dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Sa'at Mengantar Pesanan
Hari-hariku berjalan dengan rutinitas yang sama: sekolah, mengerjakan kerajinan, dan mengantar pesanan. Meski hatiku terasa beku dan mati rasa terhadap urusan perasaan, tanganku tetap lincah bekerja dan kakiku tetap kuat melangkah. Uang hasil kerjaku adalah satu-satunya hal yang nyata dan bisa aku pegang saat ini.
Suatu siang, sepulang sekolah, aku ingat ada pesanan kerajinan kotak penyimpanan dari seorang tetangga desa yang memesan beberapa hari lalu. Aku sudah menyelesaikannya dengan rapi, dan sekarang tugasku adalah mengantarkannya.
Namun, saat aku sudah berjalan jauh menuju desa yang disebutkan orang itu, aku baru tersentak kaget.
"Aduh! Kenapa kemarin aku tidak bertanya detail alamatnya?" gerutuku dalam hati sambil menghentikan langkah. Aku memukul pelan dahiku sendiri. Bodoh sekali aku. Saat menerima pesanan kemarin, aku hanya sempat bertanya dia berasal dari desa mana, dan dia menyebutkan nama desa ini. Tapi aku lupa menanyakan di mana tepatnya rumahnya, di sebelah mana, atau ciri-ciri rumahnya apa.
Sekarang aku berdiri di tengah jalan desa yang cukup sepi, membawa kotak kerajinan di tangan, bingung harus mencari ke mana.
"Ya sudah, coba tanya orang lewat saja," pikirku.
Tak lama kemudian, aku melihat seseorang berjalan mendekat dari arah berlawanan. Dari kejauhan, orang itu terlihat biasa saja. Wajahnya terlihat normal, pakaiannya juga rapi dan bersih, tidak terlihat kumel atau berantakan seperti gambaran orang gila yang biasanya aku lihat. Aku pun mengira dia adalah warga desa yang baik-baik saja.
Aku segera menyapa dan bertanya dengan sopan, "Permisi, Pak. Maaf ganggu sebentar. Bapak tahu tidak rumahnya Ibu yang pesan kotak kerajinan ini? Namanya Ibu..." aku menyebutkan nama pemesan dan menggambarkan sedikit ciri-cirinya.
Orang itu berhenti dan menatapku. Aku menunggu jawabannya dengan harap-harap cemas. Namun, bukannya menjawab pertanyaanku, tiba-tiba wajahnya berubah garang. Dia mulai berteriak-teriak dengan suara keras dan tidak jelas, "Hah?! Apa katamu?! Berani-beraninya kamu ganggu aku! Aku ini raja! Raja hutan! Minggir! Minggir!"
Lalu, tanpa peringatan apa pun, dia tertawa terbahak-bahak dengan suara yang sangat keras dan menyeramkan, "Hahaha! Hahaha! Bodoh! Bodoh! Semua bodoh!" sambil mengayun-ayunkan tangannya seolah ingin menangkapku.
Mataku terbelalak kaget. Jantungku seakan berhenti berdetak sejenak. Ternyata dia orang gila! Tapi kenapa penampilannya begitu rapi dan normal?
Tanpa berpikir dua kali, aku langsung berbalik arah dan lari secepat kilat. Aku memeluk kotak kerajinan itu erat-erat agar tidak jatuh, sementara kakiku berlari sekuat tenaga. Aku bisa mendengar suara teriakan dan tawa orang itu masih mengejar di belakangku, membuat bulu kudukku merinding semua.
Aku lari terbirit-birit, menyeberang jalan, masuk ke gang kecil, dan berbelok beberapa kali sampai aku yakin aku sudah jauh dari tempat itu. Hanya ketika suaranya sudah tidak terdengar lagi dan aku sudah kehabisan napas, aku baru berhenti di sebuah pohon besar, bersandar sambil terengah-engah.
"Hah... hah... hah..." napasku memburu. Jantungku berdegup kencang banget, rasanya hampir mau copot keluar dari tempatnya. Keringat dingin mulai membasahi punggungku.
"Untung... untung aku lari cepat," bisikku sambil memegangi dadaku yang berdebar kencang. Aku menengok ke belakang, memastikan tidak ada yang mengejar.
Kejadian ini adalah salah satu momen yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Siapa sangka orang yang terlihat begitu rapi dan wajar ternyata tidak waras? Dan siapa sangka aku, Laras yang biasanya pendiam dan lemah, bisa lari secepat atlet hari ini karena ketakutan. Campuran rasa kaget, takut, dan akhirnya rasa lega itu bercampur jadi satu, membentuk kenangan yang begitu kuat di ingatanku.
Setelah napasku mulai teratur, aku kembali melanjutkan pencarianku, tapi kali ini dengan lebih hati-hati. Akhirnya, setelah bertanya pada beberapa orang lain yang benar-benar terlihat warga biasa, aku berhasil menemukan rumah pemesan dengan selamat.