Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 5
Gavin tertidur dengan lelap, sepertinya dia memang benar-benar sakit kepala. Hingga sore menjelang dia baru terbangun. Dia duduk bersandar menatap ke arah jendela kamar yang sudah mulai terlihat sedikit gelap. Ayana berada di ruang keluarga mengerjakan semua pekerjaannya.
Entah kenapa parasan Gavin terasa gamang, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya takut juga bingung. Apakah ini ada kaitannya dengan calon istrinya, Vania dan keluarganya? Entahlah dia juga tidak tahu, namun yang pasti dia sudah menentukan pilihan memilih Vania menjadi istrinya. Dan apapun yang terjadi Dia akan bertanggung jawab sendiri seperti yang dikatakan kedua orang tuanya.
Gavin melihat ponselnya, tak seperti biasanya tidak ada pesan satupun dari Vania. Biasanya kekasihnya akan mengirimkan banyak pesan juga panggilan kepadanya. Jika satu pesannya tidak cepat-cepat dibalas. Atau Vania akan terus menghubungi dirinya saat meminta dibayarkan barang belanjaannya. Gavin mencoba menghubungi Vania. Tapi tak ada jawaban, setelahnya dia mengirim pesan.
"Tumben, apa mungkin dia sedang istirahat? Apalagi besok adalah hari pernikahan kami. Ah, aku juga belum mengecek gedung resepsi!" ucap Gavin sedikit men-de-/sah.
Dia segera menghubungi Cakra untuk memantau persiapan acara pernikahannya besok. Setelahnya dia memilih untuk membersihkan diri. Menjelang hari pernikahannya dia malah merasa kurang enak badan seperti ini. Mungkin karena banyaknya tekanan yang dia terima baik dari keluarga maupun dari calon istrinya. Tapi hidup adalah pilihan dan Gavin sudah memilih.
"Kamu belum pulang?" tanya Gavin saat melihat Ayana sedang sibuk dengan banyak berkas dan laptop di depannya.
"Oh sudah bangun? Tidur anda pulsa sekali sampau ngoroknya terdengar kesini!" jawab Ayana membuat Gavin berdecak.
Gadis itu ternyata benar-benar menunggunya seperti ucapannya tadi. Jika dia akan ada di sana menunggu, khawatir jika keadaannya lebih buruk lagi.
"Mana ada! Aku nggak pernah ngorok!" Jawab Gavin kesal.
"Iya lah, anda nggak pernah ngorok. Hanya kalau tidur selalu berisik! Karena anda sudah bangun, saya pamit pulang dulu karena saya juga ada urusan lain!" Ayana membereskan semua berkas pekrjaaan dan juga laptopnya.
"Aku lapar!" ucap Gavin sedikit merengek.
Anya memutar bola matanya malas dengan kelakuan Gavin yang seperti ini. Padahal apa susahnya tinggal pesan makanan siap saji. Kenapa merepotkan sekali.
"Di dapur tak ada bahan makanan, saya tidak belanja. Karena mulai besok kan sudah ada Nyonya di rumah ini, sehingga semuanya nanti dialah yang akan mengatur! Paling yang tersisa hanya mie instan dan telur saja," jawab Ayana jujur.
"Ya sudah masak yang ada saja! Lagian Kenapa pasti dikosongin sih semua stok makanan!" Kesal Gavin merengut.
"Khawatir akan dibuang oleh Nyonya rumah ini nantinya. Apalagi tahu kalau yang belanja adalah saya Pak! Anda tahu sendiri calon istri anda itu benci banget sama saya! Daripada makanan itu dibuang percuma kan sayang banget tuh!" jawab Ayana santai membuat Gavin mencebik dan mengikuti langkah Ayana dari belakang.
"Apa tak ada nasi sedikitpun?" tanya Gavin masuk ke dalam dapur dan mengamati di sana.
"Ada kalau tidak salah, apa mau buat nasi goreng saja?" tanya Ayana membuka penanak nasi.
"Itu jauh lebih baik dari pada aku makan mie instan! Memangnya kamu yang selalu makan makanan seperti itu!" Gavin duduk di kursi sambil memegang sendok dan garpu.
"Bisa nggak jangan berisik! Anda sudah akan menikah besok. Tapi kelakuan anda seperti anak kecil. Di kantor sok-sokan cool dan keren, padahal nyatanya manja bener! Apa Vania tahu kelakuan anda seperti ini? Jangan sampai dia syok setelah menikah nantinya!" kesal Ayana karena suara sendok beradu dengan meja membuatnya pusing.
"Kalau sama Vania pasti berbeda, sedangkan kamu kan hanya asisten pribadi saja! Lagian harusnya kamu tuh baik-baik padaku karena kamu tak akan lagi akan pergi dan jadi pengangguran!" ujar Gavin.
"Apa nggak kebalik? Harusnya di detik-detik saya akan pergi, anda berbuat baik sekali-kali kepada saya! Karena mungkin setelah ini kita tak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama!" jawab Ayana tanpa berbalik dan fokus dengan masakannya.
Gavin menaikkan sebelah alisnya. Entah kenapa dia tak suka saat mendengar Ayana mengatakan akan pergi dan menghilang. Sebenarnya, selama ini pekerjaaan Ayana selalu bagus, tapi memang karena dasarnya dari awal selalu kesal kepada Ayana sehingga membuat apapaun yang di lakukan asistennya itu tak pernah membuatnya suka. Dan bawaannya emosi, apalagi Ayana selalu berani menjawab ucapannya.
"Memangnya kamu aku pergi ke mana? Ke luar negri? Jadi kamu sudah mempersiapkan segalanya setelah keluar dari pekerjaanmu ini?" tanya Gavin penasaran.
"Anggap saja begitu. Lebih tepatnya saya akan melanjutkan niat yang tertunda karena harus menjadi asisten pribadi anda. Besok terakhir kali saya menjadi asisten anda, karena setelahnya sudah ada Vania yang akan mengurus semua kebutuhan Anda mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur lagi," Ayana memberikan sepiring nasi goreng untuk Gavin.
"Makanlah, masakan terakhir saya untuk anda!" ucap Ayana setelahnya tersenyum.
Gavin malah salah fokus saat melihat senyum Ayana untuk pertama kalinya. Karena gadis itu tak pernah sekalipun tersenyum padanya selama tiga bulan ini. Ayana yang dia kenal tukang ngomel dan bantah. Terkadang merengut dan marah-marah tidak jelas. Kali ini dia tersenyum manis.
"Saya pamit pulang dulu Pak Gavin!" pamit Ayana setelahnya sambil menggendong tas ransel dan sudah berganti dengan pakaian casual. Selalu seperti itu jika dia akan pulang.
"Kenapa masih jam segini kamu pulang? Ini masih jam tujuh malam, biasanya kamubpulang jam sembilan!" tanya Gavin melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Saya ada keperluan lain, Pak! Lagi pula nanti subuh saya akan menjemput anda untuk ke hotel dan mempersiapkan pernikahan Anda," jawab Ayana. Gavin terdiam dan mengangguk.
"Jangan telat! Aku tak ingin pesta pernikahanku kacau karena kamu telat datang menjemputku karena kamu kelayapan tidak jelas!" ucap Gavin membuat Ayana mendelik.
Pikiran Gavin padanya memang selalu buruk, udah pernah sekalipun dia mengatakan hal baik tentang dirinya. Mungkin karena melihat penampilan dia jika di luar kantor, atau mungkin saat di kantor pun dia memang sedikit tomboy dan grusukan juga gampang bergaul dengan para karyawan lainnya.
Ayana melajukan motor besarnya ke sebuah tempat, lebih tepatnya seperti sebuah markas. Semua orang menyambut kedatangan Ayana, mereka mengetahui kedatangannya dari suara motor khas milik Ayana.
"Selamat datang Nona," sapa mereka. Ayana hanya mengangguk sedikit menjawab sapaan mereka.
"Apa banga Darren susah datang?" Tanya Ayana kepada salah satu dari mereka.
"Sudah nona, beliau menunggu ada di tempat latihan menem-bak," jawabnya.
Ayana mengangguk dengan langkah tegap dan juga dengan aura yang berbeda dia pergi menemui pria bernama Bang Darren. Entah apa hubungannya antara mereka dan juga markas yang pastinya tak lain adalah sebuah markas kelompok bawah.