NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Penumpang Tak Kasat Mata

​Suasana di pom bensin Cikembar yang terang benderang itu terasa kontras dengan kegelapan yang baru saja mereka lalui. 

Namun, cahaya lampu neon yang dingin tidak bisa mengusir hawa mencekam yang menempel pada Scoopy Della.

​Della berdiri mematung di samping motornya. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, namun setiap kali udara masuk ke tenggorokannya, ia merasakan gesekan tajam seperti serpihan kaca yang berputar. Ia masih bisu. Suaranya tertinggal di bawah aspal KM 23.

​Geri menatap jok belakang Scoopy itu. Meski secara fisik kosong, ia bisa melihat guncangan halus pada shockbreaker belakang, seolah-olah ada seseorang sebesar manusia dewasa yang sedang duduk dengan tenang di sana.

​"Del, jangan pulang ke rumah dulu," bisik Geri, suaranya parau karena debu dan ketakutan. "Kalau 'dia' ikut sampai ke rumah lo, urusannya bakal makin panjang."

​Della hanya bisa menggeleng pelan. Ia mengambil HP-nya yang layarnya retak, lalu mengetik dengan jari gemetar di aplikasi catatan:

​"Dia nggak mau turun. Kalau gue nggak jalan, mesinnya nggak mau mati."

​Benar saja, meski kunci kontak sudah di posisi Off, mesin Scoopy itu tetap menderu halus suara desisan yang menyerupai bisikan wanita. 

Della terpaksa naik kembali. 

Begitu ia duduk, ia merasa udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat dingin, seolah ia sedang duduk di dalam lemari es mayat.

​Sepanjang perjalanan dari Cikembar menuju kota Sukabumi, teror fisik mulai terjadi.

​Sasha yang membonceng Geri di belakang terus-menerus melihat ke arah Della. "Ger... rambut Della..." bisik Sasha ngeri.

​Rambut panjang Della yang biasanya tertutup helm, kini merayap keluar dari sela-sela busa helm seolah memiliki nyawa sendiri. Rambut itu memanjang secara tidak wajar dan melilit jok belakang, mengikat sosok tak kasat mata itu agar tidak jatuh.

​Di spion kiri, Della melihat wanita bermulut kawat itu kini menyandarkan kepalanya di bahu Della. Kawat tembaga yang menjahit mulut wanita itu berkarat, mengeluarkan cairan hitam yang menetes ke jaket Della. Cairan itu berbau seperti oli terbakar campur darah kering.

​"Cari... mulutku..." bisik sebuah suara yang bergema langsung di tulang telinga Della. "Di rumah kaca... dia menyimpannya..."

​Della tahu siapa yang dimaksud, Pak Hendra. Kolektor tua itu tidak hanya mencuri spion, tapi dia juga mengoleksi "bagian tubuh" dari arwah-arwah yang terjebak di mesin.

​Della memutar arah. Ia tidak menuju rumahnya, melainkan menuju sebuah gang sempit di daerah Baros, tempat Pak Hendra menyimpan koleksi barang antik "gelap"-nya di sebuah bangunan yang dikenal warga sekitar sebagai "Rumah Kaca".

​Geri dan Sasha mengikuti dari belakang. Begitu mereka sampai di depan pagar tinggi bangunan itu, semua lampu jalan di gang tersebut padam secara serentak.

​Kring!

​Bel sepeda tua terdengar dari dalam halaman Rumah Kaca. 

Pintu kayu besar itu terbuka sendiri. Bau menyan yang sangat kuat menusuk hidung, bercampur dengan aroma bahan kimia pengawet kulit.

​Della turun dari motor. Kakinya terasa berat, seolah ia harus menyeret beban ratusan kilo.

 Di belakangnya, sosok tak kasat mata itu turun dengan suara langkah kaki yang nyata di atas kerikil. 

Tap. Tap. Tap.

​Di dalam bangunan itu, ribuan cermin digantung di langit-langit. 

Di setiap cermin, terdapat potongan memori yang mengerikan. Namun di tengah ruangan, ada sebuah toples kaca besar yang diletakkan di atas altar kayu.

​Di dalam toples itu, terendam dalam cairan perak, terdapat sebuah lempengan logam berbentuk bibir manusia.

​Begitu Della mendekat, bibir logam di dalam toples itu mulai bergerak-gerak, mencoba membentuk kata-kata yang tersendat di dalam cairan.

​"Itu suaranya," Geri bergidik. "Pak Hendra bener-bener gila. Dia nggak cuma ngambil spion, dia mengambil kemampuan mereka buat minta tolong."

​Tiba-tiba, dari balik bayangan cermin-cermin besar, Pak Hendra muncul. Ia tidak lagi terlihat seperti kolektor tua yang rapi. Wajahnya pucat, matanya merah, dan tangannya memegang sebuah tang pemotong kawat yang berlumuran darah.

​"Kalian kembali lebih cepat dari yang saya kira," Pak Hendra terkekeh, suaranya terdengar seperti kaca yang digosokkan ke aspal. "Selamat datang di jamuan terakhir. Sayangnya, 'penumpang' di bahu kamu itu, Della... dia sangat lapar akan suara baru."

​Pak Hendra mengangkat tang pemotongnya, dan tiba-tiba, semua cermin di ruangan itu mulai berputar, memantulkan bayangan Della dari ribuan sudut yang berbeda. Di setiap pantulan, mulut Della tampak mulai dijahit oleh kawat-kawat tembaga yang muncul dari dalam cermin.

Pak Hendra melangkah maju, bayangannya di lantai memanjang dan tampak lebih tebal dari tubuh aslinya. Bau busuk dari toples berisi "Mulut Perak" itu makin menyengat, memenuhi ruangan yang pengap oleh ribuan cermin.

​Della memegang lehernya. Ia merasakan sensasi dingin yang luar biasa menjalar di sepanjang rahangnya. Di dalam pantulan cermin-cermin yang mengelilinginya, ia melihat ujung-ujung kawat tembaga berkarat mulai menembus kulit bibirnya dari dalam. Darah hitam mulai merembes, menetes di atas ubin marmer yang dingin.

​Della tidak bisa berteriak. Yang keluar hanya suara ngik-ngik dari tenggorokan yang tercekik.

​"Geri! Jangan biarkan dia mendekat!" Sasha menjerit, namun suaranya seolah diserap oleh dinding-dinding kaca.

​Geri tidak tinggal diam, Ia menerjang ke arah Pak Hendra dengan kunci pas besarnya. Namun, sebelum senjatanya mengenai pria tua itu, bayangan dari ratusan spion motor yang tergantung di dinding mendadak melepaskan diri. Siluet-siluet hitam tanpa wajah itu merayap di lantai seperti tumpahan oli, lalu melilit kaki Geri hingga ia terjatuh menghantam meja kaca.

​PRANG!

​Kaca pecah, tapi pecahannya tidak jatuh ke bawah. Potongan-potongan kaca tajam itu melayang di udara, ujung-ujungnya mengarah tepat ke leher Geri.

​"Jangan bergerak, Anak Muda," desis Pak Hendra. "Atau pecahan ini akan menjahit jantungmu ke lantai."

​Pak Hendra kemudian beralih ke Della. Ia mengangkat tang pemotongnya. "Suara itu adalah energi, Della. Kakekmu memberikan 'suara' wanita ini agar motor itu bisa memberikan peringatan pada pengendara. Sekarang, saya akan mengambil suara kamu untuk melengkapi koleksi mesin saya yang paling sempurna."

​Wanita bermulut kawat yang tadi membonceng Della kini berdiri tepat di belakang Pak Hendra. Wajahnya yang hancur menatap toples di atas altar dengan tatapan haus. Ia mulai menggaruk-garuk udara, dan setiap garukan nya meninggalkan bekas cakar berdarah di permukaan cermin-cermin di ruangan itu.

​Della merasa kesadarannya mulai memudar. Kawat di mulutnya mulai menarik bibir atas dan bawahnya menjadi satu. 

Dalam keputusasaan, Della melihat ke arah motor Scoopy-nya yang terparkir di ambang pintu rumah kaca.

​Mata kiri Della (Mata Masa Lalu) mendadak berdenyut. Ia melihat memori singkat di ruangan ini: Pak Hendra ternyata takut pada cahaya yang tidak memantul.

​Della mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Ia tidak menyerang Pak Hendra, melainkan merangkak menuju tas motornya yang terjatuh. Ia mengambil botol oli bekas yang tadi diberikan Geri oli yang sudah dicampur darah dan jelaga dari KM 23.

​Dengan gerakan cepat, Della melemparkan botol itu ke arah altar kayu.

​BYUR!

​Cairan hitam pekat itu menyiram toples "Mulut Perak" dan mengotori cermin-cermin utama di tengah ruangan.

​Seketika, pantulan di dalam ruangan itu menjadi kacau. Karena cermin-cermin itu tertutup oli hitam, kekuatan "jahitan" Pak Hendra terputus. Kawat tembaga yang mulai menusuk bibir Della mendadak layu dan rontok menjadi abu hitam.

​"TIDAK! KOLEKSI SAYA!" Pak Hendra menjerit histeris saat melihat toplesnya retak karena getaran energi yang tertahan.

​KRAAAAK!

​Toples kaca itu pecah. Cairan perak di dalamnya tumpah ke lantai, dan lempengan "Mulut Perak" itu melayang di udara, mengeluarkan lengkingan suara wanita yang begitu dahsyat hingga membuat semua cermin di ruangan itu pecah berkeping-keping.

​PYAAAARRR!

​Gelombang suara itu menghantam Pak Hendra hingga ia terpental ke dinding, tertusuk oleh ratusan fragmen kacanya sendiri.

​Di tengah kekacauan itu, sosok wanita bermulut kawat tadi menerjang ke arah lempengan logam itu. Ia menangkapnya dengan tangan kosong, lalu menempelkannya ke wajahnya yang hancur. Cahaya biru elektrik berpijar hebat.

​Wanita itu kini memiliki suara kembali. Namun, suara yang keluar darinya adalah suara mesin motor yang menderu kencang.

​Wanita itu menatap Della. Tanpa bicara, ia menunjuk ke arah Pak Hendra yang masih merintih di pojok ruangan. Pak Hendra tidak lagi terlihat manusiawi; kulitnya mulai mengeras menjadi logam karatan, dan dari lubang hidungnya keluar asap knalpot.

​"Dia bukan lagi manusia, Del," Geri bangkit dengan susah payah, bajunya robek-robek terkena kaca. "Dia sudah dimakan oleh koleksinya sendiri."

​Wanita itu perlahan menghilang menjadi uap mesin, namun sebelum benar-benar lenyap, ia membisikkan sesuatu yang bisa didengar oleh telinga batin Della:

​"Sang Kolektor akan datang mencari 'Busi Merah' itu. Sembunyikan di tempat di mana api tidak bisa menyala."

​Della akhirnya bisa bernapas lega. Rasa sakit di mulutnya hilang, meninggalkan bekas luka kecil yang tampak seperti garis perak permanen di sudut bibirnya.

​Ia berjalan keluar dari Rumah Kaca yang hancur itu. Di luar, Scoopy-nya menunggu. 

Namun, saat Della melihat ke jok belakang, ada sebuah benda tertinggal di sana: **Sebuah kunci kontak motor yang terbuat dari tulang manusia**.

1
Ma Vin
bagus ceritanya,, semangat up date nya yaa kak😄😍
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!