Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase akademik dan aroma konspirasi di ruang ujian
Kemenangan atas Pak Gunawan memang memberikan kelegaan luar biasa, namun bagi mahasiswa, musuh yang paling menakutkan bukan hanya buronan internasional, melainkan Dosen Koordinator Mata Kuliah.
Pagi itu, kampus terlihat tenang, namun suasana di dalam kelas Statistika terasa sangat mencekam. Enam Serangkai duduk tersebar di beberapa baris. Bagas Putra sibuk merapikan kalkulatornya, sementara Dewi Laras mencoba mengingat kembali rumus distribusi normal yang sempat menguap karena adrenalin pengejaran semalam.
"Gas, gue merasa ada yang aneh," bisik Juna Pratama dari barisan belakang. "Gue barusan cek portal mahasiswa, nilai tugas kelompok kita buat mata kuliah ini... mendadak hilang."
"Hah? Jangan bercanda, Jun!" Bagas menoleh dengan wajah tegang. "Kita kan udah submit dari minggu lalu."
Sebelum Juna sempat menjelaskan, pintu kelas terbuka. Masuklah Pak Handoko, dosen senior yang terkenal kaku dan kabarnya punya kedekatan khusus dengan firma hukum lama milik Pak Gunawan. Beliau meletakkan setumpuk kertas ujian dengan bantingan yang cukup keras.
"Sebelum ujian dimulai," suara Pak Handoko menggema, "saya ingin menginfokan bahwa tim Resimen Hijau—Saudara Bagas, Juna, dan kawan-kawan—dinyatakan tidak lulus komponen tugas karena adanya indikasi plagiarisme dalam laporan riset mereka."
Seluruh kelas mendadak gaduh. Gia Kirana langsung berdiri, matanya berkilat marah. "Indikasi plagiarisme dari mana, Pak? Kami memenangkan kompetisi nasional dengan riset itu!"
"Kompetisi nasional bukan standar akademik saya, Saudari Gia," sahut Pak Handoko dingin. "Ada laporan masuk ke meja dekan bahwa data primer kalian diambil dari database milik sebuah perusahaan teknologi tanpa izin. Selama investigasi berjalan, nilai kalian saya nol-kan."
"Ini pasti kerjaan sisa-sisa pengikut bokap gue," bisik Laras pada Bagas. Tangannya mengepal di bawah meja.
Ujian berlangsung dengan penuh tekanan. Fokus mereka terpecah antara angka-angka di kertas dan kenyataan bahwa mereka terancam tidak lulus semester ini meskipun sudah punya uang untuk bayar UKT.
Begitu bel tanda berakhirnya ujian berbunyi, Enam Serangkai berkumpul di bawah pohon beringin depan fakultas.
"Ini nggak bisa dibiarin," geram Eno Surya. "Gue udah hampir mati kegencet pintu mobil, melepuh kena mesin, eh ujung-ujungnya nggak lulus gara-gara dosen sentimen? Gue mending balik jadi jerapah daripada diginiin!"
"Gia, lo punya kenalan di birokrasi kampus yang bisa kita percaya?" tanya Bagas.
"Ada satu, Wakil Dekan Bidang Akademik, Bu Ratna. Dia orangnya integritas banget," jawab Gia. "Tapi kita butuh bukti kalau Pak Handoko sengaja nerima laporan palsu."
Juna membuka laptopnya di atas bangku taman. "Gue udah duga hal kayak gini bakal kejadian. Pas gue submit tugas kemarin, gue pasang pelacak di file kita. Dan tebak apa? File kita dibuka oleh akun admin yang bukan milik asisten dosen, tapi login-nya dari alamat IP yang sama dengan kantor Global Eco-Tech."
"Jadi mereka masuk ke sistem kampus buat ngerusak file kita?" Rhea Amara menutup mulutnya kaget. "Itu kan kejahatan siber!"
"Persis," kata Juna dengan seringai tipis. "Dan gue udah dapet rekaman aktivitas mereka. Sekarang, kita tinggal 'bertamu' ke kantor Bu Ratna."
Sore harinya, suasana di ruang Wakil Dekan terasa dingin. Pak Handoko juga dipanggil ke sana. Beliau tampak percaya diri, menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan.
"Saya hanya menjalankan prosedur, Bu Ratna," kata Pak Handoko tenang. "Laporan keberatan dari pihak luar harus saya tindak lanjuti."
"Prosedur atau pesanan, Pak?" tanya Bagas sambil melangkah maju.
Juna meletakkan tabletnya di meja Bu Ratna. "Ibu, ini adalah log riwayat sistem portal kampus semalam jam dua pagi. Seseorang menggunakan akun administratif Pak Handoko untuk mengakses file kami, lalu mengunggah file serupa ke situs plagiarisme publik agar seolah-olah kami yang meniru."
Wajah Pak Handoko berubah dari tenang menjadi pucat dalam hitungan detik.
"Dan yang lebih menarik," tambah Gia, "alamat IP yang melakukan perubahan itu terdaftar atas nama firma hukum yang saat ini sedang menangani kasus pelarian Pak Gunawan. Saya rasa ini bukan sekadar masalah akademik, tapi upaya perintangan keadilan."
Bu Ratna menatap Pak Handoko dengan pandangan tajam. "Pak Handoko, apa penjelasan Anda mengenai penggunaan akun Anda di jam dua pagi dari lokasi yang bukan rumah Anda?"
"Saya... saya bisa jelaskan, Bu. Itu mungkin mahasiswa bimbingan saya..." suara Pak Handoko mulai bergetar.
"Cukup," potong Bu Ratna. "Saya akan membekukan status akademik Anda sementara dan mengembalikan nilai anak-anak ini. Dan untuk kalian," Bu Ratna menatap Enam Serangkai, "saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Kampus harusnya jadi tempat perlindungan ide, bukan tempat pesanan kekuasaan."
Saat keluar dari ruang dekanat, mereka melihat matahari terbenam dengan warna oranye yang indah.
"Skor satu-kosong buat kita lagi," kata Eno sambil merangkul Juna. "Jun, lo beneran penyelamat IPK gue hari ini. Gue traktir lo makan bakso paling mahal di kantin besok!"
"Baksonya pake urat ya, No!" sahut Juna tertawa.
Laras berjalan di samping Bagas, merasa bebannya semakin ringan. Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat sebuah karangan bunga duka cita besar berdiri di depan gerbang kampus.
Di papan bunga itu tertulis: "Turut Berduka Cita Atas Matinya Integritas Mahasiswa. Dari: Sahabat Lama."
"Mereka belum menyerah," bisik Bagas. "Pak Gunawan mungkin di penjara, tapi sisa-sisa kekuasaannya masih mencoba meneror kita lewat cara-cara psikologis."
"Biarin aja," sahut Laras sambil menggenggam tangan Bagas. "Selama kita berenam, bunga duka cita itu cuma bakal jadi pupuk buat mesin Resimen Hijau kita."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...