Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
"Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum itu terja—"
Ucapan Brian terhenti.
Tiba-tiba, seorang anak perempuan berlari kencang dan tanpa sengaja menabraknya dengan keras.
"Ah—!"
Sebelum gadis itu terjatuh, Brian refleks menangkap kedua tangannya dengan erat.
Ia berhasil menahannya. "Kau baik-baik saja?"
Brian memperhatikan gadis itu sejenak, terutama di bagian rambut peraknya. "Rambutnya berantakan…" pikirnya singkat.
"M-Maaf…" ucap gadis itu gemetar.
Saat ia memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap Brian, pipinya langsung memerah. Rasa malu semakin menjadi ketika ia menyadari tangan Brian yang hangat masih menggenggam tangannya erat.
"Anu… maaf…"
Gadis berambut perak itu menunduk, matanya tertuju pada tangan Brian yang masih menggenggam tangannya dengan erat. Menyadari hal itu, Brian langsung melepaskannya.
"Ah, ma—"
Namun sebelum Brian sempat menyelesaikan permintaan maafnya, gadis itu sudah berlari pergi meninggalkannya.
"Dia terlihat seperti sedang terburu-buru… rambutnya berantakan, tangannya kasar, dan pakaiannya sedikit kotor…" pikir Brian sambil menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh.
Ia menghela napas pelan. "Sudahlah. Lebih baik aku pergi ke kantin."
Tak lama kemudian, bel istirahat pun berbunyi.
Di salah satu kios kantin sekolah, Brian menjadi satu-satunya murid yang sedang mengantre. Belum semua siswa keluar dari kelas setelah bel berbunyi, sehingga suasana masih relatif lengang. Kesempatan sempurna baginya untuk memesan makanan favorit tanpa harus berdesakan.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama.
"Kau pesan apa, Brian?" tanya John yang tiba-tiba muncul di sampingnya sambil membawa makanannya sendiri.
Tanpa menoleh, Brian menjawab datar, "Hamburger, chicken nuggets, dan jus jeruk."
"Hei, bukankah setiap hari kau pesan itu? Tidak bosan?" John mengernyit heran.
"Tidak. Bagiku ini surga makanan. Aku bisa memakannya kapan saja," jawab Brian santai.
John mengangguk kecil, lalu tiba-tiba bertanya, "Ngomong-ngomong, bukankah dulu kau pernah bilang kalau kau sempat sarapan pagi bersama Amayah?"
Brian langsung bereaksi, berusaha menutupi kebenaran. "Kapan aku mengatakannya?" tanyanya datar.
"Saat ulang tahun Amayah tahun lalu," jawab John ringan.
"Tidak ada. Jangan mengada-ada. Itu hanya imajinasimu," balas Brian sambil memejamkan mata.
Melihat respons yang jelas mencurigakan itu, John justru tersenyum jahil. "Baiklah kalau begitu~"
"Menjijikkan," balas Brian singkat.
Pesanan Brian akhirnya siap. Ia mengambil makanannya lalu berjalan menuju sudut kantin yang lebih sepi. John ikut mengikutinya tanpa banyak bicara.
Di tengah perjalanan, John kembali membuka percakapan. "Oh ya, bagaimana bisa kamu tiba-tiba akrab dengan murid bernama Lena itu?"
"Ah…" Brian terdiam sejenak, lalu menceritakan semuanya dengan wajah datar. Nada suaranya terdengar biasa saja, seolah kejadian itu tidak berarti apa-apa baginya.
Setelah mendengar penjelasan Brian, John akhirnya mengangguk paham.
"Oh, begitu. Aku mengerti," katanya, lalu ekspresinya berubah serius. "Sepertinya akan terjadi konflik cinta segitiga."
Brian berhenti melangkah dan menoleh. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada!" jawab John cepat sambil tersenyum, berusaha menutupi isi pikirannya sendiri.
Brian menatapnya curiga sejenak, lalu memilih untuk tidak peduli.
Saat mereka hampir sampai di tempat duduk yang sepi dan tenang, John kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih serius.
"Lalu bagaimana ke depannya? Apa langkah yang akan kau ambil terhadap wanita itu?"
John sudah cukup lama berteman dengan Brian dan memahami kepribadiannya. Ia tahu Brian bukan tipe pria yang suka terlibat masalah, apalagi konflik yang berhubungan dengan perasaan. Namun justru karena itu, ia penasaran bagaimana Brian akan menghadapi Lena, yang mungkin saja menjadi pemicu masalah di kemudian hari.
Brian berhenti, menatap John dengan wajah serius. Bibirnya sedikit terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu.
Sebelum jam istirahat berakhir, Brian yang hendak memasuki ruang kelasnya mendadak berhenti melangkah. Pandangannya tertuju pada Lena, yang tampak dikelilingi oleh beberapa teman sekelas. Suasana di sekitar gadis itu begitu ramai.
"Lena, apa makanan khas Finlandia?" tanya salah seorang murid perempuan dengan antusias.
Lena tersenyum, namun senyum itu tampak kaku, seolah dipaksakan. "Makanan khas Finlandia didominasi oleh ikan, daging rusa, dan produk roti gandum hitam..."
"Wah, aku jadi semakin penasaran dengan suasana di Eropa."
"Kamu suka nonton film atau karaoke? Kamu bisa ikut dengan kami sepulang sekolah nanti, loh!"
Pertanyaan datang bertubi-tubi. Lena jelas terlihat tidak nyaman dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya. Ia berusaha tetap ramah, meski wajahnya menyiratkan kelelahan. Tiba-tiba, pandangannya teralihkan oleh kehadiran Brian.
Brian melangkah santai menuju bangkunya tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya. Seolah keberadaannya tak terpengaruh oleh keramaian apa pun.
Begitu Brian duduk, bel masuk pun berbunyi.
"Wah, sudah bel. Ayo duduk," ujar salah satu murid.
Kerumunan yang sebelumnya mengelilingi Lena segera bubar dan kembali ke tempat masing-masing. Lena menghela napas panjang, merasa lega sekaligus lelah. Pandangannya lalu beralih ke Brian, yang sudah tertidur pulas di bangkunya.
"Brian..." panggilnya pelan.
Tak ada jawaban. Brian sama sekali tidak bergerak, seolah dunia di sekitarnya tak ada artinya. Lena mengerutkan kening. Saat Brian melangkah tadi, ia sempat menangkap tatapan yang terasa aneh—dingin, namun juga berbeda dari biasanya.
"Ada apa dengan dia?" batinnya.
Beberapa jam kemudian, bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Lena merapikan tasnya sambil teringat niatnya untuk meminta Brian menjadi pemandu di sekolah ini. Namun, saat ia menoleh, bangku Brian sudah kosong.
"Yah..." gumamnya kecewa.
Dengan terpaksa, Lena menyusuri sekolah barunya sendirian. Ia tak ingin merepotkan siapa pun. Langkahnya membawanya berkeliling dari area SD hingga SMA.
"Sekolahnya luas sekali. Wajar sih, sekolah terbaik di Amerika Serikat," gumam Lena sambil tersenyum. "Hebat sekali sekolah swasta bisa memiliki pencapaian setinggi ini."
Ia semakin bersemangat. "Bahkan fasilitasnya lengkap sekali. Lapangan olahraga di tiap jenjang, kantin yang luas, aula besar yang bisa menampung ribuan orang, dan masih banyak lagi!"
Langkah Lena berhenti ketika ia memasuki aula besar. Ia mendekat ke papan mading dan mulai membaca berbagai informasi yang terpajang. Namun, ekspresinya berubah ketika matanya menangkap sebuah judul berita.
Perlahan, Lena membaca.
"Raja Pemalas dan Sang Mata Bara kembali berhasil menduduki peringkat teratas seangkatan untuk kesekian kalinya. Mereka adalah Brian Narendra dan Abigail Amayah..."
"Brian adalah murid terbaik seangkatan...?" Lena terbelalak.
"Dan juga... Amayah... kalau tidak salah, dia satu kelas denganku, ya...?" gumamnya bingung.
"Pantas saja..."
Ia melanjutkan membaca dengan saksama. "Pantas saja dia dibiarkan tidur oleh guru begitu saja..."
Semakin jauh membaca, keterkejutan Lena kian bertambah. Ia tak menyangka klub jurnalistik menuliskan hal-hal sedetail itu.
Alis Lena terangkat tinggi, mulutnya sedikit terbuka. Ia terdiam lama menatap papan mading.
Di sisi lain, Brian ternyata belum pulang. Di lorong sekolah, langkahnya terhenti ketika William tiba-tiba menghadangnya dan menyodorkan setumpuk dokumen.
"Bisa tolong bawakan ini ke ruanganku?" kata William santai.
Brian menatap tumpukan kertas itu dengan malas. "Ini banyak sekali. Kau serius?" keluhnya.
"Jangan malas. Sesekali jadi anak rajin," balas William sambil tersenyum.
"Berisik," gumam Brian kesal.
Meski mengomel, Brian tetap membawa dokumen-dokumen itu menuju sebuah ruangan. Di tengah perjalanan, ia melirik William.
"Jadi, apa yang sebenarnya kau rencanakan padaku?"
William tersenyum ramah. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Jangan berpura-pura polos. Aku tahu kau merencanakan sesuatu," ujar Brian dingin.
"Ikuti alurnya saja," jawab William santai.
Perasaan curiga menggelayuti Brian. Ada sesuatu yang terasa tidak beres. Namun langkahnya terhenti sesaat ketika ia melihat Julia—pacar John—keluar dari ruang kepala sekolah. Kemejanya tampak sedikit berantakan. Ia bahkan sempat membenarkan kancingnya sebelum menyapa Brian dari kejauhan dengan senyum ramah.
Brian tak ambil pusing. Ia mengalihkan pandangan dan melanjutkan langkahnya, fokus menyelesaikan tugas yang diberikan.
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
Setelah menyelesaikan tugas dari William, Brian segera bergegas pulang. Ia melangkah menuju area parkir, tempat sepedanya terparkir rapi. Belakangan ini, Brian lebih memilih bersepeda dibanding berjalan kaki—entah karena lebih cepat, atau karena ia ingin menyendiri.
Setibanya di parkiran, Brian membuka kunci sepedanya. Namun sebelum sempat menaikinya, sebuah suara memanggil dari belakang.
"Brian, kamu belum pulang ya?" tanya seseorang.
Brian mengenali suara itu. Lena.
Namun ia tidak langsung menoleh. Brian hanya fokus mengenakan helm dan menyiapkan sepedanya.
"Lena," panggil Brian akhirnya.
Lena tersenyum kecil. Akhirnya, Brian mau bicara padanya. "Ya, ada apa?" tanyanya ramah.
"Mulai besok, jangan bicara padaku lagi," ujar Brian datar.
"Eh… mengapa?"
Lena membeku. Ia benar-benar tidak mengerti. Sikap Brian yang tiba-tiba menjauh terasa sangat berbeda dari Brian yang ia kenal sebelumnya. Ia hanya bisa terdiam, kebingungan.
"Mengapa…?" suaranya nyaris bergetar.
Brian tidak menjawab. Ia langsung mengayuh sepedanya, meninggalkan Lena sendirian di parkiran.
"Apa yang telah aku lakukan?" pikir Lena.
Di perjalanan pulang, Brian mengayuh sepedanya tanpa menoleh ke mana-mana. Matanya fokus ke jalan, namun pikirannya berantakan.
"Aku tahu tindakanku barusan menyakitinya. Tapi ini demi kebaikannya juga," batinnya.
"Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi… kejadian bertahun-tahun lalu, antara aku dan Kayla."
Bayangan masa lalu kembali muncul tanpa permisi.
"Sekarang bagaimana kabarnya ya? Apakah dia sudah sembuh… semoga begitu."
"Semoga dia tidak hidup di bawah bayang-bayangku—seseorang yang telah menghancurkan hidupnya."
Rasa bersalah itu tak pernah benar-benar pergi. Bertahun-tahun berlalu, namun Brian masih merasa dirinya layak dibenci oleh siapa pun.
Ia berhenti di lampu merah bersama beberapa pengendara lain. Pandangannya tanpa sadar tertuju pada sepasang anak sekolah yang tertawa bahagia di seberang jalan. Brian menatap mereka dengan ekspresi datar.
Kemudian ia melirik ke samping. Sebuah mobil berhenti dengan jendela terbuka. Di dalamnya, sebuah keluarga tampak begitu hangat. Seorang anak laki-laki tertidur di pangkuan ibunya, sementara sang ayah fokus menyetir.
"Aneh… seolah-olah Tuhan sengaja memperlihatkanku adegan yang jarang terjadi di hidupku," pikir Brian.
"Enak sekali ya… rasanya bisa bersenang-senang dengan keluarga dan teman," gumamnya pelan.
Namun pandangannya lalu beralih ke sisi jalan. Beberapa tunawisma duduk berjejer, tanpa rumah, tanpa tempat berteduh, hanya mengandalkan diri sendiri.
Brian menghela napas. "Apa yang kupikirkan? Seharusnya aku bersyukur. Apa ini efek samping kebanyakan tidur?"
Agar pikirannya tak semakin melantur, Brian mampir ke sebuah minimarket dan membeli sebotol air putih. Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Di sisi lain, Lena tiba di rumahnya dengan langkah lesu. Tanpa menyapa siapa pun di ruang tamu, ia langsung menuju kamarnya dan menutup pintu.
Hal itu tentu membuat keluarganya kebingungan.
"Ada apa dengannya?" tanya seorang pria dengan suara berat.
"Iya ya, biasanya dia selalu menyapa kita dengan senyum cerianya," ujar seorang wanita santai.
"Entahlah," jawab wanita lain dengan suara lembut. "Coba kamu cek, Kak."
"Baik, Bu."
Di dalam kamar yang gelap—lampu dimatikan—Lena berbaring di kasurnya. Dadanya terasa sesak, hatinya seperti retak.
Pintu kamar terbuka perlahan. "Kamu kenapa?" tanya seorang wanita.
"Tidak apa-apa, Kak," jawab Lena lirih.
Kakaknya tentu tidak percaya. Perubahan ini terlalu mendadak. "Kalau ada apa-apa, jangan dipendam. Ceritakan saja. Kakak akan membantumu sebisanya," ujarnya tulus.
"Aku…" suara Lena bergetar.
Ia pun menceritakan semuanya dengan suara pelan dan kurang bersemangat. Mendengar ceritanya, ekspresi sang kakak langsung berubah.
"Kurang ajar! Laki-laki mana yang berani menyakiti adikku yang imut ini?!" kesalnya.
"Tolong jangan ikut campur masalah kami, Kak," pinta Lena.
Kakaknya tersenyum kecil. "Baiklah. Jangan lupa makan malam, ya."
"Hmm…" balas Lena singkat.
Malam itu menjadi salah satu malam terberat bagi Lena. Rasa pahit ini jarang ia rasakan sedalam ini. Padahal niatnya hanya ingin membalas budi, namun justru ditolak begitu saja.
Meski begitu, Lena tidak ingin menyalahkan Brian. Ia yakin, ada sesuatu yang belum ia ketahui.
Setibanya di rumah, Brian menaruh sepedanya di garasi. Di sana hanya ada sebuah mobil yang jarang ia gunakan—mobil itu hanya dipanaskan setiap hari.
Brian melangkah menuju pintu depan sambil merogoh saku celananya untuk mengambil kunci. Namun ia terdiam.
Pintu itu tidak terkunci.
Brian membukanya perlahan. "Hei, Amayah, kau lupa mengunci pintu?" panggilnya.
Tak ada jawaban.
Ia masuk dan melepas sepatunya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sepasang sepatu wanita dewasa, dan sepasang sepatu anak-anak.
"Sepatu siapa ini…?"
Tiba-tiba terdengar suara langkah kecil berlari dari arah ruang tamu. Brian refleks berjongkok, menatap ke arah suara dengan waspada.
"Paman Brian!" seru seorang gadis kecil berambut pirang sambil berlari dan mengangkat kedua tangannya.
Tak lama kemudian, muncul seorang wanita yang lebih tua dari Brian. Ia berjalan santai dengan senyum ramah.
"Kamu sudah pulang ya?" tanyanya lembut.
Dalam sekejap, dunia yang selama ini terasa hampa dan monoton mendadak dipenuhi warna. Mata Brian membesar. Kehangatan yang asing namun nyaman menyelimutinya—sebuah perasaan disambut dengan senyuman saat pulang ke rumah.
"Apa ini… mimpi?" batin Brian.
Bersambung.
semangat terus bang!!!