"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simpul Yang Terurai
Aula itu kini menyerupai hutan terbalik yang mengerikan. Ratusan tamu undangan bergelantungan di udara, kaki mereka menendang-nendang hampa dengan wajah membiru akibat jeratan benang merah yang tak kasat mata. Bagi Kiara, benang-benang itu terlihat seperti pembuluh darah raksasa yang menyedot energi kehidupan para tamu, mengalirkannya langsung menuju Adiwangsa yang berdiri angkuh di podium.
"Rey! Jangan dengarkan tawanya!" teriak Kiara. Ia berlari ke tengah aula, mengabaikan para pelayan yang jatuh pingsan karena ketakutan.
Kiara menarik napas dalam, melepaskan ikat rambutnya hingga rambut hitamnya terurai bebas. Simbol di pergelangan tangannya memancarkan cahaya ungu yang menyilaukan, membuat benang-benang di langit-langit bergetar hebat seolah ketakutan.
"Rendy! Bajak sistem audionya!" perintah Kiara lewat earpiece. "Mainkan rekaman pengakuan para korban! Suara kebenaran adalah satu-satunya yang bisa memutus benang kebohongan ini!"
Di ruang kontrol, jemari Rendy menari di atas keyboard dengan kecepatan gila. "Sedang gue usahain! Tapi Adiwangsa ngirim 'sesuatu' ke sini... Rey! Gue butuh bantuan di ruang kontrol!"
Reyhan melirik ke arah ruang kontrol sejenak, lalu kembali menatap ayahnya yang masih berdiri tegak, menikmati pemandangan maut di depannya.
"Lihat itu, Ayah," Reyhan membenarkan letak sarung tangan kulitnya yang kini basah oleh darah dari luka yang terbuka kembali. "Bahkan 'anak Indigo' dan 'Jurnalis culun' yang Ayah remehkan punya rencana yang lebih rapi dari jahitanku. Ayah sudah kalah zaman."
"Kamu terlalu banyak bicara untuk seseorang yang jantungnya sebentar lagi akan kujadikan kancing baju, Reyhan," desis Adiwangsa sambil menggerakkan jarinya layaknya dirigen musik kematian.
Sret!
Sepuluh tamu yang tergantung paling dekat dengan Reyhan dijatuhkan ke lantai. Namun, mereka tidak bangkit sebagai manusia. Tubuh mereka digerakkan paksa oleh benang gaib, menyerang Reyhan dengan gerakan patah-patah yang mengerikan.
Reyhan menghindar dari cakaran seorang Jenderal yang kini tak lebih dari zombi marionette. Ia tidak menggunakan senjata api—ia tahu peluru takkan mempan melawan sihir benang. Dengan gerakan akrobatik, ia melompat ke atas meja prasmanan, menggunakan ujung pisau keramiknya untuk memutus benang merah yang melayang di atas kepala mereka.
Crat!
Setiap kali benang putus, orang tersebut jatuh pingsan, terbebas dari kendali Adiwangsa.
"Kiara! Terus fokus!" seru Reyhan sambil berguling menghindari serangan berikutnya. "Gue urus boneka-boneka ini, lo urus si 'Sutradara'!"
Kiara mengangkat kedua tangannya ke arah podium. "Demi setiap lidah yang kamu cabut, demi setiap nyawa yang kamu jahit dalam diam... aku perintahkan takdir ini untuk BERHENTI!"
Adiwangsa meraung. Untuk pertama kalinya, wajah kaku itu menunjukkan ekspresi panik. Kekuatan Kiara melampaui perhitungannya. "Anak kecil sombong! Kamu pikir kamu siapa?!"
"Aku adalah suara dari mereka yang kamu bungkam!" balas Kiara dengan suara yang mengguncang aula.
Tiba-tiba, seluruh pengeras suara di aula meledak dengan suara statis, diikuti rekaman suara yang jernih. Rendy berhasil. Bukan cuma suara teriakan, tapi rekaman suara Adiwangsa sendiri saat memberikan instruksi pembunuhan puluhan tahun lalu.
"...Cabut lidah mereka, jahit mulutnya. Pastikan tidak ada satu kata pun yang keluar dari gedung ini."
Suara itu diputar berulang-ulang, menghantam mental Adiwangsa. Benang-benang yang mengendalikan para tamu putus serentak. Ratusan orang jatuh berdebum ke lantai seperti karung beras—pingsan, namun akhirnya bisa bernapas kembali.
Papan tenun gaib yang melindungi Adiwangsa retak total.
"Sialan kalian!" Adiwangsa menatap putranya dengan mata merah padam. "Kalau aku harus hancur, maka kalian semua harus ikut denganku!"
Adiwangsa menarik seutas benang hitam yang melilit jantungnya sendiri. Seketika, gedung kepolisian bergetar hebat. Retakan besar muncul di lantai aula, membelah karpet merah mewah itu menjadi dua.
"Rey! Gedungnya mau diledakkan!" teriak Rendy lewat radio yang mulai terganggu. "Dia masang bom di bawah fondasi!"
Reyhan tidak lari. Ia justru memacu kakinya, melompati meja-meja yang hancur menuju podium. Dengan satu terjangan maut, ia mencengkeram tubuh ayahnya.
"Ayah... kita tidak ke mana-mana," bisik Reyhan tepat di telinga Adiwangsa saat mereka berdua jatuh terjerembap ke dalam retakan lantai yang menganga. "Kita punya janji untuk makan malam di neraka, kan?"
"REYHAN!" jerit Kiara, berusaha meraih tangan pria itu, namun ia hanya menangkap udara kosong.
Lantai aula runtuh total. Debu dan puing-puing menelan sosok Reyhan dan Adiwangsa ke dalam kegelapan rubanah yang mulai dilalap api.