NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15: Pembuangan Sang Putri Mahkota

Pagi itu, Jakarta tidak disambut oleh kicau burung, melainkan oleh gerimis tipis yang membuat kaca-kaca jendela Mansion Setiawan berembun. Di dalam kamar utama yang biasanya kosong, Nara duduk di depan cermin besar. Bukan gaun pengantin bertabur berlian yang ia kenakan, melainkan kebaya putih sederhana milik Nyonya Sofia yang dimodifikasi sedikit oleh penjahit keluarga dalam semalam.

Wajah Nara pucat. Riasan tipis yang dipulaskan oleh pelayan senior atas perintah Nyonya Sofia tidak mampu menyembunyikan mata yang bengkak dan sorot yang kehilangan binarnya. Di kepalanya, kerudung putih menyampir lembut, namun bagi Nara, kain itu terasa seberat rantai besi.

"Nak Nara..." Nyonya Sofia masuk ke kamar, memegang bahu Nara dengan lembut. "Kami tahu ini bukan pernikahan yang kamu impikan. Tapi demi Tuhan, kami akan memastikan kamu tidak akan kekurangan apa pun mulai hari ini."

Nara menatap pantulan Nyonya Sofia di cermin. "Harta tidak bisa mengobati rasa jijik saya pada diri sendiri, Nyonya. Tapi terima kasih atas kebaikan Anda."

Nyonya Sofia hanya bisa tertunduk. Ia tahu, di rumah ini, ia sedang mencoba menambal lubang besar di kapal yang sudah hampir karam.

Pukul 10.00 WIB. Ruang tengah mansion telah disulap menjadi tempat akad nikah yang sangat privat. Hanya ada Tuan Surya, Nyonya Sofia, seorang Penghulu dari KUA setempat, dan dua orang saksi dari orang kepercayaan keluarga. Tidak ada bunga melati yang harum, tidak ada musik gamelan yang syahdu. Ruangan itu sunyi, seperti sebuah ruang pemakaman.

Danu Setiawan duduk di depan Penghulu. Ia mengenakan jas hitam formal dengan kemeja putih. Wajahnya keras, rahangnya mengatup rapat. Matanya sesekali melirik ke arah pintu, berharap semua ini hanya mimpi buruk. Ia baru saja mematikan ponselnya setelah menerima ratusan pesan dari Vanya yang menuntut penjelasan.

Saat Nara dituntun masuk dan duduk di sampingnya, Danu tidak menoleh. Ia bisa mencium aroma sabun mandi yang biasa—aroma yang sama dengan yang ia hirup di paviliun semalam. Aroma itu kini memicu rasa bersalah yang mencekik lehernya.

"Saudara Danu Setiawan bin Surya Setiawan," ucap Penghulu dengan suara berat. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Nara Setianingrum binti Ahmad Atmadja dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan logam mulia 100 gram dibayar tunai."

Danu menarik napas panjang. Suaranya terdengar serak namun tegas, meski tanpa nyawa.

"Saya terima nikah dan kawinnya Nara Atmadja binti Ahmad Atmadja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Saksi?"

"Sah."

"Sah."

Doa dipanjatkan. Nara menunduk dalam, air matanya jatuh tepat di atas buku nikah yang baru saja ia tanda tangani. Tidak ada senyum kemenangan. Tidak ada tangan yang saling menggenggam.

Saat Danu diminta mencium kening Nara, ia hanya menempelkan bibirnya sekejap di atas kerudung Nara sebuah formalitas yang terasa sangat menyakitkan bagi keduanya.

Tuan Surya menepuk bahu Danu dengan keras, sebuah isyarat peringatan.

"Mulai hari ini, hidupnya adalah tanggung jawabmu. Jika dia menangis lagi karena ulahmu, anggaplah aku bukan ayahmu lagi."

Malam harinya, Nara dipindahkan ke kamar utama. Kamar Danu. Sebuah ruangan luas yang didominasi warna gelap dan aroma maskulin yang kuat.

Lemari besar yang tadinya hanya berisi setelan jas mahal Danu, kini diisi oleh beberapa pakaian sederhana milik Nara di satu sudutnya.

Nara berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Ia sudah mengganti kebayanya dengan gamis panjang dan kerudung rumahannya. Ia menunggu dengan waspada, seperti rusa yang menunggu pemangsa masuk ke sarangnya.

Pintu terbuka. Danu masuk dengan langkah gontai. Ia sudah melepas jasnya, hanya menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak sangat lelah, namun matanya masih berkilat penuh ego yang terluka.

Ia menatap Nara yang berdiri mematung di dekat jendela. Kamar yang selama ini menjadi wilayah pribadinya kini terasa asing karena kehadiran wanita itu.

"Jadi, sekarang kamu adalah Nyonya Setiawan," ucap Danu dengan nada sinis yang ia paksakan untuk menutupi rasa canggungnya. "Puas? Kamu mendapatkan apa yang diinginkan semua wanita di kota ini. Uang, status, dan nama besar."

Nara berbalik, menatap Danu lurus-lurus. "Jangan memproyeksikan sifat rendah Bapak kepada saya. Bapak tahu persis mengapa saya ada di sini. Dan Bapak juga tahu bahwa gelar 'Nyonya Setiawan' ini adalah kutukan bagi saya."

Nara berjalan menuju meja rias, mengambil sebuah map cokelat yang sudah ia siapkan sendiri, karena Danu belum juga menyiapkan. Ia meletakkannya di atas tempat tidur king size yang akan menjadi batas teritorial mereka.

"Apa ini?" tanya Danu, mengernyitkan dahi.

"Kontrak pernikahan kita," jawab Nara tegas.

"Bapak pikir saya akan membiarkan hidup saya berjalan tanpa kendali setelah apa yang Bapak lakukan?"

Danu mendengus, namun ia mengambil map itu dan membacanya. Matanya membelalak saat melihat poin-poin di dalamnya.

...KONTRAK PERNIKAHAN DANU & NARA...

* Tanpa Kontak Fisik: Pihak Pertama (Danu) dilarang menyentuh Pihak Kedua (Nara) dalam bentuk apa pun tanpa persetujuan tertulis. Pelanggaran atas poin ini berarti laporan kepolisian atas tindakan pelecehan dalam rumah tangga segera diproses.

* Kesehatan Ayah: Pihak Pertama wajib menanggung seluruh biaya rumah sakit, pemulihan, hingga jaminan hidup Ayah Pihak Kedua seumur hidup.

* Kebebasan Pribadi: Pihak Kedua tetap diperbolehkan bekerja atau melakukan aktivitas sosial tanpa intervensi dari Pihak Pertama.

* Durasi Pernikahan: Pernikahan ini akan berakhir secara administratif segera setelah Ayah Pihak Kedua dinyatakan sembuh total dan mampu hidup mandiri, atau minimal setelah dua tahun.

* Kompensasi Nama Baik: Selama masa pernikahan, Pihak Pertama wajib menjaga nama baik Pihak Kedua di depan publik dan keluarganya.

Danu melempar map itu ke atas kasur. "Kamu gila? Kamu pikir ini perusahaan?!"

"Ini adalah cara saya bertahan hidup di rumah yang isinya orang-orang seperti Bapak!" balas Nara, suaranya naik satu oktaf. "Bapak tidak punya hak untuk protes. Bapak adalah orang yang merusak aturan main lebih dulu. Kontrak ini adalah perisai saya."

Danu melangkah maju, mencoba mengintimidasi Nara dengan postur tubuhnya yang lebih tinggi.

"Kamu berada di rumahku, Nara. Kamu memakan uangku sekarang. Dan kamu berani mendikteku?"

Nara tidak mundur satu inci pun. "Uang Bapak memang bisa membeli obat untuk ayah saya, tapi uang Bapak tidak bisa membeli rasa takut saya lagi. Saya sudah tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan.

Jika Bapak tidak menandatangani ini, saya akan keluar sekarang juga, berteriak di depan gerbang mansion ini bahwa CEO Setiawan Group adalah seorang pengecut yang memaksa menikahi korbannya untuk menutupi skandal."

Danu terdiam. Rahangnya mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Ia merasa terjepit. Jika ia tidak menandatangani, ia kehilangan segalanya karier, warisan, dan mungkin kebebasannya. Jika ia menandatangani, ia secara resmi menjadi tawanan di rumahnya sendiri oleh wanita yang ia anggap remeh.

Danu menyambar pena dari meja kerja di sudut kamar. Dengan gerakan kasar, ia membubuhkan tanda tangannya di atas materai.

"Ambil ini!" Danu menyodorkan map itu ke dada Nara. "Aku harap kamu senang dengan potongan kertas ini. Tapi jangan harap aku akan memberikan satu ons pun rasa hormat padamu sebagai istri. Di rumah ini, kamu hanyalah pengingat atas kesalahan terbesarku."

"Itu sudah lebih dari cukup bagi saya," ucap Nara tenang sambil menyimpan kontrak itu kembali.

"Karena rasa hormat dari orang seperti Bapak tidak ada harganya bagi saya."

Danu mendengus, lalu mengambil bantal dan selimut cadangan dari lemari. "Aku akan tidur di sofa ruang kerja. Kamar ini terlalu sesak karena aromamu."

"Terima kasih," balas Nara singkat. "Itu akan membuat tidur saya jauh lebih nyenyak."

Danu berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak dengan tangan di gagang pintu.

"Vanya... dia hancur karena ini. Kamu telah menghancurkan hubungan yang aku bangun bertahun-tahun."

Nara menoleh, menatap punggung Danu. "Bukan saya yang menghancurkannya, Pak Danu. Nafsu dan kesombongan Bapak yang melakukannya. Jangan pernah melimpahkan dosa Bapak di pundak saya."

Danu tidak membalas. Ia keluar dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Nara sendirian di kamar mewah yang terasa sangat dingin itu.

Di sofa ruang kerjanya, Danu menatap langit-langit. Hatinya perih memikirkan Vanya, namun pikirannya terus kembali pada tatapan Nara yang begitu berani tadi. Ia tidak pernah bertemu wanita yang begitu teguh meski sudah dihancurkan. Ada rasa kesal, namun ada juga secercah kekaguman yang ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan ego.

Sementara di kamar utama, Nara duduk bersimpuh di samping tempat tidur. Ia memeluk lututnya dan menangis dalam diam. Kontrak itu mungkin melindunginya secara hukum, tapi tidak bisa menyembuhkan memori sentuhan kasar Danu yang masih terasa membakar kulitnya.

Ia tahu, ini baru malam pertama dari ribuan malam yang harus ia lalui di penjara emas ini.

***

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!