Meila Ayunda Aksara, mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dia membatalkan pernikahannya dengan tunangannya, Zayan Wijayakusuma. Dia tidak peduli jika keputusannya itu akan membuat nama baik keluarga Aksara rusak. Bagi Meila, keluarga itu sudah rusak sejak lama.
Sudah saatnya Meila membuka topeng keluarganya yang selalu memperlakukan dirinya dengan tidak adil. Selama ini, kedua orang tuanya dan kedua kakaknya menganggap Meila sebagai anak pembawa sial. Cacian dan makian menjadi makanan sehari-hari yang harus Meila terima.
Keputusan besar Meila itu justru membuatnya bertemu dengan Abyan Rayendra Hasan, pria yang siap memberikan Meila sebuah keluarga.
Bagaimana kehidupan Meila setelah dia meninggalkan keluarganya dan Zayan?
Bagaimana kehidupan Meila bersama Abyan?
Yuk simak kisahnya di Setelah Aku Pergi hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Pulang
Sejak pulang jalan-jalan dari pusat kota Tokyo, Abyan sudah merencanakan untuk mengajak Meila pulang. Mempersingkat bulan madu mereka, karena Abyan akan mempertemukan Meila dengan bibi Ana. Mengikuti rencana Narendra, untuk segera menghentikan Jimmy menikmati kekayaan yang bukan miliknya.
"Kita tidak bisa menunggu lagi, Abyan. Sudah waktunya Meila tahu siapa dia sebenarnya." Narendra yang bicara, saat mereka mengadakan pertemuan membahas pengumuman Meila menjadi bagian keluarga Alamanda.
"Baiklah, Aku akan membawa Meila besok ke kampung nyonya Ana," balas Abyan. Narendra mengangguk senang.
"Meila dan Arbie harus segera bertemu. Meila harus tahu, dia tidak hanya sendiri. Dia punya saudara kembar yang terpaksa dipisahkan darinya, demi keamanan mereka berdua."
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Meila setelah tahu semua ini," ujar Erik menimpali.
"Om akan ikut menyaksikan pertemuan Meila dan Arbie. Om akan berangkat ke desa Mulya setelah pengumuman besok."
Pertemuan berakhir, setelah memastikan Abyan membuat video pernyataan bahwa, dia suami Meila. Sayang, penerbangan Meila dan Abyan menuju desa Mulya harus ditunda, karena permintaan Alexander yang tiba-tiba.
Pertemuan keluarga Alexander dan Meila tidak terlalu Abyan harapkan, mengingat bagaimana kelakuan keluarga dari ibunya itu. Namun pertemuan dengan keluarga Alexander hari ini tidak terlalu buruk. Perjalanan mereka yang terganggu, membuat Abyan bisa mengetahui kemampuan Meila.
Selain itu, Abyan bisa mempertegas perasaannya pada Meila dihadapan keluarga Alexander. Meskipun Abyan tahu, itu tidak akan menghentikan keinginan mereka untuk memisahkan Abyan dari Meila. Semata-mata karena kedudukan Abyan sebagai satu-satunya cucu laki-laki Alexander.
Yang paling penting bagi Abyan, dia bisa bicara langsung dengan Alexander. Memastikan Alexander berada di pihaknya. Bukan pada salah satu menantunya, yang merupakan putra bungsu Jimmy.
"Kita pulang Mas?" Tanya Meila saat Dave melajukan kendaraan mendekati pesawat pribadi milik Abyan. Nada bicaranya sedikit menunjukkan kekecewaan.
"Bukan Sayang. Aku akan mengajak kamu ke tempat yang lebih indah," jawab Abyan.
"Benarkah?" Tanya Meila tidak percaya.
"Tentu saja benar. Apa kamu meragukan ucapanku?"
"Tidak. Bukan begitu maksudku. Aku kira kita pulang, karena pengumuman yang dibuat keluarga Alamanda."
"Memang ada hubungannya dengan pengumuman itu." Mariska yang menyahuti ucapan Meila.
Abyan mengangguk, setelah membalas tatapan Meila yang meminta jawaban dari kebenaran yang baru saja Mariska ucapkan.
"Kakak ipar, kamu pasti akan suka berada di sana. Desa itu sangat indah. Itu tempat bang Aby, bang Feri dan bang Erik membuat ekperimen mereka pertama kali."
Meila jadi penasaran dengan apa yang diceritakan Mariska sepanjang perjalanan. Hingga tidak terasa, pesawat pribadi itu mendarat di pangkalan pribadi milik Narendra. Pangkalan yang baru pria itu bangun, setelah menemukan keberadaan bibi Ana dan Arbie.
Dari pangkalan tersebut, mereka masih harus melakukan perjalanan darat selama satu jam untuk sampai di desa Karang, desa tersembunyi. Desa tidak masuk dalam peta. Tidak ada yang tahu tempat itu, selain orang-orang kepercayaan Abyan, Feri dan Erik.
Di sebelah desa Karang, adalah desa Mulya. Desa tempat bibi Ana tinggal, setelah keluar dari kediaman Aksara. Bibi Ana tidak sendiri, dia tinggal bersama orang-orang yang setia dengan keluarga Danunevra. Keluarga orang tua Narendra dan Laura.
Desa Mulya sama seperti desa Karang, tidak masuk dalam peta. Keberadaan mereka benar-benar tersembunyi. Menjadi tempat yang aman bagi bibi Ana, pengawal dan pelayan Danunevra menyembunyikan putra mahkota keluarga tersebut. Arbie, saudara kembar Meila.
Meila menikmati pemandangan selama perjalanan menuju desa. "Tempat ini sangat indah. Aku sepertinya pernah melewati jalan ini untuk mencari bibi Ana. Tapi Aku tidak bisa menemukan tempat tinggalnya."
"Kamu pergi sejauh ini dari kota?" Tanya Abyan terkejut.
"Seorang diri?" Mariska ikut bertanya.
Meila menggeleng. "Aku ditemani kedua kakakku. "Mama bilang, kami harus memastikan bibi Ana berada di desanya."
"Pantas saja bibi Ana tidak mau menemui Meila. Karena ada mereka berdua yang menjadi mata-mata nyonya Hana untuk mengetahui lokasi desa bibi Ana." Abyan bicara dalam hati setelah mendengar jawaban Meila.
Tiba di desa Karang, mereka disambut oleh kepala desa, dan beberapa warga. Meila bisa melihat, kedekatan kepala desa tersebut dengan Abyan dan yang lainnya.
"Selamat datang di desa Karang, Nyonya," ucap kepala desa menyambut Meila.
Meila mengangguk. "Terima kasih, Pak," balas Meila sambil tersenyum tulus.
Malam ini Abyan memutuskan untuk istirahat di desa Karang, sebelum besok pagi mereka menemui bibi Ana di desa Mulya. Desa ini sangat aman untuk mereka beristirahat. Karena desa Karang bukan desa biasa. Semua penduduknya orang-orang yang terlatih menghadapi perang. Desa Karang, adalah salah satu benteng kekuatan milik Abyan.
Pagi harinya, Meila terbangun karena hidungnya mencium aroma masakan dan aroma roti bakar. Serta Aroma kopi yang sangat kuat.
Disampingnya, Abyan masih tidur dengan nyenyak dengan tangannya yang memeluk Meila dengan kuat.
"Kamu pasti sangat kelelahan ya Sayang," gumam Meila sambil mengusap wajah tampan suaminya.
Hingga saat ini Meila masih merasa tidak percaya, dia menjadi istri dari Abyan, seorang pria yang berkuasa. Keputusan Meila untuk pergi dari keluarganya benar-benar membawa berkah dan kebahagiaan untuknya.
Meila jadi ingat berita yang ditunjukkan Mariska padanya kemarin. Banyak hal yang terjadi setelah dia pergi dari keluarganya. Termasuk hal yang terjadi antara Zayan dan Melisa.
"Kakak ipar lihat ini," ucap Mariska sambil memberikan handphonenya pada Meila.
Meila membaca berita tersebut. "Jadi dia menarik seluruh investasinya di perusahaan Aksara dan membatalkan kerja sama mereka. Cukup menarik." Meila mengembalikan handphone Mariska pada pemiliknya.
Meila membayangkan Beni sedang marah-marah dan kebingungan mencari investor baru. Atau pria itu akan datang mengemis pada Zayan. Meila tidak tahu saja, Beni kemarin dilarikan kerumah sakit.
Di rumah sakit. Beni terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Beni terkena serangan jantung. Syukur dia segera dibawa ke rumah sakit, sehingga tidak berakhir fatal.
Semua keluarga Beni juga berkumpul di ruang rawat Beni, tanpa kecuali. Melisa yang kemarin dimarah habis-habisan oleh Ana, ikut ke rumah sakit bersama Risa.
Risa telah menyelamatkan Melisa dari kemarahan Hana. Sehingga dia tidak jadi diusir dari kediaman keluarga Aksara.
"Apa yang terjadi di kantor Mirza? Kenapa papa Kamu bisa terkena serangan jantung begini?" Tanya Risa.
"Zayan menarik semua investasi perusahaannya dan membatalkan semua kerja sama kita, Oma. Jadi sekarang, perusahaan sedang bermasalah. Kita harus mendapatkan investor baru. Kalau tidak, perusahaan akan bangkrut Oma."
"Bukankah sebelumnya perusahaan memang sudah akan bangkrut?" Tanya Risa lagi. "Dan Beni tampak baik-baik saja," sambungnya.
"Kemarin Beni tidak pulang. Katanya sedang berusaha untuk menyelamatkan perusahan."
"Itu benar. Papa sudah berusaha memperbaiki semuanya. Tapi Zayan menarik semua investasi perusahaannya, membuat perusahaan semakin terpuruk. Ditambah berita Melisa kemarin, saham perusahaan semakin anjlok."
Melisa yang duduk di samping oma Risa, memucat. Dia segera menundukan kepalanya, setelah mendengar Penjelasan Mirza. Dia takut disalahkan. Meskipun sudah jelas, dia memang salah.
"Apa tidak ada calon investor yang bisa kamu datangi?"
Mirza menarik napasnya dengan kasar. "Mungkin ada Oma. Tapi, Aku tidak yakin mereka mau menanamkan modal mereka di perusahaan kita."
"Siapa mereka? Biar Opa yang datangi."
"Perusahaan Alamanda dan HAS Company. Seperti yang kalian ketahui, Alamanda adalah keluarga baru Meila dan HAS Company milik Abyan, suami Meila."
Hana yang mendengar ucapan Mirza terdiam. Keduanya adalah perusahan besar. Selama ini Beni sangat ingin bekerja sama dengan perusahan tersebut. Tapi sekarang, Meila berada di dalam keluarga besar tersebut.
"Kenapa kamu tidak yakin mereka mau berinvestasi di perusahaan kita? Apa karena anak pembawa sial itu? Dia hanya sampah dalam keluarga itu. Tidak akan diperhitungkan. Paling sebentar lagi juga dibuang ke jalan."
"Benar yang oma kamu katakan Mirza. Meila tidak akan diperhitungkan dalam keluarga besar itu. Sekarang kita datang ke kantor Alamanda terlebih dahulu, menemui Erik."
Mirza mengangguk kan kepalanya, walau dirinya tidak terlalu yakin. Mirza mengikuti opa Deni keluar dari rumah sakit. Mereka langsung menuju perusahaan Alamanda.
Memasuki gedung pencakar langit tersebut, opa Deni dan Mirza langsung disambut oleh Brian, asisten Erik. Karena sebelumnya, Mirza sudah menghubungi Alamanda terlebih dahulu. Diluar dugaan Erik menerima kedatangannya.
Tentu saja Mirza tidak tahu, jika ini semua sudah dipersiapkan oleh Narendra dan Erik. Tujuan mereka mengambil alih Aksara dari tangan Beni dengan cara yang tidak diduga sama sekali oleh saudara kembar Barra itu.
Perusahaan Aksara dibesarkan oleh Bara dan ayah mereka tuan Aksara. Beni hanya tinggal menikmatinya saja. Sebenarnya dia mendapatkan keuntungan atas perbuatan Hana yang melaporkan keberadaan Laura pada Jimmy.
Kepergian tuan Aksara dan Barra, membuat Beni mengambil alih perusahaan tersebut. Karena itulah yang diinginkan Hana dan orang tuanya. Mereka tidak ingin ada keluarga Aksara lainnya yang boleh menikmati kekayaan tersebut. Termasuk Meila.
Sungguh mereka orang-orang yang dibutakan oleh harta. Tidak peduli jika harus mengorbankan nyawa orang lain untuk mendapatkannya.
Semua tidak akan bertahan lama. Narendra tentu saja sudah menyiapkan tempat yang layak bagi mereka yang sudah membuat adiknya menderita.
udh nyktin,tp msih ngemis....
pdhl udh d ksih kmpensasi,jdga brhak gnggu meila lg....
Ternyata masih banyak rahasia dari asal usul keluarganya Melia...
dsni qta bisa belajar keserakkahan tdk akan bisa membuat kebahagian lebih lama bersama qta ,, tp kehancuran lah yg tiap detik mendekati qta ,,
lanjut kak ,,
penasaran sama kelanjutan ny,,
ga sbr nunggu meila ktmu sm bbi ana dn kmbaran'nya,dia pst bhgia bgt....trs ga sbr jg nunggu pra benalu jd gmbel.....
dtggu next episode ny yx kak
☺️☺️☺️
licik di balas licik ,,
ayoo melisa dari sekarang belajar jdi gembel yuuuk ,,
jgn mau ny hidup enk truus ,,
km bukan keluarga aksara ternyata🤭🤭l🤭🤭/Smug//Smug//Smug/ ,,
Selamat menikmatiii ibu Hana ,, ank yg km bangga2kan ternyata bukan ank km ,, 🤭🤭🤭/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Sly//Sly/
dfnisi kta adalh do'a.....pura2 bngkrut,eeehhhhh....bnrn bngkrut.....
siap2 jd gmbel kl ttp ga mau tobat....
puas bgt sm fkta yg trungkap....
Zayan kl mau nysel,silakan aja sih..tp ga guna....trs kl mau mrebut meila,mkir sribu kali sblm mkin hncur....
yg lcik,d bls lcik....pdhl udh tau kl dia cma ank pngut,msih ga tau diri meebut mlik orng lain....cckkk....