Kimberly kembali ke negaranya bersama ke empat anak kembarnya untuk membawa anak sulungnya yang terpaksa dititipkan oleh seorang pria. Di mana pria tersebut adalah seorang CEO yang terkenal dengan kekejamannya dan super dingin.
Kimberly hamil di luar nikah karena melakukan hubungan satu malam dengan seorang pria. Di mana saat itu Kimberly di jebak oleh Ibu tirinya dan adik tirinya demi mendapatkan warisan yang ditinggalkan oleh Ibunya.
Selain ingin membawa putra sulungnya, Kimberly berniat membalaskan dendam terhadap Ibu tirinya dan juga adik tirinya dengan cara menikah dengan pria yang membuat dirinya hamil.
Akankah rencananya berjalan lancar? Apakah pernikahan Kimberly berakhir bahagia atau bercerai? Mengingat banyak orang yang ingin memisahkan hubungan mereka. Ikuti yuk novel terbaruku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput Kimberly
"Proyek pembangunan resort di pantai Belenza di mana nilai investasinya mencapai miliaran dolar diberikan padamu." Ucap Kimberly mengulangi perkataan Ayah Kevin.
"Ya." Jawab Ayah Kevin dengan singkat.
"Maaf, Aku tidak bisa memenuhi permintaan ini." Ucap Kimberly menolaknya dengan tegas.
"Kamu belum mencoba tapi kamu sudah bilang tidak bisa! Apa gunanya Aku membesarkanmu?" Tanya Ayah Kevin dengan nada satu oktaf.
"Lebih baik Ayah pikir terlebih dahulu sebelum bicara. Aku baru menikah dua hari dengan Keluarga Roberto. Jadi mana mungkin mereka mau memberiku proyek sebesar ini?" Tanya Kimberly dengan nada kesal.
"Aku sudah bilang kalau Dia itu tidak mempunyai kemampuan. Lagipula Tuan Diego Roberto itu sudah cacat jadi bisa dipastikan Keluarga Roberto akan di pimpin oleh Paman ke dua yang nantinya akan diwariskan ke putra semata wayangnya." Ucap Cintya dengan nada ketus.
"Lebih baik kita menemui Nyonya Besar Kedua dari Keluarga Roberto." Sambung Cintya memberikan solusi.
"Oh, jadi kalian tidak tahu kalau mata Diego sudah sembuh?" Tanya Kimberly.
"Kimberly, kamu itu menikah dengan suami yang lumpuh dan buta. Apa jangan-jangan kamu sudah gila? Karena mengira Diego Roberto bisa melihat?" Tanya Cintya.
"Mana mungkin kamu baru menikah dua hari dengan Diego Roberto, matanya langsung sembuh? Selain itu mana mungkin ada kebetulan seperti itu?" Tanya Cintya lagi.
"Kalau matanya sudah bisa melihat , kenapa Dia tidak menemanimu pulang ke rumah orang tuamu? Apa jangan-jangan Dia memandangmu dengan sangat rendah?" Tanya Cintya sambil tersenyum jahat.
"Ada orang yang merasa sudah menyandang gelar Nyonya Muda Roberto tapi menganggap dirinya lebih tinggi dari pada orang lain." Ucap Cintya sambil berdiri.
"Orang rendahan sepertimu mana mungkin bisa menjadi bangsawan?" Tanya Cintya sambil menatap Kimberly dengan tatapan merendahkan.
Kimberly hanya terdiam dan membiarkan mereka berbicara sepuas hati mereka. Hal ini dikarenakan dirinya ingin mengulur waktu agar Alexander bisa segera menemukan mencari keberadaan kalung berlian biru secepat mungkin.
Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan di mana Alexander bersama ke dua pelayan berjalan ke arah halaman belakang.
Namun ketika sudah berada di taman belakang, Alexander tiba-tiba berlari dengan sekuat tenaga dan hal itu membuat ke dua pelayan tersebut terpaksa berlari mengejarnya.
"Tuan Muda Kecil! ... Tuan Muda Kecil!" Teriak ke dua pelayan dengan serempak sambil berlari.
"Tuan Muda Kecil jangan berlari! ... Berhenti!" Teriak salah satu pelayan itu lagi.
Namun Alexander terus berlari dengan kencang hingga ke dua pelayan tersebut menghentikan langkahnya dengan nafas memburu.
"Hosh .... Hosh .... Dia tidak mungkin bisa kabur kemana-mana. Jadi biarkan saja Dia bermain di halaman dan tidak usah kita mengawasi." Ucap salah satu pelayan dengan nafas ngos-ngosan.
"Benar juga. Lebih baik kita istirahat saja." Ucap temannya dengan nafas tersengal-sengal karena tidak terbiasa berlari.
Temannya hanya menganggukkan kepalanya kemudian ke dua pelayan tersebut duduk di bangku taman untuk istirahat.
Sedangkan Alexander masih berlari hingga beberapa saat kemudian Alexander menghentikan langkahnya. Hal ini dikarenakan dirinya sudah merasa cukup jauh dari ke dua pelayan tersebut di tambah dirinya bersembunyi di bawah rimbunan pohon.
"Amanda, ini Kak Alexander." Ucap Alexander dengan menggunakan ponsel yang berbentuk jam tangan.
("Ya." Jawab Amanda dengan singkat).
"Aku harus pergi ke arah mana?" Tanya Alexander.
("Dua belas meter ke depan ada taman mawar. Kakak turun ke sana untuk mencapai ruang bawah tanah." Jawab Amanda yang bisa menguasai program IT).
"Aku mengerti." Ucap Alexander.
Kemudian Alexander kembali berlari ke arah yang di tunjuk oleh Amanda. Hingga beberapa saat kemudian Alexander sudah berada di ruang bawah tanah Keluarga Baskoro yang jarang dikunjungi oleh Keluarga Baskoro.
Alexander melihat ruangan tersebut terang benderang karena lampu-lampu dinyalakan oleh seseorang. Hal itu membuat Alexander waspada dan berjalan dengan perlahan agar tidak ada orang yang mendengarnya.
Alexander berjalan menuruni anak tangga satu demi satu hingga Alexander berada di ruang bawah tanah. Alexander dengan perlahan berjalan ke arah salah satu kamar tersebut.
Namun ketika sampai di depan kamar Alexander sangat terkejut. Pasalnya Adrian dan Alma berada di ruangan tersebut sambil mengacak barang-barang yang tersusun di dalam lemari.
"Haa ... Kenapa Kak Adrian dan Alma ada di sini?" Tanya Alexander dengan wajah masih terkejut.
"Mommy bilang kalau kalung berlian biru milik Nenek sangatlah penting. Aku kuatir Adik Ketiga tidak bisa menemukannya karena itulah Aku datang bersama Adik Keempat untuk membantumu menemukannya." Jawab Adrian menjelaskan.
"Kalau begitu kita bertiga mencarinya bersama-sama agar segera menemukan kalung milik Nenek." Ucap Alexander yang tidak ingin membuang waktu mengingat kalung tersebut sulit ditemukan.
Hal ini dikarenakan ruang bawah tanah tersebut sangat luas dan banyak kamar. Ke dua saudara kembar langsung setuju, kemudian Adrian membagi tugas ke dua adik kembarnya untuk mencari keberadaan kalung berlian biru di kamar yang di tunjuknya.
Kemudian ke tiga anak kembar tersebut berpencar dan memasuki kamar yang berbeda untuk mencari keberadaan kalung berlian biru tersebut.
Sedangkan di tempat yang berbeda di mana Diego sedang berbaring di ranjang karena dokter yang di tunjuk untuk memeriksa keadaan ke dua kakinya yang masih lumpuh sudah datang dan sedang memeriksa salah satu kakinya.
Dokter tersebut memijat kaki kanan Diego sedangkan Diego terdiam sambil berharap ke dua kakinya bisa kembali normal seperti dulu.
Namun beberapa saat kemudian .....
("Kenapa Aku bisa merasakan sentuhan pijatannya?" Tanya Diego dengan wajah terkejut).
("Sebelumnya kedua kakiku sama sekali tidak merasakan apa-apa walau di pijat oleh dokter ataupun Aku pukul." Sambung Diego dengan wajah bingung).
"Dokter, tadi dokter menekan di bagian mana? Coba di tekan lagi." Pinta Diego takut dirinya salah.
"Maaf Tuan Muda, memangnya ada apa? Apa kaki Tuan Muda sudah bisa merasakan?" Tanya dokter tersebut dengan wajah terkejut sekaligus bahagia jika seandainya Diego bisa kembali berjalan seperti dulu.
Diego hanya menganggukkan kepalanya kemudian dokter tersebut kembali memijat di tempat yang tadi dirasakan oleh Diego. Namun ...
"Aku tidak merasakannya. Mungkin hanya perasaanku saja." Ucap Diego dengan wajah kecewa.
Dokter tersebut hanya menganggukkan kepalanya sambil masih memijat kaki Diego. Hingga beberapa saat kemudian pintu kamar Diego di ketuk oleh seorang pria tampan.
"Masuk." Jawab Diego dengan singkat.
Pria tampan tersebut kemudian masuk ke dalam di mana nama pria tersebut adalah Asisten Mike. Asisten Mike berjalan ke arah Diego untuk memberikan laporan.
Dokter yang sedang memijat kaki Diego langsung menghentikan pijatannya kemudian pergi keluar mengingat Diego dan Asisten Mike ingin berbicara berdua secara rahasia.
Diego yang melihat kedatangan Asisten Mike langsung bangun dan duduk di sisi ranjang. Kemudian Diego mengarahkan tangannya ke arah meja untuk mengambil plastik yang berisi rambut Kimberly.
"Ini rambut Kimberly, tolong kamu bawa ke pusat forensik dan bandingkan DNA-nya dengan Arnold." Pinta Diego sambil memberikan plastik tersebut ke Asisten Mike.
"Baik, Tuan Muda." Jawab Asisten Mike dengan patuh sambil menerima plastik tersebut.
"Begitu hasilnya keluar, Saya akan segera menyampaikannya kepada Tuan Muda." Sambung Asisten Mike sambil memasukkannya ke dalam saku jasnya.
"Hmmmm ..." Ucap Diego berupa deheman.
Kemudian Asisten Mike pergi meninggalkan kamar Diego bersamaan kedatangan salah satu pelayan Ibunya.
"Tuan Muda, Nyonya Muda pulang ke rumah orang tuanya. Selain itu Nyonya Muda juga membawa Tuan Muda Kecil." Ucap pelayan tersebut.
"Kapan mereka pergi?" Tanya Diego penasaran.
"Saat Tuan Muda sedang istirahat siang." Jawab pelayan tersebut.
Diego hanya terdiam sambil berpikir apakah perlu menjemput Kimberly dan putra sulungnya atau tidak sama sekali.