Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Colly baru saja keluar dari area kampus ketika mobilnya berhenti di depan gerbang. Dicky—sopir sekaligus pengawalnya—segera membukakan pintu.
Mobil melaju meninggalkan kampus dengan kecepatan stabil.
Namun belum lima menit di perjalanan, Dicky mengernyit. Matanya bergerak dari spion tengah ke spion samping.
“Nona,” ucapnya pelan namun waspada, “sepertinya ada yang mengikuti kita.”
Colly menoleh sekilas, wajahnya tetap tenang.
“Terus jalan,” perintahnya singkat. “Pura-pura tidak tahu.”
Dicky membelokkan mobil ke jalan utama yang ramai oleh kendaraan lalu-lalang. Klakson bersahutan, lalu lintas padat—namun beberapa mobil hitam di belakang mereka tetap menjaga jarak dengan rapi.
Mereka tidak berusaha mendekat.
Tidak pula tertinggal.
Itu yang membuat Colly yakin—mereka profesional.
Colly segera meraih ponselnya dan menekan satu nomor yang sangat ia hafal.
“Halo, Kak,” ucapnya pelan. “Ada yang mengikutiku.”
Di seberang sana, suara Shen Xiao Han langsung berubah dingin.
“Kirim lokasimu. Sekarang.”
Colly segera membagikan titik lokasinya.
“Aku di jalan utama. Mereka belum bertindak,” tambahnya.
“Jangan panik,” jawab Xiao Han tegas. “Tetap di tempat ramai. Jangan ambil jalan sepi.”
Panggilan terputus.
Di sisi lain kota, Janetta mengemudi mobilnya sendiri menuju rumah. Jalanan sore itu tidak terlalu padat—cukup lengang untuk membuat instingnya bekerja.
Tatapan Janetta menajam saat melihat bayangan mobil yang sama muncul di spion belakang…
berbelok bersamanya.
Satu kali bisa kebetulan.
Dua kali masih mungkin.
Tiga kali—bukan lagi kebetulan.
“Ada tamu yang tidak diundang,” gumam Janetta dengan senyum tipis.
Tangannya bergerak cepat. Ia menekan tombol di setir, mengubah mode kendaraan. Mesin meraung lebih dalam.
Janetta menginjak pedal gas.
Mobilnya melesat maju, memotong kendaraan lain dengan presisi tajam. Di belakang, dua mobil segera bereaksi dan ikut mempercepat laju.
Kejar-kejaran pun dimulai.
Janetta membelokkan setir ke arah jalan lain—jalan yang lebih sempit dan sepi. Lampu jalan jarang, bangunan mulai berjarak.
“Kalau mau bermain,” gumamnya tenang, “Aku temani.”
Mobilnya melaju semakin cepat, menikung tajam tanpa ragu.
Spion memperlihatkan bayangan mobil hitam yang masih bertahan di belakang.
Di dua lokasi berbeda, ibu dan anak—
keduanya sedang diburu.
Sementara itu, di lantai atas sebuah gedung tinggi yang menjulang di pusat kota, Jacky Yin berdiri menghadap jendela kaca besar. Cahaya kota memantul di wajahnya yang tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menjatuhkan hukuman mati.
Ia menempelkan ponsel ke telinganya.
“Bunuh wanita itu,” ucap Jacky datar. “Pastikan dia tidak bernapas.”
“Baik, Bos,” jawab suara di seberang tanpa ragu. “Kami sedang mengejarnya. Dia hanya sendirian.”
Jacky menyunggingkan senyum tipis.
“Kalau Janetta Lee mati,” lanjutnya pelan namun mematikan, “bayaran kalian akan naik dua kali lipat.”
“Dimengerti.”
Panggilan terputus. Jacky memasukkan ponselnya ke saku jasnya, tatapannya tetap menembus jendela kaca.
“Permainan baru saja dimulai,” gumamnya.
***
Di sisi lain kota, mobil yang dikemudikan Dicky melaju stabil, seolah tidak ada apa pun yang mencurigakan. Wajahnya tetap tenang, tangannya mantap di setir.
Dicky membelokkan mobil ke kanan, memasuki jalan besar yang lebih sepi. Lampu jalan jarang, kendaraan hampir tidak ada.
Mobil hitam di belakang tetap mengikuti.
Tiba-tiba—
Dari arah berlawanan, tiga mobil muncul bersamaan dan langsung memotong jalur mereka.
Screech!
Dicky menginjak rem mendadak. Mobil berhenti hanya beberapa senti dari tabrakan.
“Nona,” ucap Dicky tegang, “kita dikepung.”
Pintu mobil mereka terkunci otomatis. Dari depan, belakang, dan samping—semua jalan tertutup.
Colly menghembuskan napas pelan. Wajahnya sama sekali tidak pucat.
“Baik,” katanya dingin. “Kalau begitu, kita hadapi saja.”
Ia meraih tasnya dan mengeluarkan pisau lipat, bilahnya berkilat saat terbuka.
Dicky membuka laci samping, mengeluarkan pistol dan mengecek magazinnya dengan satu gerakan terlatih.
Mereka saling bertukar pandang.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada kepanikan.
Di luar, pintu mobil para pengepung mulai terbuka satu per satu.
Colly dan Dicky keluar dari mobil dan berdiri berdampingan di tengah jalan yang sunyi. Lampu mobil menyinari dua belas pria yang mengepung mereka dari segala arah.
Udara terasa menegang.
“Siapa yang mengirim kalian?” tanya Colly dingin, tatapannya menyapu satu per satu wajah di hadapannya.
Salah satu pria maju selangkah, senyum meremehkan tersungging di bibirnya.
“Nona kecil, kau tidak perlu tahu siapa orangnya. Yang jelas, malam ini kalian tidak akan bisa lolos.”
Colly tertawa kecil, santai—seolah yang dihadapinya bukan sekelompok pembunuh.
“Jadi orang yang mengirim kalian ternyata seorang pengecut,” katanya ringan.
Ia memutar pisau lipat di jarinya, bilah tajam itu memantulkan cahaya lampu.
“Bagaimana kalau kita buat penawaran?” lanjut Colly. “Aku bayar kalian satu juta yuan untuk membawa kepalanya ke hadapanku.”
Beberapa pria tampak terkejut, namun yang memimpin mereka hanya tertawa sinis.
“Nona kecil, kau terlalu angkuh. Kali ini, Shen Xiao Han pasti akan jatuh ke tangan kami.”
Senyum Colly menghilang. Tatapannya berubah dingin dan mematikan.
“Bermimpi,” ucapnya tegas.
“Kakakku bukan pria lemah dan pengecut seperti kalian.”
Ia melangkah maju satu langkah, tanpa sedikit pun gentar.
“Berhadapan dengan gadis kecil sepertiku saja kalian harus mengerahkan dua belas orang,” lanjutnya tajam.
“Apakah kalian tidak malu?”
Suasana semakin memanas, dua belas utusan seseorang berhadapan dengan Colly dan Dicky yang hanya dua orang.
Sebuah mobil yang parkir tidak jauh dari lokasi mereka, dua orang pria sedang memantau dari dalam mobil. Mereka adalah Boby dan Yohanes.
"Gadis itu cukup menarik, malam ini dia akan menjadi sandera kita. Lihat saja nanti, Shen Xiao Han akan berlutut di hadapan kita," ucap Boby.
"Apakah kita tidak berlebihan melakukan ini? Kalau sampai ketahuan, posisiku juga tidak aman," tanya Yohanes.
"Di dunia mafia hanya boleh ada satu di antara kau dan dia. Kalau dia tidak mati, maka selamanya kau hanya di bawah kakinya," jawab Boby.
"Pertunjukan malam ini sangat menegangkan," kata Boby.
Di malam itu, Colly harus berhadapan dengan dua belas orang yang dia tidak kenal, sementara di sisi lain Janetta masih dikejar oleh dua mobil asing yang ingin merenggut nyawanya.
Bagaimana nasib mereka di malam itu, akankah mereka berhasil menghadapi bahaya yang di hadapan mereka?