NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan dan Benang Merah yang Terpaksa

Paviliun utama Valois tampak sangat sibuk sore itu. Pelayan berlalu-lalang menyiapkan perjamuan teh formal di taman mawar. Madame Valois, nenek Eisérre yang memiliki tatapan setajam elang, duduk dengan punggung tegak sempurna. Di sampingnya, seorang gadis cantik dengan gaun mewah berwarna kuning gading, Lady Belle dari House of Beaumont, tersenyum malu-malu.

Eisérre melangkah masuk ke area taman dengan wajah sedatar tembok beton. Meski tanpa seragam kebesarannya, aura kemuliaan yang mengintimidasi tetap terpancar dari setiap gerakannya.

"Kau terlambat sepuluh menit, Eisérre," ucap Madame Valois tanpa basa-basi, suaranya dingin dan penuh penekanan.

"Ada urusan di paviliun yang harus Saya selesaikan," jawab Eisérre singkat sambil menarik kursi, duduk tepat di depan Isabelle tanpa minat sedikit pun.

"Urusan apa yang lebih penting daripada menemui calon istrimu?" Madame Valois menyipitkan mata, mencoba mencari celah di mata biru cucunya. "Aku dengar kau menghabiskan lebih banyak waktu di paviliun pribadi akhir-akhir ini. Bahkan kau melarang pelayan utama masuk ke sana."

Eisérre menyesap tehnya perlahan, matanya yang sebiru danau malam itu tetap tenang. "Hanya butuh ketenangan setelah perang, Nenek. Bukan hal yang perlu Anda cemaskan."

Belle mencoba mencairkan suasana. "Jenderal, saya mendengar Anda membawa banyak kemenangan dari perbatasan. Seluruh bangsawan membicarakan keberanian Anda."

Eisérre menatap Belle datar. "Kemenangan hanyalah angka kematian yang lebih sedikit di pihak kita, Lady Belle. Tidak ada yang istimewa dari itu."

Jawaban kaku itu membuat Isabelle tersenyum canggung. Madame Valois berdeham keras, merasa otoritasnya sedang diuji. "Cukup basa-basinya. Belle akan tinggal di kediaman utama selama satu minggu ini agar kalian bisa saling mengenal. Dan bulan depan, kita akan mengumumkan pertunangan ini secara resmi di hadapan Raja Alaric."

Eisérre meletakkan cangkirnya dengan bunyi klunting yang tajam. "Saya belum memberikan jawaban 'iya', Nenek."

"Kau tidak perlu memberi jawaban. Ini adalah kewajibanmu sebagai Adipati Valois," balas sang nenek dengan nada final. "Kecuali... kau punya alasan lain? Atau mungkin, kau menyembunyikan sesuatu di paviliun itu?"

Jantung Eisérre berdenyut sekali, sangat tipis namun ia merasakannya. Wajah imut Geneviève yang sedang tertidur dengan perban di dahi tiba-tiba terlintas di pikirannya. Gadis itu jauh lebih menarik daripada perjamuan membosankan ini.

"Saya tidak menyembunyikan apa pun yang menjadi urusan Anda," ujar Eisérre sambil berdiri. "Permisi. Saya harus kembali ke kantor militer."

Eisérre melangkah pergi, meninggalkan Madame Valois yang mulai merasa ada yang tidak beres. Sang nenek memanggil kepala pelayan pribadinya setelah Eisérre menghilang dari pandangan.

"Cari tahu apa yang dia simpan di paviliun itu. Jika ada seorang wanita di sana, pastikan kau tahu siapa dia sebelum matahari terbenam besok," perintah Madame Valois dengan nada rendah yang berbahaya.

Sementara itu, di paviliun, Geneviève sedang duduk di pinggir sungai kecil yang airnya jernih. Ia memperhatikan seekor burung kecil yang sayapnya tersangkut dahan berduri. Dengan gerakan sangat lihai—gerakan tangan seorang dokter yang terlatih—ia melepaskan duri itu dan membalutnya dengan sapu tangan sutra yang ia temukan di kamar.

"Kau punya tangan yang sangat terampil untuk seseorang yang tidak ingat identitasnya sendiri," suara bariton itu mengejutkannya.

Eisérre berdiri di balik pohon ek besar, memperhatikannya sejak tadi. Ia baru saja kembali dari perjamuan yang menyebakkan, dan melihat Geneviève dengan burung kecil di tangannya entah bagaimana membuat amarahnya mereda.

Geneviève menoleh, wajah baby face-nya tampak bersinar di bawah cahaya senja. "Insting, kurasa. Tuan Jenderal, apakah kau sudah menemukan siapa aku?"

Eisérre berjalan mendekat, menatap mata cokelat Geneviève yang tulus. Ia tahu dunia luar sedang gempar mencari Putri d’Orléans, dan ia mulai menyadari bahwa ciri-ciri gadis ini sangat mirip dengan deskripsi Putri yang hilang. Tapi ego dan rasa posesif yang tiba-tiba muncul membuatnya membisu.

"Belum," bohong Eisérre. "Mulai sekarang kamu pakai nama Ève dulu ya." Ucapnya lagi tanpa tahu bahwa nama itu akan menjadi Boomerang untuknya nanti.

Geneviève hanya tersenyum tipis, tidak menyadari bahwa di kediaman utama, sebuah rencana untuk mengusirnya sedang disusun oleh nenek Eisérre.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!