Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dominic Dimanfaatkan
Mereka kemudian duduk di salah satu sofa yang khususkan untuk VVIP hanya ada orang-orang yang punya status tinggi yang bisa lalu lalang disana.
Beberapa saat kemudian, Celesta sudah nampak mabuk dengan gerakkan luar mencoba mengoda Dominic dengan gelas payung di tangannya, jari-jari yang lentik nampak piawai memegang gelas itu. Namun, Dominic nampak acuh tak acuh pada wanita itu.
Pasalnya Celesta mulai meracau tak jelas, "Dominic bodoh! kau tau aku hanya ingin memanfaatkanmu, padahal aku ingin jadi artis yang terkenal seluruh dunia tapi ternyata semua gagal, dasar pria hina!" ujar Celesta menunjuk dada Dominic dengan kasar, kemudian mengangkat gelas tinggi-tinggi.
"Aku gagal, tapi pasti tidak akan meninggalkan ku, uang ku sudah habis tolong jangan tinggal kan aku," Celesta mengigau dan malah memeluk tubuh Dominic.
Dominic sedikit muak dengan sikap Celesta yang terus menyudutkan nya sejak tadi, meskipun dia diam dan seperti orang bodoh tapi Dominic tidak terlalu bodoh dia tau sekarang arah tujuan Celesta.
"Aku ingin kekamar mandi dulu," kata Dominic mendorong Celesta menjauh.
Wanita itu terhuyung kemudian menoleh kearah Dominic, "Mau kemana kau pria bodoh, pundi-pundi uang ku, hik..." ucap Celesta cegukan karena terlalu mabuk.
Dominic pergi ke hotel yang berada di atas bar, karena kamar mandi di atas lebih aman di banding area bahwa yang penuhi orang berpesta. Ruangan di atas lebih hening karena hanya di masuki orang-orang tertentu.
Dominic memasuki kamar mandi umum di dalam lorong itu dan menatap wajah nya di depan kaca tepat di atas wastafel. Dia mencengkram sisi wastafel dengan kuat.
Mencoba mencerna pikiran dan menghubungkan beberapa potongan puzzle yang telah terlupakan.
Dia ingat saat Celesta pergi meninggalkan dengan alasan yang cukup tidak logis untuk nya, "Aku ingin pergi ke Amerika mencari hal yang ku inginkan sejak lama,"
Dominic tak bisa mencerna apa-apa ketika pria itu tiba-tiba datang ke tempat kerjanya, sembari kenekan meja kerja dengan kuat. Mendengar itu Dominic langsung menjatuhkan pulpennya yang digunakan untuk menanda tangan.
"Kenapa harus sejauh itu? kamu bisa menikah dengan ku, aku bisa menjadikan mu apa saja, aktis terkenal, atau apapun itu," ujar Dominic menatap Celesta dengan lekat-lekat.
"Aku capek Dominic, aku tidak mau terus menjadi peran sampingan, aku ingin aktris yang terkenal dimana-mana. aku ingin mereka tau siapa aku, ada seorang produser yang mengajak ku kerja sama, bukan kah ini kesempatan bagus," keluh Celesta seolah menyudutkan Dominic.
"Celesta..." ujar Dominic suaranya tertahan.
"Ah... sudah kamu tidak mengerti Dominic, lebih baik kita putus," putus Celesta dengan tiba-tiba, membuat Dominic tertekun.
Celesta langsung pergi begitu saja, tidak membiarkan Dominic berbicara lagi. Dominic hanya bisa melihat punggung Celesta yang menghilang di balik pintu ruangan kerjanya.
Setelah semua itu terjadi Dominic masih mencintai Celesta meskipun dia sudah tau banyak orang yang menceritakan di Amerika, Celesta sering kali berganti-ganti pria dan wanita itu nampak menikmati.
Dominic tidak ingin mendengar nya, dia ingin melihat langsung. Namun, dia terlalu sibuk untuk mencari Celesta, pekerjaannya cukup menumpuk untuk sekedar pergi ke Amerika.
Dominic berhenti dari lamunannya, kemudian mencuci wajah dengan kasar. Dia tidak ingin berlarut-larut dalam dilema, Celesta baru saja pulang. Dia belum tau pasti apakah benar perkataan orang-orang, Dominic masih deniel pada keadaan nya.
Hingga tiba-tiba tubuhnya berhenti di ujung lorong melihat Celesta memasuki lorong dengan gontai, Dominic ingin menghampiri nya, namun tiba-tiba seseorang keluar dari salah satu kamar dan menghampiri Celesta.
"Sayang, kenapa kamu disini, mana si Dominic itu," ujar pria itu merangkul Celesta di pinggangnya, Dominic terlihat ingin marah seolah mengatakan pria melakukan pelecehan.
Namun, beberapa saat kemudian Dominic sadar bahwa Celesta seolah tidak menolak rangkulan itu, namun malah memeluknya dan memberikan kecupan singkat, "Dia sudah meninggalkan ku, pria itu hanya bahan yang ingin ku manfaatkan saja, yang ku cintai hanyalah kamu,"
"Yang benar saja." ujar pria itu menaikkan alis dengan wajah yang nampak senang.
Dominic mulai merasakan perasaan marah dan kecewa, wanita itu bukan mabuk tapi mengatakan kejujuran yang membuat nya sadar akan kebodohannya.
Tangannya kini mengepal dengan erat, buku-buku tangan mulai memerah karena menahan perasaan marah. Nafasnya kini terasa berat dan tidak teratur, dadanya naik turun seperti habis lari maraton.
"Ayo kita masuk, sayang," ucap pria itu membopong Celesta tepat di dekapannya.
Pintu kamar itu terbuka sedikit memperlihatkan terangnya lampu di dalam kamar, di antara temaramnya lampu di luar ruangan.
Tanpa sadar membuat Dominic melangkah dengan perlahan sebab penasaran dan ingin melihatnya lebih jelas sekarang.
Meskipun hatinya berteriak untuk berhenti sekarang juga karena semuanya terlihat tidak benar sekarang. Dia berhenti di sela-sela pintu yang terbuka, matanya mengintip dengan tajam di sela pintu yang terbuka itu.
Celesta berbaring dengan lemah di atas ranjang itu, ketika pria itu mencium tangannya dan tersenyum jahil,
"Kamu serius tentang Dominic?"
"Iya tentu saja sayang, apa lagi kalau bukan memanfaatkan nya, aku sudah muak dengan pria yang posesif itu, aku hanya ingin bersenang-senang," ucap nya dengan merentangkan tangannya dan memeluk dengan posesif pria itu.
kemudian, kepala Celesta bersandar pada tubuh pria itu, yang kini menyesap leher wanita itu dengan bebas seolah tidak ada siapapun yang bisa menghentikan kegiatan mereka malam itu.
Tangan pria itu bergerak bebas di tubuh Celesta membuat wanita itu meracau tidak karuan sebab kenikmatan.
Pemandangan itu membuat Dominic terasa di tusuk beberapa kali, dia yang selalu menjaga dirinya untuk tidak bersentuhan bahkan pada istrinya sendiri acuh tak acuh. Tapi, kenyataan nya wanita itu malah benar-benar menghianatinya dengan terang-terangan.
Dia ingin menerobos masuk saat ini dan ingin meminta penjelasan pada Celesta pada saat ini juga, namun tubuhnya terasa membeku. Melihat kenyataan yang terjadi di depan matanya.
Dominic kemudian meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa tak ingin lagi melihat kemesraan kedua orang yang sedang menyatukan diri di dalam ruangan itu.
Kedua pasangan itu merasakan ada gelagat yang aneh, lalu menoleh kearah pintu, "Kamu kenapa sayang?" tanya Celesta, ketika melihat pasangan menoleh kearah pintu.
"Tidak ada... tapi aku lupa menutup pintu, tunggu aku ya sayang," ujarnya turun dari ranjang, kemudian berjalan menuju pintu hanya untuk menutupnya.
Dia sedikit mengeluarkan kepalanya yang ternyata tidak ada siapa-siapa, pria itu merasa lega dan menutup pintu tanpa menyadari sedari tadi ada yang menguping.