Follow IG : renitaria7796
Sequel dari Novel TERPAKSA MENIKAHI MANTANKU.
Maxim Sylvestone harus merendahkan dirinya jika ingin mendapati seorang gadis kecil bernama Liora Putri Alexander. Seorang wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta, bahkan ketika gadis itu baru bisa berjalan.
Sayangnya, Liora sudah dijodohkan kepada anak sahabat orang tuanya. Apakah Liora menerima perjodohan itu? Lalu, bagaimana Maxim merebut kembali cintanya? Apa ia harus mengungkapkan siapa ia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMULAI
Spain
Maxim dan Liora tiba di Spanyol. Mereka melarikan diri di desa Albarracin. Desa terindah di dunia. Liora takjub akan keindahan suasana desa yang seperti abad pertengahan.
Maxim membawa Liora ke rumah yang sudah dia siapkan. Di depan pintu rumah. Sudah ada yang menyambut kedatangan mereka berdua.
Mereka adalah sepasang suami dan istri. Maxim berjabat tangan dan merangkul keduanya. Mereka adalah bibi dan paman dari John.
"Selamat datang, Max," ucap Charles.
"Charles, Silvia ... apa kabar kalian?" tanya Max.
"Kami baik," sahut Silvia. Sepasang suami istri menatap ke arah Liora. "Apa dia calon istrimu?"
Maxim mengangguk dan tersenyum. "Kenalkan, dia calon istriku. Namanya Liora."
Liora mengulurkan tangannya berjabat tangan. "Liora."
"Aku Silvia dan ini suamiku Charles. Kami senang kalian bisa tinggal di sini. John sudah mengatakan semua masalah kalian. Perlengkapan rumah serta kebutuhan kalian juga sudah kami siapkan," terang Silvia.
"Terima kasih, Bibi, Paman," ucap Maxim.
"Jangan berterima kasih. Kami yang seharusnya berterima kasih. Kamu sudah banyak membantu kami. Sekarang giliran kami membalasnya," tutur Chales.
Charles memberikan kunci rumah kepada Maxim. "Ini kunci rumah kalian. Istirahatlah, kalian pasti lelah sehabis perjalanan jauh. Jika perlu apa-apa, panggil saja kami. Rumahku hanya berjarak tiga buah rumah saja dari kalian."
Maxim mengangguk. "Terima kasih sekali lagi, Paman, Bibi."
Charles dan Silvia meninggalkan sepasang kekasih itu. Maxim membuka pintu rumah yang terkunci. Dia masuk ke dalam rumah bersama dengan Liora.
Liora terkesima akan rumah yang sekarang dia tempati. Bangunan rumah terbuat dari bahan material ringan. Udaranya pun sangat dingin. Karna memang desa yang mereka tempati berada di atas bukit.
"Kamu suka rumahnya?" tanya Max.
Liora mengangguk. "Aku sangat suka di sini. Udaranya bersih dan sejuk."
"Kita akan tinggal di sini. Kita memulai hidup baru kita di tempat ini. Menikah dan membesarkan anak-anak kita." Maxim melingkarkan kedua tangannya di pinggang Liora.
"Di mana pun kita tinggal. Asal bersama kamu, aku akan tetap ikut," ucap Liora.
Maxim tersenyum lalu mengecup lembut bibir Liora. "Kita istirahat sekarang. Besok adalah hari baru kita."
Maxim membawa Liora ke kamar tidur. Liora langsung saja mendaratkan tubuhnya di atas ranjang kasur yang empuk. Maxim juga sama halnya. Dia merebahkan tubuhnya di samping Liora.
"Kamu lelah?" tanya Liora.
"Kenapa memangnya? Kamu ingin bermain?" Maxim mengedipkan sebelah matanya.
Liora mengusap wajah Max dengan tangannya. "Bukan itu! Kamu tidak mau mandi?"
"Kita mandi bareng saja. Sekalian kita buat Max junior."
Liora tersipu malu. "Tidak mau, aku sangat lelah hari ini.
Maxim terkekeh lalu memeluk Liora dengan erat. Liora menelusupkan wajahnya ke tubuh bidang Max. Dia memejamkan mata lalu tertidur.
Max mengecup kening kekasihnya. Dia bahagia sekarang karna Liora bisa bersama dengannya. Dia akan secepatnya menikahi Liora. Menjadikan Liora miliknya untuk selamanya.
...****************...
Liora bangun dari tidurnya. Matahari sudah mulai tenggelam. Dia menoleh ke sampingnya tapi Max tidak ada. Liora beranjak turun dari ranjang. Dia membuka lemari.
Ada satu tas besar berwarna hitam di dalam lemari. Liora menautkan kedua alisnya. Dia membuka resleting tas itu. Matanya membulat melihat emas batangan serta uang bernilai dollar.
"Liora .... "
Liora tersentak kaget. "Max, kamu membawa semua harta ke sini?"
Maxim mendekat pada Lio. "Kita tidak bisa memakai kartu kredit di sini. Kita akan belanja semua keperluan dengan uang tunai. Mereka akan melacak kita jika memakai kartu kredit."
"Iya, aku paham," ucap Liora.
Maxim membelai rambut panjang Liora. "Kamu mandi sana. Aku tunggu di bawah. Kita makan malam bersama."
Liora mengambil handuk dan pakaian ganti lalu menuju kamar mandi. Maxim keluar kamar. Dia menunggu Liora di meja makan. John memang sudah menyiapkan segala kebutuhan Liora dan Max.
Liora menuruni anak tangga. Dia sedikit berlari dan melingkarkan kedua tangannya di leher Maxim. Dia juga mengecup pipi mulus Max.
"Kamu masak apa?" tanya Liora.
"Seperti biasa, makanan sehat," jawab Max.
Liora menghela napas. Dia tidak mau makan makanan sehat. Dia ingin makan yang berminyak sekarang.
"Aku tidak mau makanan sehat lagi. Bisakah aku meminta ayam panggang atau ayam goreng," pinta Liora.
"Tunggu sebentar lagi. Aku sudah memesan ayam panggang untukmu," kata Max.
Pintu rumah di ketuk. Maxim beranjak dari duduknya. Dia melangkah menuju pintu. Max membuka pintu. Charles datang dengan membawa ayam panggang pesanan Maxim.
"Terima kasih, Charles."
"Sama-sama."
Charles pergi setelah mengantar ayam panggang. Max kembali ke meja makan. Dia meletakkan ayam panggang itu di atas meja.
Max memotong ayam itu dan memberikannya kepada Liora. "Makanlah."
"Terima kasih, sayang," ucap Liora.
Liora makan dengan lahap. Udara sejuk lalu makan ayam panggang terasa sangat nikmat. Keduanya selesai makan malam. Maxim mengendong Liora naik ke atas.
Max membuka pintu kamar dengan kakinya. Dia merebahkan Liora di atas tempat tidur. Max membuka habis pakaian Liora. Dia juga membuka habis pakaiannya.
Liora bangkit dari tidurnya. Dia menikmati dahulu milik Max. Dia menikmatinya seperti permen lolipop. Max serasa di awang-awang akan kenikmatan yang di buat oleh Liora.
"Giliranku lagi sayang," ucap Maxim.
Maxim merebahkan tubuh Liora. Dia membuka lebar kaki jenjang itu. Max membenamkan kepalanya di sana. Liora mendongkakkan kepalanya ke atas. Max memberi tanda kepemilikkan di sekitar kaki jenjang itu.
Permainan ini sungguh hebat dan nikmat. Liora semakin memperdalam kepala Max agar terus menyentuh dan mempermainkan miliknya. Suara serak keluar dari bibir mungilnya.
Max mengelap bibirnya sehabis meminum sesuatu yang di keluarkan Liora. "Sayang ... aku mau kita menikah."
Maxim memposisikan dirinya. Dia melakukan tugasnya sebagai seorang pria. Dia bergerak dengan tempo pelan.
"Kapan kita akan menikah?" tanya Liora dengan suara serak dan berat.
"Aku ingin secepatnya. Aku ingin kita menjalin hidup berumah tangga."
"Aku bahagia sayang. Aku menginginkan hidup bersama denganmu," ucap Liora dengan terengah-engah.
Max mulai mempercepat gerakannya. Dia mengunci bibir Liora. Melahapnya secara rakus hingga bibir itu sedikit bengkak. Bibir Max turun ke bawah. Dia menjadi bayi yang kehausan. Jari-jemari Liora menelusup ke sela-sela rambut Max.
Maxim jatuh di atas tubuh Liora. Napasnya masih terengah-engah. Dia belum melepas miliknya. Dia menunggu beberapa saat agar benihnya masuk ke dalam rahim Liora.
Max beralih ke samping Liora. Kekasihnya itu sudah memejamkan mata kelelahan. Maxim mengecup perut rata Liora. "Cepatlah tumbuh. Aku ingin memiliki kalian segera."
Maxim menarik selimut tebal untuk menyelimuti tubuh mereka yang polos. Max memejamkan mata lalu menyusul Liora yang tertidur.
TBC
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.