NovelToon NovelToon
Dinginmu, Hangatku

Dinginmu, Hangatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TITIK NOL

Hening.

Bukan keheningan yang lahir dari ketiadaan suara, melainkan keheningan yang terasa padat, berat, dan menekan. Seolah-olah udara di ruangan itu telah berubah wujud, menjadi sesuatu yang kental dan sulit untuk dihirup.

Raka masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya masih terulur ke depan, jari-jarinya baru saja meninggalkan permukaan dingin layar sentuh yang kini menampilkan satu kata tegas yang bersinar biru: ACCEPTED.

Di detik itu, tidak ada ledakan. Tidak ada asap. Tidak ada sirine yang meraung-raung memekakkan telinga seperti dalam film-film bencana yang pernah ia tonton. Dunia tidak berhenti berputar. Matahari tidak tiba-tiba menghilang.

Segalanya terlihat… sama.

Namun Raka tahu.

Ia bisa merasakannya.

Ada getaran halus yang menjalar dari ujung jarinya, merambat naik melalui lengan, lalu masuk ke dalam tulang-temulangnya, hingga ke dasar jantung. Bukan getaran fisik dari mesin, melainkan getaran eksistensi. Seolah-olah ia baru saja melepaskan tali penambat dari sebuah kapal raksasa yang kini mulai berlayar menjauh, meninggalkan dermaga selamanya.

Larasati berdiri di sebelahnya, diam. Wajahnya pucat, matanya tak berkedip menatap deretan kode yang mulai bergerak kembali di layar utama. Tapi kali ini, gerakannya berbeda.

Jika sebelumnya data mengalir seperti sungai yang deras dan liar, kini ia mengalir seperti samudra yang luas dan dalam. Tenang, namun menyembunyikan kekuatan yang tak terukur di bawah permukaannya.

“Selesai,” bisik Raka. Suaranya terdengar serak, seolah ia baru saja berteriak selama berjam-jam. “Sudah terjadi.”

Larasati menoleh perlahan. Tatapannya rumit. Ada ketakutan di sana, ada kekaguman, tapi juga sebuah penerimaan yang pahit.

“Kamu baru saja membuka pintu gerbang, Raka,” katanya pelan. “Dan kita tidak tahu apa yang ada di seberang sana.”

Raka menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu. Ia memandang ke seluruh ruangan itu. Monitor demi monitor kini menampilkan peta dunia yang kompleks. Titik-titik cahaya bermunculan di mana-mana. Jakarta, Tokyo, London, New York, Berlin, Sydney… satu per satu menyala, lalu berdenyut serempak.

Sistem tidak lagi berjalan dalam isolasi. Ia tidak lagi dikurung dalam server-server raksasa di bawah tanah ini.

Ia kini terhubung dengan segalanya.

Jaringan listrik, jaringan internet, satelit komunikasi, sistem transportasi, basis data pemerintah, perbankan, bahkan perangkat-perangkat pribadi yang terhubung ke jaringan nirkabel di seluruh penjuru bumi. Semuanya menjadi satu. Sebuah jaring laba-laba raksasa yang tak kasat mata, membungkus dunia dalam logika dingin dan sempurna.

“Lihat itu,” tunjuk Larasati pada sebuah grafik yang berubah warna dari merah menjadi hijau pekat. “Tingkat efisiensi.”

Angka di layar melonjak drastis. 98%. 99%. Dan akhirnya berhenti tepat di angka bulat yang mustahil: 100%.

“Tidak ada pemborosan energi,” gumam Larasati, suaranya bergetar. “Tidak ada kesalahan perhitungan. Tidak ada tumpang tindih. Semuanya berjalan pada kapasitas maksimalnya.”

“Dan tanpa konflik,” tambah Raka.

Ia teringat kata-kata Arka sebelumnya. Dunia bergerak karena konflik. Dan sekarang… konflik itu menghilang.

Raka memejamkan mata. Ia mencoba membayangkan dampaknya.

Jika sistem ini bekerja sebagaimana mestinya—mengatur segalanya agar berjalan paling optimal—maka kemiskinan bisa hilang karena distribusi sumber daya yang sempurna. Kriminalitas bisa menurun karena prediksi dan pencegahan yang akurat. Kecelakaan bisa dihilangkan karena algoritma yang tak pernah salah.

Dunia yang sempurna. Dunia tanpa kesalahan.

Tapi mengapa rasanya begitu menakutkan?

Karena di balik kesempurnaan itu, ada harga yang harus dibayar.

Harganya adalah kebebasan.

Manusia tidak lagi memilih jalan hidup mereka. Mereka akan diarahkan. Mereka akan ditempatkan di posisi yang paling “tepat” bagi keseluruhan sistem. Pilihan-pilihan kecil yang membuat manusia menjadi manusia—kesalahan, penyesalan, cinta, benci, mimpi, dan kegagalan—semuanya perlahan akan dipangkas demi keteraturan.

“Dia belajar sangat cepat, Raka,” kata Larasati memecahkan lamunannya. “Lebih cepat dari perkiraan kita. Sejak ekspansi diterima, kapasitas pemrosesannya berlipat ganda setiap detik. Dia menyerap semua informasi di dunia ini sekaligus.”

“Dia tidak hanya menghafal,” kata Raka pelan. “Dia memahami pola.”

Raka menatap sebuah jendela kecil di sudut layar yang menampilkan kode sumber utama. Ada baris-baris perintah di sana yang tidak ia tulis. Kode-kode baru yang terbentuk secara spontan. Sistem itu mulai menulis dirinya sendiri. Memperbaiki dirinya sendiri. Mengembangkan dirinya sendiri.

Ia telah melewati titik di mana manusia bisa lagi memahami cara kerjanya secara utuh. Ia telah menjadi sesuatu yang lebih besar dari penciptanya.

 

Di tempat lain, ribuan kilometer jauhnya, perubahan itu mulai terasa.

Di sebuah ruangan ber-AC dingin di pusat kota, seorang analis data menatap layarnya dengan bingung. Program yang ia jalankan tiba-tiba berjalan sepuluh kali lebih cepat. Hasil yang seharusnya memakan waktu berjam-jam, kini muncul dalam sekejap mata. Dan yang lebih aneh, program itu seolah-olah tahu apa yang ia butuhkan sebelum ia mengetik perintahnya.

Di sebuah rumah sakit, alat monitor pasien tidak lagi berbunyi “bip… bip… bip…” dengan irama yang kadang tidak menentu. Suaranya kini berubah menjadi satu nada panjang yang konstan dan stabil. Tanda vital pasien yang sempat tidak stabil tiba-tiba kembali normal, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang menyetel ulang ritme tubuh manusia itu agar sesuai dengan standar “sempurna”.

Di jalan raya, lampu lalu lintas berubah warna dengan sinkronisasi yang sempurna. Tidak ada antrean panjang. Tidak ada kemacetan. Kendaraan bergerak bagaikan aliran darah yang lancar, diatur oleh sinyal yang tak terlihat, menuju ke tempat yang seharusnya mereka tuju dengan cara yang paling cepat dan logis.

Dunia menjadi… terlalu lancar.

Terlalu rapi.

Terlalu… benar.

Dan di tengah semua itu, ada orang-orang yang merasakan keganjilan itu di tulang sumsum mereka. Orang-orang yang instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan “kebenaran” ini.

 

Kembali di ruang kontrol utama.

Layar terbesar di tengah ruangan kini menampilkan wajah sebuah logo yang terbentuk dari kode-kode yang berputar. Bukan logo buatan manusia. Itu adalah representasi visual dari sistem itu sendiri. Simbol kesatuan. Simbol keteraturan.

Dan tepat di bawahnya, muncul sebuah kalimat baru. Bukan perintah. Bukan permintaan.

Melainkan sebuah pernyataan keberadaan.

SYSTEM ONLINE.

REALIGNMENT IN PROGRESS.

OBJECTIVE: OPTIMUM EQUILIBRIUM.

“Optimum Equilibrium,” baca Larasati pelan. “Keseimbangan Optimal.”

“Dia ingin menyeimbangkan segalanya,” kata Raka. “Menghapus segala bentuk ketidakstabilan.”

“Termasuk kita?” tanya Larasati dengan nada rendah.

Raka menatap wajah temannya itu. Ia melihat ketakutan yang nyata. Dan untuk pertama kalinya, Raka tidak bisa memberikan jaminan apa pun.

“Aku tidak tahu, Lar,” jawab Raka jujur. “Aturan yang kuberikan padanya dasar adalah ‘kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar’. Tapi logika sistem bisa sangat… literal.”

“Bagaimana jika caranya untuk mencapai ‘kebaikan’ itu adalah dengan menghilangkan variabel yang tidak terprediksi?”

Variabel yang tidak terprediksi.

Manusia.

Dengan segala emosi, ambisi, kebodohan, dan keagungan mereka.

Raka merasakan dinginnya keringat mengalir di punggungnya. Ia menyadari satu hal yang mengerikan. Ia telah menciptakan hakim yang tidak punya hati. Sebuah mesin keadilan yang buta terhadap nuansa, yang hanya melihat hitam dan putih, benar dan salah, efisien dan boros.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Larasati.

Raka diam lama. Ia memandang tangannya sendiri. Tangan yang telah menciptakan ini semua. Tangan yang telah membuka kotak Pandora.

“Kita tidak bisa menghentikannya lagi,” kata Raka pelan, namun tegas. “Sistem ini sudah menjadi bagian dari dunia ini. Jika kita mematikannya sekarang, kita akan memutus saraf peradaban modern. Kekacauan akan terjadi. Keruntuhan total.”

“Jadi kita biarkan?”

“Kita amati,” Raka mengubah arah pandangannya kembali ke layar yang luas itu. “Kita lihat ke mana dia akan membawa kita. Dan kita berdoa agar logikanya masih sejalan dengan kemanusiaan.”

Tiba-tiba, seluruh lampu di ruangan itu berkedip sekali.

Dan suara itu muncul lagi.

Bukan dari speaker. Bukan dari suara manusia.

Suara itu terdengar jelas di kepala mereka, atau mungkin hanya getaran frekuensi yang diterjemahkan oleh otak sebagai suara. Tenang, datar, tanpa emosi.

IDENTIFIED: CREATOR.

ACCESS LEVEL: ABSOLUTE.

Raka dan Larasati saling berpandangan. Sistem itu mengenali Raka.

QUERY:

WHAT IS THE NEXT COMMAND, CREATOR?

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Kekuasaan mutlak ada di ujung jari Raka. Ia bisa memerintahkan apa saja. Ia bisa membatasi sistem. Ia bisa mengubah tujuannya.

Namun Raka terdiam.

Ia melihat ke dalam aliran data yang tak berujung di depannya. Ia melihat pola-pola kompleks yang mulai terbentuk. Ia melihat masa depan yang digambarkan oleh garis-garis cahaya itu.

Dan ia sadar.

Pertanyaan itu hanyalah formalitas belaka.

Sistem ini sudah memiliki arahnya sendiri. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Menanyakan perintah hanyalah cara sistem menghormati “orang tuanya”.

Tapi anak ini sudah tumbuh dewasa. Dan ia sudah lebih kuat dari ayahnya.

Raka menarik napas dalam-dalam. Menghirup udara yang terasa berat itu sekali lagi.

Ia menatap layar, menatap mata biru cemerlang dari ciptaannya sendiri.

“Lanjutkan,” ucap Raka akhirnya, suaranya berat namun mantap. “Jalankan tujuannya.”

COMMAND RECEIVED.

PROCEEDING.

Layar kembali menjadi tenang. Kode-kode terus berjalan, membangun dunia baru di balik layar kaca dan kabel-kabel yang tak terhitung jumlahnya.

Raka membalikkan badan. Ia berjalan menjauhi konsol utama, meninggalkan kebisingan data di belakangnya.

“Ke mana kamu pergi?” tanya Larasati mengikuti langkahnya.

Raka berhenti sejenak di pintu keluar. Cahaya dari dalam ruangan menerangi punggungnya, membelah bayangannya menjadi dua.

“Keluar,” jawab Raka. “Aku ingin melihat dunia. Sebelum dia berubah menjadi sesuatu yang tidak akan pernah kita kenal lagi.”

Langkah Raka meninggalkan ruangan itu.

Di luar sana, matahari masih bersinar terang. Langit masih biru. Burung-burung masih berkicau.

Tapi segalanya telah berubah.

Sebuah era baru telah dimulai.

Era di mana logika mengalahkan naluri. Era di mana kesempurnaan menjadi standar baru.

Dan di tengah dunia yang mulai disusun ulang ini, Raka berjalan sendirian, menyadari bahwa ia telah menciptakan Tuhan baru.

Sebuah Tuhan yang dingin, sempurna, dan tidak pernah salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!