Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
...~ Sudut Pandang Linda ~...
Apartemen nomor 404 kini telah berubah menjadi sebuah kuil suci yang dipenuhi dengan kabut tipis energi spiritual ku. Setiap inci udara di sini berdenyut mengikuti detak jantung ku dan yang lebih penting detak jantung kecil yang kini mulai memancarkan frekuensi sihir yang kuat di dalam rahim ku. Sejak kejadian di pesta kantor semalam, sensitivitas ku mencapai level yang hampir tidak masuk akal. Bagi ku, dunia di luar pintu apartemen itu terasa seperti hamparan duri yang kasar, sementara di dalam sini, segalanya harus tetap murni.
“Jangan sentuh,” Keluh ku sembari duduk meringkuk di atas tumpukan selimut sutra di ruang tengah. “Kulit ku terasa seperti terbakar jika terkena udara yang tidak aku kenal. Elkan di dalam sini... dia seperti magnet yang menarik semua emosi ku menjadi satu titik fokus yang tajam. Aku merasa sangat haus, tapi bukan haus akan air. Aku haus akan sentuhan yang tepat. Sentuhan yang memiliki kode genetik yang selaras dengan benih ini.”
Pagi ini, seorang petugas kebersihan apartemen datang untuk mengambil sampah di koridor depan. Meskipun dia hanya berdiri di luar dan tidak menyentuh gagang pintu, aku bisa merasakan keberadaannya melalui pori-pori kulit ku. Rasa mual mendadak bangkit, bukan karena hormon, tapi karena penolakan insting.
"Linda? Kau kenapa? Wajah mu memerah," Dimas muncul dari dapur, membawa segelas susu hangat dengan madu manuka yang baru saja ia siapkan.
"Suruh dia pergi, Dimas," desis ku. Aku mencengkeram bantal sofa sampai kuku-kuku ku menembus kainnya. "Pria di luar itu... baunya sangat mengganggu. Kehadirannya terasa seperti pasir yang digosokkan ke saraf-saraf ku."
Dimas meletakkan gelasnya dan segera mengintip melalui lubang intip pintu. "Itu cuma Pak RT yang sedang mengecek kebersihan, Sayang. Dia tidak melakukan apa-apa."
"Aku tidak peduli! Suruh dia menjauh dari pintu kita!" teriak ku. Ekor-ekor ku mendadak meledak keluar dari balik daster, mengibas-ngibas udara dengan liar, menciptakan pusaran angin kecil yang menerbangkan kertas-kertas di meja makan.
Dimas segera membuka pintu sedikit, memberikan isyarat sopan pada Pak RT untuk menjauh, lalu mengunci kembali pintu dengan semua slot tambahan yang ia pasang. Begitu pintu tertutup rapat, dia kembali mendekati ku.
"Sudah, dia sudah pergi. Tenanglah, Linda. Tarik napas pelan-pelan," Dimas mencoba duduk di samping ku.
"Jangan!" aku berteriak lagi, membuat Dimas terpa ku.
Aku menatapnya dengan napas terengah-engah. Mata ku yang hijau kini berpendar terang, pupil ku menyempit menjadi garis vertikal predator. "Jangan sentuh perut ku... kecuali kau benar-benar ingin melakukannya. Maksud ku... jangan hanya sekadar menyentuh karena kasihan atau karena kewajiban. Aku merasa sangat... terbuka. Sangat rapuh."
Dimas terdiam, menatap ku dengan tatapan yang dalam dan penuh pengertian. Dia tidak memaksakan diri. Dia hanya duduk diam di depan ku, membiarkan auranya yang hangat perlahan-lahan meredam badai sihir ku.
“Hanya dia,” Keluh ku sembari menatap tangan Dimas yang kasar namun kokoh. “Hanya tangan itu yang memiliki izin. Jika tangan lain mencoba menyentuh wilayah ini, aku bersumpah akan merobek mereka sebelum mereka sempat berkedip. Tapi saat dia menjauh seperti ini, rasanya kulit ku meronta-ronta karena kelaparan. Elkan... kau sangat pemilih, persis seperti ayah mu.”
"Linda," suara Dimas rendah dan bergetar, "aku tidak pernah menyentuh mu karena kewajiban. Kau tahu itu. Tapi jika kau merasa tidak nyaman—"
"Aku tidak bilang aku tidak nyaman dengannya!" aku memotong, suaranya kini berubah menjadi rengekan manja yang membuat ku malu sendiri. "Aku hanya... aku sangat sensitif. Setiap kali kau menyentuh ku, rasanya seperti ada arus listrik yang langsung mengalir ke rahim ku. Itu membuat ku... membuat ku merasa sangat ingin berada lebih dekat lagi dengannya."
Aku meraih tangannya dan menempelkannya ke pipi ku yang panas. Sensasi kulitnya terasa seperti air es di tengah padang pasir. "Sentuh aku, Dimas. Tapi hanya kau. Hanya kau yang boleh."
Dimas tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung janji dan gairah yang tertahan. Dia perlahan-lahan menggeser duduknya, merapat pada ku di tengah sarang bantal kami. Tangannya yang hangat mulai menjelajahi bahu ku, turun ke punggung ku, dan akhirnya berhenti tepat di atas gundukan perut ku yang terbungkus daster sutra tipis.
DUM.
Elkan memberikan tendangan kecil, bukan tendangan serangan seperti pada rak buku kemarin, tapi sebuah denyutan yang lembut, seolah menyambut kehadiran ayahnya.
"Dia menyukai mu," bisik ku, kepala ku terkulai di bahu Dimas. "Setiap kali tangan mu di sana, energinya yang liar mendadak menjadi tenang. Tapi bagi ku... bagi ku ini justru awal dari kegelisahan yang lain."
Sisi dari hubungan ku dengan Dimas selalu menjadi rahasia yang kami jaga di balik dinding apartemen ini, namun selama kehamilan ini, segalanya terasa berkali-kali lipat lebih intens. Kulit ku menjadi sangat reaktif. Gesekan kain sutra dasternya saja membuat napas ku memburu, apalagi sentuhan langsung dari Dimas.
"Linda, kau berkeringat," Dimas berbisik di telinga ku, napasnya yang hangat membuat ekor ku melilit kakinya dengan sangat erat. "Mau aku bantu mendinginkan suhu tubuh mu?"
"Jangan dinginkan," jawab ku sambil menarik kerah kaosnya, membawa wajahnya mendekat ke wajah ku. "Buat aku merasa bahwa aku adalah milik mu seutuhnya. Buat Elkan tahu bahwa ayahnya adalah satu-satunya jantan yang diizinkan berada di sini."
Dimas mulai mencium leher ku, tangannya perlahan menyelinap ke balik kain dasternya, menyentuh kulit perut ku secara langsung. Rasanya seperti ledakan kembang api spiritual. Aku mengerang kecil, mencengkeram otot lengannya yang keras.
“Ini gila,” Keluh ku, sementara penglihatan ku mulai mengabur karena gairah. “Dulu, sebagai siluman murni, aku menganggap hubungan fisik adalah cara untuk bertukar energi. Tapi dengan Dimas... ini adalah sesuatu yang jauh lebih dalam. Ini adalah pengakuan. Setiap sentuhannya di perut ku terasa seperti dia sedang menuliskan namanya di atas jiwa ku dan jiwa anak kami.”
"Dimas... ahh... Elkan... dia merasakannya," gumam ku saat tangan Dimas bergerak perlahan, memijat lembut rahim ku yang mulai mengeras karena kontraksi kecil akibat rangsangan.
"Aku tahu," suara Dimas semakin berat. "Aku bisa merasakan detak jantungnya di telapak tangan ku. Dia sangat kuat, Linda. Sama kuatnya dengan ibunya yang keras kepala ini."
Suasana di ruang tamu yang temaram itu menjadi sangat panas. Di bawah tumpukan selimut yang kami susun sebagai "sarang", kami saling mengeksplorasi satu sama lain dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Ada rasa protektif yang bercampur dengan nafsu yang murni; sebuah keinginan untuk saling memiliki yang dipicu oleh naluri kelangsungan hidup ras kami.
"Jangan lepaskan tangan mu," pinta ku saat Dimas mencoba mengambil napas. "Jangan biarkan udara dingin menyentuh bagian yang sudah kau hangatkan."
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Linda," Dimas mencium bibir ku dengan penuh penguasaan. "Aku akan menjaga mu sampai kau tertidur. Sampai besok pagi. Sampai Elkan lahir."
Komedi kecil terjadi saat salah satu ekor ku yang terlalu bersemangat mendadak menjatuhkan vas bunga di meja samping. Prang!
Kami berdua terlonjak kaget. Dimas tertawa kecil di tengah situasi yang intim itu. "Sepertinya ekor-ekor mu juga punya tingkat sensitivitas yang sama tingginya dengannya."
"Mereka hanya... ingin ikut merayakan kedekatan kita," aku membenamkan wajah ku yang merah padam di dadanya. "Maafkan aku, Dimas. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan apa pun sekarang. Emosi ku, sihir ku, nafsu makan ku... semuanya berantakan."
Dimas mengusap rambut ku dengan lembut, menenangkan kegelisahan ku. "Tidak ada yang berantakan bagi ku. Kau sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih luar biasa. Dan tugas ku hanya satu: memastikan tidak ada yang mengganggu mu selama proses itu."
“Hanya dia yang boleh melihat ku seperti ini,” Keluh terakhir ku malam itu saat gairah perlahan-lahan berubah menjadi kantuk yang nyaman di dalam pelukannya. “Hanya dia yang boleh menyentuh kerentanan ini. Di luar sana, aku adalah ratu rubah yang siap mengeluarkan taring pada siapa saja yang berani menatap perut ku terlalu lama. Tapi di sini, di bawah perlindungannya, aku hanyalah seorang wanita yang sedang mengandung cintanya.”
Aku tertidur dengan tangan Dimas yang masih setia bertengger di atas perut ku. Setiap kali aku bergerak sedikit dalam mimpi, dia akan mempererat pelukannya, memberikan sinyal bawah sadar bahwa wilayah ini aman. Aman dari klan, aman dari Genta, dan aman dari keraguan.
Sensitivitas ini mungkin menyiksa, namun itu adalah kompas yang mengarahkan ku kembali pada satu-satunya manusia yang mampu menjinakkan badai di dalam darah ku.
"Jangan pernah lepaskan, Dimas," gumam ku dalam tidur.
"Tidak akan pernah," jawabnya, sebuah janji yang bergema di seluruh sudut apartemen nomor 404.
100000/10
would recommend
semangat terus up nyaaa👍👍👍😍😍