"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi di Semarang mulai menghangat saat Afisa dan Citra duduk di sebuah kedai kopi tak jauh dari kantor. Aroma arabika dan suara denting sendok menemani sarapan mereka, namun pikiran Afisa tampak mengembara jauh dari piring di depannya.
Citra menyesap latte-nya, matanya tajam menatap sahabatnya itu. "Fis, jujur ya. Aku masih nggak habis pikir kenapa Pak Baskoro bisa-bisanya naruh Guntur di tim kamu. Dari sekian banyak staf di firma ini, kenapa harus dia?"
Afisa menghela napas panjang, mengaduk kopinya pelan. "Kamu tahu sendiri Pak Baskoro orangnya gimana, Cit. Dia nggak peduli sejarah pribadi kita. Yang dia tahu, Guntur itu punya latar belakang hukum yang bagus meski sempat terbengkalai, dan Pak Baskoro butuh orang yang 'tahan banting' untuk bantu kasus sengketa lahan ini. Karena ini instruksi langsung dari atasan, aku nggak punya alasan buat nolak."
"Tapi Pak Baskoro tahu nggak kalau dia itu... masa lalu kamu?" selidik Citra.
"Enggak. Dan aku nggak akan kasih tahu," sahut Afisa tegas. "Aku mau profesional. Kalau aku protes, nanti malah kelihatan kalau aku belum move on. Padahal bagi aku, Guntur itu cuma staf baru yang harus kerja di bawah perintahku. Titik."
Citra menyandarkan punggungnya, tampak tidak puas. "Ya, tapi tetap aja aneh. Kamu di sini lagi bangun karier hebat, Bintang juga lagi sukses-suksesnya jadi dokter di Jakarta, eh tiba-tiba 'hantu' itu muncul jadi bawahanmu. Rasanya kayak takdir lagi main-main."
Mendengar nama suaminya disebut, Afisa terdiam sejenak. Ia teringat pesan Bintang yang belum sempat ia balas dengan layak karena rasa lelah yang menghimpit. "Bintang sempat tanya kabarku subuh tadi, tapi dia nggak bilang apa-apa soal mau ke sini. Mungkin dia masih sibuk di ruang operasi," gumam Afisa sambil menatap layar ponselnya yang sepi dari notifikasi baru.
"Baguslah kalau dia nggak tahu dulu, biar kamu nggak makin pusing," balas Citra santai sambil bangkit dari kursi. "Ayo jalan. Aku mau lihat, sehebat apa draf yang dikerjakan 'si Bintang Lapangan' itu semalam. Kalau sampai ada salah ketik satu huruf aja, aku yang bakal maju duluan buat negur dia di depan kamu."
Afisa hanya tersenyum tipis, meski di dalam hati ada debaran yang tak menentu. Ia menguatkan hati, melangkah keluar kedai menuju kantor. Ia bersiap untuk bersikap sedingin es, tanpa tahu bahwa di dalam ruangan sana, Guntur masih meringkuk di atas meja kerja setelah berjuang semalam suntuk demi membuktikan dedikasinya.
Sementara itu, di Jakarta, Bintang sudah menenteng tas kecilnya menuju mobil. Ia sengaja tidak memberi tahu Afisa tentang penerbangannya sore ini. Ia ingin memberikan kejutan, sekaligus memastikan sendiri mengapa istrinya terdengar begitu tidak tenang semalam.
Langkah kaki Afisa dan Citra bergema di lorong kantor yang masih tergolong sepi. Afisa melirik jam tangannya; masih ada lima belas menit sebelum jam kantor resmi dimulai. Ia sengaja datang lebih awal untuk meninjau berkas sebelum rapat koordinasi.
Namun, saat pintu ruangan terbuka, pemandangan di dalamnya membuat langkah Afisa terhenti seketika.
Di balik meja kerja, Guntur tampak terlelap dengan posisi kepala bertumpu pada lipatan lengannya. Cahaya matahari pagi yang menyeruak dari balik jendela menyinari wajahnya yang tampak pucat. Di sampingnya, sebuah cangkir kopi yang sudah mengering meninggalkan noda hitam, dan layar laptop yang masih menyala menampilkan barisan pasal-pasal hukum yang rumit.
"Astaga, dia tidur di sini?" bisik Citra dengan nada antara kaget dan tidak percaya.
Afisa tertegun. Ia mendekat perlahan, matanya terpaku pada draf yang terbuka di layar. File itu diberi nama dengan sangat rapi: FINAL_Argumen_Hukum_AfisaAnjani_RevisiGuntur. Afisa bisa melihat catatan-catatan kecil di pinggir dokumen, menunjukkan betapa telitinya pria itu membedah setiap celah hukum yang ia berikan kemarin sore.
"Fis, lihat deh," Citra menunjuk ke arah tangan Guntur yang masih memegang mouse. "Dia benar-benar begadang semalaman buat ini."
Afisa merasakan sesuatu yang asing bergejolak di dadanya—sebuah perpaduan antara rasa tidak tega dan pengakuan akan dedikasi. Ia ingat betul bagaimana dulu ia yang sering menunggu Guntur hingga larut, namun kini keadaannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Guntur-lah yang menghabiskan malamnya di dalam dinginnya AC kantor demi pekerjaannya.
"Guntur..." suara Afisa pelan, hampir tak terdengar.
Mendengar suara itu, bahu Guntur tersentak. Ia mengerjap, mencoba menyesuaikan penglihatannya yang buram. Begitu menyadari siapa yang berdiri di depannya, Guntur langsung menegakkan punggung, berusaha menyembunyikan wajahnya yang kacau dan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Bu Afisa... Bu Citra... maaf, saya ketiduran," ucap Guntur serak. Ia segera berdiri, merapikan kemejanya yang kusut. "Drafnya sudah selesai. Saya sudah memeriksa setiap detailnya sesuai permintaan semalam."
Citra melangkah maju, tangannya langsung meraih laptop Guntur untuk memeriksa hasilnya. Ia membacanya dengan saksama, sementara Afisa hanya berdiri mematung, menatap mata Guntur yang merah karena kurang tidur.
"Berapa lama kamu di sini, Guntur?" tanya Afisa datar, meski sebenarnya ia ingin bertanya apakah Guntur sudah makan.
"Semalam penuh, Bu. Saya ingin memastikan tidak ada kesalahan satu huruf pun, seperti yang dikatakan Bu Citra," jawab Guntur dengan nada yang sangat formal, seolah ingin menegaskan bahwa ia tahu benar di mana posisinya sekarang.
Citra mendongak dari layar laptop, raut wajahnya yang tadinya sinis kini tampak sedikit melunak, meski ia tetap berusaha menjaga wibawanya. "Argumen agrarianya tajam. Aku nggak nyangka kamu bisa nemu celah di pasal itu, Guntur."
Afisa mengambil alih laptopnya. Benar, draf itu hampir sempurna. Jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Namun, alih-alih memberikan pujian, Afisa justru menutup laptop itu dengan suara klik yang tajam.
"Pergi ke pantry atau toilet. Rapikan dirimu," perintah Afisa tanpa menatap mata Guntur. "Sepuluh menit lagi kita rapat. Saya tidak mau staf saya terlihat seperti orang tidak terurus di depan klien nanti."
Guntur mengangguk patuh. "Baik, Bu. Permisi."
Saat Guntur melangkah keluar ruangan, Citra menyenggol lengan Afisa. "Gila ya, Fis. Dia beneran serius mau jadi 'prajurit' kamu. Tapi hati-hati, dedikasi kayak gitu bisa bikin orang salah paham."
Afisa tidak menjawab. Ia hanya menatap meja yang kini kosong, menyisakan aroma kopi hitam dan sisa perjuangan Guntur yang diam-diam mulai mengusik ketenangan pikirannya. Ia tidak tahu, bahwa di Jakarta, Bintang baru saja memasuki gerbang bandara, membawa kejutan yang mungkin akan mengubah dinamika profesional yang baru saja mulai terbentuk ini.