Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Nyi Seger
Bukan anak gadis. Di padepokan ini tidak ada anak gadis. Yang ada hanya nenek-nenek yang ilmunya setara mak lampir.
Jangan pernah mencari masalah dengan mereka, kalau belum bosan hidup.
Arjo tetap berbaring, berlagak tidur. Napasnya naik turun dengan teratur.
"Jo, tak senthil perkututmu lha baru tahu rasa!"
Arjo langsung terduduk, kedua tangan menutup selangkangan.
"Jangan, to, Nyi!" Ia menatap kesal. "Baru juga tidur sebentar. Ada apa, to? Saya capek. Baru hampir mati tadi. Kereta Ndoro Gusti Bupati diserang bajing loncat."
Nyi Seger tertawa, suara serak khas perokok berat. Tubuh tuanya tidak duduk di lantai atau di kursi.
Ia berbaring santai di atas seutas tali tebal yang terbentang di antara dua tiang, tali yang biasa digunakan untuk latihan keseimbangan.
Tubuhnya bergoyang-goyang pelan mengikuti ayunan tali, tapi tak sedikit pun tampak akan jatuh. Bahkan dalam posisi tiduran begitu, keseimbangannya sempurna.
Pakaiannya sederhana, kemben hitam yang hanya menutupi dada yang kerempeng, kendit warna senada tapi sudah lebih usang, celana kain sebetis, dan kain batik soga yang melilit dari pinggang ke paha.
Rambut putih digelung tinggi di puncak kepala, diikat tusuk kayu sederhana. Wajahnya penuh kerut, kulit keriput berlapis-lapis seperti kulit pohon tua, tapi matanya, masih tajam seperti elang.
Nyi Seger.
Tidak ada yang tahu persis berapa umurnya. Karena perempuan itu cepat sekali marah jika disinggung soal umur.
Kabar burung mengatakan ia lahir di tahun 1800-an, saat VOC baru saja bangkrut. Tidak ada yang berani bertanya langsung. Tidak ada yang berani memastikan.
Yang jelas, Nyi Seger sudah melewati berbagai perang; Perang Diponegoro, perang-perang yang memecah belah Mataram Islam, pemberontakan-pemberontakan kecil yang bahkan tidak tercatat dalam buku sejarah.
Dan entah bagaimana, ia masih di sini, mengajar generasi demi generasi murid padepokan. Ada desas-desus yang mengatakan perempuan itu sulit mati karena ilmu tingkat tinggi.
Seperti namanya. Seger. Segar. Tidak mati-mati. Dan entah kapan dia akan layu. Hanya Tuhan yang tahu.
"Surup (waktu menjelang maghrib) tidak boleh tidur, Lee." Nyi Seger berayun santai di talinya. "Cepat mandi. Nanti malam harus belajar."
Arjo mengerang. "Nyi ...."
"Tidak ada tapi-tapian. Kang Guru Harjo sudah menunggu di pendopo barat."
Kang Guru Harjo. Guru ilmu tata praja dan hukum kolonial. Pelajaran paling membosankan di antara pelajaran-pelajaran yang pernah didalami Arjo.
Arjo menghela napas panjang, merebahkan tubuhnya lagi ke tikar. "Lima tahun, Nyi. Lima tahun aku belajar dari pagi buta sampai tengah malam. Ilmu kanuragan. Tata krama ningrat. Cara bicara halus. Cara makan pakai sendok garpu. Bahasa Belanda, Prancis, Jerman, Inggris, Latin, Yunani, Tionghoa, Arab. Hukum adat. Hukum kolonial. Sejarah. Politik … "
Ia mengangkat tangannya, menghitung dengan jari.
"Lima tahun otakku diperas habis-habisan. Dan sekalinya keluar menggantikan Ndoro Bupati … malah hampir mati." Ia menurunkan tangannya dengan kesal. "Untuk apa belajar semua itu kalau di luar sana yang menunggu cuma maut?"
Nyi Seger tidak menjawab langsung. Tubuhnya masih berayun pelan di atas tali, mata memandang langit-langit ijuk.
"Kau hanya hampir mati." Nyi Seger memiringkan kepalanya, menatap Arjo dengan mata meremehkan. "Bukan mati sungguhan. Bedanya jauh, Lee … Tolee. Pendekar sejati tak akan mengeluh hanya karena hampir mati."
Arjo terdiam, tapi mata masih melirik kesal. Ini kali pertama ia nyaris mati, bagaimana dia bisa santai saja?
"Kau harus tetap belajar. Ilmu kanuragan menyelamatkan nyawamu dari pisau dan panah. Ilmu tata krama menaikkan derajatmu setara dengan ningrat sungguhan. Ilmu bahasa menaikkan derajatmu lebih tinggi dari ningrat biasa." Nyi Seger mengangkat satu jari keriputnya. "Setiap ilmu yang kau pelajari selama lima tahun ini adalah untuk kebaikanmu sendiri, bisa jadi tameng. Semakin banyak tameng, semakin sulit kau dibunuh."
"Tapi tetap saja, apa bagusnya berilmu tapi hampir mati setiap hari—"
"Lebih baik hampir mati setiap hari dengan ilmu, daripada mati sungguhan sekali karena bodoh."
Arjo membuka mulut hendak membantah, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia selalu kalah bersilat lidah.
Nyi Seger tertawa lagi. Tubuhnya berputar sekali di atas tali, gerakan yang seharusnya mustahil untuk orang seusianya, lalu mendarat di lantai tanpa suara. Kakinya yang kurus menyentuh tanah seringan bulu.
"Lagipula," ia berjalan mendekat, berdiri di samping dipan Arjo, "kau beruntung, Lee. Bisa merasakan jadi bupati, meski hanya sesekali. Makan enak. Dihormati orang. Teman-temanmu yang lain, mana bisa merasakan itu."
Arjo mendengkus. "Beruntung? Hampir mati dibilang beruntung?"
"Ada puluhan anak ningrat di luar sana yang rela membunuh saudaranya sendiri demi kursi bupati." Nyi Seger mengetuk dahi Arjo dengan jari telunjuknya—pelan, tapi cukup keras untuk membuatnya meringis. "Kau dapat kursi itu tanpa perlu membunuh siapapun. Hanya perlu bertahan hidup. Itu namanya beruntung."
Arjo menggosok dahinya yang masih berdenyut.
Logikanya masuk akal. Tapi tetap saja rasanya tidak adil.
"Lagipula," Nyi Seger melanjutkan, nadanya berubah lebih serius, "dulu kau sendiri yang bersedia. Tidak ada yang memaksamu."
Arjo terdiam.
Ia ingat hari itu. Lima tahun lalu. Kanjeng Raden Mas Adipati Soedarsono yang belum menjabat sebagai bupati datang ke kandang kuda, memandangnya dengan tatapan aneh. Lalu mengajaknya bicara empat mata.
"Wajahmu mirip denganku. Sangat mirip. Aku butuh seseorang untuk menjadi bayanganku. Sesekali. Kalau kau bersedia, hidupmu akan berubah. Tidak perlu lagi mengurus kuda. Kau akan mendapat pendidikan terbaik. Makan cukup. Tempat tinggal layak. Sebagai gantinya, kau mengabdi padaku. Menjadi aku, ketika aku tidak bisa menjadi diriku sendiri suatu hari nanti."
Arjo, yang waktu itu masih berumur dua puluh tahun dengan perut yang sering lapar dan tubuh kurus yang lelah mengurus kuda seharian, tidak berpikir dua kali.
"Saya bersedia, Ndoro."
Dan ia bersumpah. Di depan Ki Guru Slamet. Di depan Nyi Seger. Di depan seluruh tetua padepokan.
Sumpah setia, dengan darah. Sumpah kesetiaan sampai mati.
"Pendekar sejati tidak melanggar janji." Suara Nyi Seger memotong lamunannya. "Kau sudah bersumpah. Lima tahun ini kau mendapat hidup enak—makan cukup, tempat tinggal, tanpa harus bekerja berat. Hanya belajar, belajar, dan belajar. Itu kemewahan yang tidak didapat rakyat jelata lainnya."
Arjo memandang langit-langit.
Nyi Seger benar. Anak-anak padepokan lain harus bekerja keras sejak kecil—latihan fisik yang menyiksa, tugas-tugas kasar, misi-misi berbahaya sejak usia belasan. Sementara Arjo? Ia hanya duduk di ruangan, membaca buku, mendengarkan ceramah para guru, belajar cara makan dengan garpu dan pisau.
Kemewahan.
Meski otaknya rasanya mau pecah setiap malam.
"Sekarang waktunya membayar." Nyi Seger menepuk bahunya—kali ini lebih lembut. "Mandi. Ganti baju. Kang Guru Harjo tidak suka murid yang bau keringat di kelasnya."
Arjo menghela napas panjang. Sangat panjang.
Tapi ia bangkit juga.
"Nyi."
"Hm?"
"Sampai kapan aku harus belajar?"
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo