NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketidakpahaman Lana Terhadap Tren Kecantikan

Hari kedua di kampus tidak terasa lebih mudah bagi Lana. Justru, setiap detik yang ia lalui di koridor gedung fakultas terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang tak kasat mata. Ia sengaja datang lebih awal, bukan karena semangat belajar yang meluap, melainkan untuk menghindari tatapan mata yang menghakimi di pintu gerbang utama.

Lana duduk di pojok kafetaria yang paling gelap, memesan segelas air mineral yang harganya setara dengan tiga porsi nasi rames di desanya. Matanya yang sembab karena tangisan semalam kini ia sembunyikan di balik buku teks tebal yang sebenarnya belum ia pahami isinya. Namun, meski ia mencoba menutup diri, telinganya tetap dipaksa mendengar keriuhan di sekelilingnya.

Di meja seberang, sekelompok mahasiswi sedang berkumpul. Mereka tidak sedang membicarakan tugas kelompok atau kuliah teori akuntansi. Di atas meja marmer itu, berserakan berbagai macam benda kecil yang tampak sangat mewah. Ada tabung emas mungil, kotak hitam elegan dengan cermin di dalamnya, hingga kuas-kuas bulu halus yang bentuknya bermacam-macam.

"Sumpah, cushion terbaru dari merek ini bener-bener full coverage banget! Liat deh, bekas jerawat gue ilang seketika," seru seorang mahasiswi sambil menepuk-nepukkan spons kecil ke wajahnya yang sudah tampak sangat mulus.

"Eh, lo harus coba liptint yang ini. Warnanya ombre-nya natural banget, kayak habis makan ceri di Paris," sahut yang lain, sambil memoleskan cairan merah ke bagian dalam bibirnya dengan gerakan yang sangat mahir.

Lana mengintip dari balik bukunya. Ia merasa sangat asing melihat pemandangan itu. Di desanya, "berdandan" berarti hanya mengusapkan bedak dingin buatan ibu dari tumbukan beras dan kencur, atau paling mewah adalah bedak tabur dalam wadah plastik kuning yang wanginya sangat menyengat. Ia tidak pernah tahu bahwa untuk menjadi cantik di kota, seseorang harus memiliki peralatan yang lebih rumit daripada alat pertukangan ayahnya.

Ia melihat mahasiswi-mahasiswi itu saling memulas wajah satu sama lain. Ada yang menggunakan penjepit besi untuk bulu mata yang tampak menakutkan bagi Lana—seperti alat penyiksa kecil. Ada yang menggambar garis hitam di atas matanya dengan sangat stabil, menciptakan efek mata kucing yang tajam.

Lana meraba wajahnya sendiri. Kulitnya halus, ya, tapi ia merasa "kosong". Ia teringat cermin di kamar mandi mahasiswi kemarin. Wajahnya yang pucat tanpa polesan tampak sangat kontras dengan mahasiswi lain yang wajahnya terlihat bercahaya, dengan pipi bersemu merah muda dan kelopak mata yang berkilauan seperti debu bintang.

"Kenapa mereka harus pakai sebanyak itu ya?" gumam Lana pelan.

Tiba-tiba, salah satu mahasiswi dari kelompok itu menoleh ke arah Lana. Namanya Sisca, mahasiswi yang kemarin paling keras mengejeknya. Sisca tersenyum miring, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya.

"Eh, liat tuh si 'anak baru'. Dia liatin kita terus, kayaknya dia pengen belajar dandan," ucap Sisca keras-keras, memancing tawa teman-temannya.

Lana langsung menunduk, mencoba menghilang di balik bukunya. Namun Sisca justru berdiri dan menghampiri meja Lana, diikuti oleh gerombolannya.

"Heh, Lana. Lo nggak bosen apa tiap hari mukanya pucet gitu? Kayak orang kurang darah," Sisca meletakkan sebuah botol kecil berisi cairan cokelat ke depan Lana. "Nih, coba pake foundation gue. Biar muka kampung lo ketutup dikit. Kasian gue liat lo, barang-barang lo doang yang mahal, tapi muka lo tetep muka subsidi."

Teman-teman Sisca tertawa terbahak-bahak. Lana menatap botol kecil itu dengan bingung. Ia bahkan tidak tahu apa itu foundation. Apakah itu obat kulit? Atau cat wajah?

"Maaf... Lana nggak tahu cara pakenya," bisik Lana jujur, suaranya bergetar.

"Ya ampun! Lo serius nggak tau foundation? Hari gini?!" pekik Sisca dengan nada dramatis yang dibuat-buat. "Pantesan Pak Rian cuma kasih lo baju sama tas. Mungkin dia lupa kasih lo budget buat beli muka baru."

Sisca mengambil sebuah kuas besar dari mejanya dan mengarahkannya ke wajah Lana. Lana refleks memejamkan mata dan menarik kepalanya ke belakang.

"Jangan! Lana nggak mau!" seru Lana spontan.

"Dih, sok suci banget sih lo! Kita cuma mau bantu biar lo nggak malu-maluin kampus ini!" bentak Sisca. Ia kemudian menjatuhkan kuasnya ke meja Lana dengan kasar. "Yaudah, terserah lo. Tapi jangan salahin kita kalau semua cowok di sini nganggep lo itu cuma asisten rumah tangga yang nyasar pake baju majikan. Gak asik banget punya temen sekampus yang nggak tau tren beauty sama sekali."

Gerombolan itu pergi sambil mencibir, meninggalkan Lana yang kini benar-benar merasa hancur. Ia menatap kuas yang tergeletak di mejanya seolah-olah itu adalah benda beracun. Ia merasa sangat bodoh. Bagaimana mungkin ia bisa kuliah di tempat sekeren ini jika ia bahkan tidak tahu cara menghias wajahnya sendiri?

Lana berdiri, meninggalkan kafetaria dengan langkah terburu-buru. Ia berlari menuju perpustakaan, tempat yang ia anggap paling aman karena tidak ada orang yang boleh berbicara keras di sana. Ia bersembunyi di pojok rak buku kecantikan dan lifestyle yang jarang dikunjungi orang.

Ia mengambil salah satu majalah fashion ternama dari rak. Ia membalik halamannya dengan cepat. Di sana, ia melihat model-model dengan riasan yang sangat sempurna. Ada istilah contouring, highlighting, baking, strobing... Lana merasa kepalanya pening. Baginya, kata-kata itu lebih sulit dipahami daripada rumus matematika yang diajarkan dosennya.

Ia melihat gambar sebuah produk bibir yang disebut lip matte. Harganya tertulis di sana, dan Lana hampir menjatuhkan majalahnya. "Satu benda kecil ini harganya bisa buat beli beras satu karung?" bisiknya tak percaya.

Rasa minder yang kemarin sudah besar, kini membengkak menjadi raksasa yang menindih dadanya. Ia membandingkan jari-jarinya yang kasar karena sering membantu ibu mencuci baju di sungai, dengan jari-jari mahasiswi tadi yang lentik dengan kuku-kuku yang dicat cantik. Ia merasa seperti sepotong kain perca yang mencoba disatukan dengan kain sutra.

"Lana nggak pantes di sini. Lana nggak akan pernah bisa jadi seperti mereka," isaknya pelan di balik rak buku yang dingin.

Ia teringat Kenzo. Kenzo pernah berkata akan mengajarinya makeup dasar, tapi Lana saat itu menolaknya karena merasa tidak butuh. Sekarang, ia menyesal. Ia merasa sangat butuh "topeng" itu. Bukan karena ia ingin cantik, tapi karena ia ingin berhenti dihina. Ia ingin wajahnya tidak lagi diteriaki sebagai "muka kampung" atau "muka subsidi".

Namun, rasa takutnya lebih besar daripada keinginannya. Ia takut bertanya pada Kenzo karena ia malu mengakui betapa bodohnya dia. Ia takut bertanya pada Arka karena ia tidak ingin Arka menganggapnya sebagai beban yang terus-menerus meminta biaya. Ia merasa terjebak dalam lubang ketidaktahuan yang sangat dalam.

Sore itu, saat ia pulang ke penthouse, Lana tidak lagi menyapa "Si Bundar" dengan ceria. Ia langsung masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan berdiri di depan meja rias mewahnya yang dipenuhi dengan botol-botol skincare pemberian Ezra yang belum pernah ia sentuh sama sekali.

Ia menyentuh salah satu botol kaca bening. "Ini buat apa ya? Buat cuci muka? Atau buat diminum biar cantik?" gumamnya frustrasi.

Ia mencoba membuka salah satu laci meja riasnya. Di sana terdapat beberapa kotak hadiah yang belum sempat ia buka sejak hari pertama tiba. Salah satunya adalah kotak dari Kenzo. Lana membukanya perlahan. Isinya adalah sebuah palet eyeshadow dengan warna-warna yang sangat berani—emas, ungu, biru gelap.

Lana mengambil kuas kecil yang ada di dalamnya. Ia mencoba mengoleskan sedikit warna biru ke kelopak matanya, persis seperti yang ia lihat di kafetaria tadi. Namun, karena tangannya gemetar dan ia tidak tahu tekniknya, hasilnya justru tampak seperti matanya baru saja dipukul orang hingga lebam.

"Huhu... Lana malah jadi kayak hantu," isaknya sambil buru-buru menghapus warna biru itu dengan ujung dasternya.

Lana terduduk di lantai kamar mandi, menatap lantai marmer yang dingin. Ia merasa sangat lelah. Lelah berpura-pura menjadi orang kota, lelah dengan teknologi yang rumit, dan kini lelah dengan standar kecantikan yang tidak ia pahami. Ia merasa jiwanya masih tertinggal di bawah pohon mangga di desanya, sementara tubuhnya dipaksa untuk menari di panggung sandiwara yang kejam ini.

Ia memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana. Di tengah keheningan kamarnya yang mewah, Lana hanya bisa bermimpi tentang sebuah dunia di mana orang dinilai dari kebaikan hatinya, bukan dari seberapa tebal foundation yang menutupi luka di wajahnya. Namun ia tahu, mimpi itu tidak laku di Jakarta, dan ia harus menemukan cara untuk bertahan, atau ia akan hancur berkeping-keping sebelum semester pertamanya usai.

Hanya satu yang ia harapkan sekarang: seseorang yang mau mengajarinya tanpa menghakimi, seseorang yang mau menyentuh wajahnya tanpa merasa jijik dengan "muka kampung"-nya. Dan di luar sana, di meja makan penthouse, salah satu pria elit mulai menyadari perubahan raut wajah Lana dan sedang mempersiapkan sesuatu yang akan mengubah air mata Lana menjadi binar kebahagiaan.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!