NovelToon NovelToon
Tergoda Paman Tunanganku

Tergoda Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Cinta Terlarang
Popularitas:23.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.

------------- 💫

‎Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.

‎Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.

‎"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.

‎Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 : Perhatian yang tak terlihat.

Setelah menemani ibu dan bibinya Viona jalan-jalan serta makan siang di restoran, Farel melajukan kembali mobilnya menuju ke arah hotel dimana asisten papanya kini sudah menunggu disana.

‎"Nak Farel, terima kasih ya sudah menemani kami jalan-jalan," ucap Diana saat mereka sudah keluar dari mobil.

‎Farel mengangguk dan memberikan senyum hangat. "Sama-sama Tante. Itu adalah kewajiban saya sebagai calon menantu Tante."

‎Bibi Reni menoleh pada Viona yang berdiri disampingnya, mendekatkan sedikit wajahnya dan mulai berbisik. "Bibi dengar paman Bima memiliki adik yang masih single, lain kali kalau bibi datang kesini lagi kamu harus memperkenalkan bibi padanya ya," ucapnya dengan nada sedikit bercanda.

‎‎Viona terkejut mendengarnya dan menolehkan kepalanya cepat ke arah sang bibi, "Ah, bibi... aku tidak bisa melakukan itu. Lagipula dia orang yang sangat tertutup dan irit bicara, kami tidak dekat."

‎‎Bibi Reni menghela napas, wajahnya sedikit kecewa, "Sayang sekali ya, padahal bibi sudah ingin melepas status janda."

‎‎Melihat ekspresi sedih di wajah bibi Reni, Viona berusaha menahan tawa. Dia segera menarik lengan bibi Reni lebih dekat dan kembali berbisik. "Bibi jangan sedih dong. Lagian paman Arsen itu orangnya sangat dingin dan sulit untuk didekati, makanya tidak ada wanita yang mau dekat dengan dia. Aku juga penasaran, wanita seperti apa yang bisa menaklukkan pria sedingin dia nantinya,"

‎‎Bibi Reni yang mendengarnya pun tersenyum, rasa kecewanya perlahan sirna. "Mungkin jodohnya nanti manekin, Vio."

‎‎Keduanya tertawa, mengundang atensi Farel dan Diana untuk menoleh ke arah mereka. Asisten Robby yang sudah menunggu dengan sabar pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka. Dengan sikap yang profesional dan sopan dia membungkuk sedikit sebelum berbicara.

"Bu Diana, Bu Reni, kendaraan sudah siap untuk mengantar Anda berdua pulang. Semua perlengkapan juga sudah ditempatkan di dalam mobil," beritahunya.

‎‎Diana mengangguk dan segera menghadapkan wajahnya ke arah Farel dan Viona. "Baiklah nak, kami pulang dulu. Farel, kamu tolong jaga Viona baik-baik selama dia disini ya. Tante percayakan Viona sama kamu."

‎‎Air mata Viona menetes dengan begitu saja, dia memeluk ibunya dengan erat, "Ibu baik-baik ya dirumah, aku akan sering pulang untuk mengunjungi Ibu."

‎‎Diana mengangguk, mengusap lembut punggung putrinya untuk menenangkan. "Ya sudah, Ibu pulang dulu ya, sayang. Dengarkan baik-baik ucapan paman Bima dan jangan pernah membantahnya ya,"

‎Keduanya saling melepaskan pelukan, dilanjut dengan bibi Reni yang memberikan pelukan singkat pada Viona sebelum berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di depan pintu hotel.

‎‎Setelah mobil yang membawa kedua wanita itu benar-benar hilang dari pandangan, Farel melihat wajah Viona dengan senyum yang mengundang. "Kita jangan langsung pulang dulu ya, aku ingin mengajak kamu bertemu dengan teman-temanku dan memperkenalkan kamu pada mereka."

‎Viona mengangguk, "Baik, tapi sebaiknya kita telepon kakek dulu dan bilang kalau kita akan pulang telat."

‎‎"Tidak perlu melakukan hal-hal seperti itu, Vio. Kita ini sudah dewasa dan tidak perlu apa-apa harus meminta ijin pada orang tua," ujar Farel.

‎‎"Tapi Rel---"

‎‎Viona masih merasa ragu, namun tak punya kesempatan untuk melanjutkan ucapannya karena Farel sudah menarik tangannya dan membuka pintu mobil, mengajaknya untuk masuk.

‎‎Perjalanan menuju ke rumah teman Farel hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Beberapa mobil sudah berjejer rapi di halaman rumah tersebut.

‎‎"Ini rumah siapa, Rel? Kenapa kelihatannya ramai sekali," tanya Viona dengan suara sedikit khawatir, pandangannya menyapu sekitar.

‎‎"Tenang saja Vio, ini rumah temanku. Orang tuanya ada diluar negeri dan hanya pulang sebulan sekali, jadi dia tinggal sendirian disini." jawab Farel lalu menarik tangan Viona dan membawanya masuk.

‎‎Suasana didalam rumah sudah cukup ramai, disana sudah ada beberapa orang muda yang sedang duduk bersama. Salah satunya adalah seorang wanita cantik dengan rambut panjang yang langsung berdiri dan menghampiri mereka dengan senyum lebar.

‎‎"Farel! Akhirnya kamu datang juga. Wah, si cantik ini pasti Viona ya? Senang bertemu denganmu, aku adalah Lisa, temannya Farel," ujarnya sambil mengulurkan tangan pada Viona.

‎‎Viona dengan sopan menyambutnya, namun dia tetap merasa sedikit tidak nyaman karena lingkungan yang baru dan orang-orang yang belum dikenalnya. Farel mengajak Viona duduk di sofa yang masih kosong dan memperkenalkannya pada teman-temannya yang lain.

‎‎"Wah akhirnya ada yang mau diajakin serius nih, Rel, kirain cuma mau diajak main-main doang seperti yang sudah-sudah." Rio mulai mengeluarkan candaan.

‎‎Adit menyikut Rio dan menambahkan dengan nada yang sedikit merendahkan, "Harusnya Farel berterima kasih sama Viona nih. Kalau bukan Viona, siapa lagi yang mau jadi calon istri orang yang suka mainin perasaan cewek seperti Farel ini."

‎‎Lisa ikut menyambung, "Hush, selama belum ada ikatan yang jelas, nggak masalah lah gonta-ganti pacar. Ya kan, Rel?"

‎‎"Eh, sudah punya tunangan pun nggak masalah lah kalau cari wanita lain pas lagi bosan sama pasangan, ya nggak?" sambung Adit yang diiringi tawa oleh yang lainnya.

‎‎Viona hanya terdiam dengan tangan yang mulai menggenggam kain dress yang dia kenakan. Merasa tidak nyaman dengan kalimat candaan yang dilontarkan oleh teman-teman Farel. Bahkan Farel sendiri seperti tidak keberatan ataupun marah dengan candaan teman-temannya itu dan malah ikut tertawa, seolah candaan seperti itu sudah biasa baginya.

‎‎-

‎-

‎-

‎‎"Sudah hampir jam delapan malam, kenapa dua anak itu belum juga pulang?" ucap Saskia dengan suara gemetar, "Kalau mas Bima pulang dan mengetahui Farel belum mengajak Viona pulang kerumah, mas Bima pasti akan sangat marah."

‎‎Tuan Danu menghela napas panjang, kedua tangannya menyilang di dada. "Ayah juga sudah mencoba menghubungi Farel berkali-kali, tapi teleponnya tidak bisa dihubungi. Padahal mereka seharusnya sudah pulang sejak sore."

‎‎Arsen yang baru saja memasuki ruang tamu dengan membawa paperbag berukuran besar ditangannya pun menghentikan langkahnya saat mendengar pembicaraan mereka. Wajahnya yang tadinya tenang kini mulai tampak serius.

‎‎"Kenapa tidak mencoba menghubungi nomor Viona untuk menanyakan keberadaan mereka?" tanya Arsen sambil melangkah mendekat, membuat Ayah dan kakak iparnya menoleh ke arahnya.

‎‎"Sudah, tapi tidak aktif," jawab Saskia dengan cepat. "Ibu dan bibinya Viona sudah diantar sejak jam dua siang tadi. Harusnya mereka sudah langsung pulang, tapi ini sampai jam segini malah tidak ada kabar."

‎‎Arsen mengangguk paham. "Aku akan mencari mereka. Kalau kak Bima pulang dan bertanya, bilang saja mereka sedang makan malam diluar."

‎‎Sebelum Tuan Danu bisa menyanggah ucapan putranya, Arsen sudah berjalan menuju pintu keluar. Dia meletakkan kembali paperbag yang dia bawa di kursi samping kemudi dan segera melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah, berpikir tentang beberapa tempat yang mungkin biasa dikunjungi oleh Farel.

‎‎"Aku sudah yakin, anak itu tidak akan langsung cepat berubah. Dia pasti akan membuat masalah lagi." bisiknya cemas, melajukan mobilnya sedikit lebih kencang.

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
jawabannya kan sudah jelas.. levelnya beda. kalian aja yg gak paham aturan mainnya... ehh/Silent/
Zuri
setengah benar.. ehhh/Silent//Silent/
Zuri
ibumu nolak di awal. entar juga menerima, seperti seseorang🤭
Zuri
bisanya cuma ngancem doang🤧
Zuri
kabur aja Vio🤣🤣
Eva Wahyuni
aduh Thor 😭😭😭..
panjang banget perjuangan cinta mereka..
ayolah Lisa, datang lah ke rumah farel dan beberkan tingkah laku nya farel dan tentang kasus nindi...
Zuri
baru tunangan aja kok.. lagian, mendiang bapak Viona jga gak bakal rela lah kalo putrinya nikah ma orang yg udah ngerusak orang lain/Slight/
Zuri
aduhh🤣🤣🤣 siapkan jantungmu aja lah yaa
Zuri
yg ada tubuhnya yg bicara, bukan mulut/Hammer/
Zuri
mo kasian,,, tapi emang farel layak??/Slight//Slight/
Zuri
drama perpisahan di depan mata noh paman Bima🤧🤧
Zuri
mna bisa begitu... cobranya udah dapet sarang yg enak mana mau dilepas.. ehh/Silent//Silent/
Zuri
jujur lebih baik ya Vio
Zuri
mana bisa bgituu... yg jebol gawang Arsen loh/Slight//Slight/
Zuri
Farel itu ngamuknya gegara gagal unboxing🤣🤣
Zuri
disidang🤧🤧
zee
wah tambah seru nih
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak masih setia menyimak 🙏😁
total 1 replies
Zuri
salah sendiri punya pikiran kotor🤧🤧
🔥Violetta🔥: Nggak kotor nggak anuuun🤣🤣
total 1 replies
Zuri
sadar kali kak, bukan dasar/Silent/
🔥Violetta🔥: Efek mabok tulisan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zuri
tenang saja vio.. pamanmu akan melindungimu🤭🤭
🔥Violetta🔥: Melindungi sampai kedalam-dalam 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!