Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
“ Tentu saja. Tetapi untuk sayur – sayuran ini, kami juga mau. Akan lebih baik lagi jika kamu memiliki wortel dan juga bawang bombay,” ucap paman Jiang sambil menunjuk karung – karung berisi sayur segar milik Su Ran.
Mereka bertiga tidak akan lupa dengan rasa sayur capcay yang dimasak oleh Su Ran. Pertama kali menyuapkan potongan wortel, mereka sadar jika sayuran ini sedikit berbeda dengan sayuran yang dibeli dipasar pada umumnya.
Beberapa hari ini, Feng Yu menyediakan menu Capcay dan tetap merasa ada yang kurang hingga ia menyimpulkan jika sayuran Su Ran yang mempengaruhi rasa lalu mendesak Jiang Ran untuk memesan sayur kepada Su Ran.
Bagi Su Ran permintaan ini justru menjadi jalan pemasaran baginya. Su Ran langsung menyanggupi dan berjanji akan menyediakan masing – masing 200 Kati.
Jiang Ran meminta A Ming untuk mengunjungi Lao Wen ke tokonya. Hanya dalam waktu 10 menit, Lao Wen kembali bersama dengan A Ming.
“ Ada apa, Lao Ji? Kau ingin memberiku makanan gratiskah?” suara lantang ciri khas tuan Wen segera terdengar nyaring. Su Ran mengamati dengan seksama orang yang akan menjadi calon mitranya ini.
“ Kau hanya terus memikirkan makanan? Dasar singa rakus,” dengus Feng Yu bercanda. Tuan Wen hanya terkekeh menanggapi gurauan salah satu sahabatnya itu.
“ Jangan salahkan mulutku yang rakus. Menu bumbu baladomu itu, meski sangat pedas tetapi sangat enak. Untung saja kau membuat yang pedasnya sedikit ringan hingga aku dan anakku bisa memakannya,” tuan Wen berdalih sambil mencari kursi untuk duduk.
Alis Su Ran sedikit terangkat, jelas kemarin dia memberikan resep untuk balado pedas, sedikit pedas yang menyengat. Tak mengira jika paman Feng benar – benar cakap mengutak atik bahannya. Sepertinya ia tidak salah bekerja sama dengan restoran ini.
“ Hah.. sudahlah, aku akan memberimu 1 porsi ayam balado pedas nanti. Sekarang Mari kita bahas bisnis,” ucap Paman Jiang yang disambut dengan tepuk tangan meriah oleh tuan Wen.
“ Lao Wen, ini adalah Xiao Ran. Jujur saja, sayur yang membuat menu kami semakin enak berasal dari pemuda ini,” Feng Yu segera mengenalkan Su Ran. Tuan Wen berhenti bercanda dan menatap bali Su Ran, tentu saja menilai Su Ran.
“ Hmm, pemuda yang menarik. Darimana dapatnya tanaman itu? Ah tapi itu tidak penting, lalu apa yang ingin kalian sampaikan padaku?” tanya tuan Wen penasaran. Jiang Ran menunjuk sebuah karung berisi beras dan meminta Tuan Wen mendekat dan memeriksa.
Butiran padat dan lebih besar dari padi biasa menjadi pemandangan pertama yang Wen Kai lihat ketika ia menyibakkan penutup karung.
Sebagai tuan beras yang sudah berpengalaman, tentu saja ia tahu jika hasil panen ini sungguh luar biasa. Aroma khas beras yang berkualitas tinggi langsung menyerang indera penciumannya.
“ Ka .. Kalian mendapatkan ini dari Anak Xiao Ran juga? Benda ini sungguh barang bagus. Aku sangat yakin jika dimasak pasti akan menghasilkan nasi yang kenyal dan pulen,” Wen Kai segera berceloteh dengan semangat. Sama halnya ketika Feng Yu bertemu dengan bahan dan sayur – sayuran yang segar, bersemangat.
“ Ya, ini juga dari Xiao Ran. Anak ini bertanya kepadaku apakah memiliki kenalan yang mau membeli dalam jumlah banyak,” terang Jiang Ran melanjutkan.
Tuan Wen tampak kesenangan. Ia langsung menyetujui bahkan ia meminta untuk langsung datang saja ke tokonya begitu ada panen selanjutnya.
“ Berapa harganya, Nak?” tanya Tuan Wen dengan lugas. Su Ran sedikit berpikir sejenak. Ia ingat harga 1 kati beras sekarang sekitar 200 – 215 rupiah. Tetapi ia menjual gandumnya senilai 250 rupiah. Ia akan menyamakannya saja dengan harga penjualan gandum.
“ Paman Wen, ini adalah hari pertemuan kita yang pertama. Paman juga pasti tahu jika hasil panenku ini lebih unggul dari padi kebanyakan,” ucap Su Ran. Tuan Wen mengangguk setuju.
“ Paman, aku akan menjual beras ini 250 rupiah per kati,” jawab Su Ran dengan mantap.
Tuan Wen sedikit terdiam dan berpikir sejenak. Ia tadi sempat menggigit sebutir beras tersebut dan rasanya bahkan terasa enak. Ia sangat tahu perbedaannya.
Tuan Wen mengangguk setuju. Ia sudah menyiapkan harga jual yang pantas untuk varian beras dai pemuda Ran ini.
Jiang Ran, Feng Yu dan Su Ran bernafas lega. Setelah mendiskusikan beberapa persyaratan dengan Su Ran, tuan Wen segera meminta kertas dan pena kepada Jiang Ran untuk menulis kontrak.
Perjanjian segera dibuat. Wen Kai membawa pergi 500 kati beras unggul setelah membayar 125.000 rupiah
Su Ran juga mendapatkan uang dari Jiang Ran senilai 127.000 dari barang yang ia bawa hari ini. lalu Jiang Ran juga menambahkan sekitar 10.000, laba dari penjualan makanan dari resep Su Ran.
“ Paman, aku masih memiliki 10 kati beras ini. paman bisa menggilingnya menjadi tepung dan membuat menu baru. Aku akan mengajari paman membuat hidangan pencuci mulut, bubur sumsum,” ucap Su Ran. Feng Yu, tentu saja menjadi orang yang paling antusias. Keduanya langsung berkutat di dapur untuk mempelajari resep baru.
Jiang Ran dan A Ming hanya bisa menggelengkan kepala. Restoran sudah ditutup, sehingga memungkinkan keduanya untuk beristirahat sembari menonton keseruan koki Feng dan Su Ran.
“ A Ming, apakah kau tidak punya rekomendasi untuk bekerja disini? Aku sungguh kewalahan,” keluh Jiang Ran. A Ming sempat terdiam dan berpikir meski akhirnya tetap menggelengkan kepala.
Dirinya adalah yatim piatu yang diusir oleh paman dan bibinya lalu beruntung ditemukan oleh majikannya dan Jiang Ran, bagaimana bisa memiliki orang yang terpercaya?
“ Haaah, tuan muda memang tidak mengharapkan posisi kepala keluarga, tetapi putra pertama selalu saja bersikap waspada kepadanya. Restoran di depan, juga dibangun oleh anak buah nyonya pertama,” keluh Jiang Ran.
Jiang Ran adalah orang yang mengurus bisnis restoran ini atas perintah tuan mudanya, Jiang Tao. Tuan muda yang acuh dengan posisi kepala keluarga tetapi selalu dianggap musuh oleh tuan muda pertama, Jiang Dai.
Jiang Dai selalu mengawasi gerak gerik Jiang Tao. Melihat restoran yang dikelola saudaranya laris, ia kemudian menjegal sedikit demi sedikit.
Meniru resep, mengambil karyawan loyal dan juga kokinya sekaligus. Mendorong Restoran sedap Makan secara sedikit demi sedikit.
“ Tuan, kita harus bertahan sebentar lagi. Kita harus mencari orang – orang dengan perlahan, harus menelitinya satu – satu latar belakangnya supaya tidak terulang lagi,” ucap A Ming dengan hati – hati. Bayangan dikhianati oleh teman – temannya memang membekas juga di hatinya,
Jiang Ran menghela nafas tetapi mengangguk setuju.
“ Paman, aku memiliki beberapa kandidat orang yang sepertinya bisa diandalkan untuk membantumu dan kak A Ming,”
“ Lao Ji, Ming’er, cepat cepat, kalian harus mencoba betapa nikmatnya hidangan pencuci mulut yang baru aku buat ini...”