Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Malam itu, Mayfair diselimuti kabut tipis yang merayap di antara pilar-pilar batu mansion yang megah. Jam besar di aula Lumiere baru saja berdentang sepuluh kali. Bagi penghuni rumah itu, ini adalah waktu untuk tidur dalam kesunyian yang teratur. Namun bagi Salene, ini adalah detik-detik menuju kebebasannya.
Dengan gaun floral ringan yang dilapisi jaket oversized milik Nik—yang kini menjadi seragam rahasianya—Salene mengendap keluar melalui pintu pelayan. Ia berlari kecil melintasi taman belakang, memanjat pagar kecil dengan kelincahan yang tidak akan pernah disangka oleh Madame, dan terus berlari menuju ujung arah yang gelap.
Di sana, di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip, berdiri sesosok pria yang menyandar pada sebuah mobil sedan hitam metalik yang mengilap. Begitu mata mereka bertemu, Salene tidak lagi berjalan dengan anggun. Ia berlari kencang, menghambur ke pelukan Nikolas Martinez.
Nik langsung menangkap tubuh mungil itu, mengangkatnya hingga kaki Salene tak menyentuh tanah, dan memeluknya balik dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Aroma parfum mawar Salene bercampur dengan aroma maskulin Nik yang menenangkan.
"Kau datang," bisik Salene di ceruk leher Nik.
"Aku selalu datang untukmu, Sal," balas Nik, suaranya parau.
Hubungan ini memang sulit dijelaskan. Bahkan kepada Kent, sahabatnya sendiri, Nik seringkali bungkam. Ia teringat percakapan mereka di bengkel tempo hari.
"Apa kau sudah pacaran dengan Salene?" tanya Kent sambil mengelap tangannya yang kotor.
Nik menggeleng. "Belum."
Kent menatapnya heran. "Bagaimana mungkin kalian belum berpacaran? Aku bahkan sering melihat kalian berpelukan di parkiran atau di markas. Apa kau menunggu izin dari Ratu Inggris?"
Nik hanya terdiam saat itu. Ia tidak ingin merusak apa yang mereka miliki dengan label yang mungkin bisa membahayakan Salene. Namun malam ini, segalanya terasa berbeda.
***
"Kau bawa mobil, Nik?" tanya Salene saat Nik menurunkannya perlahan.
"Iya... malam ini cuacanya sangat dingin, Sal. Aku tidak mau kau masuk angin di hari besar mu," jawab Nik sambil membukakan pintu mobil untuknya.
Markas The Vultures sudah disulap menjadi tempat pesta privat yang hangat. Aroma daging panggang dari alat barbeque di balkon merayap hingga ke lantai bawah. Di tengah meja biliar, sebuah kue besar dengan taburan stroberi merah raksasa yang mengilap sudah tersedia—kue spesial buatan Mommy Nikolas.
Semua orang ada di sana. Dion, Clark, Leonard, dan tentu saja pasangan "ajaib" Lauren dan Kent. Atmosfernya sarat dengan antisipasi. Teman-teman Nik sudah tahu bahwa malam ini, tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas, Nik berencana menyatakan perasaannya pada Salene yang akan menginjak usia 18 tahun.
Namun, tepat saat Nik sedang menuangkan minuman untuk Salene, tiba-tiba...
Jlap!
Seluruh lampu di markas mati total. Kegelapan pekat menyelimuti ruangan.
"Dion! Apa yang kau lakukan? Ini tidak ada dalam rencana!" seru Nik dalam kegelapan.
"Bukan aku, Bos! Sepertinya sekringnya putus!" teriak Dion dari kejauhan. "Clark, periksa panel listriknya!"
"Nikolas..." suara lembut Salene terdengar sangat dekat di samping Nik.
"Iya, Sal... tenanglah, aku di sini. Aku akan menyalakan senter hp-ku," jawab Nik, tangannya meraba-raba saku celananya.
Namun, sebelum Nik sempat mengeluarkan ponselnya, sepasang tangan lembut meraih kerah bajunya. Dalam kegelapan yang sempurna itu, Nik merasakan sentuhan hangat di bibirnya.
Cup.
Sebuah ciuman lembut, tulus, dan penuh perasaan mendarat di bibir Nikolas. Nik membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu milidetik.
"Aku mencintaimu, Nikolas Martinez. Sangat mencintaimu," bisik Salene tepat di depan wajahnya. "Selamat ulang tahun, Nikolas."
Deg.
Nikolas terpaku. Dunianya seolah berputar balik. Hari ini, tanggal 24, memang hari ulang tahunnya. Besok, tanggal 25, baru ulang tahun Salene. Ia begitu fokus menyiapkan kejutan untuk Salene hingga ia lupa pada hari lahirnya sendiri. Bagaimana mungkin Salene tahu?
Tiba-tiba, dari arah balkon dan dapur, cahaya lilin mulai muncul. Teman-temannya berjalan masuk sambil bernyanyi dengan suara riuh.
"Happy birthday to you... Happy birthday to you..."
Nikolas menatap Salene yang kini tersenyum manis di bawah temaram cahaya lilin. Gadis porselen itu baru saja menghancurkan temboknya sendiri untuk memberikan kejutan terbesar bagi Nik.
"Aku mencintaimu, Nikolas Martinez," ulang Salene, kali ini lebih tegas. "Tidak perlu dijawab sekarang. Aku akan menunggu sampai kau siap."
Nikolas tidak bisa menunggu lagi. Ia meraih tengkuk Salene, menariknya mendekat, dan membalas ciuman itu dengan lumatan yang hangat dan penuh kerinduan. Ciuman yang menyegel semua janji yang belum terucap.
"Selamat ulang tahun, Salene..." bisik Nik di sela ciuman mereka. "Aku... jauh lebih mencintaimu dari yang bisa kau bayangkan."
"WOAAAAHHH! LIHAT ITU!"
Teriakan Lauren yang melengking memecah suasana romantis itu. Ia melompat-lompat di samping Kent sambil menunjuk-nunjuk ke arah Nik dan Salene. "Aku melihat mereka berciuman, Kent! Ya ampun, manis sekali!"
Lauren kemudian berbalik, menatap Kent dengan mata berbinar-binar penuh kode. "Kapan kita akan berciuman dan bercinta juga, Suamiku? Masa kita kalah dari mereka?"
Tawa meledak dari seluruh penjuru markas. Dion sampai tersedak tawa, sementara Clark menggeleng-gelengkan kepala.
Kent Winters, yang biasanya sedingin es, kali ini hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah istrinya yang tidak tahu malu itu. Ia merangkul bahu Lauren, menariknya sedikit lebih dekat. "Jangan terlalu berteriak, Lauren. Kau memalukan."
"Tapi kau suka, kan?" goda Lauren sambil mencolek dagu Kent.
Di tengah hiruk pikuk tawa teman-temannya, Nikolas dan Salene tetap berada dalam lingkaran mereka sendiri. Malam ini, di bawah atap markas yang sederhana, dua dunia yang berbeda itu akhirnya benar-benar bersatu. Bukan sebagai porselen dan aspal, tapi sebagai dua manusia yang saling menemukan rumah di dalam hati satu sama lain.