Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria yang tumbuh tanpa Contoh
Pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena sesuatu yang jelas terjadi.
Lebih seperti firasat.
Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, meskipun Ashar sedang bekerja di ruang kerjanya seperti biasa. Aku sedang menyiram tanaman di halaman depan ketika suara mesin mobil berhenti di depan rumah.
Aku mengangkat kepala.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria keluar.
Tinggi.
Berbahu lebar.
Wajahnya familiar.
Butuh beberapa detik sampai aku benar-benar menyadarinya.
Raka.
Perutku langsung terasa sedikit tidak nyaman.
Pria yang selama beberapa hari ini hanya menjadi nama di layar ponsel Ashar… sekarang berdiri di depan rumah kami.
Dia menatap ke arahku.
Lalu tersenyum sopan.
"Apa ini rumah Ashar?"
Aku mengangguk.
"Iya."
Dia berjalan mendekat, berhenti di depan pagar.
"Aku Raka."
"Aku Mala."
Dia terlihat sedikit lega.
"Akhirnya ketemu juga."
Aku membuka pagar perlahan.
"Ashar ada di dalam."
Raka mengangguk.
Tapi sebelum masuk, dia tiba-tiba berkata sesuatu yang membuatku sedikit terkejut.
"Aku minta maaf."
Aku mengerjap.
"Maaf?"
"Aku tidak datang ke pernikahan kalian."
Oh.
Aku hampir lupa soal itu.
"Kenapa?"
"Aku sedang di luar negeri."
Dia tersenyum kecil.
"Urusan bisnis."
Aku mempersilakannya masuk.
Saat kami berjalan menuju ruang tamu, aku memperhatikan sesuatu tentang Raka.
Dia terlihat… sangat santai.
Seperti seseorang yang sudah sering datang ke rumah ini.
Atau mungkin seseorang yang sudah sangat dekat dengan pemilik rumah.
Perasaan aneh itu kembali muncul di dadaku.
"Ashar!" panggilku.
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lorong.
Ashar muncul dari ruang kerjanya.
Begitu melihat siapa tamunya…
Dia langsung berhenti.
"Wah."
Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Raka tersenyum lebar.
"Lama tidak ketemu."
Ashar masih terlihat sedikit kaget.
"Kapan kamu pulang?"
"Semalam."
Mereka saling menatap beberapa detik.
Lalu Raka berjalan maju dan memeluk Ashar.
Pelukan itu singkat.
Tapi cukup untuk membuatku memperhatikan sesuatu.
Ashar terlihat jauh lebih santai daripada biasanya.
Seolah-olah berada di dekat Raka membuatnya kembali menjadi versi dirinya yang berbeda.
"Aku kira kamu masih di Singapura," kata Ashar.
"Harusnya memang masih."
"Lalu?"
"Aku pikir aku harus datang."
Raka menoleh ke arahku.
"Setidaknya untuk minta maaf langsung ke istri kamu."
Aku tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa."
Tapi sebenarnya aku masih memperhatikan mereka berdua.
Cara mereka berbicara.
Cara mereka saling melihat.
Cara Ashar terlihat jauh lebih… hidup.
Aku tidak tahu kenapa hal itu membuatku sedikit tidak nyaman.
Kami duduk di ruang tamu.
Aku membuatkan kopi.
Ketika aku kembali membawa nampan, Raka sedang melihat sekeliling ruangan.
"Rumahnya bagus."
"Terima kasih," kata Ashar.
Raka tersenyum kecil.
"Tidak nyangka kamu sudah menikah."
Aku duduk di kursi seberang mereka.
"Kenapa?" tanyaku.
Raka menatapku.
Seolah-olah sedang memilih kata-kata yang tepat.
"Ashar dulu…"
Dia berhenti.
Lalu tertawa kecil.
"...orangnya sangat tertutup."
Aku melirik Ashar.
Dia hanya menghela napas pelan.
"Itu sudah lama."
Raka mengangkat alis.
"Benarkah?"
Ashar tidak menjawab.
Aku meminum kopi pelan.
"Ashar memang agak pendiam," kataku.
Raka tersenyum.
"Agak?"
Dia menatapku sejenak.
"Lima tahun lalu dia bahkan hampir tidak pernah berbicara dengan perempuan."
Aku berkedip.
"Serius?"
Ashar langsung terlihat tidak nyaman.
"Raka."
"Apa?"
"Tidak perlu dibahas."
Raka tertawa pelan.
"Tapi ini fakta."
Aku mulai tertarik.
"Maksudnya?"
Raka bersandar di kursinya.
"Ashar itu… aneh."
"Aneh?" kataku.
"Bukan aneh yang buruk."
Dia mengangkat bahu.
"Lebih seperti… seseorang yang tumbuh tanpa pernah belajar hal-hal yang dianggap normal oleh orang lain."
Aku menoleh ke arah Ashar.
Dia menatap lantai.
Seperti seseorang yang tahu pembicaraan ini akan terjadi cepat atau lambat.
"Ashar tidak pernah pacaran," lanjut Raka.
"Aku tahu."
Raka terlihat sedikit kaget.
"Dia sudah cerita?"
Aku mengangguk.
Raka tertawa kecil.
"Bagus."
"Lalu?"
Aku benar-benar ingin tahu sekarang.
Raka meminum kopinya sebelum melanjutkan.
"Kamu tahu kenapa dia seperti itu?"
Aku menggeleng.
Raka menatap Ashar.
Seolah meminta izin.
Ashar tidak menghentikannya.
Itu sudah cukup sebagai jawaban.
"Ashar tumbuh tanpa ayah."
Ruangan tiba-tiba terasa lebih sunyi.