NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Romansa
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."

​Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.

​Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.

​Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?

​"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

​Kegelapan malam di ruang kerja Adrian Kalandra Prayudha terasa lebih pekat dari biasanya. Pesan singkat dari Maya masih menyala di layar ponselnya, membakar retina mata Andra dengan kata yang tak pernah ia duga akan disematkan pada sosok Isvara Kalandra: Kesakitan.

​Tangan Andra gemetar. Untuk pertama kalinya, tembok ego yang ia bangun setinggi langit selama bertahun-tahun pernikahan kontrak ini retak. Selama ini, ia melihat Isvara sebagai mesin. Mesin desain, mesin pencetak uang, mesin yang selalu punya jawaban sinis untuk setiap serangannya. Namun, bayangan Isvara yang "kesakitan" saat turun dari mobil membuat dada Andra sesak oleh oksigen yang mendadak terasa tipis.

​Malam itu, Andra tidak pulang ke rumah besar Prayudha. Ia memacu mobilnya membelah kemacetan Jakarta, menuju alamat apartemen baru yang dikirimkan Maya. Pikirannya kalut. Ia meletakkan egonya di bawah kaki. Ia tidak peduli lagi pada laporan keuangan atau rapat direksi esok pagi. Ia hanya ingin melihat Isvara. Ia ingin memastikan bahwa wanita itu masih bernapas.

​Namun, sesampainya di gedung apartemen mewah itu, Andra tertahan. Sistem keamanan biometrik dan penjagaan yang super ketat membuat seorang CEO Prayudha Group sekalipun tidak bisa berkutik. Isvara telah memblokir semua akses untuk nama "Prayudha". Andra menunggu di lobi hingga fajar menyingsing, tertidur di dalam mobilnya seperti orang hilang arah, hanya demi melihat sekilas tanda-tanda keberadaan istrinya.

​Keesokan Paginya: Kantor Prayudha Development & Property Group

​Matahari pagi sudah tinggi saat Andra melangkah masuk ke kantornya dengan wajah kuyu dan kemeja yang sedikit kusut pemandangan langka bagi seorang Adrian yang selalu tampil flawless. Namun, rasa khawatir yang semalam menyiksanya mendadak menguap, digantikan oleh bara api amarah saat ia melihat meja kerjanya.

​Di sana, sebuah dokumen revisi anggaran proyek Grand Prayudha Resort Bali tergeletak manis. Di pojok kanan bawah, terdapat tanda tangan digital Vara Interior Design & Atelier beserta stempel resmi kantor Isvara.

​"Doni! Masuk sekarang!" suara Andra menggelegar, merobek ketenangan lantai eksekutif.

​Doni masuk dengan langkah seribu, wajahnya pucat. "I-iya, Tuan?"

​"Siapa yang mengirim dokumen ini? Kapan?" Andra menunjuk kertas itu seolah-olah itu adalah barang haram.

​"Baru saja, Tuan. Melalui kurir khusus dari kantor Nona Isvara. Pihak Vara Atelier mengatakan bahwa Nona Isvara sudah memeriksa semuanya semalam dan memberikan persetujuan akhir. Mereka juga melampirkan catatan teknis yang sangat detail, bahkan lebih tajam dari biasanya," lapor Doni dengan nada gemetar.

​Andra terdiam. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. Jadi, sementara dia terjaga semalaman di lobi apartemen seperti orang bodoh, mengkhawatirkan Isvara yang katanya "kesakitan", wanita itu justru sedang asyik bekerja? Isvara masih punya energi untuk membedah anggaran miliaran rupiah dan mengirimkannya tepat waktu untuk menunjukkan bahwa dia masih memegang kendali?

​"Kesakitan, katanya?" desis Andra sinis. Ia merasa seperti baru saja ditampar oleh kenyataan. "Dia tidak sedang sakit. Dia sedang bermain taktik! Dia sengaja membuat Maya melihatnya seperti itu supaya berita itu sampai ke saya, sementara dia tertawa di atas sana melihat suaminya panik!"

​Rasa bersalah yang semalam menghimpitnya kini berubah menjadi rasa benci yang baru. Andra merasa dipermainkan secara emosional. Baginya, ini adalah taktik perang tingkat tinggi dari Isvara untuk membuat Andra bertekuk lutut.

​"Hubungi Vara Interior Design & Atelier. Katakan saya butuh rapat koordinasi jam sepuluh pagi ini di kantor mereka. Jangan terima alasan apa pun!"

​Pukul 10.15: Kantor Vara Interior Design & Atelier

​Andra tiba di gedung kantor Isvara dengan aura yang bisa membekukan air. Ini adalah wilayah kekuasaan Isvara, sebuah bangunan berkonsep industrial modern yang sangat artistik. Namun, kenyataan bahwa Isvara memiliki kantor sendiri terpisah dari bayang-bayang Prayudha selalu membuat Andra merasa posisinya terancam.

​Begitu ia merangsek masuk ke area lobi, langkahnya langsung dihadang oleh Sinta. Asisten Isvara itu berdiri dengan wajah datar, mengenakan setelan kerja yang sangat rapi, seolah-olah sudah siap menghadapi amukan Andra.

​"Selamat pagi, Tuan Adrian. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Sinta dingin.

​"Minggir, Sinta. Saya mau bertemu Isvara. Sekarang juga!" gertak Andra. Matanya menyapu sekeliling, mencari sosok yang telah membuatnya tidak tidur semalaman.

​"Nona Isvara sedang tidak ada di tempat, Tuan. Beliau sedang melakukan inspeksi mendadak ke gudang vendor di luar kota untuk memastikan material marmer Bali sesuai standar. Bukankah dokumen revisinya sudah sampai di meja Anda? Seharusnya itu sudah cukup sebagai jawaban profesional," jawab Sinta tanpa berkedip.

​Andra tertawa sinis, langkahnya maju satu tindak, mencoba mengintimidasi Sinta dengan postur tubuhnya yang lebih tinggi. "Inspeksi vendor? Di saat dia baru saja 'menghilang' seminggu? Jangan membodohi saya, Sinta. Saya tahu dia ada di dalam, mungkin sedang bersembunyi di balik meja jati mewahnya itu."

​"Nona Isvara tidak pernah bersembunyi, Tuan," sahut Sinta dengan nada yang mulai meninggi, menunjukkan kesetiaan butanya pada bosnya. "Beliau justru sedang membereskan kekacauan yang tim Anda buat di lapangan. Jika Anda datang ke sini hanya untuk membuat keributan, mohon maaf, kami harus meminta Anda pergi. Di sini adalah Vara Atelier, bukan Prayudha Development. Peraturan di sini mengikuti kata Nona Isvara, bukan Anda."

​Andra merasa darahnya mendidih. "Katakan pada bos kamu itu... jangan jadi pengecut! Kalau dia ingin menantang saya, lakukan secara jantan di meja rapat, bukan dengan cara memutus komunikasi dan berakting lemah di depan adik saya!"

​"Lemah?" Sinta mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia tahu betapa hancurnya kondisi Isvara di apartemen sana, berjuang hanya untuk sekadar menghirup oksigen. Mendengar Andra menyebutnya sebagai "akting" membuat Sinta ingin sekali menampar wajah sombong pria itu. "Tuan Adrian, Anda benar-benar tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang terjadi. Dan mungkin, memang sebaiknya Anda tetap tidak tahu, karena posisi Anda di hidup Nona Isvara memang tidak sepenting itu."

​"KAMU!" Andra menunjuk wajah Sinta dengan telunjuknya, napasnya memburu.

"Berani sekali kamu bicara seperti itu pada suami bosmu?"

​"Suami?" Sinta tersenyum miring, senyum yang sangat menyakitkan. "Suami yang mana? Yang membiarkannya diserang di ruang rapat? Yang membiarkannya pingsan di lobi tanpa bantuan medis yang layak? Di kantor ini, Tuan hanyalah klien. Dan sebagai klien, Anda sudah mendapatkan apa yang Anda bayar: desain yang sempurna. Urusan pribadi Nona Isvara bukan konsumsi Anda."

​Andra merasa dunianya berputar. Ia merasa dipermalukan di depan staf Isvara yang mulai berbisik-bisik. Gengsinya yang setinggi langit hancur berkeping-keping. Ia yakin Isvara ada di suatu tempat, mungkin sedang memantau lewat CCTV dan menertawakan betapa frustrasinya Andra pagi ini.

​"Sampaikan pada Isvara," Andra mendekatkan wajahnya ke telinga Sinta, suaranya rendah namun penuh ancaman yang mematikan. "Dia boleh merasa menang hari ini. Dia boleh bersembunyi di balik dinding kantornya yang mewah ini. Tapi ingat satu hal, kontrak pernikahan itu belum berakhir. Saya akan menyeretnya kembali ke rumah Prayudha, dan saat itu terjadi, saya pastikan dia tidak akan punya ruang lagi untuk bermain drama seperti ini."

​Andra berbalik dan pergi dengan langkah yang sangat cepat, membanting pintu kaca kantor Vara Atelier hingga bergetar hebat.

​Di balik jendela kaca lantai tiga puluh sembilan, Isvara duduk lemas di sofa panjangnya. Oksigen kaleng tergeletak di samping bantalnya. Ia baru saja selesai mendengarkan rekaman suara pertengkaran Andra dan Sinta yang dikirimkan secara real-time oleh sistem keamanan kantornya.

​Isvara memejamkan mata, tangannya meremat dadanya yang kembali terasa nyeri. Setiap kata-kata Andra yang menyebutnya "pengecut" dan "bermain drama" masuk ke dalam hatinya seperti ribuan jarum es.

​"Dia benar-benar membenciku, Rima," bisik Isvara parau.

​Rima, yang sedang menyiapkan obat-obatan Isvara, menatap bosnya dengan iba. "Tuan Andra hanya marah karena dia tidak bisa mengendalikan Ibu. Dia frustrasi karena Ibu lebih kuat darinya, bahkan di saat Ibu sedang seperti ini."

​"Baguslah kalau dia pikir ini hanya taktik bisnis," Isvara tersenyum pahit, setetes air mata jatuh tanpa ia kehendaki. "Biarkan dia membenciku sebagai saingan bisnis yang licik. Itu jauh lebih baik daripada dia mengasihaniku sebagai istri yang sekarat. Aku tidak butuh belas kasihan seorang Prayudha."

​Isvara kembali mengambil tabletnya, mencoba mengabaikan denyut jantungnya yang tidak beraturan. "Rima, siapkan laporan untuk vendor marmer. Kita harus mengirimkannya jam dua siang nanti. Andra tidak boleh punya alasan sedikit pun untuk meremehkan kerja Vara Atelier."

​Rima hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, Isvara sedang membunuh dirinya sendiri demi mempertahankan "kelas" yang ia bangun. Isvara sedang mempertaruhkan sisa napasnya untuk sebuah proyek, sementara suaminya di luar sana sedang merancang rencana untuk menghancurkannya, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang ia benci itu mungkin tidak akan bertahan sampai kontrak mereka berakhir.

​Andra memukul kemudi mobilnya dengan keras hingga tangannya memerah. "Sial! Sial! Sial!" teriaknya frustrasi.

​Ia merasa sangat bodoh karena sempat merasa khawatir semalam. Pesan Maya tentang Isvara yang kesakitan sekarang terasa seperti lelucon besar di matanya. Isvara terlalu kuat, terlalu cerdik, dan terlalu dingin untuk bisa merasa sakit seperti manusia biasa.

​"Kamu ingin bermain, Isvara? Baiklah," gumam Andra dengan mata merah karena amarah dan kurang tidur. "Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di menaramu yang retak itu. Jika kamu tidak mau menjadi istri yang manis, maka jadilah musuh yang siap untuk hancur di tangan saya."

​Andra memacu mobilnya kembali menuju kantor Prayudha Group. Di kepalanya, ia mulai menyusun rencana untuk memutus aliran dana vendor yang digunakan Isvara, sebuah cara kotor untuk memaksa wanita itu keluar dari persembunyiannya. Ia tidak sadar, bahwa setiap tekanan yang ia berikan adalah langkah lebih dekat menuju serangan jantung terakhir yang akan membawa Isvara pergi selamanya dari hidupnya.

1
lin sya
sbnrnya jodohnya isvara siapa thor, gk dewa gk andra , sama2 nykitin, lbih baik isvara fokus sm kesehatannya, sayangi diri sndiri pnting💪
Riza Afrianti
kapan si Andra kena karma nya yaa
Wayan Sucani
Apa hanya saya saja yg menangis..menjadi Isvara sangat menyakitkan...
blcak areng: ya ampun kak, peluk"🫂🫂🫂🫂
total 1 replies
Wayan Sucani
Sungguh sakit jd dirimu Isvara...
Wayan Sucani
Apa yg terjadi dimasa lalu Isvara???. rasanya sesak jd dirimu... tanpa cinta... berusaha kuat... dan baik2 saja...
Aku sesak Isvara...
lin sya
gk tau apa yg ada diotak isvara trllu memaksakan tubuhnya pdhl udh mau tumbang, apa krn judulnya rahasia dibalik nafas terakhir isvara makanya isvara kuat diluar tp rapuh didlm, kacian thor isvara kejayaannya ada ditangan suami angkuhnya bkn ditangan dia sndiri /Whimper/
lin sya
klo isvara bneran dibuat mati oleh tekanan ego andra buat dia bertransmigrasi ke tubuh pemeran lain thor, yg lbih kaya trus byk yg sayang, klo boleh saran ya thor, kacian isvara dibalik sikap dinginnya krn gak mau diksihani atau tdk mau trlihat lemah dia tiap hri hrs sllu kuat, gak suami, gak mertua, gk kluarga kndung gk ada yg beres, klo ditubuh baru kan bsa bls dendam dan bikin andra menyesal atas kematiannya💪/Sob/
blcak areng: Terima kasih ya Kak atas masukannya... nanti bisa jadi bahan pertimbangan 😍
total 1 replies
lin sya
gw bknnya bnci dgn karakter isvara justru kacian dan terkesan krn hebat bertahan dri tekanan org2 toxic disekitarnya, mmpu bertahan dgn pnykit jg bsa pnya karier yg bagus, smga klo lepas dri kluarga suami minimal pnya relasi atau org yg bsa jd pelindung agar ttp smgt hdup/Smile/
lin sya
smgt isvara mental mu kuat sekali plus bsa cerdik mnutupi pnyakit , musuhmu bkn hnya kk dan ibu mu tp kluarga suami mu, kira2 isvara bsa dpt donor jantung gak thor plus bsa kluar dri rmh tangga toxic dan dpt jodoh yg lbih baik bahkan isvara keren menutupi kelemahannya dgn skp dingin dan biar lah dianggap buruk pdhl ia pnya sisi rapuh😍
lin sya: ok kk author💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!