Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Kunci Menuju Arsitek Semesta
Angin sepoi-sepoi di pusat Novel-City membawa aroma kopi yang baru diseduh, bercampur dengan wangi hutan pinus yang segar. Pemandangan di depan mata Aruna benar-benar surealis; gedung perkantoran kaca yang menjulang tinggi kini memiliki jembatan gantung dari kayu kuno yang menghubungkan satu gedung ke gedung lainnya. Di bawahnya, mobil-mobil listrik meluncur senyap di samping ksatria yang memacu kuda di jalur khusus.
Aruna masih menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar. Pesan suara dari Arel tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Dunia di atas dunia?
"Ratri, kau mendengarnya juga?" Arvand mendekat, suaranya parau. Ia menyandarkan tubuhnya pada tiang lampu jalan yang bergaya gotik. Bahunya yang terluka sudah dibalut dengan sobekan jubah zirahnya, namun wajahnya tetap pucat.
"Iya. Arel bilang ada kunci... kunci menuju dunia penulis yang asli," Aruna menatap layar ponselnya yang kini menampilkan peta kota yang terus berubah. "Arvand, selama ini aku pikir aku adalah tuhan di dunia novelmu. Tapi bagaimana kalau aku sendiri cuma karakter di naskah orang lain?"
Arvand terdiam. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap orang-orang yang mulai berlalu-lalang di Bundaran HI dengan pakaian yang campur aduk. "Jika benar begitu, maka 'penulis' kita adalah sosok yang sangat kejam. Dia membuat kita menderita, memisahkan kita, lalu memberi kita harapan semu seperti ini."
"Atau mungkin dia sedang menguji kita," sahut sebuah suara yang familiar.
Aruna menoleh cepat. Di dekat kolam, berdiri sesosok pria tua yang mengenakan setelan jas abu-abu rapi. Rambutnya putih bersih, dan ia memegang sebuah tongkat kayu dengan kepala berbentuk pena.
"Ayahanda?!" Arvand terkesiap. "Kaisar tua?"
Pria itu tersenyum sedih. "Aku bukan lagi kaisarmu, Arvand. Di dunia yang baru ini, aku hanyalah sebuah memori yang diberi wujud oleh Arel. Aku di sini untuk menyampaikan pesan terakhir."
Kaisar tua melangkah mendekati kolam yang kini tenang. "Arel benar. Kunci itu ada. Panglima Arwah Penulis bukan sekadar manifestasi trauma Aruna, dia adalah kurir yang dikirim dari 'Lantai Atas'... tempat di mana naskah-naskah primer dibuat."
"Lantai Atas?" Aruna mengerutkan kening. "Maksudmu, kantorku yang dulu? Penerbitan itu?"
"Lebih dari itu, Aruna," Kaisar tua mengetukkan tongkatnya ke lantai aspal yang kini berpendar emas. "Tempat di mana imajinasi bukan lagi sebuah proses kreatif, tapi sebuah industri manufaktur jiwa. Mereka yang di sana tidak peduli pada akhir yang bahagia. Mereka hanya peduli pada konflik yang terus berlanjut agar 'pembaca' di atas mereka tidak merasa bosan."
Aruna merasakan amarah mulai mendidih di dadanya. Obsesinya untuk melindungi keluarganya kembali berkobar. "Jadi Arel sekarang ada di tangan mereka?"
"Arel ada di antara dua pintu. Dia sedang menahan agar dunia ini tidak ditarik kembali ke dalam mesin penghancur naskah," Kaisar tua menunjuk ke arah layar LED raksasa yang tadi menampilkan nama Aruna. "Kau harus menggunakan kunci itu, Aruna. Kau harus naik ke sana dan menutup naskah ini secara permanen dari pihak mereka."
"Bagaimana caranya aku naik?" tanya Aruna.
"Kunci itu... ada di dalam dirimu," Kaisar tua menatap pergelangan tangan Aruna.
Aruna melihat kulitnya yang mulus. "Tapi tandanya sudah hilang!"
"Tandanya tidak hilang, dia hanya berubah wujud menjadi niat," Kaisar tua mulai memudar, tubuhnya berubah menjadi butiran cahaya putih. "Cintamu pada Arvand dan Arel adalah kuncinya. Jika kau berani menghadapi sang 'Arsitek Semesta', jalan itu akan terbuka. Tapi ingat, begitu kau sampai di sana, tidak ada jaminan kau bisa kembali sebagai manusia."
Setelah Kaisar tua menghilang, suasana kembali sunyi. Hanya suara air mancur yang terus memercik. Arvand menggenggam tangan Aruna erat-earat. "Aku akan ikut. Ke mana pun itu."
"Tapi lukamu, Arvand..."
"Aku lebih baik mati saat mencoba mencarinya, daripada hidup di kota indah ini sementara putraku menderita sendirian di kegelapan," ujar Arvand dengan tekad yang tak tergoyahkan.
Tiba-tiba, ponsel Aruna bergetar hebat. Sebuah aplikasi baru muncul secara otomatis. Ikonnya berbentuk mata yang menangis. Namanya: Editor Akhir... Penentu Retensi.
Aruna membukanya. Layar ponselnya berubah menjadi kamera yang aktif. Saat ia mengarahkan kamera itu ke arah Monas di puncak bukit, ia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat mata telanjang. Ada ribuan kabel tipis transparan yang menjuntai dari langit, terikat pada setiap orang dan setiap bangunan di kota itu. Seperti sebuah panggung boneka raksasa.
"Kita sedang dikendalikan," bisik Aruna ngeri. "Setiap gerakan kita, setiap kata kita... semuanya masih ditarik oleh kabel-kabel itu."
"Potong kabelnya, Aruna!" seru Arvand.
Aruna menggunakan jarinya di layar ponsel, mencoba melakukan gerakan memotong. Namun, sebuah peringatan muncul: Dibutuhkan Kunci Fisik untuk Melakukan Operasi ini.
"Di mana kuncinya, Arel?!" Aruna berteriak ke arah kolam.
Tiba-tiba, air kolam membelah. Sebuah kotak perak kecil melayang keluar dan mendarat tepat di telapak tangan Aruna. Di dalamnya ada sebuah kunci kecil berbentuk pena bulu yang terbuat dari berlian hitam.
Begitu Aruna menyentuh kunci itu, seluruh Jakarta-NovelCity berguncang hebat. Langit yang tadinya cerah mendadak terbelah, menyingkapkan sebuah pemandangan yang membuat jantung Aruna nyaris berhenti.
Di balik awan, tidak ada luar angkasa. Yang ada adalah sebuah ruangan kantor raksasa dengan ribuan meja kerja yang tak berujung. Di setiap meja, ada orang-orang yang sedang mengetik dengan wajah tanpa ekspresi. Dan di atas mereka semua, ada sebuah layar raksasa yang menampilkan wajah Aruna dan Arvand saat ini juga.
"Itu... itu dunia nyata?" gumam Arvand dengan wajah pucat.
"Bukan," Aruna menggeleng. "Itu adalah 'Ruang Redaksi Semesta'. Tempat di mana takdir kita diperjualbelikan."
Sebuah suara dingin dan berat terdengar dari langit yang terbelah. Suara itu bukan suara sang Bos, melainkan suara seorang wanita yang sangat berwibawa.
"Aruna, kau telah melangkah terlalu jauh. Menyatukan dua dunia adalah pelanggaran kontrak tingkat satu. Kau telah merusak nilai jual dari drama ini."
"Aku tidak peduli pada nilai jualmu!" teriak Aruna ke arah langit. "Kembalikan anakku!"
"Anak itu adalah baterai untuk server baru kami. Dia tidak akan kembali," ujar suara wanita itu. "Dan kau... kau akan segera kami hapus."
Tiba-tiba, dari langit turun puluhan pria berpakaian serba putih yang membawa tongkat listrik. Mereka bukan eksekutor plastik seperti sebelumnya. Mereka adalah 'Korektor Takdir'. Gerakan mereka sangat cepat dan terkoordinasi.
Arvand maju ke depan, memutar pedang patahnya. "Ratri, buka pintunya sekarang! Aku akan menahan mereka!"
"Tapi Arvand, jumlah mereka ratusan!"
"Buka pintunya, atau kita semua akan dihapus!"
Aruna memasukkan kunci berlian hitam itu ke dalam lubang pengisian daya ponselnya. Sebuah pilar cahaya emas melesat ke langit, membentuk sebuah tangga yang menuju ke celah di awan tersebut.
Arvand bertarung dengan gila-gilaan. Setiap ayunan pedangnya memukul mundur para Korektor, namun mereka terus berdatangan. Salah satu Korektor berhasil memukul bahu Arvand yang terluka, membuat pria itu terjerembap.
"ARVAND!"
"LARI, ARUNA! NAIK KE SANA!"
Aruna bimbang. Jika ia naik sekarang, Arvand mungkin akan tewas di bawah sini. Tapi jika ia tidak naik, mereka semua akan dihapus oleh sistem.
Dengan air mata yang mengucur, Aruna mulai berlari menaiki tangga cahaya itu. Setiap langkahnya membuat tangga itu menghilang di belakangnya, memastikan tidak ada yang bisa mengikutinya atau turun kembali.
Saat ia mencapai puncak dan masuk ke dalam celah awan, Aruna mendapati dirinya berdiri di tengah-tengah kantor raksasa tersebut. Ribuan penulis di sana berhenti mengetik secara bersamaan dan menatapnya dengan tatapan kosong.
Di ujung ruangan, di sebuah meja yang paling besar, duduk seorang wanita yang wajahnya benar-benar mirip dengan Aruna, tapi versi yang lebih tua tiga puluh tahun.
Wanita itu tersenyum tipis. "Selamat datang di rumah, Aruna. Atau haruskah aku memanggilmu... Ibu?"
Aruna terpaku. "Apa... apa maksudmu?"
Wanita tua itu berdiri, menunjukkan sebuah naskah kuno yang ada di mejanya. Di sampulnya tertulis: Biografi Aruna: Sang Pencipta yang Terlupa.
"Aku adalah dirimu dari masa depan yang gagal menyelamatkan mereka," ujar wanita itu. "Aku adalah orang yang menciptakan dunia novel itu agar aku bisa bertemu kembali dengan Arvand dan Arel. Tapi setiap kali aku mencoba, aku selalu gagal di titik ini."
Aruna merasa dunianya berputar. "Jadi... semua ini adalah siklus?"
"Iya. Dan kau adalah percobaanku yang ke sembilan ratus sembilan puluh sembilan," wanita itu menghela napas. "Tapi ada yang berbeda kali ini. Kau membawa kunci yang tidak pernah aku miliki sebelumnya."
Wanita itu menunjuk ke arah sebuah tabung kaca besar di belakang mejanya. Di dalam tabung itu, Arel sedang tertidur, tubuhnya dihubungkan oleh ribuan kabel ke mesin-mesin kantor tersebut.
"Ambil dia, Aruna. Tapi kau harus tahu harganya," wanita tua itu mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Aruna yang membuat wajah Aruna seketika menjadi pucat pasi.
Sementara itu, di bawah sana, di Novel-City, Arvand yang sedang terkepung mendadak melihat seluruh penduduk kota mulai berubah menjadi tinta hitam yang cair. Tanah yang ia pijak mulai retak dan runtuh ke dalam kehampaan.
"Ratri... cepatlah..." bisik Arvand sebelum ia tertimbun oleh reruntuhan gedung yang menghilang.
Harga mengerikan apa yang harus dibayar Aruna untuk melepaskan Arel dari tabung kaca tersebut? Siapakah sebenarnya wanita tua yang mengaku sebagai Aruna dari masa depan, dan apakah dia bisa dipercaya? Sanggupkah Aruna menyelamatkan Arvand yang dunianya sedang dihapus secara total saat ini juga?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.