seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 18
Persiapan keberangkatan ke Maluku membuat suasana di rumah Andi dan Andin sedikit sibuk. Tas ransel tua milik Andi, yang dulu sering ia gunakan saat masih hidup berpindah-pindah di pelabuhan, kini tergeletak di atas tempat tidur, diisi dengan beberapa set pakaian kerja dan buku catatan teknis.
"Kau yakin ingin membawa sepatu bot ini? Di sana lebih banyak air daripada aspal, Andi," ujar Andin sambil melipat kemeja flanel suaminya.
Andi terkekeh, tangannya sedang memeriksa senter kepala. "Sepatu ini saksi bisu saat kita pertama kali menanam tiang pancang di sekolah. Rasanya tidak sreg kalau tidak membawanya ke proyek besar pertama Rian."
Di luar, suara deru motor mendekat. Bayu datang dengan tergesa-gesa, membawa sebuah tas pendingin kecil yang diproteksi khusus. "Bang Andi, ini komponen sensor cadangan untuk turbin di Maluku. Saya sudah memperkuat isolasinya agar tahan terhadap salinitas air laut Timur yang lebih tinggi."
"Terima kasih, Bayu. Kau tidak ikut?" tanya Andi.
Bayu menggeleng pelan. "Ibu Diana meminta saya mempresentasikan sistem manajemen energi kita di depan forum investor besok. Dia bilang, Pery Permata ingin mereplikasi model Kampung Bahari ini di proyek reklamasi mereka yang lain, tapi kali ini dengan standar lingkungan yang kita tetapkan."
Andi menepuk bahu Bayu. "Ingat, jangan biarkan mereka memotong komitmen sosialnya. Tekan mereka di bagian itu."
"Siap, Bang."
Keesokan paginya, Andi dan Andin berdiri di dek kapal feri yang membawa mereka membelah perairan menuju desa terpencil di Maluku Tengah. Angin laut di sini terasa lebih murni, jauh dari aroma jelaga industri Jakarta. Di kejauhan, sebuah pulau kecil dengan jajaran pohon kelapa mulai terlihat, dan di sana, sebuah menara pantau sederhana dengan logo Cahaya Bahari berdiri tegak.
Rian sudah menunggu di dermaga kayu yang masih baru. Ia tidak sendiri; puluhan warga desa dengan sarung dan parang di pinggang berdiri di belakangnya, menatap kedatangan Andi dengan rasa ingin tahu sekaligus hormat.
"Bang Andi! Mbak Andin!" Rian melambai penuh semangat. Wajahnya sudah jauh lebih gelap terbakar matahari, tapi senyumnya lebih lebar dari biasanya.
Saat Andi melangkah turun ke dermaga, seorang tetua desa maju ke depan. Ia memegang tangan Andi dengan erat, telapak tangannya kasar dan tebal. "Terima kasih sudah mengirim anak muda ini ke tempat kami. Selama ini kami hanya melihat cahaya dari kejauhan, sekarang cahaya itu ada di bawah kaki kami."
Andi tertegun. Ia melihat ke arah laut, di mana pusaran air kecil menandakan turbin Bayu sedang bekerja di bawah sana, memutar generator yang kini menyuplai listrik ke sekolah desa dan pusat pengolahan ikan setempat.
"Kami tidak mengirim cahaya, Pak," jawab Andi rendah hati. "Kami hanya membawa alatnya. Cahayanya sudah ada di sini, di tangan bapak dan anak-anak muda desa ini."
Malam itu, di bawah taburan bintang yang begitu rapat di langit Maluku, mereka duduk melingkar di depan api unggun. Rian bercerita bagaimana awalnya warga ragu, namun berubah menjadi sangat protektif terhadap turbin itu setelah melihat lampu-lampu di rumah mereka menyala tanpa suara bising mesin diesel.
Andi bersandar di tiang dermaga, menggenggam tangan Andin. Ia menyadari bahwa misi ayahnya—dan kini misinya—telah melampaui batas-batas fisik pelabuhan Jakarta Utara. Sang Cobra tidak lagi menjaga satu sarang; ia telah menjadi penyulut api di ribuan sarang lainnya.
Di tengah kegelapan malam Pasifik yang tenang, Andi merasa lingkaran hidupnya benar-benar telah purna. Dari seorang pria yang hidup dalam bayang-bayang kekerasan, ia kini berdiri di pusat cahaya yang menerangi masa depan orang banyak.
Malam di pesisir Maluku itu terasa begitu berbeda dengan Jakarta. Tidak ada raung klakson atau kepul asap industri; yang ada hanyalah simfoni ombak yang menghantam karang dan pendar lampu LED dari rumah-rumah panggung warga yang kini menyala stabil berkat turbin arus laut.
Rian menyodorkan sepotong ikan bakar segar di atas daun pisang kepada Andi. "Bang, ingat saat kita dulu harus mencuri listrik dari tiang jalan hanya untuk menghidupkan mesin las di bengkel lama?"
Andi terkekeh, matanya menerawang ke arah dermaga kayu tempat turbin itu terpasang di bawahnya. "Jangan ingatkan itu di depan mahasiswa, Rian. Bisa rusak reputasi rektor mereka."
"Tapi itulah akarnya, Bang," sela seorang pemuda desa setempat bernama Elias, yang selama sebulan terakhir menjadi asisten kepercayaan Rian. "Bung Rian cerita, sekolah kalian berdiri karena keberanian melawan raksasa. Di sini, raksasa kami adalah kegelapan dan isolasi. Selama puluhan tahun, kami hanya dianggap titik kecil di peta yang tidak layak dialiri kabel."
Andi menatap Elias, lalu menatap tangan pemuda itu yang juga mulai hitam oleh sisa pelumas mesin. "Sekarang kalian punya mesinnya sendiri, Elias. Kalian tidak perlu menunggu kabel dari kota. Laut ini adalah baterai raksasa kalian."
Andin, yang sedari tadi asyik berbincang dengan ibu-ibu desa tentang sistem koperasi nelayan, mendekat dan duduk di samping Andi. "Andi, mereka ingin kita membantu membangun pengolahan es di sini. Selama ini ikan mereka busuk sebelum sampai ke pasar kota karena tidak ada pendingin. Dengan listrik dari turbin ini, mereka bisa punya gudang beku sendiri."
Andi mengangguk mantap. "Itulah fase berikutnya. Rian, Bayu sudah menyiapkan desain unit pendingin modular yang bisa ditenagai langsung oleh arus laut. Kita akan jadikan desa ini proyek percontohan untuk Maluku Tengah."
Keesokan paginya, Andi tidak hanya duduk mengawasi. Ia mengenakan kembali sepatu bot tuanya yang sudah retak di beberapa bagian, terjun langsung ke bawah kolong dermaga bersama Rian dan Elias untuk melakukan kalibrasi ulang pada transmisi turbin. Air laut yang jernih membasahi kemeja flanelnya, namun ia tampak lebih hidup di sana daripada di balik meja rektorat yang megah.
"Bang, lihat ini!" teriak Rian dari bawah air sambil menunjuk ke arah bilah turbin yang berputar konsisten. "Tekanannya stabil. Salinitas di sini memang tinggi, tapi pelapis antikarat dari Bayu bekerja sempurna."
Saat mereka naik kembali ke daratan, berlumuran air garam dan keringat, warga desa sudah berkumpul membawa kelapa muda. Mereka melihat Andi bukan sebagai pejabat dari Jakarta, melainkan sebagai sesama lelaki laut yang tidak takut kotor.
"Andi," bisik Andin saat mereka berjalan pulang menuju penginapan sederhana di tepi pantai. "Kau terlihat sepuluh tahun lebih muda di sini."
Andi menyeka wajahnya dengan handuk lusuh, menatap ke arah cakrawala tempat matahari mulai meninggi. "Mungkin karena di sini, musuh kita hanyalah alam dan karat, Ndin. Bukan keserakahan manusia seperti di kota. Rasanya... bersih."
Perjalanan di Maluku ini bukan sekadar kunjungan kerja. Bagi Andi, ini adalah pembuktian bahwa konsep Kampung Bahari bisa tumbuh di mana saja, selama ada tangan yang mau bekerja dan hati yang mau berbagi. Sang Cobra telah melampaui pelabuhan lamanya; ia kini berenang di samudra yang lebih luas, membawa cahaya ke tempat-tempat yang selama ini terlupakan oleh dunia.