"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENJARA DIKURSI KOSONG
Wajah Dina seketika memucat, lebih pasi dari saat ia pertama kali siuman tadi pagi. Ia menggelengkan kepala dengan cepat, seolah-olah kata-kata Warda tentang "menaruh hati" adalah sebuah alarm bahaya yang bisa memicu kemarahan sesuatu yang tak kasat mata. "Mbak... tolong, jangan bahas soal menaruh hati atau semacamnya," bisik Dina dengan suara yang nyaris hilang, matanya bergerak gelisah menyisir setiap sudut ruangan yang tampak kosong bagi Warda, namun terasa sesak bagi dirinya. Jemarinya meremas sprei dengan kuat hingga buku-bukunya memutih, seiring dengan detak jantungnya yang mulai berpacu tidak beraturan lagi.
Warda mengernyitkan dahi, bingung melihat reaksi Dina yang berlebihan. "Loh, kenapa Din? Mbak cuma bercanda, atau mungkin cuma analisis kecil..."
"Nggak, Mbak, jangan," potong Dina cepat, napasnya mulai tersengal. Ia menunjuk ke arah kursi kosong di samping jendela, tempat sinar matahari pagi jatuh membentuk bayangan persegi. "Mas Adrian... dia di sini. Dia selalu di sini, Mbak. Dia dengar semua yang kita omongin. Dia lagi natap aku sekarang dengan tatapan yang sama kayak kemarin di kantin, tatapan yang bilang kalau dia nggak suka aku dekat-dekat sama laki-laki lain, apalagi dokter itu."
Warda tertegun, bulu kuduknya meremang seketika mendengar pengakuan jujur namun mengerikan dari sahabatnya. Ia menatap kursi kosong itu, lalu kembali menatap Dina yang kini mulai menutup telinganya lagi, seolah-olah suara Adrian mulai berdenging keras memprotes kehadiran Arga dalam hidupnya. "Dina, sayang... di situ nggak ada siapa-siapa," ucap Warda berusaha menenangkan, meski suaranya sendiri bergetar. Ia menyadari bahwa trauma Dina bukan lagi sekadar kesedihan biasa, melainkan lubang hitam yang mulai menelan realita gadis itu bulat-bulat, menciptakan sosok protektif dari masa lalu yang cemburu pada setiap perhatian yang diberikan oleh dunia nyata—termasuk perhatian dari Dokter Arga.
Dina memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya meremas sprei rumah sakit hingga buku-buku jarinya memutih, seolah sedang berpegangan pada satu-satunya realita yang tersisa di tengah badai halusinasi yang menerjangnya. "Ada, Mbak... dia ada di sini, jadi tolong berhenti bahas soal hati atau siapa pun yang menaruh rasa," ucap Dina dengan suara yang bergetar hebat, sebuah bisikan permohonan yang lebih mirip rintihan kesakitan daripada sekadar bantahan. Bagi Dina, sosok Adrian bukan lagi sekadar memori yang tersimpan dalam bingkai foto usang, melainkan entitas nyata yang menempati ruang kosong di samping tempat tidurnya, bernapas di tengkuknya, dan mengawasi setiap gerak-geriknya dengan sorot mata yang penuh tuntutan sekaligus perlindungan yang menyesakkan. Di mata Dina, udara di kamar Seruni itu mendadak mendingin dan menebal, seolah kehadiran Adrian yang tak kasat mata bagi orang lain telah menyedot seluruh oksigen di ruangan itu, menyisakan ruang sempit yang hanya cukup untuk mereka berdua dan kesetiaan yang telah menjadi penjara bagi jiwanya.
Warda tertegun, lidahnya kelu saat melihat bagaimana ketakutan itu mengubah raut wajah Dina menjadi sebentuk topeng penderitaan yang begitu murni, sebuah ekspresi yang menandakan bahwa batas antara dunia nyata dan dunia batinnya telah runtuh sepenuhnya. Dina terus menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir denging di telinganya yang kini berubah menjadi suara bariton Adrian yang terdengar kecewa, sebuah frekuensi suara yang hanya bisa ditangkap oleh radar traumanya sendiri. Bagi Dina, membicarakan perhatian Dokter Arga bukan sekadar gosip ringan antar sahabat, melainkan sebuah pengkhianatan besar terhadap "kehadiran" Adrian yang masih setia menemaninya di setiap detik kesunyian. Ia merasa seolah-olah setiap kata yang memuji Arga adalah sembilu yang menyayat kesetiaannya pada pria yang telah berkorban nyawa demi tugas negara, dan ia tidak sanggup membayangkan kemarahan atau duka yang mungkin terpancar dari bayangan Adrian jika ia membiarkan sedikit saja ruang di hatinya terbuka untuk orang lain.
Setiap sudut ruangan itu kini terasa seperti cermin yang memantulkan rasa bersalahnya; ia merasa sedang diadili oleh sosok yang seharusnya sudah beristirahat dengan tenang di liang lahat. Dina tidak ingin mendengar tentang cinta yang baru, tidak ingin melihat sorot khawatir dari dokter mana pun, karena baginya, cinta sudah selesai di hari ia menerima kabar duka tentang Adrian. Ketakutannya pada "kemarahan" sosok imajiner itu jauh lebih nyata daripada rasa sakit di ulu hatinya yang sedang meradang hebat. Ia merasa sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam, di mana satu sisi adalah keinginan untuk sembuh dan kembali normal, sementara sisi lainnya adalah tarikan gravitasi dari masa lalu yang terus membisikkan bahwa ia tidak boleh bahagia sendirian. Di tengah kepungan dinding rumah sakit yang putih dan steril, Dina merasa semakin terisolasi, terjebak dalam sebuah pengulangan waktu di mana Adrian tidak pernah benar-benar pergi, dan setiap bentuk perhatian dari dunia luar—terutama dari pria seperti Arga—hanya akan dianggap sebagai ancaman bagi "kedamaian" tragis yang telah ia bangun selama setahun terakhir.
Siang itu, pintu kamar Seruni terbuka perlahan, namun kali ini tidak ada sentakan keras atau derit besi yang mengejutkan seperti saat Arga datang tadi pagi. Seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih sempurna di bagian pelipis melangkah masuk. Ia tidak mengenakan jas putih dokter yang kaku, melainkan kemeja batik bermotif lembut yang dipadukan dengan celana kain rapi. Di lehernya pun tidak menggantung stetoskop yang dingin; ia hanya membawa sebuah buku catatan kecil dan sebuah pulpen yang terselip di saku kemejanya.
Pria itu adalah Dokter Wiyata. Senyumnya mengembang begitu hangat, sebuah lengkungan tulus yang membuat kerutan di sudut matanya tampak seperti guratan pengalaman yang menenangkan. Pembawaannya sama sekali tidak mengintimidasi; ia tidak datang dengan aura otoritas medis yang menuntut jawaban, melainkan dengan ketenangan seorang ayah yang baru saja pulang untuk menjenguk putrinya. Langkah kakinya sangat ringan, hampir tak terdengar di atas lantai porselen, seolah ia sangat menghargai kesunyian yang sedang menyelimuti ruangan itu.
"Selamat siang, Mbak Dina. Selamat siang, Mbak Warda," sapa Dokter Wiyata dengan suara bariton yang rendah dan empuk, jenis suara yang secara alami mampu menurunkan detak jantung yang sedang berpacu. Ia tidak langsung menuju ke peralatan medis, melainkan menarik sebuah kursi kayu dan duduk di samping tempat tidur Dina dengan jarak yang sangat sopan, memberikan ruang bagi Dina untuk tetap merasa aman.
Ia tidak langsung bertanya tentang keluhan lambung atau suara-suara berisik itu. Dokter Wiyata justru menatap jendela sejenak, melihat dahan pohon kamboja yang bergoyang di luar. "Udara siang ini lumayan sejuk ya di Bandung? Tadi saya lihat di taman bawah, bunganya sedang banyak yang mekar," ucapnya santai, memulai percakapan dengan topik yang begitu membumi.
Dina yang tadinya tegang dan terus meremas sprei, perlahan mulai mengendurkan bahunya. Sorot mata Dokter Wiyata yang teduh seolah menjadi oase di tengah gurun ketakutan yang sejak tadi menyiksanya. Ada sesuatu dalam diri pria tua ini yang membuat Dina merasa bahwa ia tidak sedang akan dihakimi atas apa yang ia lihat atau dengar. Dokter Wiyata menatap kursi kosong yang ditunjuk Dina tadi dengan tatapan biasa, tidak ada keraguan atau ejekan di matanya, seolah ia memvalidasi bahwa apa pun yang dirasakan Dina adalah sesuatu yang berhak untuk didengarkan.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib