Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: RETAKAN DI ATAS KACA
Malam setelah kejadian di dermaga itu, Kai tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia menutup kelopak matanya, ia melihat kilatan ungu pucat yang ia saksikan di langit—sebuah anomali dalam dunianya yang monokrom. Warna itu terasa seperti peringatan sekaligus janji yang menakutkan. Di satu sisi, ia menginginkannya kembali; di sisi lain, ia takut jika warna lain muncul, warna merah yang paling ia hindari juga akan ikut kembali.
Ia duduk di lantai apartemennya, dikelilingi oleh sketsa-sketsa yang ia buat bersama Elara. Ruangan itu terasa lebih sempit dari biasanya. Suara detak jam dinding tua miliknya terdengar seperti palu yang menghantam paku.
Tok!!Tok!! Tok!!
Bukan jam dinding. Seseorang sedang mengetuk pintu apartemennya.
Kai membeku. Tidak ada yang pernah mengunjunginya kecuali Pak Aris, dan pria tua itu biasanya akan berteriak dari balkon jika butuh sesuatu. Ketukan itu terdengar terlalu sopan, terlalu ritmis, dan entah kenapa, sangat dingin.
Kai berdiri, tangannya secara insting meraih batang arang di meja seolah itu bisa melindunginya. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit.
Seorang pria berdiri di lorong yang remang-remang. Ia memakai mantel hitam mahal yang tampak asing di gedung apartemen kumuh ini. Wajahnya tajam, dengan senyum simpul yang tidak mencapai matanya yang berwarna cokelat tua—satu-satunya hal yang Kai sadari tampak "lebih gelap" dari abu-abu di sekitarnya.
"Lama tidak bertemu, Kai," ucap pria itu. Suaranya halus, seperti gesekan beludru di atas luka terbuka.
Dunia Kai seolah berhenti berputar. Napasnya tercekat di tenggorokan. "Yudha?"
"Kau ingat namaku. Aku tersanjung," Yudha melangkah masuk tanpa diundang, membuat Kai terpaksa mundur. Yudha mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang berantakan itu dengan ekspresi jijik yang disamarkan. "Jadi, di sinilah kau bersembunyi selama tiga tahun? Di antara tumpukan sampah dan kertas kotor?"
"Apa yang kau lakukan di sini?" suara Kai gemetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang berusaha ia kubur sedalam mungkin. "Bagaimana kau menemukanku?"
Yudha tidak menjawab. Ia berjalan menuju meja kerja Kai, melihat sketsa sungai yang baru saja dibuatnya sore tadi. "Kau masih menggambar. Menarik. Kupikir kau sudah mati bersama warna-warnamu di malam itu."
"Keluar," desis Kai.
Yudha berbalik, wajahnya kini datar. Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat—amplop yang sama yang ia pegang saat mengamati Kai di dermaga. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di atas sketsa sungai yang masih basah dengan debu arang.
"Ibumu sakit, Kai. Dia terus memanggil namamu," ucap Yudha dingin. "Tapi tentu saja, kau terlalu sibuk mengasihani dirimu sendiri di kota terkutuk ini untuk peduli, bukan?"
Kai merasakan jantungnya seperti dihantam godam. "Ibu...?"
"Dia tidak punya banyak waktu. Dan ada masalah dengan asuransinya. Masalah yang bermula dari... kecelakaan yang kau sebabkan itu." Yudha mendekat, aroma parfum mahalnya yang tajam memenuhi indra penciuman Kai, membuatnya mual. "Kau lari dari tanggung jawab, tapi utang tidak pernah lupa jalan pulang, Kai."
"Aku tidak lari!" teriak Kai. "Aku kehilangan segalanya malam itu! Kau tahu itu!"
"Kau kehilangan penglihatan warnamu, Kai. Tapi orang lain kehilangan nyawa," Yudha berbisik tepat di telinga Kai. "Jangan berpura-pura menjadi korban di sini."
Setelah mengucapkan kalimat yang menghancurkan pertahanan Kai, Yudha berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. "Bacalah dokumen di dalam amplop itu. Jika kau ingin menebus sedikit saja dosamu, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Aku akan menunggumu di hotel pusat kota sampai besok malam."
Pintu tertutup dengan suara debuman pelan, namun bagi Kai, itu terdengar seperti ledakan.
Ia jatuh terduduk di lantai. Oksigen seolah menghilang dari ruangan itu. Bayangan malam tiga tahun lalu kembali dengan kekuatan penuh. Lampu jalan yang remang, aspal yang basah oleh hujan, dan suara benturan logam yang mengerikan. Dan di sana, di tengah-tengah kekacauan itu, ada warna merah. Merah yang kental, merah yang mengalir, merah yang merenggut satu-satunya orang yang pernah mencintai Kai tanpa syarat.
Tangannya meraba-raba mencari kertas, apa saja. Ia perlu mengeluarkan rasa sesak ini. Ia mengambil amplop dari Yudha, tidak peduli pada isinya, dan membaliknya untuk menggunakan bagian belakangnya sebagai kanvas.
Ia menggoreskan arangnya dengan liar. Tidak ada lagi bentuk, tidak ada lagi melodi. Hanya coretan hitam yang tumpang tindih, menggambarkan jeritan yang tertahan di tenggorokannya. Ia menggores begitu keras hingga kertasnya robek, hingga arangnya hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang mengotori lantai.
"Berhenti... berhenti..." bisiknya pada dirinya sendiri, namun tangannya tidak mau berhenti.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di kasur bergetar. Sebuah pesan masuk.
Elara: Aku baru saja mencoba memainkan nada yang kau gambar di dermaga tadi. Rasanya aneh, tapi ada kehangatan di sana. Tidurlah yang nyenyak, Kai. Sampai jumpa besok.
Kai menatap layar ponselnya. Nama Elara bersinar di kegelapan, satu-satunya titik terang di tengah badai yang baru saja dibawa Yudha. Pesan sederhana itu menariknya kembali dari jurang kegelapan. Nafasnya mulai berangsur normal, meskipun dadanya masih terasa perih.
Ia melihat tangannya. Hitam pekat oleh arang. Lalu ia melihat amplop itu. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya bukan hanya dokumen medis, tapi juga sebuah foto lama. Foto Kai saat masih kecil, berdiri di taman bunga matahari bersama ibunya.
Di mata Kai, bunga-bunga matahari itu tampak abu-abu mati. Namun, ia bisa mengingat dengan jelas bagaimana ibunya dulu mengatakan bahwa bunga itu adalah "cahaya matahari yang jatuh ke bumi".
Kai meremas foto itu di dadanya. Ia tidak bisa tinggal diam. Yudha benar tentang satu hal: ia tidak bisa selamanya bersembunyi di Oakhaven. Tapi ia juga tidak bisa kembali ke dunianya yang dulu tanpa membawa serta sedikit saja cahaya yang baru saja ia temukan.
Ia harus bicara pada Elara.
Esok harinya, Oakhaven diselimuti kabut yang lebih tebal dari biasanya. Kai berdiri di depan 'The Last Note' bahkan sebelum kafe itu buka. Ia menunggu di bawah lampu jalan, membiarkan salju tipis menumpuk di bahunya.
Saat Elara datang, ia langsung menyadari ada yang salah. Kai tidak lagi menengadah ke langit. Ia menunduk, bahunya tampak lebih berat seolah-olah ia memikul seluruh beban kota di punggungnya.
"Kai? Apa yang terjadi?" Elara mendekat, menyentuh lengan Kai dengan lembut.
Kai mengangkat kepalanya. Matanya merah karena kurang tidur. "Masa laluku baru saja datang mengetuk pintu, Elara."
Elara terdiam, matanya mencari jawaban di wajah Kai. "Siapa?"
"Seseorang yang mengingatkanku bahwa aku tidak pantas berada di sini. Seseorang yang mengingatkanku bahwa aku adalah alasan mengapa dunia ini menjadi abu-abu."
Elara menggenggam tangan Kai yang dingin. "Kau tidak boleh mempercayai suara-suara yang ingin menghancurkanmu, Kai. Kau sendiri yang mengatakannya padaku—bahwa es bisa pecah, tapi ia juga bisa mencair."
"Bagaimana jika aku lebih suka hancur daripada mencair dan harus melihat semuanya lagi?" suara Kai pecah. "Dia ingin aku kembali, Elara. Ibuku sakit."
Elara melepaskan genggamannya, wajahnya menunjukkan keterkejutan, namun juga pemahaman yang dalam. "Lalu kau harus pergi, bukan?"
"Aku takut," aku Kai jujur. "Aku takut jika aku pergi dari sini, aku akan kehilangan satu-satunya alasan yang membuatku ingin melihat warna lagi. Aku takut aku akan kehilanganmu."
Elara tersenyum, senyum paling sedih yang pernah dilihat Kai. Ia merapikan syal Kai yang miring. "Kau tidak akan kehilangan apa pun yang sudah ada di dalam hatimu, Kai. Pergilah. Temui ibumu. Hadapi pria itu. Dan saat kau siap, kembalilah ke sini. Aku akan tetap memainkan piano ini, menunggu sketsa selanjutnya darimu."
Elara mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kunci kecil yang terbuat dari perak. "Ini kunci kotak musik di rumahku. Di dalamnya ada partitur asli 'The Frozen Echo'. Bawalah ini. Jika kau merasa duniamu mulai berubah menjadi merah lagi, pegang kunci ini dan ingatlah suara piano di kafe ini."
Kai menerima kunci itu. Logamnya terasa dingin, namun memberikan kepastian yang aneh.
"Aku akan kembali," janji Kai. "Aku tidak tahu kapan, tapi aku akan kembali untuk menyelesaikan gambar sungai itu."
"Aku pegang janjimu," bisik Elara.
Saat Kai berbalik untuk menuju hotel tempat Yudha menunggu, ia tidak lagi merasa seperti hantu. Ia merasa seperti seorang pria yang sedang menuju medan perang, namun kali ini, ia memiliki senjata yang tidak ia miliki tiga tahun lalu. Ia memiliki sebuah lagu di kepalanya, dan sebuah kunci perak di sakunya.
Di kejauhan, matahari pagi mencoba menembus kabut Oakhaven. Dan untuk kedua kalinya, Kai melihat kilatan warna. Bukan ungu, bukan merah. Tapi emas. Warna emas yang tipis di ufuk timur.
Mungkin, hanya mungkin, musim dingin di hidup Kai mulai mencapai titik baliknya. Namun ia tahu, sebelum musim semi tiba, badai yang paling besar biasanya akan datang menerjang. Dan Yudha hanyalah awal dari badai itu.