Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Langkah Berani
Setelah selesai mata kuliah, Zira dan teman-temannya menuju parkiran untuk pulang. "Zir, lihat ada Pa Nathan tuh! Lo gak mau deketin?" tanya Aliya.
"Aku ada ide," ucap Zira sambil menuju ke mobilnya untuk mengpeskan ban mobilnya sendiri agar bisa pulang bareng Nathan.
"Dah selesai, kini giliran kalian pulang duluan. Aku mau deketin mas doi dulu, barang kali tujuan ku tercapai," ucap Zira.
"Ide mu sungguh gila zir, tapi menarik. Semoga berhasil walaupun sulit untuk tercapai," jawab Zita.
"Ya udah, gue sama Zita pulang dulu bye," ucap Aliya.
Sehabis Zita dan Aliya pulang, Zira mulai berakting seakan ban nya bocor secara dadakan padahal perbuatan nya sendiri. "Duhh, ini kena bisa kempes sih, bagaimana bisa pulang kalau kaya gini hm," ucap Zira sedikit kencang agar Nathan dengar.
Nathan sendiri sudah sampai di parkiran mau ambil motornya karena Nathan kurang peka jadi Zira harus deketin Nathan dulu. "Pak Nathan mau pulang yah?" tanya Zira.
"Jawab Napa berasa ngobrol sama patung," sambung Zira.
"Iyah, saya mau pulang," ucap Nathan.
"Boeh nebeng gak pak? Ban mobil saya bocor nih, gak tau kenapa, bentar lagi juga mau hujan. Boleh yah?" ucap Zira.
"Maaf, saya gak bisa, karna saya pakai motor lagian kita bukan mahram jadi tidak baik berbonceng motor berdua," jawab Nathan.
"Yah pak Nathan, bisa pakai pembatas kan yah," ucap Zira sedikit memaksa.
Sebelum Nathan jawab, Rafa datang seperti tamu tak di undang. "Hai ayang, pak Nathan kenapa yang?" ucap Rafa.
"Ban mobil gue bocor," jawab Zira.
"Bareng sama gue aja yang, lagian searah," ucap Rafa sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Gak usah terima kasih gue bareng pak Nathan, yakan pa Nathan?" ucap Zira berharap Nathan mengatakan Iyah pada pertanyaan nya.
"Maaf, saya sudah bilang dari awal saya gak bisa, permisi assalamualaikum," ucap Nathan sambil menaiki motor kesayangan dan berjalan meninggalkan parkiran.
Zira akhirnya pulang dengan Rafa, tapi moodnya turun drastis karena misi nya gagal total. "Dah sampai yang," ucap Rafa.
"Makasih," ucap Zira.
Sesampainya di rumah, Zira langsung menuju ke ruang tengah dan bertemu dengan Mama Sarah dan Aryan. "IHH kakak mah kebiasaan gak bilang dulu sama yang punya," ucap Aryan.
"Gak boleh pelit tau, nanti kuburannya sempit," jawab Zira sambil ketawa.
Mama Sarah datang sambil bawa cemilan. "Udah jangan ribut Mulu nih, di makan," ucap Mama Sarah.
Zira kemudian ke kamar dan menceritakan semua kejadian yang terjadi di parkiran pada sahabatnya melalui chat di hpnya. Tanggapan dua sahabatnya pasti tertawa terbahak-bahak.
Bel rumah berbunyi, "Mah, dek itu ada tamu," teriak Zira.
Setelah membuka pintu, Zira terkejut siapa yang datang. "Pak Nathan kenapa datang ke rumah saya? Pasti merasa bersalah yah gak ngaterin aku pulang kan, pasti kesini untuk minta maaf sama aku kan pasti tebakan aku benar," ucap Zira dengan penuh kepercayaan.
Bukan Nathan yang jawab, melainkan Mama Sarah. "Gus Nathan sudah datang, ayok masuk, zira kenapa gak di suruh masuk Gus Nathan nya malah di interogasi. Maaf kan anak saya Gus emang gini sifatnya," ucap Mama Sarah.
Ternyata Nathan adalah guru ngaji Aryan. Zira merasa malu dan langsung ke kamar untuk ganti baju.
"Gus Nathan, silakan masuk," ucap Mama Sarah.
Nathan masuk ke dalam rumah dan disambut oleh Aryan. "Assalamualaikum Gus," ucap Aryan.
"Waalaikumsalam, ayok kita mulai ngajinya," jawab Nathan.
Zira yang sedang ganti baju, mendengar percakapan antara Mama Sarah dan Nathan. "Gus Nathan, terima kasih sudah mau mengajar Aryan ngaji," ucap Mama Sarah.
"Tidak apa-apa Bu, saya senang bisa membantu," jawab Nathan.
Zira merasa semakin malu karena tahu bahwa Nathan adalah guru ngaji adiknya. "Aku harus bagaimana ini?" ucap Zira dalam hati.
Setelah ganti baju, Zira turun ke ruang tengah dan melihat Nathan yang sedang mengajar Aryan ngaji. "Assalamualaikum pak," ucap Zira dengan sopan.
"Waalaikumsalam, Zira," jawab Nathan dengan senyum.
Zira merasa sedikit lebih nyaman karena Nathan tidak marah padanya. "Pak Nathan, saya minta maaf atas tadi," ucap Zira.
"Tidak apa-apa, saya sudah lupakan," jawab Nathan.
Zira merasa lega dan memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam menghadapi Nathan. "Saya akan lebih berhati-hati, pak," ucap Zira.
Nathan tersenyum dan mengangguk. "Saya senang mendengar itu, Zira," ucap Nathan.
Zira merasa sedikit bahagia karena bisa berbicara dengan Nathan dengan lebih baik. "Saya akan berusaha, pak," ucap Zira.
Nathan tersenyum dan melanjutkan mengajar Aryan ngaji. Zira merasa lebih nyaman dan memutuskan untuk lebih dekat dengan Nathan.
Nathan gak sengaja menatap zira yang kini sedang menggunakan hijab dan pakaian longgar tidak ketat sama sekali , Aryan yang melihat itu langsung berucap " cantik kan Gus kakak saya kalau lagi Sholehah gini." "Astaghfirullah...ayok lanjut ngaji sampai mana tadi?."ucap Nathan,zira sedang jadi topik pembicaraan malu-malu kucing "hmm dek kakak kedapur dulu yah." Ucap zira menuju ke dapur untuk mengambil cemilan dan minuman untuk pa Nathan dan untuk menutupi pipinya yang merona gara-gara di goda adeknya" sini mah zira aja yang buat dan anterin ke ruang tengah."ucap zira sambil mengambil cemilan dan membuat minuman di balik itu mama Sarah membatin "semoga kamu menjadi sosok Nana seperti dulu zira, mama kangen Zira yang dulu."ucap mama Sarah sedikit meneteskan air mata " mama kenapa kok nangis."ucap zira ," gak papa nak kelilipan debu tadi, yaudah mama ke kamar dulu mau istirahat capek banget." Ucap mama Sarah " Iyah mah."jawab zira " ini cemilan dan minuman nya pak maksudnya Gus silahkan di makan."ucap zira " terima kasih."jawab Nathan " tumben banget Alus bener ngomong nya biasanya bar-bar banget."ucap Aryan sedikit jail ke kakaknya " apa sih dek udah makan aja , Gus kalau adek saya gak bisa-bisa hafal kasih hukuman aja."ucap zira " IHH kejam bangett kak."jawab Aryan " biarin wleee." Ucap zira sambil meninggalkan ruang tengah kalau berada di sana terus bisa-bisa penyakit zira kumat yaitu jantungan gara-gara pesona nya Gus Nathan, Gus Nathan hanya bisa tersenyum kecil melihat kedekatan kakak adik tersebut.
Zira kembali ke dapur dan mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. "Aku harus tenang, aku harus tenang," ucap Zira dalam hati.
Mama Sarah yang melihat Zira kembali ke dapur, langsung mengikutinya. "Zira, ada apa nak? Kamu terlihat sedikit gak enak badan," ucap Mama Sarah dengan nada yang lembut.
"Gak apa-apa mah, aku cuma sedikit lelah saja," jawab Zira mencoba untuk menyembunyikan perasaannya.
Mama Sarah tersenyum dan memelaskan rambut Zira. "Kamu tahu, mama sangat senang melihat kamu seperti ini. Kamu terlihat sangat bahagia," ucap Mama Sarah.
Zira merasa sedikit tersentuh oleh kata-kata Mama Sarah. "Mama, aku...aku suka sama Gus Nathan," ucap Zira dengan nada yang pelan.
Mama Sarah tersenyum dan memelaskan kepala Zira. "Mama tahu, nak. Mama bisa melihat itu. Tapi, kamu harus ingat bahwa Gus Nathan adalah guru ngaji Aryan, jadi kamu harus berhati-hati," ucap Mama Sarah dengan nada yang lembut.
Zira mengangguk dan merasa sedikit lebih tenang. "Iyah, mah. Aku akan berhati-hati," ucap Zira.
Mama Sarah tersenyum dan memelaskan kepala Zira lagi. "Mama percaya padamu, nak," ucap Mama Sarah.
Zira merasa sedikit lebih percaya diri dan memutuskan untuk lebih dekat dengan Nathan. "Aku akan mencoba, mah," ucap Zira dengan nada yang lebih percaya diri.
Mama Sarah tersenyum dan memelaskan kepala Zira lagi. "Mama senang mendengar itu, nak," ucap Mama Sarah.
Zira kembali ke ruang tengah dan melihat Nathan yang sedang mengajar Aryan ngaji. "Pak Nathan, saya minta maaf atas tadi," ucap Zira dengan sopan.
"Tidak apa-apa, saya sudah lupakan," jawab Nathan dengan senyum.
Zira merasa lega dan memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam menghadapi Nathan. "Saya akan lebih berhati-hati, pak," ucap Zira.
Nathan tersenyum dan mengangguk. "Saya senang mendengar itu, Zira," ucap Nathan.
Zira merasa sedikit bahagia karena bisa berbicara dengan Nathan dengan lebih baik. "Saya akan berusaha, pak," ucap Zira.
Nathan tersenyum dan melanjutkan mengajar Aryan ngaji. Zira merasa lebih nyaman dan memutuskan untuk lebih dekat dengan Nathan.
Aryan yang melihat Zira dan Nathan berbicara, langsung tersenyum. "Gus, kakak saya kayaknya suka sama kamu gus" ucap Aryan dengan nada yang pelan.
Nathan hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan aryan, Nathan tau jika zira emang mencintai secara ugal-ugalan tapi caranya salah karna Nathan tau tentang tantangan zira and the geng.
Zira yang tidak mendengar percakapan antara Aryan dan Nathan, terus memperhatikan Nathan yang sedang mengajar Aryan ngaji. "Pak Nathan, saya bisa membantu Aryan ngaji?" ucap Zira dengan sopan.
Nathan tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, Zira. Aryan, kamu bisa belajar bersama kakakmu," ucap Nathan.
Aryan tersenyum dan mengangguk. "Iyah, Gus," ucap Aryan.
Zira merasa sedikit bahagia karena bisa membantu Aryan ngaji.
Nathan mendengar kan suara zira ngaji merdu sekali berasa kenal dengan suara nya"dek kamu salah bacanya harus gini loh," ucap Zira sambil mencontohkan bacaan yang benar untuk aryan "Iyah kakak bawel." Jawab aryan.
Nathan tersenyum dan mengangguk. "Ternyata suara kamu bagus yah dan bacaan kamu Tartil sekali gak ada yang salah," ucap Nathan sedikit memuji zira.
Zira merasa lebih nyaman dan memutuskan untuk lebih dekat dengan Nathan.
"Gus, kakak saya Hafizah dulu sebelum..."ucap Aryan di potong zira sebelum Aryan melanjutkannya " cuman kebetulan." Jawab zira sambil meninggalkan ruang tengah.
Zira merasa sedikit malu karena Aryan hampir membocorkan rahasia nya. "Aku harus lebih berhati-hati," ucap Zira dalam hati.
Nathan hanya tersenyum dan melanjutkan mengajar Aryan ngaji. "Aryan, kamu harus lebih fokus, ya," ucap Nathan.
Aryan mengangguk dan merasa sedikit lebih tenang. "Iyah, Gus," ucap Aryan.