"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Di kelas XII IPA 1, semua murid yang baru datang dan sudah datang tentu heran karena Rafa yang harusnya mulai mengajar setengah jam lagi, sudah ada di kelas mereka.
Semua yang baru datang langsung menuntut penjelasan ke sekretaris kelas mengapa tidak memberitahu kalau Pak Rafa masuk lebih awal di group chat.
"Gue beneran gak tau, anjir. Gue juga kaget pas Pak Rafa tiba-tiba masuk padahal bel belum bunyi."
"Tuh tanya ke si Aiden, dia yang ngasih tau!" ujar Marina, si
sekretaris kelas.
"Kumpulkan buku tugas kalian!" seru Rafa sambil menatap seluruh murid yang ada di sana, terutama pada Aiden.
"Lah si bapak. Gue baru aja mau nyontek makanya dateng lebih pagi," gerutu salah satu murid dengan suara pelan.
Aiden selaku ketua kelas langsung mengambil semua buku tugas murid yang sudah ada di kelas dan menyimpannya di meja guru.
"Ini yang dateng udah lima belas orang, tapi yang ngumpulin cuman sepuluh orang?" tanya Rafa heran.
"Lima orang lagi siapa aja
acungkan tangan!" suruhnya.
Mau tidak mau, mereka yang tidak mengumpulkan karena belum mengerjakan pun mengangkat tangan kanannya.
"Kamu, Jamet, kenapa gak ngumpulin? Lupa gak bawa bukunya?" tanya Rafa sambil mulai memeriksa tugas.
"Iya, Pak. Lupa gak bawa!" jawab Jamet, serasa diberikan alasan oleh gurunya sendiri.
"Lalu itu, yang di atas mejamu apa? Buku apa itu?" tanya Rafa.
"I-ini ... ini buku Sosiologi, Pak. Saya salah bawa."
"Bawa ke sini!" titah Rafa.
"Pak, tapi.."
"Cepetan!"
Jamet menghela napas kasar, dia berdiri dan berjalan sambil membawa buku yang sebenarnya buku tugas matematika tersebut.
"Belajar bohong sejak kapan kamu? Hm?" tanya Rafa.
"Maaf, Pak. Saya belum ngerjain tugasnya," balas Jamet.
"Kenapa? Ini tugas dua hari yang lalu lho. Masa iya belum ngerjain?"
"Yang lainnya juga ke sini dan bawa buku tugas kalian!" titah Rafa.
Kini kelima murid berdiri di depan Rafa. Laki-laki semuanya.
"Siapa yang suka kalian contek bukunya?" tanya Rafa.
Hening, kelima nya tidak ada yang menjawab. Braden dan Monica yang baru datang dari ruang OSIS pun kaget karena guru mereka sudah ada di dalam kelas.
"Kalian yang baru datang, duduk dan kumpulkan tugas kalian!" titah Rafa.
"Kalian dari mana? Gue udah japri dari tadi juga," bisik Aiden.
"Ada yang dibahas barusan di ruang OSIS," jawab Braden.
"Kok gak bilang? Gue wakil elo," sahut Aiden.
Braden dan Monica saling pandang. Bingung mau menjawab
apa.
"Nanti jam istirahat pertama kita ngumpul di ruang OSIS," jawab Braden.
Aiden menatap curiga ke arah keduanya. Namun, dia memilih untuk tidak peduli lagi. Sedangkan Braden tersenyum miring, dia ada rencana yang akan membuat Aiden tidak bisa dekat dengan Dara.
"Mulai minggu depan, setiap ada tugas, harus ada di meja kerja saya jam setengah delapan pagi!"
"Kalian berlima, kalian sudah kelas dua belas, hanya beberapa bulan lagi kalian lulus. Belajar lebih giat, jangan mengandalkan contekan orang lain agar punya
nilai bagus. Saya lebih menghargai murid yang nilainya enam, bahkan lima tapi itu hasil dia sendiri. Paham?"
"Paham, Pak." Kelima murid itu menjawab bersamaan.
"Ya sudah. Kalian duduk dan kita mulai pelajaran hari ini."
'Ya Tuhan, ada untungnya juga aku masuk lebih awal. Jadi ketahuan tingkah mereka. Dan tentunya, Aiden gak bisa nemuin Dara tadi. Enak saja, dia milikku!' batin Rafa.
Selesai pelajaran olahraga, semua murid tidak ada yang langsung masuk ke dalam kelas.
Mereka menghilangkan keringat dulu di pinggir lapang.
Karena kalau langsung masuk kelas, sudah bisa dipastikan nanti aroma keringat tujuh rupa akan menyebar. Meski di kelas ada pengharum ruangan dan AC.
"Hei kalian! Udah dong main bola nya! Nanti kelas jadi bau kalau kalian langsung masuk!" seru Renita.
Para siswa malah mendekat ke arah Renita dan menyodorkan ketek mereka.
"Aaaak! Yaaak!!! Dasar gila!" teriak Renita sambil menutup hidung.
Bebi dan Dara hanya tertawa
melihatnya. Mereka sedang duduk di bawah pohon rindang sambil meluruskan kedua kaki yang lumayan terasa pegal.
"Kantin dulu yuk! Beli minum," ajak Dara.
Bebi mengangguk, keduanya langsung pergi menuju kantin.
Saat sedang menuju kantin, keduanya berpapasan dengan Rafa. Bebi mengangguk tanda menyapa dengan sopan sedangkan Dara fokus pada tatapan Rafa yang seperti menyiratkan akan satu hal.
Tapi karena Dara tidak tahu apa itu, dia pun berlalu saja melewati Rafa.
"Ck. Dia gak ngerti apa kalau
aku pengen tau dia mau ke mana," gerutu Rafa dalam hati.
Rafa langsung mengambil ponsel di saku celana dan melihat pesan yang dia kirimkan sejak tadi belum berubah jadi centang biru, masih abu-abu.
Sudah dari kantin, sudah ganti pakaian juga dengan seragam biasa, kini Dara dan Bebi sudah ada di kelas. Menunggu guru pelajaran kedua masuk.
Dara mengambil ponsel yang sejak tadi dia simpan di dalam tas dan keningnya mengkerut saat melihat beberapa pesan dari sang suami.
Dara melirik ke samping kanan dan kiri, juga ke belakang, takut ada yang mengintip saat dia membaca pesan dari Rafa.
[Jangan dekat-dekat dengan pria lain, terutama Aiden!]
[Sama Pak Yoga juga kamu jangan kegenitan!]
Dara berdecak malas, sejak kapan pula dia genit pada guru olahraganya itu? Rafa ini aneh-aneh aja.
[Nanti saya minta baju olahraga yang ukurannya agak besar. Bajumu kekecilan. Punyamu yang kecil dan masih masa pertumbuhan itu keliatan nyetak!]
Kedua mata Dara melotot
membaca pesan ketiga dari Rafa. "Dasar me-sum!" batinnya dengan wajah bersemu merah. Bisa-bisanya Rafa memperhatikan hal sedetail itu tentang dirinya.
Tidak berselang lama, sosok yang dia katai me-sum itu terlihat masuk ke dalam kelas. Jam kedua, memang mata pelajaran matematika. Dara menampilkan wajah masam pada guru yang juga suaminya itu.
Rafa tersenyum tipis dan langsung memulai pelajaran karena tugas sudah dia periksa barusan saat ketua kelas mengumpulkannya ke ruang guru.
"Saya tidak akan mentolelir murid yang mengerjakan tugas dari
contekan murid yang lain ya. Jadi, mulai minggu depan, tugas dikumpulkan besoknya, dan jam setengah delapan pagi harus sudah ada di meja kerja saya!" ujar Rafa.
Bagi yang terbiasa mengerjakan tugas sendiri tentu tidak masalah, tapi bagi yang mengerjakan tugas mepet di kelas menunggu contekan itu yang jadi masalah.
"Heh, cupu gendut!" bisik Renita dari belakang.
Bebi menoleh. "Apa?"
"Mulai minggu depan, bagiin contekannya lewat chat, fotoin!"
Bebi menghela nafas kasar, tidak menyahuti ucapan Renita dan
memilih untuk fokus melihat ke papan tulis.
Dara yang tidak sengaja mendengar ucapan Bebi pun kaget. Dia tidak tahu kalau selama ini Renita selalu meminta contekan tugas pada Bebi.
"Lo selama ini diminta contekan sama Renita?" tanya Dara saat bel tanda jam istirahat kedua berbunyi dan Rafa sudah keluar dari kelas.
Bebi pun hanya mengangguk saja.
"Astaga, kenapa gak cerita?"
"Gue gak apa-apa kok, Dara." Bebi memaksakan senyumnya.
"Bukan masalah itu, Beb. Ini udah tuman, lo harusnya nolak!"
"Lalu gue harus gimana? Sebelum ada lo, dia selalu nindas gue, ngancem bakal bully gue kalau sampai gue gak ngasih contekan ke dia."
"Kenapa lo gak bilang sama guru?" tanya Dara.
Bebi menggeleng. "Gue cuman mau sekolah dengan tenang. Karena gak ada yang mau jadi temen gue, jadi minimal gak ada yang gangguin gue," jawabnya.
Dara langsung mengepalkan tangannya. "Gak bisa! Gue gak suka dia bertindak semaunya sama lo!"
Bebi langsung menahan
pergelangan tangan Dara saat gadis itu berdiri dan hendak menemui Renita. "Jangan, gue beneran gak apa-apa."
"Ada gue sekarang. Apa yang lo takutin?" tanya Dara.
"Gue cuman gak mau lo sama dia ribut dan berakhir lo dapet masalah, Dara."
Dara menghembuskan napas berat. Dia kembali duduk dengan kasar dan melipat kedua tangan di dada.
"Jangan kirim dia contekan. Gue bakal jadi garda terdepan buat lindungin lo kalau dia macem-macem," ucap Dara.
"Tapi..."
"Gue gak mau jadi temen lo lagi kalau lo lebih nurut sama dia," kata Dara.
"Ini semua demi kebaikan lo, Beb. Lo udah gue anggap sahabat gue sendiri dan dia gak berhak nindas lo kayak gitu. Ada gue sekarang. Paham?"
Bebi pun mengangguk.
Di rooftop sekolah, Braden dan Aiden sedang ada di sana. Braden mengajak Aiden untuk bicara.
"Ada apa?" tanya Aiden.
"Lo suka sama Dara?" tanya Braden.
Kedua alis tebal Aiden naik,
keningnya juga mengkerut. "Kalau iya, apa urusannya sama lo?"
"Dia gak bakal mau sama lo. Karena ada orang terdekatnya yang suka sama lo, dan Dara tau itu," ucap Braden.
"Tunggu. Gue masih belum ngerti, maksud lo apa? Dan ... kenapa lo bisa tau?" tanya Aiden.
Braden malah tersenyum miring. Dia menepuk pundak Aiden beberapa kali. Tanpa mengatakan apapun dan menjawab pertanyaan dari Aiden, dia pergi dari sana. Meninggalkan Aiden yang masih dilanda rasa bingung.
Awalnya Braden merasa geram karena Dara dan Aiden terlihat
dekat. Apalagi saat boncengan sore itu. Braden pikir, Dara dekat dan suka sama Aiden.
Tapi, setelah mendengar obrolan Bebi dan Dara pagi tadi. Melihat respon Dara saat tahu kalau Bebi suka sama Aiden, dia lega. Karena tahu kalau Dara tidak ada rasa sama Aiden.
Braden malah yakin kalau sampai sekarang pun Dara belum bisa lupain dia dan masih ada rasa padanya.
[Saya tunggu di parkiran!]
Dara membaca pesan yang dikirimkan oleh Rafa. Dia mengerucutkan bibirnya. Kenapa
juga setiap pesan yang pria itu kirim selalu diakhiri oleh tanda seru? Seolah itu adalah perintah dan dia tidak bisa menolak.
"Pulang bareng Pak Rafa lagi?" tanya Bebi.
Dara mengangguk, memakai tas gendongnya lalu keduanya berjalan keluar kelas.
"Pak Rafa emang orangnya dingin gitu ya?" tanya Bebi.
"Anget, Beb. Soalnya masih idup," jawab Dara.
"Dih!" Bebi menabok pelan lengan Dara. "Bukan itu maksudnya!"
Dara tertawa pelan. "Ya emang gitu orangnya."
"Mas, aku lagi pegang teflon nih. Jangan sampai nih teflon melayang ke tangan Mas yang usil itu," ujar Dara.
"Ya ampun, galak banget istri Mas," sahut Rafa, tertawa pelan dan kini berdiri menyandar ke meja dapur sambil melipat kedua tangan di dada. Memperhatikan gerakan lincah istri kecilnya yang mulai menyajikan spaghetti ke atas piring.
"Aaaak!" Rafa menyodorkan garpu yang sudah ada spaghetinya ke arah Dara. "Buka mulutnya," ucapnya.
Dara menggeleng. "Enggak. Aku udah makan siang tadi di
kantin. Ini masih kenyang," tolaknya.
"Jadi gak mau nih?" tanya Rafa.
"Ish. Iya, iya!" Dara pun akhirnya membuka mulut, membiarkan suapan spaghetti yang diberikan suaminya masuk ke mulutnya.
Rafa tersenyum manis. Senyum yang selalu membuat Dara terpesona karena suaminya itu jarang tersenyum. Apalagi dulu, saat mereka awal-awal menikah, jangankan senyum, yang ada pria itu selalu memasang wajah jutek padanya.
Dara menemani Rafa makan sambil mengobrol ringan. Di sela
kunyahannya, Rafa jadi teringat satu hal.
"Nanti ke kamar saya, ada yang mau saya berikan," ucap Rafa.
Wajah Dara langsung tegang. 'Kamar? Mau ngapain?' batinnya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu," celetuk Rafa yang seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istri kecilnya itu.
Dara menunduk, menyembunyikan senyum dan juga wajahnya yang jadi merona.
'Dasar, malu-maluin!' makinya pada diri sendiri.