NovelToon NovelToon
TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!

TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Trauma masa lalu / Keluarga / Roh Supernatural / Romansa
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Bangjoe

Setelah kematian ayahnya, Risa Adelia Putri (17) harus kembali ke rumah tua warisan mendiang ibunya yang kosong selama sepuluh tahun. Rumah itu menyimpan kenangan kelam: kematian misterius sang ibu yang tak pernah terungkap. Sejak tinggal di sana, Risa dihantui kejadian aneh dan bisikan gaib. Ia merasa arwah ibunya mencoba berkomunikasi, namun ingatannya tentang malam tragis itu sangat kabur. Dibantu Kevin Pratama, teman sekolahnya yang cerdas namun skeptis, Risa mulai menelusuri jejak masa lalu yang sengaja dikubur dalam-dalam. Setiap petunjuk yang mereka temukan justru menyeret Risa pada konflik batin yang hebat dan bahaya yang tak terduga. Siapa sebenarnya dalang di balik semua misteri ini? Apakah Bibi Lastri, wali Risa yang tampak baik hati, menyimpan rahasia gelap? Bersiaplah untuk plot twist mencengangkan yang akan menguak kebenaran pahit di balik dinding-dinding usang rumah terkutuk ini, dan saksikan bagaimana Risa harus berjuang menghadapi trauma, dan Pengkhianatan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bangjoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Jeritan Dalam Kekosongan

Kevin jatuh berlutut, napasnya tersengal, paru-parunya serasa terbakar. Tangan kanannya mencengkeram udara kosong, seolah masih mencoba meraih Risa yang baru saja lenyap di depan matanya. Udara dingin tiba-tiba menusuk, menusuk hingga ke sumsum tulang. Suara dentingan rantai itu… masih bergema, mengisi kehampaan yang memekakkan telinga. Tapi Risa… Risa sudah tidak ada.

“Risa… Risa!” teriaknya lagi, suaranya serak, gemetar, penuh keputusasaan. Ia memukul lantai kayu tua itu, frustrasi, bingung. Ke mana Risa pergi? Apa yang terjadi? Bayangan hitam pekat itu… ia menelan Risa, begitu saja, tanpa jejak.

Seluruh ruangan terasa berputar. Kevin merangkak, tangannya menyapu lantai di sekitar tempat Risa berdiri tadi. Nihil. Tidak ada apa-apa. Tidak ada sisa-sisa, tidak ada petunjuk, hanya kehampaan yang mencengkeram. Kunci di kalung Risa… liontin kunci itu… yang selalu tergantung di lehernya… ia ingat bagaimana liontin itu memanas, berdenyut-denyut, sebelum semua terjadi. Apa itu pertanda? Atau justru pemicunya?

Pandangannya jatuh pada cermin besar yang tergantung di dinding ruang tamu. Cermin yang selama ini seolah menyimpan bisikan, cermin yang selalu menarik perhatian Risa. Sekarang, di permukaannya yang kusam, Kevin melihat pantulan dirinya sendiri yang berantakan, dan di belakangnya… bayangan samar, nyaris tak terlihat, sekelebat sosok hitam yang bergerak cepat di sudut ruangan. Kevin berbalik, jantungnya berpacu gila-gilaan. Tidak ada siapa-siapa. Hanya dinding kosong yang dihiasi sarang laba-laba.

Ini bukan ilusi. Bukan halusinasi. Ini nyata. Ini adalah sesuatu yang mereka hadapi. Sesuatu yang telah menunggu. Kevin mengepalkan tangannya. Rasa takut memang ada, merayap di setiap serat tubuhnya, tapi jauh di lubuk hatinya, ada amarah yang membara. Amarah karena ia tidak bisa melindungi Risa. Amarah karena ia membiarkan Risa ditarik ke dalam kegelapan ini.

Ia harus mencari Risa. Bagaimanapun caranya. Tapi ke mana? Bayangan itu datang entah dari mana, dan menghilang tanpa jejak, membawa Risa bersamanya. Rumah tua ini… ia menyimpan begitu banyak rahasia, begitu banyak pintu tersembunyi. Dan Kevin tahu, satu-satunya cara untuk menemukan Risa adalah dengan membuka semua pintu itu, bahkan jika itu berarti ia harus menghadapi semua kengerian yang bersembunyi di baliknya.

Kevin bangkit, kakinya sedikit gemetar. Matanya menyisir setiap sudut ruangan, mencari anomali, mencari sesuatu yang mungkin ia lewatkan. Lalu, pandangannya terpaku pada sebuah retakan halus di dinding, tepat di belakang cermin besar. Retakan itu… sepertinya bukan retakan biasa. Ada semacam celah kecil, nyaris tak terlihat, seolah sebuah pintu tersembunyi.

Ia mendekat, tangannya meraba dinding dingin itu. Saat jarinya menyentuh celah itu, sebuah energi dingin menusuk, sama seperti saat Risa menghilang. Jantungnya berdebar kencang. Ini dia. Ini mungkin jalannya. Mungkin Risa ditarik ke balik dinding ini, ke dimensi lain, atau ke sebuah ruang rahasia yang tersembunyi. Ruangan yang selama ini menjaga rahasia kematian Ibu Risa.

Kevin mendorong dinding itu. Tidak bergerak. Ia mencoba lagi, lebih kuat, menggunakan seluruh tenaganya. Dinding itu tetap kokoh. Frustrasi mulai merayapi benaknya. Ia menendang dinding itu, tapi hanya rasa sakit yang ia dapatkan. Lalu, ia teringat liontin kunci Risa. Kunci itu… kunci untuk apa?

Kunci. Ya. Kunci. Pasti ada kuncinya. Tapi di mana? Dan bagaimana jika kunci itu adalah liontin Risa? Liontin yang kini juga lenyap bersamanya? Kevin menghela napas berat, mencoba berpikir logis di tengah kepanikan yang menggerogoti. Ia bukan Risa. Ia tidak memiliki indra keenam itu. Ia tidak bisa merasakan kehadiran gaib. Tapi ia punya otaknya, dan ia punya tekad.

Ia berbalik, matanya menatap cermin lagi. Cermin itu. Selama ini, Risa selalu merasa cermin itu memanggilnya. Mungkin ada sesuatu di baliknya, atau di dalamnya. Kevin mendekat, mengamati pantulan dirinya. Di sana, di sudut pantulan, ia melihatnya lagi. Bayangan samar yang seolah bergerak di balik cermin. Bayangan yang menghilang saat ia melihatnya langsung.

Ini pasti ada hubungannya dengan cermin. Bagaimana jika cermin ini adalah portal? Atau pintu? Kevin menekan tangannya ke permukaan cermin yang dingin. Tidak ada yang terjadi. Ia mencoba berbicara, “Risa? Kamu di sana? Risa!”

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan.

Kepalanya berdengung. Kevin ingat semua hal aneh yang Risa alami sejak pertama kali mereka datang ke rumah ini. Bisikan-bisikan, penampakan samar, perasaan tidak nyaman. Dan semua itu selalu berpusat pada rumah ini, pada keluarga Risa, pada kematian Ibunya. Bibi Lastri. Dia adalah kuncinya. Dia tahu lebih banyak daripada yang dia tunjukkan. Dia adalah satu-satunya orang yang masih hidup dan tahu persis apa yang terjadi sepuluh tahun lalu.

Sial! Kevin mengumpat pelan. Ia seharusnya tidak membiarkan Risa sendirian menghadapi ini. Ia seharusnya tidak mengizinkan Risa mendekati cermin itu. Tapi bagaimana ia bisa tahu? Semua ini… di luar nalar. Di luar logika yang selama ini ia pegang teguh.

Kevin menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. Ia harus mencari bantuan. Tapi siapa? Polisi? Mereka pasti akan menganggapnya gila. Bibi Lastri? Dia pasti akan berpura-pura tidak tahu apa-apa, atau bahkan mungkin dia adalah dalang di balik semua ini. Kevin mengingat kembali ekspresi cemas Bibi Lastri, bekas luka bakar samar di tangannya, dan tatapan dingin di matanya saat ia merasa tidak diawasi. Dia punya andil. Kevin yakin itu.

Tidak ada pilihan lain. Ia harus mencari Bibi Lastri. Tapi tidak untuk meminta bantuan. Untuk memaksa dia bicara. Memaksa dia mengungkapkan semua rahasia yang ia simpan. Untuk Risa. Kevin tidak akan menyerah begitu saja.

Ia berlari keluar dari ruang tamu, menaiki tangga dengan cepat, dua anak tangga sekaligus. Pikirannya kalut, tapi matanya tajam, penuh tekad. Ia harus menemukan Bibi Lastri. Ia harus menguak kebenaran. Untuk Risa. Untuk Ibu Risa. Dan untuk menghentikan kutukan ini, selamanya.

Kevin mencari Bibi Lastri di kamarnya, di dapur, di taman. Nihil. Rumah itu terasa kosong, dingin, seolah semua kehidupan telah tersedot keluar bersamanya Risa. Ia mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ke mana wanita itu pergi di saat seperti ini? Apakah dia tahu sesuatu? Apakah dia menghilang karena dia tahu apa yang akan terjadi?

Lalu, Kevin mendengar suara samar dari loteng. Suara gemerisik, seolah seseorang sedang bergerak di sana. Loteng. Tempat berdebu yang selama ini tak pernah mereka jamah. Tempat yang selalu Risa hindari, karena ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sana.

Ia menelan ludah. Hawa dingin semakin menusuk. Kevin mengambil sebuah senter tua yang ia temukan di meja kecil di lorong, lalu melangkah menuju pintu loteng yang tertutup rapat. Tangannya memutar kenop pintu, dan suara derit panjang memecah keheningan. Aroma debu dan kayu lapuk langsung menyerbu indra penciumannya.

Kevin menyalakan senter, sorot cahayanya menembus kegelapan pekat. Tangga kayu yang curam terlihat di depannya, tertutup jaring laba-laba. Ia melangkah naik, perlahan, setiap anak tangga berderit seolah protes. Suara gemerisik itu semakin jelas. Bukan suara tikus. Bukan suara angin. Itu suara langkah kaki.

Di puncak tangga, Kevin melihat sebuah pintu kecil yang sedikit terbuka. Cahaya senter menembus celah itu, menyorot ke dalam ruangan yang penuh dengan barang-barang tua, kain-kain lapuk, dan bayangan-bayangan menakutkan.

Ia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Dan di sanalah ia melihatnya. Bibi Lastri. Wanita itu sedang berlutut di tengah tumpukan barang, tangannya sibuk mengais-ngais sesuatu di dalam sebuah kotak kayu tua. Wajahnya tegang, matanya melotot, seolah ia sedang mencari sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang hilang.

“Bibi Lastri!” Kevin berseru, suaranya menggelegar di ruangan sempit itu. Bibi Lastri tersentak kaget, tubuhnya menegang. Ia mendongak, matanya yang dingin memancarkan keterkejutan, dan… ketakutan. Ketakutan yang nyata, yang tidak bisa ia sembunyikan.

Wanita itu bangkit, tangannya secara refleks menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Kevin melihat bekas luka bakar samar di tangan kanannya, yang kini tidak tertutup. “Kevin? Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu di loteng?” suaranya terdengar panik, tidak seperti Bibi Lastri yang ramah biasanya.

“Risa menghilang, Bi,” Kevin berkata, suaranya dingin, menuntut. “Dia ditarik oleh bayangan hitam itu, tepat di depan mataku. Dan aku yakin Bibi tahu sesuatu tentang ini. Aku tahu Bibi menyembunyikan sesuatu!”

Bibi Lastri terdiam, wajahnya memucat pasi. Matanya menatap Kevin dengan tatapan campur aduk antara kaget, marah, dan ketakutan. “Menghilang? Bayangan apa yang kamu bicarakan? Kamu… kamu pasti berhalusinasi, Kevin. Risa mungkin hanya pergi ke kamarnya. Dia kan sering begitu. Jangan bicara omong kosong.”

“Jangan bohong, Bi!” Kevin melangkah maju, mendekati Bibi Lastri. “Aku melihatnya sendiri. Bayangan itu… dia membawa rantai, dan liontin kunci. Kunci yang sama dengan liontin Risa, dan kunci yang Bibi kenal! Ini semua berhubungan dengan Ibu Risa, kan? Dengan kematiannya!”

Kata-kata itu seperti pisau yang menghunus jantung Bibi Lastri. Wanita itu mundur selangkah, bibirnya bergetar. Tangan kanannya, yang tadi menyembunyikan sesuatu, kini terulur, dan Kevin melihatnya. Sebuah buku catatan kulit tua, lusuh, dan sebuah liontin kunci perak yang persis sama dengan milik Risa, hanya saja liontin itu sedikit lebih besar, dan terlihat lebih kuno.

Liontin itu… bukan milik Ibu Risa. Bukan milik Risa. Liontin itu… terikat pada rantai yang sama dengan yang dibawa oleh bayangan hitam itu. Rantai yang melilit di tangan Bibi Lastri. Kevin menatap liontin itu, lalu pada bekas luka bakar samar di tangan Bibi Lastri. Sebuah koneksi yang mengerikan mulai terjalin di benaknya. Mungkinkah Bibi Lastri… adalah bagian dari bayangan itu? Atau dia adalah orang yang mengendalikannya?

“Apa ini, Bi?” Kevin bertanya, suaranya rendah, penuh ancaman. “Katakan padaku! Apa ini? Dan di mana Risa?!”

Bibi Lastri tersenyum, senyum tipis yang tak sampai ke mata. Senyum yang kini terasa begitu jahat, begitu menyeramkan. “Kamu ingin tahu di mana Risa? Kamu ingin tahu apa ini?” Wanita itu tertawa, tawa yang serak, dingin, dan gila. “Risa… dia telah kembali ke tempatnya. Ke tempat yang seharusnya ia berada. Bersama ibunya. Bersama ibunya yang telah berkhianat.”

Kevin merasakan darahnya mendidih. “Pengkhianat? Apa maksudmu?”

Bibi Lastri mendekat, matanya berkilat gila. Liontin kunci di tangannya berayun-ayun pelan. “Ibumu… dia mencuri kunci ini dariku. Kunci ini adalah warisan kami. Kunci untuk… keabadian. Tapi dia serakah. Dia ingin menguasai semuanya sendiri. Dan sekarang, kutukan itu kembali. Kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Warisan ini. Rumah ini. Dan kekuatan di baliknya.”

Ia mengangkat liontin kunci di tangannya, membiarkannya berkilauan di bawah cahaya senter Kevin. “Risa hanyalah pion, Kevin. Pion untuk membawa kunci ini kembali kepada pemilik aslinya. Kepada… penjaga rumah ini. Penjaga yang tak akan pernah membiarkan siapa pun pergi begitu saja. Termasuk kamu.”

Kevin mundur, jantungnya berdebar kencang. Kebenaran yang mengerikan mulai terkuak. Bibi Lastri… dia bukan hanya ingin warisan. Dia ingin lebih. Dia adalah bagian dari kutukan itu. Dia telah menggunakan Risa. Menggunakan Risa untuk mengaktifkan sesuatu yang jauh lebih jahat daripada yang bisa mereka bayangkan.

“Bibi Lastri… kamu gila!” Kevin berteriak, amarahnya meluap.

“Gila? Aku tidak gila, Kevin.” Bibi Lastri tersenyum lagi, kini senyumnya penuh kemenangan. “Aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi hakku. Dan sekarang… giliranmu untuk bertemu dengan penjaga. Penjaga yang akan memastikan tidak ada yang tahu rahasia rumah ini. Selamanya.”

Wanita itu mengangkat tangan kanannya yang memegang liontin kunci. Di pergelangan tangannya, bekas luka bakar itu terlihat semakin jelas, seolah sebuah tato, sebuah tanda. Dan dari balik punggungnya, perlahan, muncul bayangan hitam pekat yang sama, menjulang tinggi, menelan cahaya. Kali ini, bayangan itu memiliki dua rantai. Satu terikat pada liontin di tangan Bibi Lastri. Dan satu lagi… bergerak, mengarah ke Kevin, siap untuk mencengkeramnya, menariknya ke dalam kegelapan yang sama dengan Risa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!