NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: TOKOPAIJO

UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.

Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.

Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.

Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.

Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.

Namanya Raka.

Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.

Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi di Tahun yang Salah

Tadi malam mungkin hanya awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.

Suara sapu lidi menyeret lantai semen terdengar dari luar.

Srek… srek…

Nara mengerjapkan matanya.

Cahaya matahari sudah masuk dari jendela kecil di kamar itu.

Tidak terang.

Namun cukup membuat ruangan terlihat jelas.

Ia menatap langit-langit beberapa detik.

Butuh waktu bagi pikirannya untuk mengejar kenyataan.

Kasur tipis.

Dinding dengan poster band.

Radio kecil di meja.

Gitar yang bersandar di kursi.

Semua terasa asing.

Lalu semuanya kembali.

Terminal.

Taman.

Rumah kecil ini.

Tahun 1995.

Nara menarik napas pelan.

“Jadi ini bukan mimpi…”

gumamnya hampir tidak terdengar.

Dari luar rumah terdengar suara orang berbicara.

Seorang ibu memanggil anaknya.

“Cepat mandi! Nanti terlambat sekolah!”

Motor tua lewat di gang dengan suara mesin yang berat.

Di rumah sebelah terdengar radio menyala.

Penyiar sedang membaca berita pagi dengan nada serius.

Nara perlahan duduk.

Selimutnya jatuh ke pangkuannya.

Kamar itu terlihat berbeda di pagi hari.

Sekarang terlihat lebih jelas.

Ia melihat kursi dekat jendela.

Kosong.

Nara menoleh ke arah pintu.

Terdengar suara dari dapur kecil.

Logam bertemu logam.

Air mendidih.

Dan suara seseorang bersenandung pelan.

Nara berdiri dari kasur.

Kakinya menyentuh lantai yang dingin.

Ia berjalan menuju pintu dapur.

Begitu sampai di ambang pintu, ia berhenti.

Raka berdiri di depan kompor kecil.

Kaos hitam sederhana.

Rambutnya sedikit berantakan seperti baru bangun.

Ia sedang menuang air panas ke dalam dua gelas.

Di meja dapur kecil ada roti tawar dan selai.

Raka menoleh.

Ia melihat Nara berdiri di pintu.

“Pagi.”

katanya santai.

Seolah semuanya normal.

Nara masih sedikit kaku.

“…pagi.”

Raka mendorong satu gelas teh ke arah meja.

“Nyenyak tidurnya?”

Nara berjalan masuk sedikit.

“Lumayan.”

Raka tersenyum kecil.

“Biasanya orang yang pertama kali tidur di sini mengeluh tentang kasurnya.”

Nara duduk di kursi kecil.

“Tidak seburuk itu kok.”

Raka mengangguk puas.

“Bagus kalo begitu.”

Ia mengambil roti dan mulai mengoleskan selai.

Gerakannya santai.

Seolah pagi ini hanyalah pagi biasa baginya.

Namun bagi Nara…

semuanya terasa seperti dunia lain.

Ia memegang gelas teh.

Uapnya hangat di wajahnya.

“Sekarang jam berapa?”

tanya Nara.

Raka melirik jam dinding kecil di dapur.

“Setengah delapan.”

Nara mengangguk pelan.

Setengah delapan.

Di zamannya…

ia mungkin sedang bersiap pergi kerja.

Atau masih tertidur di kamar apartemennya.

Sekarang ia berada di dapur kecil di tahun 1995.

Raka duduk di kursi seberangnya.

Ia menggigit roti.

“Jadi,” katanya setelah menelan.

“Selamat datang di pagi pertama kamu di tempat aneh ini.”

Nara menatapnya.

“Tempat aneh?”

Raka mengangkat bahu.

“Kamu bilang kamu tersesat.”

Ia menunjuk jendela dengan dagunya.

“Sekarang kamu tersesat di pagi hari.”

Nara hampir tertawa kecil.

Ia meminum teh pelan.

Rasanya sederhana.

Namun hangat.

Raka menatapnya sebentar.

“Setelah sarapan…”

Ia menunjuk ke arah luar rumah.

“…aku biasanya pergi ke kota.”

“Kenapa?”

“Melihat tempat orang hidup.”

Ia menyeringai kecil.

“Terminal hanya untuk malam hari.”

Nara memandang jendela kecil itu.

Cahaya pagi semakin terang di gang.

Suara orang-orang mulai ramai.

Hari baru sedang dimulai.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di masa ini…

Nara harus benar-benar menghadapi kenyataan.

Ia akan menjalani hari di tahun 1995.

Raka berdiri dari kursi.

Ia menaruh gelas kosong di wastafel kecil.

“Kalau kamu sudah selesai…”

Ia menunjuk pintu depan dengan dagunya.

“…ayo keluar.”

Nara menatapnya.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Raka meraih jaket tipis yang tergantung di dinding.

“Kalau terlambat sedikit saja…”

Ia menyeringai.

“…warung itu akan kehabisan nasi goreng.”

Nara berdiri dari kursi.

Ia masih memegang gelas teh yang hampir kosong.

“Warung?”

“Di ujung gang.”

Raka membuka pintu rumah.

Cahaya pagi langsung masuk ke dalam ruangan.

Udara pagi terasa lebih segar dibanding malam tadi.

Raka melangkah keluar lebih dulu.

Nara mengikutinya.

Begitu mereka keluar ke gang, suasana terasa sangat berbeda dari malam tadi.

Gang yang semalam sunyi sekarang hidup.

Seorang bapak tua sedang menyapu halaman rumahnya dengan sapu lidi.

Srek… srek…

Beberapa anak kecil berlari melewati mereka sambil membawa tas sekolah.

Seorang ibu berdiri di depan rumah sambil menjemur pakaian.

Radio dari salah satu rumah memutar lagu dangdut pagi.

Nara memperhatikan semuanya.

Suasana itu terasa sederhana.

Namun anehnya terasa hangat.

Raka berjalan santai seperti semalam.

Ia mengangkat tangan ke arah bapak yang sedang menyapu.

“Pagi, Pak.”

Bapak itu mengangguk.

“Pagi.”

Ia melirik Nara sebentar.

“Teman?”

Raka menjawab singkat.

“Ya.”

Bapak itu tidak bertanya lagi.

Ia kembali menyapu.

Nara berjalan di samping Raka.

“Kamu kenal semua orang di sini?”

Raka tertawa kecil.

“Kalau tinggal di gang kecil… semua orang akhirnya akan saling kenal.”

Mereka berjalan sampai ujung gang.

Di sana ada warung kecil dengan atap seng.

Beberapa bangku kayu berdiri di depannya.

Asap dari wajan besar naik ke udara.

Aroma nasi goreng langsung tercium bahkan sebelum mereka sampai.

Seorang pria setengah baya berdiri di belakang wajan.

Tangannya bergerak cepat mengaduk nasi.

Cesss...

Api kompor menyala besar sebentar.

Raka duduk di bangku kayu.

“Pagi, Pak.”

Pria itu menoleh.

“Pagi.”

Ia melihat Nara lalu tersenyum sedikit.

“Teman baru?”

Raka mengangguk.

“Dua nasi goreng.”

“Telur?”

“Pakai.”

Pria itu langsung kembali ke wajan.

Suara spatula logam beradu dengan wajan terdengar keras.

Nara duduk di bangku sebelah Raka.

Ia memperhatikan warung kecil itu.

Di meja kayu ada botol kecap.

Sambal.

Sendok logam yang disimpan dalam gelas plastik.

Di bangku lain ada dua pria sedang membaca koran.

Halaman depan koran terlihat jelas.

Tanggalnya tercetak besar.

1995.

Nara menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Masih terasa aneh melihat angka itu.

Raka memperhatikan.

“Kamu melihat koran seperti melihat rahasia negara aja.”

Nara menoleh.

“Tidak.”

Raka menyeringai.

“Kamu melakukan itu terus.”

“Apa?”

“Melihat benda biasa seperti benda langka.”

Nara mengangkat bahu kecil.

“Mungkin aku jarang keluar rumah.”

Raka tertawa kecil.

“Kalau begitu kamu memilih hari yang tepat.”

Ia menunjuk ke arah wajan.

“Nasi goreng di sini terkenal enaknya.”

Pria di warung itu meletakkan dua piring di depan mereka.

Nasi goreng panas dengan telur di atasnya.

Aroma bawang goreng langsung memenuhi udara.

Raka mengambil sendok.

“Silakan makan.”

Nara melihat piring itu sebentar.

Ia lalu mengambil sendok juga.

Suapan pertama terasa hangat dan gurih.

Lebih sederhana dari restoran modern.

Namun rasanya sangat nyata.

Raka memperhatikannya.

“Enak?”

Nara mengangguk.

“Enak.”

Raka tersenyum puas.

“Aku bilang juga apa.”

Ia mulai makan dengan santai.

Orang-orang di warung mulai datang satu per satu.

Seorang pria duduk di bangku sebelah mereka.

Ia menepuk bahu Raka.

“Masih hidup, ternyata.”

Raka tertawa.

“Sayangnya.”

Pria itu melihat Nara.

“Wah.”

Ia menyeringai.

“Kamu akhirnya punya teman selain gitar.”

Raka menggeleng.

“Dia hanya tersesat.”

Pria itu tertawa kecil.

“Kalau begitu selamat datang di gang paling ribut di kota ini.”

Nara tersenyum tipis.

Namun di dalam kepalanya…

satu hal terasa semakin jelas.

Ia benar-benar berada di dunia yang berbeda.

Dan hari ini baru saja dimulai.

Raka menaruh sendoknya di piring kosong.

“Sudah?”

Nara mengangguk.

“Ya.”

Raka berdiri dari bangku kayu.

Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku jaketnya dan menaruhnya di meja.

“Terima kasih, Pak.”

Pemilik warung mengangguk tanpa berhenti mengaduk nasi di wajan.

“Besok datang lagi.”

Raka menyeringai kecil.

“Kalau masih hidup.”

Pria itu mendengus.

Nara ikut berdiri.

Mereka berjalan meninggalkan warung di ujung gang.

Begitu keluar dari gang, jalan utama sudah jauh lebih ramai dibanding tadi malam.

Mobil lewat hampir tanpa henti.

Bus kota besar berhenti di pinggir jalan.

Orang-orang naik turun dengan terburu-buru.

Seorang kondektur berdiri di pintu bus sambil berteriak,

“Dago! Dago! Dago!”

Suara klakson bersahutan.

Sepeda motor melintas di antara mobil.

Pedagang kaki lima mulai membuka lapak mereka di trotoar.

Nara berhenti sebentar di pinggir jalan.

Ia menatap semua itu.

Kota yang semalam terasa tenang sekarang berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih hidup.

Raka berdiri di sampingnya.

“Kenapa?”

Nara menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa.”

Ia menunjuk jalan.

“Ramai sekali ya.”

Raka tertawa kecil.

“Ini belum apa-apa.”

Ia menunjuk ke arah pusat kota.

“Nanti bakal lebih ramai lagi.”

Mereka mulai berjalan menyusuri trotoar.

Toko-toko sudah buka sekarang.

Rolling door logam diangkat satu per satu.

Lampu toko menyala terang.

Sebuah toko kaset besar menarik perhatian Nara.

Jendela kacanya dipenuhi poster musik.

Orang-orang berdiri di dalam toko sambil memilih kaset.

Raka melihat ke arah yang sama.

“Kamu suka tempat itu, ya?”

Nara menoleh.

“Hm?”

“Kamu terus melihat toko kaset.”

Nara tersenyum kecil.

“Karena kelihatan menarik.”

Raka menunjuk ke arah pintu toko.

“Mau masuk?”

Nara menggeleng.

“Tidak.”

Raka mengangkat bahu.

“Kalau begitu nanti saja.”

Mereka berjalan lagi.

Di pinggir jalan ada telepon umum yang sedang dipakai seorang pria.

Ia memasukkan koin lalu menutup pintu kotak telepon.

Beberapa meter dari sana, seorang pedagang menjual koran pagi.

Orang-orang berhenti dan membeli sebelum melanjutkan perjalanan.

Nara memperhatikan semuanya.

Setiap detail terasa seperti sesuatu yang pernah ia lihat…

namun bukan seperti ini.

Ia pernah melihat kota ini.

Namun di masa yang berbeda.

Bangunan yang sekarang terlihat baru…

di zamannya sudah berubah.

Beberapa bahkan sudah tidak ada.

Raka berjalan santai di sampingnya.

“Kamu benar-benar melihat kota ini seperti seorang turis.”

Nara menatapnya.

“Memang.”

Raka menyeringai.

“Padahal kamu bilang orang Bandung.”

Nara mengangkat bahu kecil.

“Bandung kan besar.”

“Benar juga sih.”

Raka menunjuk ke depan.

“Kalau begitu kita jalan sedikit lagi.”

“Ke mana?”

“Tempat aku biasa nongkrong.”

Nara mengerutkan alis.

“Nongkrong?”

Raka tertawa kecil.

“Nanti juga kamu tahu.”

Mereka berjalan melewati beberapa toko lagi.

Lalu sampai di sebuah area kecil di pinggir jalan.

Ada beberapa bangku panjang di bawah pohon.

Beberapa pemuda duduk di sana sambil minum kopi dari gelas plastik.

Salah satu dari mereka melihat Raka.

Ia langsung berdiri.

“Eh!”

Ia melambaikan tangan.

“Raka!”

Raka mengangkat tangan balasan.

“Pagi.”

Pemuda itu berjalan mendekat.

Ia melihat Nara sebentar.

Lalu kembali menatap Raka dengan senyum lebar.

“Kamu menghilang semalam.”

Raka mengangkat bahu.

“Semalam aku main musik.”

Pemuda itu tertawa.

“Aku tahu, soalnya kapan kamu tidak pernah main musik?”

Ia menepuk bahu Raka.

“Raka Pradipta, kamu memang tidak pernah berubah.”

Nama itu terdengar biasa bagi semua orang di sana.

Namun bagi Nara…

sesuatu di kepalanya tiba-tiba terasa seperti berhenti sebentar.

Ia menatap Raka.

Raka Pradipta.

Nama itu terasa sangat familiar.

Seolah ia pernah mendengarnya berkali-kali sebelumnya.

Namun ia belum bisa mengingat dari mana.

Dan untuk pertama kalinya…

sebuah perasaan aneh mulai muncul di dalam dirinya.

Seperti ada sesuatu yang perlahan mulai terhubung.

Namun sebelum Nara sempat memikirkan nama itu lebih jauh.

pemuda yang berdiri di depan mereka sudah menepuk bahu Raka lagi.

“Kamu benar-benar hilang semalam,” katanya.

“Bima sampai bilang kamu mungkin tidur di terminal lagi.”

Raka tertawa kecil.

“Masih terlalu pagi untuk mendengarkan rumor.”

Pemuda itu menyeringai.

“Kalau begitu kamu memang di terminal.”

“Sebagian benar.”

Pemuda itu akhirnya menoleh ke arah Nara.

Ia sedikit memiringkan kepala.

“Lalu, ini siapa?”

Raka menjawab santai,

“Teman.”

Pemuda itu mengangkat alis.

“Teman?”

Ia melirik Nara lagi.

“Teman dari mana?”

Raka mengangkat bahu.

“Terminal.”

Pemuda itu langsung tertawa.

“Of course.”

Ia mengulurkan tangan ke arah Nara.

“Aku Ardi.”

Nara ragu sepersekian detik sebelum menjabat tangannya.

“Nara.”

“Selamat datang di markas pengangguran paling sibuk di kota ini.”

Raka menyikutnya pelan.

“Kamu yang paling sering di sini.”

Ardi menunjuk bangku di bawah pohon.

“Itu karena aku pemilik tempat ini.”

Di bangku itu ada tiga orang lain.

Salah satunya melambaikan tangan.

“Raka!”

Raka mengangkat tangan balasan.

“Pagi.”

Mereka berjalan mendekat.

Seorang pria dengan rambut agak panjang sedang duduk sambil memegang cangkir kopi plastik.

Ia menatap Raka.

“Kamu masih hidup.”

Raka mengangguk.

“Masih.”

Pria itu menunjuk gitar di punggung Raka.

“Main lagi semalam?”

“Sedikit.”

“Sedikit berarti sampai pagi.”

Semua orang tertawa kecil.

Nara berdiri sedikit di belakang mereka.

Ia memperhatikan interaksi itu.

Cara mereka bercanda terasa sangat natural.

Seperti teman yang sudah saling mengenal sejak lama.

Ardi menunjuk bangku kosong.

“Duduk saja.”

Raka duduk duluan.

Nara ikut duduk di ujung bangku.

Pemuda dengan rambut panjang menunjuk Nara dengan cangkir kopinya.

“Jadi?”

Ia menatap Raka.

“Kamu akhirnya membawa orang ke sini.”

Raka mengangkat bahu.

“Kadang dunia memberi kejutan.”

Ardi menyeringai.

“Terminal memang tempat ajaib.”

Salah satu dari mereka berkata,

“Namamu Nara, ya?”

Nara mengangguk.

“Iya.”

Pria itu menunjuk dirinya sendiri.

“Bima.”

Ia menunjuk pria lain.

“Itu Deni.”

Deni mengangkat tangan kecil sebagai salam.

Ardi duduk di bangku paling ujung.

“Sekarang kamu sudah kenal semua pengangguran profesional di kota ini.”

Raka menepuk gitar di punggungnya.

“Jangan lupa musisi.”

Bima tertawa.

“Musisi tanpa album.”

“Belum.”

Beberapa detik mereka hanya tertawa dan minum kopi.

Nara memperhatikan Raka.

Ia terlihat berbeda ketika bersama teman-temannya.

Lebih santai.

Lebih hidup.

Tidak seperti pria yang ia lihat semalam di terminal.

Ardi mencondongkan tubuh sedikit ke arah Raka.

“Kamu main nanti malam?”

Raka mengangguk.

“Mungkin.”

“Di taman lagi?”

“Ya... seperti biasanya.”

Ardi melirik Nara.

“Kamu akan lihat konser gratis.”

Nara tersenyum kecil.

Bima tiba-tiba berkata,

“Eh, Rak.”

Raka menoleh.

“Apa?”

Bima menunjuk ke arah jalan.

“Ayahmu kemarin lewat sini.”

Raka mengerutkan alis sedikit.

“Serius?”

“Iya.”

“Dia cari kamu.”

Raka menghela napas kecil.

Ardi menyeringai.

“Masalah keluarga lagi?”

Raka mengangkat bahu.

“Biasa.”

Nara memperhatikan wajahnya.

Ekspresinya berubah sedikit.

Tidak banyak.

Namun cukup untuk terlihat.

Ia berkata pelan,

“Ayahmu sering mencarimu?”

Raka menatap jalan sebentar sebelum menjawab.

“Kadang.”

Ia menepuk gitar lagi.

“Biasanya karena ini.”

Ardi tertawa.

“Orang tua selalu khawatir anaknya tidak punya masa depan.”

Raka menyeringai.

“Untungnya masa depan belum datang.”

Semua orang tertawa lagi.

Ardi meneguk kopi dari gelas plastiknya.

“Jadi, Rak,” katanya sambil bersandar di bangku, “kamu masih main di taman malam ini?”

Raka mengangkat bahu.

“Kalau tidak hujan.”

Bima tertawa kecil.

“Kalau hujan juga kamu tetap main.”

“Itu dedikasi.”

“Tidak,” kata Raka santai, “itu karena aku tidak punya pekerjaan lain.”

Semua orang tertawa lagi.

Nara ikut tersenyum kecil.

Namun pikirannya masih tertahan pada satu hal.

Raka Pradipta.

Nama itu terus terulang di kepalanya.

Ia menatap Raka yang sedang bercanda dengan teman-temannya.

Cara ia duduk santai di bangku.

Cara ia tertawa.

Cara ia memegang gitar.

Semua terlihat begitu biasa bagi orang-orang di sini.

Namun bagi Nara…

sesuatu terasa aneh.

Seperti sebuah ingatan yang hampir muncul ke permukaan.

Ardi berdiri dari bangku.

“Aku harus pergi.”

Ia menunjuk ke arah jalan.

“Kerja siang.”

Bima tertawa.

“Kerja dua jam?”

“Lebih baik daripada nol jam.”

Ardi menepuk bahu Raka lagi sebelum pergi.

“Jangan sampai ayahmu benar-benar datang ke sini.”

Raka mendengus kecil.

“Kalau dia datang, kalian yang jelaskan.”

“Tidak mau.”

Semua orang tertawa lagi.

Beberapa menit kemudian mereka mulai bubar satu per satu.

Bima dan Deni berjalan ke arah jalan utama.

“Ketemu nanti malam!” teriak Bima sebelum pergi.

Raka mengangkat tangan tanpa berdiri.

“Ya, kalau aku masih hidup.”

Sekarang hanya tinggal Nara dan Raka di bangku itu.

Suasana tiba-tiba terasa lebih tenang.

Suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar di kejauhan.

Raka bersandar ke belakang.

“Maaf kalau mereka sedikit berisik.”

Nara menggeleng.

“Tidak.”

Ia berkata pelan,

“Mereka menyenangkan.”

Raka tersenyum kecil.

“Ya.”

Ia melihat ke arah jalan.

“Sudah lama aku kenal mereka.”

Beberapa detik mereka hanya duduk diam.

Kemudian Nara berkata pelan,

“Nama lengkapmu…”

Raka menoleh.

“Apa?”

Nara ragu sebentar sebelum melanjutkan.

“Raka Pradipta.”

Raka mengangguk santai.

“Iya.”

“Kenapa?”

Nara menatap tangannya sendiri.

“Aku merasa pernah mendengar nama itu.”

Raka mengangkat alis.

“Serius?”

Nara mengangguk pelan.

“Tapi aku tidak ingat di mana.”

Raka tertawa kecil.

“Mungkin aku sudah terkenal tanpa aku sadari ya.”

Nara hampir tersenyum.

“Mungkin.”

Namun di dalam pikirannya…

perasaan aneh itu belum hilang.

Bahkan semakin kuat.

Seolah nama itu terhubung dengan sesuatu yang sangat penting.

Namun ia belum bisa melihat gambarnya dengan jelas.

Raka berdiri dari bangku.

Ia menepuk gitar yang tergantung di punggungnya.

“Kalau kita terus duduk di sini…”

Ia menunjuk ke arah jalan kota.

“…kamu tidak akan pernah melihat kota ini dengan benar.”

Nara menatapnya.

“Maksudnya?”

Raka menyeringai.

“Ayo.”

Ia mulai berjalan ke arah trotoar.

“Kita jalan lagi.”

Nara berdiri dan mengikutinya.

Sinar matahari pagi sekarang sudah jauh lebih terang.

Orang-orang memenuhi trotoar.

Toko-toko semakin ramai.

Namun langkah Nara terasa sedikit lebih lambat.

Karena satu pikiran masih terus mengganggu kepalanya.

Raka Pradipta.

Nama itu terasa seperti sesuatu yang seharusnya ia tahu.

Seperti sesuatu yang pernah ia dengar…

berkali-kali.

Namun ia belum tahu di mana.

Dan ketidaktahuan itu justru membuat rasa penasaran di dalam dirinya semakin besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!