NovelToon NovelToon
Belaian Kakak Iparku

Belaian Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: syizha

Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penolakan

Aku bergegas menutupinya dengan telapak tangan. Aku bingung harus beralasan apa.

Aku sampai tak bisa berkata apa-apa. Aku kikuk, panik, dan sekujur tubuhku langsung berkeringat hebat.

"Kamu buruan mandi. Showernya udah bisa dipakai. Mas keluar dulu ya." Akhirnya hanya kata-kata itu yang terucap dari bibirku. Aku segera pergi. Aku sangat kentara sedang ingin melarikan diri.

Aku keluar dari kamar Alana, kembali ke kamarku sendiri. Setelah sampai, kututup pintu kamarku rapat-rapat. Aku berdiri dan bersandar di permukaan pintu tersebut.

"Huffff ...." Aku menghela nafas, sambil kupejamkan mataku.

"Sial!!! Kenapa aku tak bisa menahan pall listriku!!!" rutukku pelan. Sambil mataku kembali tertuju ke arah pal listrikku yang berangsur-angsur kembali ke ukuran semula.

***

Malam harinya ....

Tok ... Tok ... Tok .....

Pintu kamarku diketuk selama beberapa kali.

"Mas Juna!" Alana memanggilku.

"Ya," jawabku. Kuletakkan gadgetku. Aku turun dari tempat tidur. Melangkah menuju ke pintu.

Cekrekkk....

Pintu itu pun kubuka, tampak Alana berdiri di hadapanku. Mataku langsung membulat. Lagi-lagi penampilan Alana membuatku tercengang.

Ia mengenakan t-shirt ketat, bahkan sangat ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ternyata indah bak wanita dewasa. Lalu yang bawah, ia mengenakan hotpants berbahan jeans. Pahanya yang putih mulus pun jadi terpampang jelas.

Seumur-umur Lilian malah tak pernah berpenampilan seperti ini di hadapanku. Walau di rumah, penampilannya tetap sopan dan tertutup.

"Ada apa, Alana?" Aku berusaha mengabaikan penampilan Alana.

"Mas Juna belum makan malam, kan?" tanyanya.

"Belum."

"Barusan aku masak, Mas. Kita makan malam sama-sama, yuk!"

"Kamu masak?" Aku mengernyitkan kening.

"Iya. Habisnya Mbak Liliana nggak ninggalin makanan apa-apa di dapur. Makanya aku berinisiatif masak."

"Oh."

"Yuk!" Alana meraih pergelangan tanganku. Aku tercengang. Tak sempat berkata-kata, Alana sudah lebih dulu menarikku keluar dari ruangan kamarku. Ia membawaku pergi ke ruang makan. Benar, saat ini di atas meja sudah tampak hidangan yang tertata dengan rapi.

"Dulu kata Mbak Liliana, Mas Juna suka tumis omoeba kan?" tanya Alana sambil menarikkan kursi untukku.

"Iya," jawabku datar, sambil duduk.

"Nih, aku masakin khusus buat Mas Juna." Alana ikut duduk sepertiku.

"Makasih ya." Tanggapanku hanya seperti itu. Sedang Alana, ia tampak mengambilkan makanan untukku. Mengisi piring yang ia ambil. Lalu mengisinya dengan nasi, sayur dan lauk. Kemudian ia letakkan tepat di hadapanku.

Aku tertegun. Sikapnya layaknya seorang Istri kepada Suami. Padahal Liliana malah tak pernah sekalipun berbuat seperti itu terhadapku.

"Ayo, Mas. Dimakan!" perintah Alana.

Aku mengangguk. Kulahap makanan di hadapanku. Dan rasanya benar-benar lezat. Mungkin karena aku sudah sangat lama sekali tak makan makanan rumahan seperti ini.

"Gimana, Mas? Enak nggak?" Alana menanyakan pendapatku.

"Enak."

"Benarkah?"

"Mmm ...."

"Sama masakannya Mbak Liliana, enakan mana?"

"Mbak kamu nggak pernah masakin aku."

"Hah!" Alana terkejut.

"Masak sih, Mas? Padahal sebelum menikah, dia hobi banget masak lho. Dan makanannya juga enak, kok. Masak setelah dia menikah sama Mas Juna, dia jadi nggak mau masak."

"Mungkin karena nggak sempet." Aku masih berusaha membela Liliana, walau sebenarnya aku tahu alasan yang sebenarnya. Liliana tak mau melakukan itu, karena dia memang tak sudi berperan menjadi Istri yang baik di rumah ini.

"Issss!!! Emang sesibuk apa sih dia. Kan, cuma guru SD, harusnya banyak dong waktu luangnya," gerutu Alana. Ia tampak geram terhadap kakak perempuannya.

"Oke. Kalau gitu, mulai hari ini selama aku tinggal di sini, aku yang akan masakin Mas Juna. Mas Juna nggak perlu lagi beli makanan di luar," ujar Alana.

"Nggak perlu, Alana! Nanti kamu repot." Aku melarangnya.

"Enggak. Aku nggak repot kok, Mas. Anggap aja itu sebagai balas budi aku karena udah diizinin tinggal di sini." Alana bersikeras.

"Baiklah. Terserah kamu."

Akhirnya aku pun tak bisa melarangnya.

"Terusin lagi, Mas, makannya!" perintah Alana.

Aku pun kembali melahap makananku. Tapi saat aku hendak mengambil minuman, aku tak sengaja menjatuhkan garpuku. Garpu itu pun jadi tergeletak di atas lantai di bawah kakiku.

Kubungkukan badanku. Kuulurkan tanganku ke bawah untuk meraihnya. Aku pun berhasil. Saat hendak kembali ke posisi semula, aku malah sempat-sempatnya melihat ke arah Alana. Melihat pahanya yang terpampang jelas di bawah meja. Juga gundukan kue cucurnya yang nyablak dari balik celana jeans-nya.

Awalnya aku seperti terhipnotis. Tetapi kemudian aku sadar. Aku sedang melakukan hal yang bodoh.

Aku pun buru-buru menegakkan badanku. Tetapi malahan

Duakkkkk....

Kepalaku terbentur permukaan meja makan yang bagian bawah.

"Akhhhhhhhhhh!!!" Aku pun memekik kesakitan sambil memegangi kepalaku.

"Mas Juna kenapa?" tanya Alana sambil menahan tawa. Ia geli melihat kelakuanku. Karena memang saat ini aku benar-benar terlihat bodoh.

"Kepalaku terbentur."

"Kok bisa? Hahahaha ...." Ia akhirnya tertawa.

"Mas Juna lagi serius ngeliatin sesuatu kalik," celetuknya.

Aku tercekat. Wajahku pun langsung memerah dan terasa panas.

Aku tak menimpali kata-katanya. Aku kembali melahap makananku. Aku pura-pura konsen dengan kegiatanku. Dan akhirnya, aku berhasil menghabiskannya. Tanpa berlama-lama, aku berpamitan pada Alana untuk meninggalkan ruangan makan. Aku beralasan ngantuk, dan ingin segera istirahat.

***

Beberapa jam kemudian ....

Aku duduk di ruang tamu di antara lampu temaram di malam hari ini. Aku berkali-kali melihat jam yang tertempel di dinding. Waktu sudah menunjukkan hampir jam dua belas malam.

Dari pagi tadi, Liliana tak kunjung pulang. Aku sudah berusaha meneleponnya berkali-kali. Tetapi dia sengaja tak mau menerimanya. Dia memang selalu seperti ini. Katanya, aku tak boleh mencampuri urusannya.

Brummm

Samar-samar terdengar suara mobil yang berhenti di depan pagar rumah ini. Aku beranjak, aku berjalan menuju ke jendela. Aku mengintip keluar. Liliana turun dari sebuah sedan bewarna merah tersebut.

Setelah itu, mobil pun melaju pergi, sedang Liliana masuk ke halaman. Aku kembali terduduk, sembari menunggu Liliana masuk ke dalam rumah.

Cekrekkk....

Liliana akhirnya muncul.

Dia sedikit terkejut melihat keberadaanku.

"Kok, kamu di sini? Kamu belum tidur?" Pertanyaannya seperti seseorang yang tak memiliki kesalahan apa-apa.

"Aku nungguin kamu dari tadi." Jawabanku dingin.

"Ngapain pakai ditungguin segala." Jawabannya sangat membuatku semakin geram.

"Kamu dari mana?"

"Kan tadi pagi aku udah bilang, aku ada acara sama teman-temanku."

"Kenapa pulang sampai selarut ini?"

"Acaranya memang selesainya jam segini."

"Hufff ...." Aku menghela nafas. Berusaha untuk tetap tenang.

"Harusnya kamu tak boleh seperti ini," tuturku. Aku masih menjaga nada suaraku agar tak meninggi.

"Maksudnya?"

"Kamu itu sudah menikah.

Kamu bukan wanita single lagi.

Harusnya kamu bisa membatasi pergaulanmu dengan teman-temanmu."

Wajah Lilliana langsung memerah. Tampaknya ia tersinggung dan tak suka dengan ucapanku.

"Sejak kapan kamu berhak ikut campur urusanku?" ketusnya.

"Aku bukannya ikut campur, Liliana. Aku hanya__"

"Ini buktinya, kamu udah ikut campur urusanku!!!" Liliana memotong ucapanku. Suaranya mulai meninggi.

"Oke. Kalau menurutmu seperti itu. Ya, aku ikut campur. Karena aku adalah suamimu. Kamu Istriku. Kamu adalah tanggung jawabku. Aku perduli sama kamu."

"Aku nggak butuh kepedulianmu," balas Liliana. Ucapannya sangat mematahkan perasaanku.

"Sudahlah. Aku nggak mau bertengkar lagi. Aku mau istirahat. Capek." Liliana hampir melangkah untuk menjauh dari keberadaanku. Namun, Aku mencegahnya. Aku meraih lengan Liliana. Menghentikan langkah perempuan cantik tersebut.

"Kebiasaan kamu selalu menghindar jika kita sedang bertengkar. Kita harus selesaikan dulu! Aku tak bisa tenang kalau kita berpisah dalam keadaan seperti ini."

Setttt....

Liliana melepas cengkeraman tanganku di lengannya. Ia tak memperdulikan ucapanku. Ia tetap ingin pergi. Tetapi aku tak akan membiarkannya begitu saja. Aku kembali meraih lengan Liliana. Malah kali ini, aku menggeret tubuh Liliana. Liliana yang semula berdiri memunggungiku pun jadi seketika langsung menghadap ke arahku. Dan dengan gegabah

Aku merapatkan bibirku ke bibir Liliana. Aku mencium paksa Istriku. Melumatnya dengan gerakan brutal.

Liliana terkejut. Ia memberontak. Lalu dengan sekuat tenaga, Liliana mendorong tubuhku. Pertautan bibir kami pun jadi terlepas.

Plakkkk....

Begitu mengejutkan Liliana menampar pipiku.

"Sejak kapan kamu boleh menyentuhku, hah!!!" teriak Liliana. Sorot matanya penuh kemarahan.

"Hah!!!"

Tiba-tiba hal lain mengalihkan perhatian kami.

Alana berdiri di ambang pintu antara ruang tamu dan ruang tengah. Wajahnya terlihat syok. Sepertinya ia melihat kejadian yang baru saja. Saat aku memaksa mencium Liliana, dan saat Liliana menampar pipiku.

1
Anna leticia
baru mampir Thor, penasaran banget semoga aja ceritanya seru dan berkesan sampai keakhiir🌹🌹❤️😊
Anna leticia
penasaran mampir, penasaran banget, cuma kata plakor,itu merusak mata, cerita cinta dimulai dari kesalahan 🌹🌹🤔😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!