninggalkan Prita yang berdiri mematung di tengah keramaian pasar dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Prita kembali ke mess dengan langkah gontai. Kalimat Papanya terus terngiang seperti kaset rusak di kepalanya.

Ia duduk di tepi ranjang dalam kegelapan, enggan menyalakan lampu, membiarkan hatinya terbakar api cemburu dan kecurigaan yang disulut oleh ayahnya sendiri.

Tepat jam sepuluh malam, suara motor menderu masuk ke halaman mess.

Abraham melangkah masuk ke dalam kamar dengan baju yang kotor terkena lumpur, wajah yang sangat letih, dan keringat yang mengering di pelipisnya.

Begitu lampu dinyalakan, ia terkejut melihat Prita masih duduk tegak dengan tatapan kosong.

"Sayang, kamu belum tidur? Mas baru pulang, Ampelgading medannya berat sekali, sinyal benar-benar putus di sana," ucap Abraham sambil mencoba mendekat untuk menyentuh bahu istrinya.

Prita menepis tangan itu dengan kasar. Senyum sinis terukir di wajahnya.

"Enak, Mas, di villanya? Puas berpesta sama wanita itu?"

Langkah Abraham terhenti. Dahinya berkerut dalam.

"Villa? Wanita apa? Maksud kamu apa, Prita? Mas baru saja turun dari tower!"

"Jangan bohong lagi! Papa melihat kalian! Kamu, Deddy, semuanya. Kalian bersenang-senang di Batu sementara aku seperti orang bodoh menunggu kabar di sini!" teriak Prita.

Emosinya yang sudah di puncak meledak. Ia meraih mangkok bekas sate tadi sore yang ada di atas meja kecil dan melemparkannya ke arah dinding di samping Abraham.

PRANG!

Mangkok itu hancur berkeping-keping. Suara pecahan itu menggelegar di sunyinya malam mess.

Di luar kamar, Deddy, Pak Gio, dan teknisi lainnya yang baru saja melepas sepatu langsung terdiam kaku.

Mereka tidak berani bersuara, hanya bisa saling pandang mendengar kemarahan Prita yang tidak biasanya.

"Prita! Jaga bicaramu! Mas bekerja demi masa depan kita!" suara Abraham mulai meninggi karena lelahnya fisik bercampur dengan tuduhan yang tidak berdasar.

"Masa depan apa? Masa depan di atas kebohongan?!"

Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut, Prita menyambar tasnya dan berlari keluar kamar.

Ia melewati teman-teman Abraham yang terpaku di ruang tengah dengan mata sembab.

Prita terus berlari hingga ke gerbang mess dan duduk di sebuah warung remang-remang di depan jalan, menangis sesenggukan di bawah lampu jalan yang kuning.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!