Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Lorong kampus terasa panjang.
Langkah Liora pelan, matanya terus bergerak waspada.
Ia bisa merasakan…
tatapan itu masih ada. Mengikuti. Mengawasi.
Setiap sudut. Setiap langkah nya.
Namun ia tetap berjalan, mencoba terlihat normal. dengan tetap waspada.
Sampai....
“Liora…?”
Suara itu membuatnya berhenti.
Pelan.
Ragu.
Ia menoleh. Dan matanya langsung membesar.
“Se… Selena?”
Di depannya berdiri seorang gadis dengan penampilan rapi dan elegan. Wajahnya familiar… hangat… berbeda dari dunia gelap yang kini mengelilingi Liora.
Selena.
Teman SMA-nya.
Satu-satunya orang yang dulu selalu baik padanya.
“Ya ampun, itu kamu beneran?!” Selena langsung mendekat, wajahnya kaget sekaligus senang. “Aku kira aku salah lihat!”
Liora hampir tidak percaya.
Di tengah semua ini…
ia bertemu seseorang dari masa lalunya.
Yang normal.
Yang aman.
“S-selena…” suaranya melemah.
Dan entah kenapa..
matanya langsung berkaca-kaca. Seolah tempat dimana ia akan aman.
***
Kantin kampus. Suasana ramai dengan mahasiswa yang sibuk dengan makanan masing-masing.
Namun di sudut meja itu…
Liora duduk dengan gelisah. Tangannya saling menggenggam.
Sementara Selena menatapnya penuh khawatir.
“Liora… kamu kenapa?” tanya Selena pelan. “Kamu kelihatan… takut banget.”
Hening.
Beberapa detik.
Dan akhirnya—
Liora tidak kuat lagi. Ia menceritakan semuanya.
Tentang hutang pamannya yang tidak pernah ia tahu sama sekali. Tentang pernikahan.
Tentang Saga. Tentang pelarian yang selalu gagal.
Tentang tembakan.
Semuanya.
Tanpa tersisa.Selena terdiam. Ia tidak tahu kalau itu semua terjadi pada Liora.
Wajahnya berubah.
Dari kaget…
Menjadi marah.
“Gila…” bisiknya. “Itu… bukan hidup… itu penjara, Liora…”
Air mata Liora jatuh.
“Aku gak kuat…” suaranya bergetar. “Aku mau kabur… tapi dia selalu nemuin aku…”
Ia menggenggam tangan Selena.
“Tolongan aku… Selena… aku mohon…”
Tatapan itu… Penuh harap.
Penuh putus asa. Selena terdiam sesaat.
Lalu…
ia mengangguk. “Aku bantu kamu.”
Deg.
Liora membeku.
“Serius…?”
“Iya,” jawab Selena tegas. “Kamu gak boleh balik ke dia.”
Ia langsung berpikir cepat.
“Dengar, kamu ikut mobil aku sekarang. Sopirku ada di parkiran belakang. Kita keluar dari sini pelan-pelan.”
Liora menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang.
“Anak buahnya… di mana-mana…”
Selena tersenyum tipis.
“Tenang. Mereka gak kenal aku.”
Hening sejenak.
Lalu—
Liora mengangguk.Ini kesempatannya. Liora sudah melupakan janjinya tadi lagi pada saga.
***
Dengan hati-hati, mereka keluar dari kantin.
Langkah Liora tetap gemetar.
Matanya terus bergerak, mencari tanda-tanda pengawasan.
Namun Selena berjalan tenang.
Percaya diri. Seolah tidak ada yang aneh.
Dan itu…
membantu.
Mobil mewah sudah menunggu di area parkir belakang.
Seorang sopir membuka pintu.
"Nona.”
Selena mengangguk.
“Antar dia ke villa. Sekarang.”
Sopir itu langsung paham. “Baik.”
Liora menoleh ke Selena. Matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih…” bisiknya.
Selena tersenyum tipis. Lalu ikut masuk ke mobil.
“Kita harus pergi sekarang.”
Tanpa banyak waktu—
Liora masuk ke mobil. Pintu tertutup. Dan mobil itu…
perlahan meninggalkan kampus.
mobil hitam melaju.
Menjauh.
Menjauh dari kampus. Menjauh dari pengawasan.
Dan untuk pertama kalinya—
Liora merasa…
Ia berhasil.
“Aku… bebas…” bisiknya pelan, air matanya jatuh lagi.
Tatapan selena melembut.
" Kamu berhak punya kehidupan kamu sendiri , lio"
Liora mengangguk. Liora Tak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis Meski hatinya masih berdebar. Takut kalau saga akan menemukan nya dengan cepat. Tapi ada sedikit kelegaan dalam dirinya.
Dan untuk saat ini…
ia selamat.
***
Beberapa menit berlalu.
Seorang pria berpakaian hitam berdiri di sudut lorong.
Tatapannya tajam. Mencari- cari di sekeling. Namun tidak ada.
Ponsel di tangannya terangkat.
“Target hilang.”
***
Di Markas Verhakc yang Gelap dan juga Sunyi.
Namun dipenuhi aura yang menekan. Saga berdiri di tengah ruangan.
Diam.
Mendengarkan laporan.
“Dia kabur bersama seorang perempuan. Diduga menuju luar kota.”
Hening.
Beberapa detik.
Yang terasa sangat panjang.
Lalu—
BUK!
Tangan Saga menghantam meja keras. Suara itu menggema di ruangan yang sepi.
Semua orang langsung menunduk.
Takut.
Aura di ruangan itu berubah.
Berat. Sangat Mencekam.
“Berani sekali…” gumamnya pelan.
Suaranya rendah. Namun penuh amarah yang ditahan.
“Perlu kami kejar sekarang, Tuan?” tanya salah satu anak buah.
Hening.
Saga terdiam.
Lalu—
ia tersenyum tipis. Namun senyum itu…
tidak membawa kehangatan. Melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
“Tidak.”
Semua terdiam.
Terkejut.
“Biarkan dia lari,” lanjutnya pelan.
Matanya gelap.
Dalam.
“Aku ingin lihat…” ia berhenti sejenak, “…seberapa jauh dia berani pergi dariku.”
Deg.
Ruangan itu semakin dingin. Tidak ada yang berani bicara.
Tidak ada yang berani bergerak.
Karena mereka tahu—
ini bukan berarti Saga menyerah.
Ini…
awal dari sesuatu yang lebih buruk. Lebih kejam.
***
Dan di tempat lain—
Liora menatap jalan di depan.Mobil terus melaju menuju pinggir kota.
Menuju kebebasan sementara.
Tanpa ia tahu—
bahwa seseorang…
masih mengawasinya dari jauh. Menunggu waktu yang tepat…
untuk mengambilnya kembali.
***
Mobil melaju semakin jauh meninggalkan hiruk-pikuk kota.
Gedung-gedung tinggi berganti dengan jalanan sepi, pepohonan rindang, dan udara yang terasa lebih dingin.
Liora duduk diam di kursi belakang. Tangannya masih mencengkeram tas.
Namun kali ini…
napasnya mulai sedikit teratur. Ia menoleh ke luar jendela.
Pemandangan yang sangat asing dimatanya.
Sepi.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua terjadi…
tidak ada rasa diawasi.
“Sudah dekat, Nona,” ucap sopir dari depan.
Liora hanya mengangguk pelan.
Jantungnya masih berdegup, tapi bukan karena takut.
Lebih ke… tidak percaya. Benarkah ia berhasil?
***
Gerbang villa terbuka. Mobil masuk perlahan.
Bangunan itu berdiri di pinggir kota, dikelilingi pepohonan tinggi. Tidak terlalu besar, tapi cukup mewah dan… tersembunyi.
Pintu mobil dibuka.
Liora turun. selena juga ikut turun.
Kakinya masih sedikit sakit, namun ia tetap melangkah.
Pelan. Matanya menyapu sekitar.
Sunyi.
Tidak ada pria berpakaian hitam.
Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada aura menekan.
Hanya angin…
dan suara dedaunan.
Deg.
Tubuhnya sedikit melemas.
“Aku… benar-benar keluar…” bisiknya pelan.
Sopir berdiri di sampingnya.
“Nona bisa tinggal di sini sementara. Tempat ini aman,” ucapnya hormat.
Selena mengangguk " Ya. untuk sementara kamu akan tinggal disini dulu. "
Liora menatapnya.
“Aman…?” ulangnya lirih.
Kata itu terasa asing. Namun ia ingin percaya.
Ia masuk ke dalam villa dengan di bantu selena.
Interiornya hangat.
Jauh berbeda dari mansion Saga yang dingin dan menekan.
Langkahnya berhenti di tengah ruangan.
Dan tanpa sadar..
Air matanya jatuh. Bukan karena takut. Tapi karena… lega.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku selamat…” bisiknya. Suaranya pecah.
" Heii jangan menangis, aku tahu kamu bisa" Selena memeluk liora lalu membawa perlahan duduk di sofa.
" Aku masih takut....Bagaimana kalau dia–"
" Syuttt... Jangan ngomong gitu dulu. kamu harus yakin kalau dia gak bisa menemuin kamu" Selena meyakinkan liora.
Liora hanya mengangguk dalam pelukan selena.
Semua ketegangan selama ini…
akhirnya runtuh.
Ia tidak perlu lagi menunduk. Tidak perlu lagi merasa diawasi di setiap sudut. Tidak perlu lagi mendengar suara dingin itu.
Untuk saat ini…
ia bebas.
***
Malam mulai turun.Lampu-lampu villa menyala hangat.
Liora berdiri di balkon, menatap langit yang gelap. Angin pelan menyapu rambutnya.
Tenang.
Sangat tenang.Namun di dalam hatinya…
masih ada sisa ketakutan kecil.
“Dia gak mungkin diam aja…” gumamnya pelan.
Nama itu bahkan tidak perlu disebut.
Ia tahu.
Saga.
Pria itu tidak akan semudah itu melepaskannya.
Tapi…
untuk malam ini—
Liora memilih menutup mata. Menarik napas dalam. Dan menikmati satu hal yang sudah lama tidak ia rasakan.
Ketenangan.
Meski ia tahu…
ini hanya masih sementara.
Dan di suatu tempat....
seseorang sedang menunggu.
Dengan sabar. Dengan dingin.
Menunggu waktu…
untuk menariknya kembali ke sisinya..
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.................................