NovelToon NovelToon
JALAN PENDEKAR NAGA

JALAN PENDEKAR NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Hamtaro Dasha

Seri Kedua dari Lahirnya Pendekar Naga!

___
Kemunculan Pendekar Naga telah mengguncang keseimbangan dunia—membangunkan makhluk kuno dan menarik perhatian kekuatan yang telah lama menunggu dalam bayang-bayang.

Dunia berubah.

Sekte-sekte hancur tanpa sisa. Jejak kehancuran menyebar tanpa arah… dan pelakunya adalah sosok yang tidak pernah dibayangkan oleh Wei Zhang Zihan.

Chu Kai.

Sebagai Pendekar Suci, Wei Zhang Zihan tidak punya pilihan selain menelusuri jejak itu—mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dan menghadapi satu kenyataan yang tidak ingin ia percayai:

Mungkin, orang yang harus ia hentikan… adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung dunia.

Pendekar Naga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamtaro Dasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 - Sekte Tianzhi

Gerbang Sekte Tianzhi berdiri megah di hadapan Wei Zhang Zihan.

Dinding batu putihnya menjulang tinggi, diselimuti aliran energi spiritual yang halus namun terasa kokoh—seperti tirai tak kasat mata yang memisahkan dunia luar dengan wilayah para kultivator.

Dua murid penjaga berpakaian merah berdiri di sisi gerbang. Tatapan mereka tajam, namun berubah seketika saat menyadari sosok yang berdiri tidak jauh dari sana.

"...Hm?"

Salah satu dari mereka sedikit mengernyit, lalu matanya melebar.

"Pendekar Suci Wei?"

Wei Zhang Zihan melangkah mendekat dengan tenang. Dia menyatukan kedua tangannya di depan dada—memberi hormat dengan sikap yang tenang dan terukur.

Gerakan itu justru membuat kedua penjaga tersebut sedikit canggung. Mereka saling berpandangan sekilas sebelum buru-buru membalas hormat.

"Pendekar Wei terlalu sopan..." salah satu dari mereka berdeham pelan, lalu bertanya, "Apa yang membuat Pendekar Suci Wei datang kemari?"

"Aku ingin bertemu dengan Tetua Besar Sekte Tianzhi," jawab Wei Zhang Zihan singkat. "Ada sesuatu yang perlu kubicarakan dengan beliau."

"Oh... Ehm..."

Penjaga itu tampak ragu sejenak, lalu mengangguk. "Tunggu sebentar. Aku akan meminta izin terlebih dahulu."

"Mn. Terima kasih."

Salah satu penjaga segera melesat masuk ke dalam gerbang, meninggalkan rekannya bersama Wei Zhang Zihan.

Keheningan kembali turun.

Wei Zhang Zihan berdiri di luar gerbang dan menunggu. Angin berhembus pelan, mengibaskan ujung jubahnya. Tatapannya tetap tenang, namun pikirannya tidak benar-benar diam.

Waktu berlalu cukup lama.

Penjaga yang tersisa akhirnya membuka suara, nadanya terdengar sedikit canggung.

"Maaf jika kau harus menunggu di sini, Pendekar Wei."

Wei Zhang Zihan menggeleng pelan. "Bukan masalah. Aku datang tanpa pemberitahuan, jadi sudah sewajarnya."

Penjaga itu mengangguk, lalu tampak ragu sebelum akhirnya kembali berbicara.

"Ehm... Sekte Gunung Wushi... apa semuanya baik-baik saja?" suaranya menurun di akhir kalimat. "Aku mendengar kabar itu..."

Wei Zhang Zihan terdiam sejenak, namun ia tidak terlihat terkejut.

Kabar tentang kehancuran Sekte Gunung Wushi oleh Sekte Iblis Darah memang telah menyebar ke berbagai penjuru kekaisaran Zhou hingga bukan lagi rahasia yang harus disembunyikan.

Wei Zhang Zihan mengangguk pelan.

"Aku... turut berduka atas kemalangan yang menimpa Tetua Sekte Gunung Wushi," lanjut penjaga itu.

"Mn. Terima kasih," jawab Wei Zhang Zihan. Nada suaranya tetap tenang. "Tapi sekarang semuanya sudah berlalu. Sekte... sudah baik-baik saja."

"Syukurlah..." penjaga itu menghela napas kecil.

Langkah kaki terdengar dari dalam dan tidak lama kemudian, penjaga Sekte Tianzhi datang bersama seorang murid lain yang berpakaian putih. Mereka muncul dari balik gerbang.

Murid Sekte Tianzhi segera menangkupkan tangan memberi hormat.

"Pendekar Wei," ucapnya. "Silakan masuk. Tetua bersedia menemuimu."

Gerbang Sekte Tianzhi perlahan terbuka dan tanpa ragu—Wei Zhang Zihan melangkah masuk.

Wei Zhang Zihan menginjak pedang terbangnya, melayang mengikuti murid Sekte Tianzhi yang memandu di depan.

Angin berhembus melewati wajahnya saat mereka melintasi wilayah sekte.

Deretan bangunan murid terbentang rapi di bawah. Terlihat atap-atap hijau giok yang tersusun seperti gelombang, diiringi aliran energi spiritual yang stabil.

Di kejauhan, beberapa arena pertarungan terlihat hidup. Dentang senjata dan ledakan energi sesekali terdengar, menandakan latihan yang tidak pernah berhenti.

Namun Wei Zhang Zihan tidak mengalihkan pandangannya dan fokusnya tetap lurus ke depan—hingga tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah bukit yang lebih tenang.

Di puncaknya berdiri sebuah paviliun sederhana.

Tempat itu tidak megah, namun memiliki aura yang terasa jauh lebih dalam.

Seorang pria berpakaian putih dengan corak daun bambu berdiri di sana dengan satu tangan mengusap dagunya, seolah telah menunggu cukup lama.

Pedang terbang Wei Zhang Zihan pun turun perlahan. Kakinya menapak lantai batu dengan ringan, dan dengan satu gerakan halus—pedang itu kembali ke sarungnya.

Dia melangkah maju, lalu menyatukan kedua tangan di depan dada. "Salam hormat kepada Tetua."

Murid yang mengantarnya juga segera memberi hormat. "Tetua, Pendekar Wei telah tiba."

Tetua Sekte Tianzhi—Wang Fang Bubai, hanya mengangguk ringan. "Mn. Kau boleh pergi."

"Baik."

Murid itu pun mundur dan segera meninggalkan tempat itu. Kini yang tersisa hanyalah dua sosok di puncak bukit itu.

Angin berembus pelan, membawa aroma teh yang samar.

"Silakan, Pendekar Wei."

Suara Tetua Wang Fang Bubai tenang, namun memiliki bobot yang sulit dijelaskan. Dia mengarahkan Wei Zhang Zihan ke sebuah meja batu di samping paviliun.

Di sana, dua kursi telah disiapkan. Sebuah teko teh hangat mengepulkan uap tipis, ditemani kue osmanthus yang tertata rapi.

Wei Zhang Zihan sedikit menundukkan kepala. "Terima kasih, Tetua. Maaf karena aku datang tanpa pemberitahuan lebih dahulu."

Tetua Wang Fang Bubai tersenyum tipis. "Itu bukan masalah. Justru aku yang merasa tidak enak... hanya bisa menyambutmu dengan cara sesederhana ini."

Wei Zhang Zihan duduk dengan tenang. Gerakannya terukur, dan tanpa berlebihan. Tatapannya tetap rendah—namun waspada.

Tetua Wang Fang Bubai menuangkan teh ke dalam cawan keramik. Aromanya lembut, namun menyegarkan pikiran.

"Bagaimana kabar Xia Feng Hua?" tanyanya.

Wei Zhang Zihan menjawab singkat, "Shizun dalam keadaan baik."

Tetua Wang Fang Bubai duduk setelah menuangkan teh untuk Wei Zhang Zihan. Dia menghela napas pelan, dan sejenak pandangan matanya sedikit menjauh.

"Haaah... aku sudah mendengar kabar tentang Sekte Gunung Wushi." Nada suara Tetua Wang Fang Bubai berubah lebih berat. "Sama sekali tidak kusangka Sekte Iblis Darah akan bertindak seberani itu... mereka benar-benar sudah melampaui batas."

"Mn," jawab Wei Zhang Zihan singkat.

Keheningan singkat tercipta.

"Aku sungguh menyesal tidak bisa datang langsung," lanjut Tetua Wang Fang Bubai. "Situasi di dalam sekte juga tidak memungkinkan untuk kutinggalkan begitu saja."

Wei Zhang Zihan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Tetua. Shizun justru menyampaikan rasa terima kasihnya. Pil dan herbal yang Sekte Tianzhi kirimkan... telah menyelamatkan banyak murid kami."

"Syukurlah..." Tetua Wang Fang Bubai mengangguk perlahan. Dia menarik napas panjang, seolah sedikit beban di hatinya berkurang. Namun tidak lama kemudian, tatapannya berubah. Kali ini—benar-benar tertuju pada Wei Zhang Zihan.

"Lalu... apa yang membawa Pendekar Wei datang kemari?"

Angin berhembus pelan. Wei Zhang Zihan tidak langsung menjawab. Tatapan matanya jatuh pada cawan keramik berisi teh di hadapannya.

Uap tipis masih mengepul pelan, berputar perlahan—lalu menghilang. Seperti sesuatu yang tidak sempat ia genggam.

Beberapa detik berlalu, barulah Wei Zhang Zihan membuka suara. "Sebenarnya aku datang...untuk menanyakan keberadaan seseorang."

Suaranya tenang, namun lebih dalam dari sebelumnya. "Kupikir... hanya Tetua yang mungkin mengetahui tentangnya."

Tetua Wang Fang Bubai sedikit mengangkat alis. "Mn? Siapa?"

Wei Zhang Zihan mengangkat pandangannya. Tatapannya lurus.

"Long Yang Wang."

******

1
enda harahap
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Indah Hidayat
roh pedangnya cantik
Alw
orang tidak waras itu kembali
Nanik S
Kong Yang akhirnya bisa melihat ibunya
Nanik S
Ibunya mengenali Aura dari Anaknya
Nanik S
Keren dan keren
Nanik S
Ling Yang
Nanik S
Shen Quyang apakah juga akan mati ditangan Kai
Nanik S
Musuh baru Kai
Nanik S
NEXT
Hydro7
Shuxiang! Kau pikir Chu Kai adalah leluhur Bocah pengemis gila....?
Nanik S
Untung Wei Zhang Zihan dibawa melesat oleh sicantuk agar kepalanya tidak meledak
Nanik S
Cuuuuuust
Nanik S
Roh Pedang Cantik dan genit tapi bisa bermain usil juga
Nanik S
Long Wang Yang dikurung Ayahnya sendiri
Nanik S
apakah Wei Zhesi masih mengikuti Wei Zhang Zihan
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Wei Zhise... roh pedang bisa suka dengan ketampanan Roh Pedang milik Kai🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata benar pembantaian dilakukan oleh Chu Kai
Nanik S
Dimana Kau berada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!