"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Pengakuan Bahwa Ini Tidak Diinginkan
Satu bulan kemudian...
"Ihhh... cantik banget sih anaknya om Danu."
Tak perlu repot-repot menambahkan pemerah pipi pada riasan pengantin yang satu ini. Hari ini, melalui segala pujian yang terlontar dari sang Mama dan sahabatnya, pipi bulat Kharisma langsung merona.
Kharisma tersipu, memalingkan wajahnya dari Ibu dan sahabatnya yang justru semakin gencar menggoda. Cermin besar meja riasnya memantulkan kecantikannya yang tidak bisa diutarakan melalui kata-kata.
Gaun mewah pengantinnya menjuntai hingga ke lantai, menutupi kakinya dengan sempurna. Manik-manik yang terbuat dari berlian terpasang di gaunnya memantulkan setiap sinar, membuat Kharisma tampak begitu memukau.
"Oh, pasti, Kharisma juga kan anak Tante, pasti cantik dong!" Isabella menyahuti sembari memasangkan mahkota kecil di rambut Kharisma yang telah ditata.
"Iya, iya, cantiknya Kharisma itu pasti nurunnya dari Tante." Kinnar tersenyum sumringah, terlihat paling bersemangat.
"Kalian berlebihan sekali," cicit Kharisma malu-malu, menatap sang ibu dari cermin. "Makasi ya, Mama, sudah mau membantu."
Isabella tersenyum dan mengangguk, tatapan teduhnya ditunjukkan pada Kharisma. "Ini bukan bantuan, sayang. Ini sudah menjadi kewajiban Mama."
Isabella berlutut di hadapan putrinya, matanya berkaca-kaca meskipun sejak tadi ia berusaha menahan tangis dengan melontarkan candaan dan godaan pada Kharisma. Di sisi lain, Kinnar juga tidak dapat menahan diri. Dia memalingkan wajah, menatap apapun agar kesedihannya menghilang. Ditinggalkan sahabat baiknya untuk menikah adalah hal terakhir yang ia harapkan.
"Nanti kalau sudah sampai di rumah Prabu jangan lupa Salim dengan Ibu dan Ayah mertuamu, sayang," pesan Isabella, mengelus buku-buku jari Kharisma. "Di sana mereka yang menjadi orang tuamu. Sayangi mereka seperti kamu sayang dengan Mama dan Papa, ya."
Kharisma menekuk bibirnya yang tiba-tiba gemetar, air matanya sudah berada di ujung dan mengancam menghapus riasan yang terpoles di wajahnya yang cantik.
"Mama..."
"Shhh... jangan nangis." Isabella buru-buru bangkit, merengkuh tubuh putrinya ke dalam dekapan penuh kasih sayang yang selalu ia tunjukan tiap kali Kharisma mendapatkan mimpi buruk. "Sudah cantik begitu, nanti Make-upnya hilang."
"Nanti kalau aku kangen sama mama aku harus bagaimana..." lirih Kharisma, melingkarkan tangannya di pinggang sang ibu. "Mama jenguk aku nanti, kan? Kalau aku di rumahnya Mas Prabu?"
Isabella mengangguk, memberikan kecupan ringan di pucuk kepala putrinya. "Mama pasti sering-sering berkunjung nanti," balasnya menenangkan. "Kamu di sana jangan banyak menyusahkan suami kamu, ya? Prabu kan sangat sibuk, jangan terlalu menuntut nanti."
"Kalo ada apa-apa jangan lupa kabarin gue juga ya, Khar." Kini Kinnar ikut mendekat, membuat dress kuningnya berdesir. "Gue kan sahabat lo."
Kharisma mengangkat wajah dari pelukan sang Mama, lantas mengangguk.
Kinnar ini adalah satu-satunya teman Kharisma. Selama Kharisma tak dibiarkan keluar Mansion dan diawasi dengan ketat, hanya Kinnar satu-satunya teman yang dia punya.
Tentu saja Kharisma akan berusaha untuk tetap berhubungan dengan perempuan itu meskipun nanti mereka tak bisa sering-sering bertemu lagi untuk sekedar bermain ayunan di taman mansion atau menyirami mawar-mawar sembari bermain air.
"Iya, nanti pasti selalu aku kabari ya," ujar Kharisma lembut, melepaskan pelukannya bersama Isabella dan selanjutnya merentangkan tangan ke arah Kinnar.
"Pelukan terakhir?"
"Enggak, bukan pelukan terakhir." Kinnar bersedekap dan memalingkan wajah, berusaha menahan air matanya. "Lo cuma pergi buat nikah, bukan ke akhirat," gumam Kinnar dengan mata berkaca-kaca yang ia sembunyikan.
Tawa lembut lolos dari bibir Kharisma. Sahabatnya yang gengsian tampaknya kesulitan untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Oke, oke, bukan pelukan terakhir." Kharisma bangkit, tersenyum ke arah Mamanya dan melangkah untuk memeluk Kinnar lebih dulu.
"Jangan marah ya, Kinnar." Kharisma menyandarkan dagunya pada bahu Kinnar, senyum manis terukir di bibirnya meskipun hatinya terasa sakit oleh perpisahan. "Nanti kalau ada waktu pasti kita bisa jalan-jalan lagi."
Kinnar yang awalnya merasa gengsi merasa tak bisa menahan diri. Sikap tenang nan polos Kharisma ini yang membuatnya tak tahan lagi. Tangannya bergerak memeluk Kharisma erat-erat, air mata menetes membasahi pipinya.
"Gue benci sama lo, Khar," Isak Kinnar, matanya terpejam saat mencerna perpisahan yang akan segera terjadi. "Kenapa lo harus ninggalin gue secepet ini, sih? Gue nggak ada temen lagi..."
Kharisma menggeleng, memegangi bahu sahabatnya dan melepaskan pelukan. "Aku temen kamu, kok," bantah Kharisma. "Kalau aku nikah, itu bukan berarti kita tidak berteman lagi. Kamu satu-satunya teman aku, Kinnar. Selamanya."
Kharisma kembali mendekap sahabatnya, menahan-nahan agar air mata tak merusak riasannya meskipun sikap cengengnya tak pernah bisa lepas dari raganya. Isabella memperhatikan interaksi itu dengan hangat, berharap dalam hati agar apapun yang terjadi ke depannya semoga tak akan ada hal buruk yang akan menimpa.
...***...
Selama hidupnya, Kharisma tak pernah sekalipun merasakan nasib buruk. Keluarganya cemara, tangki cintanya dipenuhi oleh orang-orang yang mengelilinginya. Mama, Papa, bahkan kedua kakak laki-lakinya juga turut andil dalam setiap momen bahagia yang telah berlalu di setiap detik yang ia habiskan di dunia.
Bahkan sekarang, Kharisma mendapatkan suami yang kata ayahnya sangat bertanggungjawab dan dipercaya untuk menjaganya, menggantikan sang ayah dan kakak laki-lakinya.
Prabujangga Wimana, putra kedua dari Batra Wimana.
Kata ayahnya, Prabujangga ini adalah orang yang hebat sehingga Kharisma harus banyak-banyak bersyukur.
Pemilik saham perusahaan teknologi terkemuka di negeri, Prabujangga tentu saja termasuk ke dalam jejeran orang-orang yang terhormat. Yang membuat Kharisma beruntung, adalah ia yang kini menjadi istri Prabujangga. Sosok yang tengah duduk di sampingnya.
Di dalam interior mobil hitam yang mewah, mereka kini berada dalam perjalanan pulang. Tak disadari upacara pernikahan telah dilalui. Prosesnya begitu panjang, tapi entah mengapa Kharisma tak merasa lelah. Dia justru merasa bahagia.
"Mas Prabu..." Kharisma bergumam, melirik ke arah Prabujangga yang duduk di sebelahnya, menatap jalanan dengan tampangnya yang dingin.
Prabujangga tak menoleh, hanya berdehem pelan.
"Rumahnya Mas Prabu masih jauh, ya?" tanya Kharisma.
Saat itu Kharisma bisa melihat Prabujangga menoleh sekilas ke arahnya sebelum kembali mengalihkan pandangan ke sisi jalan.
Meskipun telah dilamar satu bulan yang lalu, Kharisma tak tau banyak tentang Prabujangga. Mereka tak sempat bertemu lagi karena Prabujangga yang sangat sibuk.
"Kamu akan mengetahuinya saat kita sampai," jawab Prabujangga sekenanya, terlihat malas menanggapi. "Biasakan untuk tidak menanyakan sesuatu yang tidak penting pada saya."
Prabujangga mengecek arloji di tangannya sejenak. "Antarkan wanita ini ke dalam saat kita sampai, lalu kembali dalam lima menit untuk mengantar saya kembali ke kantor," titahnya pada sang supir dengan nada datar. Supir itu tak berkata apa-apa, namun anggukan di kepalanya cukup memberikan jawaban.
Kharisma menoleh, ekspresinya sedikit berubah menjadi kebingungan saat mendengar perintah Prabujangga. Bahkan suaminya itu tak mau repot-repot menyebut namanya dan memilih untuk memanggilnya dengan sebutan 'Wanita ini'.
"Mas Prabu ingin ke kantor? Malam-malam seperti ini?" Kharisma menekuk bibirnya cemberut. "Tapi kata Mama harusnya setelah menikah, aku dan Mas Prabu berada di dalam kamar—"
Ucapan Kharisma terpotong begitu Prabujangga menatapnya dengan tatapan tajam.
"Itu akan terjadi jika kamu menikah dengan laki-laki yang kamu cintai. Itu tidak berlaku pada saya," sela rendah Prabujangga. "Saya tidak bisa membuang-buang waktu saya hanya untuk berbincang tidak penting dengan wanita yang tidak tau apapun selain pengalamannya yang telah dikurung di dalam rumah selama dua puluh satu tahun."
Kharisma terhenyak, benar-benar terkejut dengan kata-kata yang Prabujangga tunjukkan padanya.
Selama ini tidak pernah ada orang yang berkata seperti itu pada Kharisma. Ini pertama kali, dan ternyata sungguh mengejutkan saat didengarkan secara langsung.
"M-mas Prabu kenapa berkata seperti itu?"
"Karena kenyataannya memang seperti itu," balas Prabujangga terlewat tenang. Dia menyandarkan punggungnya pada jok, mulai membuka pak rokok mahal yang ia simpan di kantong jasnya. "Apa sekiranya yang kamu tau? Bukankah kamu telah dikurung di dalam sangkar emas itu sejak kamu lahir?"
Kharisma menelan ludah, tak mampu berkata-kata karena keterkejutannya.
Dia memperhatikan saat Prabujangga mengapit gulungan nikotin di bibirnya, menyalakan pemantik hingga asap mulai terbentuk. Kharisma terbatuk, menutupi mulut dan hidungnya dengan telapak tangan.
Kharisma benar-benar tidak menyangka bahwa sosok Prabujangga yang digambarkan sebagai perwujudan suami sempurna oleh ayahnya ternyata bisa melontarkan kata-kata yang begitu pedas padanya.
Terlebih lagi dengan benda yang tengah dihisap oleh laki-laki itu, tak ada seorangpun di dalam Mansion yang berani menyentuh rokok seperti itu saat berada di dekat Kharisma. Tapi Prabujangga terang-terangan melakukannya tepat di sampingnya.
"Meskipun masa pendidikanmu telah selesai, tapi nyatanya kamu tidak memiliki pengetahuan apapun tentang dunia luar." Prabujangga mengetukkan ujung rokoknya pada kaca mobil yang terbuka, suaranya tak menunjukkan emosi. "Satu-satunya yang bisa dibanggakan darimu hanyalah paras yang cantik, tapi sungguh memalukan karena otakmu kosong."
Otakmu kosong.
Kharisma dibuat terdiam kelu.
"Jangan salah paham, karena saya tidak pernah memiliki niat untuk menikah denganmu. Ayah saya yang memaksa dan mendesak," terang Prabujangga, terlalu telat untuk Kharisma ketahui.
Mata Kharisma memanas, dengan ekspresi terkejut dan tak percayanya ia berusaha meyakinkan diri bahwa yang dikatakan oleh Prabujangga hanyalah imajinasi.
"M-maksud Mas? Aku dilamar bukan karena kemauan Mas sendiri?" Mata Kharisma mulai berkaca-kaca. "Kenapa Mas Prabu tidak mengatakannya sejak awal? Kenapa baru mengatakannya sekarang—" Kharisma tercekat, tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Karena saya yakin tidak akan ada wanita sepertimu lagi yang akan ditawarkan pada saya." Tak terpengaruh oleh emosi sang istri, nada bicara Prabujangga tetap datar. "Kamu adalah wanita yang akan dengan mudah saya kontrol karena tidak sepintar wanita-wanita lain."
Bersambung...